
...▫️▪️▫️▪️▫️...
...#03 - Time | I'm Promise! | Bakugou Katsuki x Readers | Different World AU...
...*Chapter ini mengandung sedikit romance okay:3 Semoga reader-san suka dan bijak dalam menyikapinya, okay?~*...
(Y/n) P.O.V.
Setelah kembali aku dikejutkan oleh ibuku yang datang membawa barang yang besar, "Ah Ibu bawa apa?" tanyaku padanya. Dia tersenyum tulus padaku sambil membuka bungkusan kantong plastik yang dia bawa.
"Eh itu?!" ucapku dengan sedikit kaget. Sebuah canvas untuk melukis yang besar itu dikeluarkan olehnya, sekaligus cat acrylic yang lengkap.
Entah mengapa aku merasa kalau aku sekarang sedang bermimpi...
Canvas sekaligus cat acrylic itu memang hal yang aku inginkan sedari SMP... Kemudian dia memberikan itu semu ke pangkuanku,
"Bu- Apa ibu serius?" ucapku sambil mengedipkan mataku berkali-kali seolah tidak percaya.
"Siapa lagi kalau bukan kamu, nak" ucapnya sambil tertawa kecil. Dengan refleks aku memeluk ibuku itu dengan penuh arti, "Maafkan ibu ya nak, setidaknya dengan ini... Ibu akan mendukungmu untuk mengembangkan bakat" katanya sambil merangkulku balik.
***Time Skipped: the next day***
Dokter bilang jika melukis adalah pekerjaan yang boleh aku lakukan, karena itu aku sekarang sedang mencoba menggerakan kuas dengan tujuan menuangkan perasaan sekaligus rehabilitasi. Karena jika diam tanpa melakukan apapun juga tidak baik untukku, dan entah mengapa Ibu pun mau membuat izin kepada sekolah agar membiarkan aku tidak ikut pelajaran daring. Aku harus bersyukur karena aku bisa beristirahat kan?
Sekarang aku masih menggambarkan gedung U.A. yang masih terbayang-bayang di kepalaku ini. Aku ingin kembali ke sana, tapi entah mengapa sepertinya sekarang ini aku harus mencoba meyakini kenyataan yang kujalani.
Aku tidak bisa berkhayal untuk pergi kesana, sejujurnya pun aku berada di sisi antara percaya dan tidak percaya soal keberadaan dimensi anime 'Boku No Hero Academia'.
Dan mengapa saat aku memasuki dimensi itu, aku tidak dipertemukan langsung terhadap si tokoh utama 'Midoriya Izuku'. Sejujurnya kenapa aku mendatangi mereka yang setahun jauh lebih tua dibandingkan yang ada di anime?
3 R.d. Person P.O.V.
Tangan (y/n) yang berbakat dalam menggambar maupun melukis itu mencampurkan warna secara sadar tidak sadar. Dengan tatapan yang kosong, warna demi warna membentuk lukisan itu sehingga membuat spektrum warna yang baru.
Namun saat itu (y/n) benar-benar tidak sadar bahwa ia sedang membuat suatu mahakarya, sedangkan (y/n) sendiri dia tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalam kepalanya itu.
Berbeda dari biasanya, kali ini (y/n) benar-benar tak ingin kabur dari dunia nyata. Namun suatu hal yang tak biasa membuat (y/n) kembali ke dimensi anime 'Boku No Hero Academia'
//Switch dimension
'Eh? Aku disini lagi?' batin (y/n) sambil membelalakan matanya. 'Padahal aku kan tak mau menyusahkan Bakugou lag- Eh, Bakugou... dia?'
(Y/n) P.O.V.
Eh? Aku disini lagi? Padahal beberapa waktu lalu, aku yakin kalau aku ada di rumah sakit... Padahal aku kan tak mau menyusahkan Bakugou lag-
Eh, Bakugou...?!
Dia kenapa? "Bakugou, apa kau baik-baik saja?" tanyaku padanya yang secara sekilas melihatnya menangis. "KENAPA KAU DISINI SIALAN?!" protesnya padaku sambil cepat mengusap air matanya.
"Eh itu..." ucapku sambil memikirkan alasan. "Maaf kalau menyusahkanmu, aku akan perg-" kata-kataku itu dipotong olehnya. "Diam disini atau tidak kubunuh kau" katanya pelan.
"Oh? Baiklah..." jawabku sambil membatu karena sedikit kaget dengan reaksinya. "Perbaiki reaksimu itu sialan, itu sangat menyebalkan kau tahu itu?" ucapnya sambil membalikkan wajahnya ke arah lain.
"Ah, maaf" ucapku merendah. Dia yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu pun berdecih sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"Sekarang kau mau apa kesini? Mau bunuh diri lagi? Atau mau membuktikan kalau kau anak lulusan RSJ?" ucapnya dengan pelan. "Sebenarnya aku tak mau kesini karena aku takut merepotkanmu, tapi tanpa sadar aku datang kesini lagi" jawabku padanya.
"Tetapi entah mengapa, apakah ini firasatku saja atau bukan..." ucapku sambil menghentikan perkataanku itu dan melihat ke arahnya. "Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terlihat baik-baik saja, kan?" tanyaku dengan sedikit perasaan khawatir.
Dia sedikit kesal dengan perasaan kemanusiaanku itu, "AKU BAIK-BAIK SAJA SIALAN! TAK USAH KAU KASIHANI JUGA AKU SUDAH SANGAT BAIK- KUSO! APA KAU MEREMEHKANKU HA?!" ucapnya sambil tiba-tiba berdiri.
"Aku tidak meremehkanmu, tapi aku ini sedang serius- Apa kau baik-baik saja, Bakugou?" tanyaku padanya sambil menatap matanya. Dia yang menyadari eye contact itu seketika membuang wajahnya, "Sialan- KENAPA KAU INI GEMAR SEKALI MENGIKUT CAMPUR URUSAN ORANG SI-"
Aku memotong perkataannya secara tidak sengaja, "Karena aku peduli! Aku bukanlah orang yang tidak tahu diri, kau tahu? Aku juga memiliki rasa kemanusiaan!" protesku padanya.
Dia tertawa meremehkan, "HAHAHA KEMANUSIAAN KATAMU?! LALU KENAPA ORANG-ORANG SEMUA MENGATAKAN BAHWA AKU TAK LAYAK MENJADI HERO?!"
"SEBENARNYA KAU PUN SALAH SATU BAGIAN DARI MEREKA KAN?! KAU JUGA MEREMEHKANKU KAN?!"
"BENAR KAN?!" Aku benar-benar tak menyangka bahwa orang setegar dia juga dapat menangis karena omongan orang-orang padanya. Mungkin ini kedua kalinya aku melihatnya menangis dan depresi seperti ini, padahal-
"Tidak! Aku tidak meremehkanmu!" ucapku padanya dengan tegas. "Justru kataku kau sebaliknya! Kau layak menjadi hero, kau tahu itu?! Aku tak mengerti perkembangan karakter di dalam dirimu itu seperti apa- Tapi... Aku merasa kau tidak seperti itu!" sambungku padanya dengan serius.
"Apa bukti yang kuat membuatmu tidak bisa menjadi hero? Tak ada kan?!" kataku lagi sambil berusaha mengingatkan. "Bahkan kau yang membuatku tidak jadi bunuh diri! Kalau saja kau tidak menyadarkan aku seperti itu- Mungkin saja aku sudah mati sekarang!" sambungku lagi.
"Kau masih berani mengatakan bahwa dirimu tidak pantas? Di duniaku... Aku dan juga yang lainnya tidak mengenal apa itu quirk sama sekali, tetapi di dunia kami jika seorang sudah dapat mencegah kematian... Bukankah itu termasuk pahlawan?" tanyaku padanya.
Dia tersentak mendengar perkataanku itu, "Diam dan menghibur saja tanpa mengatakan kebenaran dan tidak menyindir soal kenyataan.. Itu sama sekali bukan diriku... Jadi sekarang aku hanya bisa menyadarkanmu tentang apa yang terjadi padaku setelah kau mau mendengar ceritaku... Jadi bisakah kau tidak menyalahkan dirimu sendiri? Karena aku rasa kau layak untuk menjadi Pahlawan... Kalau kau terus memikirkan hal itu..." ucapku sambil memberhentikan perkataanku.
"Entah mengapa rasanya aku jadi ingat pada diriku di masa lalu" sambungku sambil sedikit bergetar.
Lalu dia tertawa melihatku yang bergetar itu, "He?! Kenapa kau tertawa?1" protesku padanya dengan perasaan sedikit malu. "HABISNYA KAU INI SEPERTI ANAK LULUSAN RSJ BENERAN SIALAN HAHAHA" katanya sambil tertawa lepas.
Aku yang baru melihatnya tertawa lepas seperti itu, sedikit lega. "Kamu receh banget ya" ucapku sambil tertawa kecil. "NGGAK! AKU NGGAK RECEH!" belanya kepada diri sendiri.
"Ieu jelema memang bener jelema gelo nya... Ngomongin urang jelema gelo... Padahal sendirinya teh gelo, teu ngaca emang nya- dasar budak bangor" gumamku dengan bahasa sunda.
^^^*Fyi : bagi kalian yang gak bisa bahasa sunda, biar aku translate:v (Translate : Ini orang memang bener orang gila ya... Ngomongin aku orang gila... Padahal sendirinya gila, gak ngaca emang- dasar anak nakal).^^^
"AKU GAK GILA SIALAN?! KAU YANG GILA!" protesnya setelah mendengar gumamanku yang menggunakan bahasa sunda. "Hah?! Kok kamu tau bahasa sunda?!" protesku padanya. "Sunda?! APAAN DAH?! KAN LU PAKE BAHASA JEPANG G*****!"
"SINI KAU SIALAN! KUBUNUH KAU!" ucapnya sambil menyalakan quirknya. Tanpa basa basi dia langsung berlari ke arahku untuk meledakkanku, dengan reflek aku langsung kabur agar tidak diledakkan olehnya.
Saat aku berlari aku masih tertawa, karena reaksinya itu seperti anak kecil. Hal itu membuatnya semakin kesal, di saat aku ingin berlari jauh tiba-tiba kepalaku pusing.
*Duk!*
Sial!! Posisi macam apa ini?!
3 R.d. Person P.O.V.
Karena kepala (y/n) yang pusing secara mendadak itu, membuat bakugou juga tersandung secara reflek. (Y/n) yang terbaring di tanah karena jatuh itu sekarang berhadapan dengan Bakugou yang menutupi pandangannya ke atas.
Bakugou yang seolah-olah ingin jatuh ke tanah itu, untungnya dia meletakkan kedua tangannya di tanah agar dia bisa seimbang dan tidak menimpa (y/n).
'Sial!! Posisi macam apa ini?!' batin (y/n). "Ah, maaf!" katanya dengan canggung.
Secepat kilat Bakugou yang menyadari itu pun membetulkan posisinya dengan langsung berdiri, begitu juga dengan (y/n) yang langsung duduk. Keduanya berusaha untuk mengabaikan suara jantungnya itu yang berdegup kencang dan memalingkan wajah mereka satu sama lain.
'Sial, apa itu tadi?!' batin Bakugou sambil berusaha untuk menenangkan dirinya itu. "HOI- KAU INI-! KENAPA KAU BERHENTI DI TENGAH JALAN H-" ucapannya terhenti karena rintik-rintik air hujan yang turun.
"TCH! SUDAHLAH! AYO KITA BERTEDU-" ucapannya terpotong lagi karena tiba-tiba hujan deras turun membasahi mereka berdua. 'HUJAN LAKNAT!' batin Bakugou kesal.
"Pft- Bakugou kamu ngapain membeku gitu? Aku deluan ya!" canda (y/n) sambil pergi menuju pohon rindang yang tadi mereka tempati. "CEWEK GILA! TUNGGU AKU SIALAN!" protes Bakugou padanya.
Setelah itu Bakugou dan (y/n) berteduh di pohon rindang yang tadi mereka tempati, "Aduh... aku bakal masuk angin nggak ya?" ucap (y/n) cemas. "Kalau kau masuk angin berarti kau memang lemah" ejek Bakugou kepadanya sambil cengengesan.
"Aku gak lemah, heh!" protes (y/n) dengan kesal. 'Lucu juga nih orang.! Eh- KENAPA AKU BERPIKIR BAHWA DIA LUCU?!' batin Bakugou.
"Trimakasih" ucap Bakugou dengan spontan. "Eh? Buat yang tadi ya?" tanya (y/n) memastikan. "NGGAK! YAIYALAH! APALAGI EMANGNYA?!" teriak Bakugou padanya.
(Y/n) menunduk sambil tersenyum tulus, "Sebenarnya aku yang harus berterimakasih padamu... Kalau saja kau tidak mendengarkan ceritaku... Mungkin saja aku sudah tidak ada, jadi... Kita impas ya?" ucap (y/n) sambil mengangkat kepalanya dan tersenyum.
Bakugou yang salah tingkah itu memalingkan wajahnya, "TCH! TERSERAH!" katanya dengan nada yang kasar seperti biasanya.
"Btw- Apa aku boleh pinjam kamar mandimu dan bajumu?" ucap (y/n) mendadak padanya.
Bakugou yang tadi mulai salting dengan perlakuannya itu berubah menjadi kesal, dikarenakan pertanyaan (y/n) yang mendadak itu. "UNTUK APA KAU PINJAM BAJUKU DAN KAMAR MANDIKU HAH?!" protesnya dengan wajah sedikit memerah.
"LAGIPULA KAU INI KAN-" Seketika tempat itu berubah menjadi kamar yang ditempati Bakugou di asrama (dorm). "HOI KENAPA TIBA-TIBA ADA DI KAMARKU?!" protes Bakugou kepada (y/n).
"Oh?! Ini kamarmu? Uwah~ Rapih banget!" ucap (y/n) sambil melihat sekeliling.
"SIALAN! KAMARKU JADI BECEK KARNA KAU!" protes Bakugou pada (y/n). "Lah?! Kau juga basah, sadar diri woi!" balas (y/n) dengan sedikit kesal. "YA TAPI KAU YANG TELEPORT KESINI!! MALAH MEMBAWAKU JUGA!?!" teriak Bakugou dengan keras.
Karena suara Bakugou yang keras, hal itu membuat teman-temannya ingin mendatangi kamarnya.
"Baku-bro! Kau ada di kamar?" seru Kirishima dari luar. "Hah? Bakugou ada di kamarnya?" balas Kaminari dari luar. Hal itu membuat Bakugou panik, "Apakah itu Kirishima dan Kaminari?!" ucap (Y/n) dengan nada yang sedikit kaget.
"Bagaimana kau tahu-" ucapan Bakugou terpotong dengan suara langkah kaki yang mendekat.
Bakugou yang saat itu sedang bersembunyi dari mereka dan tidak mau berurusan dengan mereka pun langsung bertekad untuk bersembunyi. Bakugou berdecih, lalu dengan cepat dia menarik tangan (y/n) untuk masuk ke kamar mandi bersamanya.
"Bakugou kenapa kau menari-" lalu ucapan (y/n) terpotong karena Bakugou menutup mulutnya. Posisi Bakugou saat itu dia masuk ke dalam kamar mandi bersama (y/n), lalu Bakugou menutup pintu dengan menaruh badannya di pintu. Tangan kanannya itu menutup mulut (y/n), sedangkan tangan kirinya membentuk isyarat agar (y/n) tetap diam (dengan jari telunjuknya yang berada tepat di depan bibirnya).
'Oh, dia memang ingin menghindari mereka kan?' batin (y/n). 'Tapi jangan gini terus dong! Apalagi tangannya ini benar-benar membuatku deg-degan!' batin (y/n) lagi. Lalu (y/n) ingin melepaskan tangan Bakugou, tapi tangan Bakugou semakin kencang untuk membuatnya bungkam.
'Bakugou! Aku bisa mati kalau begini terus hey!' batin (y/n) lagi.
"Baku-bro?" ucap Kirishima sambil membuka pintu kamar. "Lah? dia gak ada disini loh?" kata Kaminari kepada Kirishima.
"Itu aneh..." ucap Kirishima. "Kau salah dengar kali" kata Kaminari kepada Kirishima. "Iya kali ya?" ucap Kirishima sambil kembali menutup pintu dan pergi.
Lalu (y/n) yang sedari tadi menepuk tangan Bakugou untuk melepaskan tangannya itu, pada akhirnya Bakugou melepaskannya. "Fuuah! Astaga kau ya! Aku bisa mati kalau kau bungkam seperti ini!" protes (Y/n).
"Bukankah kau mau mati?" tanya Bakugou sambil memasang senyum meremehkan. "Untuk sekarang- tidak akan!" ucap (y/n) dengan malu karena perbuatannya di masa lampau. Karena saat itu baju yang dipakai (y/n) adalah baju putih, ********** sedikit tembus sehingga Bakugou sadar bahwa (y/n) memang benar2 butuh waktu untuk membersihkan tubuhnya itu.
Tetapi hal itu tentu saja membuatnya berdebar-debar dan memalingkan wajahnya, "Kau! Mandi sana! Aku akan pinjamkan bajuku! Ini bukan karna aku apa-apa padamu intinya kau mandi saja, sialan!" ucap Bakugou ngegas dengan nada pelan agar tidak ketahuan yang lainnya.
Lalu Bakugou keluar dengan cepat, setelah keluar dia berjongkok di bawah sambil melihat tangan tangannya yang tadi menutup mulut (y/n).
'Sialan! Aku kenapa sih!' batin Bakugou dengan wajah yang merah padam. 'Meskipun ********** warna putih, sama saja kelihatan BODOH!' batinnya lagi.
'Tapi wajahnya itu... Benar-benar mungil.. AH SUDAHLAH JANGAN TERLALU DIPIKIRKAN! SEKARANG AKU HARUS MEMBERSIHKAN LANTAI DAN JUGA MENGGANTI BAJU SIALAN! ANAK ITU CARI KERJAAN SAJA!' batin Bakugou dengan kesal.
Setelah itu dia berdiri dan melihat tangannya, 'KENAPA AKU JADI MIKIRIN INI SIH! SUDAH HOI! AKU HARUS BERES-BERES!!' batinnya lagi sambil mulai bertindak.
***
"Bakugou... Aku sudah selesai... Bisakah aku pinjam bajumu? Bajuku belum kering soalnya..." ucap (y/n) dari kamar mandi. "Emangnya aku babumu- hah?!" ucap Bakugou sambil mencari bajunya untuk (y/n).
"Hey, buka pintunya! Aku sudah membawakannya untukmu!" ucap Bakugou sambil mengetuk pintu. Kemudian (y/n) mengeluarkan tangan ke luar pintu, tanpa memperlihatkan tubuhnya sama sekali. Bakugou langsung menaruh pakaiannya itu ke tangannya, "Jangan sampai jatuh, kalau tidak kubunuh kau!" ancam Bakugou dengan nada yang tidak terlalu keras.
***
Kemudian (y/n) membuka pintu kamar mandi, "Bakugou ukuranmu besar banget..." gumam (y/n). "Bisakah kau bersyukur saj-" ucapannya terpotong saat melihat (y/n) mengenakan bajunya itu.
'Sial- bajuku yang ada padanya itu-' batin Bakugou.
"Bajumu kebesaran, sebenarnya kau ukuran berapa sih?" ucap (y/n) dengan canggung. "GAK TAHU SIALAN!" seru Bakugou yang lupa kalau dia sedang bersembunyi.
"Bukankah kalau kau teriak-teriak begitu, kau akan-" ucapan (y/n) terpotong saat pintu terbuka.
"Kacchan, aku-" Midoriya terhenti saat melihat kondisi dimana Bakugou dan (y/n) sedang berhadapan. "Oh maaf" ucapnya sambil menutup pintu lagi. Kemudian karena panik Bakugou dan (y/n) keluar secara bersamaan,
"HOI DEKU! APA MAKSUDMU-!" "Ini tak seperti yang kau bayangkan!"
Itulah kalimat yang (y/n) dan Bakugou katakan secara bersamaan, kemudian saat itu mereka melihat bahwa seluruh penghuni dorm ada disana terkecuali Aizawa-sensei.
"Woah, Bakubro?!" "Bakugou sama siapa?!" "Gadis itu siapa?!" "Bakugou punya pacar cewek manis?! Itu sama sekali tidak adil buatku! Kaminari~! Aku juga ingin berkencan dengan seorang gadis!" Seketika dorm itu jadi berisik, di sisi lain (y/n) yang masih tak percaya itu melihat keadaan sekeliling seolah tak percaya.
'Ini beneran mereka?!' batin (y/n) dengan matanya yang terbelalak. "Sonna- Kore wa hontoudesuka? Yume janai no?!" gumam (y/n) sambil sedikit meneteskan air mata.
^^^*Translate : Tidak mungkin- Apa ini beneran? Apakah ini bukan mimpi?!^^^
"He-oi! Jangan nangis sialan!" seru Bakugou yang panik karena air mata (y/n) yang sedikit menetes itu. "Wah~ Bakubro! Kau ini seorang gentleman!" ucap Kirishima pada Bakugou. "Iya bro kau dapat dari mana cewek seperti it-"
"DIA BUKAN PACARKU SIALAN!" protes Bakugou.
***
(Y/n) P.O.V.
Tapi sekarang sepertinya aku harus berusaha untuk menyesuaikan dengan mereka dalam pembicaraan. Saat ketahuan aku pun langsung dibawa ke ruang utama untuk interogasi,
"Namamu siapa, dan apa tujuanmu disini?" tanya Iida mengintrogasiku. "Eh- Aku (y/n)... Kalau untuk tujuan..." aduh tujuannya apa ya? Kemudian Bakugou yang ada di belakang Iida itu berdecih, "Dia kesini karena adanya keperluan denganku" ucapnya sambil membelaku.
Bakugou- Dia kenapa membantuku ya? "Oh... Keperluan apa ya kalau boleh tahu?" tanya Iida padaku. Aku pasrah saja lah, "Aku kesini karena ada urusan penelitian yang tergolong sebagai rahasia pemerintah" kataku dengan canggung.
Bakugou yang di belakang itu berusaha untuk menahan tawa karena alasanku itu, anak itu ternyata bisa begitu ya...
"Ah begitu" ucap Iida sambil memanggut-manggut.
"Kalau begitu (y/n)-san... Quirkmu apa?" tanya Uraraka dengan penasaran. "Eto- um...." aku harus jawab apa?!
"Aku tidak puny-" ucapanku terpotong oleh Bakugou. "Teleportasi antar ruang dan waktu" ucap Bakugou lagi.
Teleportasi?! Aku tak punya teleportasi?! Apa yang harus kulakukan?!
"Kalau begitu, bisakah kau buktikan (y/n)-san?" tanya Midoriya dengan penuh harap. Begitupun dengan yang lainnya, aku yang panik melihat ke arah Bakugou untuk bantuan. "Lakukan saja, gadis bodoh! Kau kan memang punya quirk itu" Sial! Dia ini sama sekali tak membantu!
"He? Gadis bodoh? Panggilan darimu itu rasanya merendahkan dia saja ya... Kacchan?" protes Kaminari. "JANGAN MEMPROTESNYA SIALAN!" balasnya dengan keras.
"Tunggu apa lagi (y/n)? Ayo tunjukkan!" ucap Toru dengan antusias.
Aku yang pasrah pun berdiri, "Kalau begitu coba kau teleportasi kesana! Apa kau bisa (y/n)-san?" tanya Mina sambil menunjuk ke ke arah dapur untukku. "Ah... Baiklah akan ku coba" ucapku dengan canggung.
Sial.... Bagaimana ini? Apa aku benar-benar punya quirk teleportasi? Bukankah ini keterlaluan, Bakugou?! Ini benar-benar parah! Kau mau membuatku terbunuh disini ya?!
Aduh...! Bagaimana ini?!
"(Y/n)-san... Kau tak apa? Kero," tanya Tzuyu padaku. Aduh... Yasudahlah, apa boleh buat!
Semoga ini berhasil!
Lalu aku menunjuk ke arah dapur, "(y/n)-san?" tanya Uraraka yang bingung karena tindakanku itu. Kumohon! Sekali ini saja! Aku ingin kesana! Aku in-
Sial! Kenapa kepalaku pusing?!
Eh?! Ini... Dimana?!
"Woah! Keren! (y/n)! Teleportasimu itu gak main-main ya!" He? Ini? Dapur?
Seriusan? Aku-? Punya quirk? Bakugou! Kau benar, aku punya quirk!!!
3 R.d. Person P.O.V.
'Seriusan? Aku-? Punya quirk? Bakugou! Kau benar, aku punya quirk!!!' batin (y/n) dengan perasaan yang senang. Kemudian dia berbalik dan melihat ke arah Bakugou, dan tersenyum ke arahnya.
Hal itu sekali lagi membuat Bakugou salah tingkah, "Woah benar kan?! Bakugou kau punya perasaan padanya kan?!" ucap Kirishima dengan mata berbinar-binar. "TIDAK SIALAN! KAU SALAH! JANGAN ASAL MENYIMPULKAN RAMBUT ANEH!" protes Bakugou dengan kasar. "Jangan bohong, Bakugou!" balas Kaminari.
"AKU NGGAK!" seru Bakugou dengan kasar.
//Di sisi lain
Kemudian (y/n) berbalik dan melihat ke arah Bakugou, dan tersenyum ke arahnya. "(y/n)-san, kau punya quirk hebat sekali!" ucap Midoriya pada (y/n). "Ah... Bukan apa-apa kok!" ucap (y/n) sambil memasang senyum canggungnya. "Kau tak usah canggung begitu, (y/n) chan... Kero" ucap Tzuyu pada (y/n).
"Ah... Begitu ya? Soalnya ini pertama kali setelah sekian lama aku punya teman" kata (y/n) dengan jujur. "Hah? Serius?" ucap yang ada disana bersamaan, kecuali mereka yang sedang menggoda Bakugou.
//Kembali lagi ke saat ini
"Hoi, kau gadis yang saat itu ada bersama Bakugou di sebelah sekolah kan?" tanya Todoroki yang baru datang. "Ah, Todoroki ya?" ucap (y/n) sambil berpura-pura lupa.
'Bisa gawat kalau aku dikira orang aneh' batin (y/n). "Iya, ternyata kau mengingat dan mengetahui namaku... Kau waktu itu menghilang kan? Kau pergi kemana?" tanyanya to the point. Hal itu membuat mereka semua yang ada disana tersentak terkecuali Bakugou.
"Eh eto-" ucap (y/n) sambil berpikir. 'Kalau dugaanku tepat, dia bukanlah orang asli sini' batin Todoroki.
'Sebenarnya apa tujuannya? Apa dia benar-benar baik? Tapi jika Bakugou sampai meminjamkan bajunya dan membelanya... Bukankah dia adalah orang baik?' batin Todoroki.
"Itu... Saat itu kepalaku memang seperti ingin pecah... Aku masih belum tahu pasti setelah itu- tapi... Saat aku membuka mata, aku kembali ke dun- eh nggak ke rumahku" kata (y/n) dengan jujur. "Eh pusing? (y/n)-san... Apa kau tak bisa mengendalikan quirkmu?" tanya Midoriya dengan serius.
"Ehm... Kurang lebih begitu sih, ahahah" ucap (y/n) dengan sedikit malu.
"Eh? Kau tak bisa mengendalikannya (y/n)?" sambung Mina yang sedikit panik. "Tapi sepertinya tadi kamu bisa memakai quirkmu itu tuh" ucap Toru kepada (y/n). "Tapi sepertinya ada efek samping penggunaannya ya, (y/n)?" tanya Yaomomo.
"Ehm, sebenarnya aku masih belum terlalu mengenal karakteristik quirkku ini" kata (y/n) merendah. 'Dasar Bodoh! Jangan terlalu jujur! Kalau begitu kau akan dicurigai, Sialan!' Batin Bakugou dengan sedikit kesal.
"Kalau boleh tahu, (y/n)-san... Apa sebelum ini kau quirkless?" pertanyaan Midoriya itu diangguki oleh yang lainnya.
"Eh- Ehm... Bisa dibilang iya..." kata (y/n) dengan jujur. 'DIA INI BODOH APA GIMANA SIH?! JANGAN TERLALU JUJUR SIALAN!' batin Bakugou lagi.
"Lalu- apa kau pengikut tersisa all for one?" tanya Todoroki dengan serius. (Y/n) menelan ludah dengan kasar, 'sial- aku salah bicara! Tapi bukankah lebih baik aku jujur?' batin (y/n).
"Aku belum disini saat All For One membuat kekacauan, jadi... Aku hanya mengetahui soalnya lewat berita dan tidak mengenalnya... Sejujurnya, aku memang baru menemui quirkku akhir-akhir ini... Selama 15 tahun, aku menyadari bahwa quirk itu nyata... Jadi saat aku merasa down, quirk ini benar-benar muncul" jelasku dengan panjang lebar.
"Apa aku terlalu jujur?" tanya (y/n) dengan ragu-ragu.
"Haaa~ Kau benar-benar langka (y/n)!" seru Mina kepada (y/n). "Eh? Kenapa?" tanya (y/n) padanya. "Habisnya kau ini benar-benar terlalu jujur" ucap Sero padanya. 'Tch, dasar- kalau begitu untuk apa aku meragukan dan takut karena reaksinya itu?' batin Bakugou.
'SEBENTAR- KENAPA AKU TAKUT KARENA DIA?!' batinnya lagi.
Hari itu benar-benar berjalan dengan baik, keadaan tokoh-tokoh disana yang percaya pada (y/n), dan saat itu juga (y/n) tidak merasakan pusing saat ingin pergi berpindah dimensi.
Namun sebenarnya hal itu hanyalah permulaan dari segalanya.
//Side P.O.V.
"Kepergian jiwa ke dimensi lain, ya? Apa itu bisa?"
"Itu semua sebenarnya adalah hal yang mustahil, tetapi pasti ada beberapa orang yang terpilih untuk melakukan itu... Kunci untuk membuka itu sebenarnya adalah kepercayaan"
"Tapi bukankah itu adalah hal yang tidak wajar?"
"Iya, karena itu orang-orang berhenti mempercayainya... Mereka yang percaya akan perbedaan dan keberadaan dimensi dan dunia pararel... Hanyalah orang gila yang tersisa di dunia ini, begitulah pendapat orang-orang soal itu"
"Tapi kaa-san! Kenapa kaa-san bercerita seperti ini?"
"Kenapa ya? Sepertinya kaa-san hanya teringat kejadian lama... Bagaimanapun mereka yang memiliki kekuatan ini pun bisa jadi dalam bahaya, dikarenakan saat mereka berpindah dimensi... Mereka akan meninggalkan cangkang tubuh aslinya, jadi bisa saja cangkang tubuh aslinya itu dirasuki oleh roh hitam"
"Kasian juga ya, kaa-san... Aku berharap semoga disini benar-benar tidak ada yang seperti itu..."
"Kaa-san bisa menjaminnya, kan?"
"Tidak, Nak... Sayangnya kaa-san tidak bisa menjaminnya"
***
(Y/n) P.O.V.
Aku pun kembali ke rumah sakit menggunakan quirkku dengan tenang, tanpa rasa pusing ataupun berkunang-kunang lagi... Apa ini permulaan yang baru? Sejujurnya aku pun masih tidak tahu harus bagaimana lagi...
Eh? Ini?
Gambarku? Kenapa gambar ini bagus sekali? Siapa yang menggambarnya? Eh tapi- Kenapa di tanganku ada kuas? Apa aku mewarnainya?
Aku sama sekali tak ingat kalau aku mewarnai hingga sebagus ini- Dan lagi gambar ini terlihat nyata...!
"(Y/n)! Ibu, bawa buah loh- eh? Itu kamu yang gambar?" tanya Ibuku sambil mendekatiku. "Eh- Sepertinya iya, Bu" ucapku dengan canggung.
"Coba Ibu lihat!" ucap Ibuku sambil meminta lukisanku. Lalu aku memberikan lukisanku padanya, kemudian ada suara langkah kaki tegas mendekati kami. "Wah itu! Maha karya! Ibu, apakah itu Ibu yang gambar sendiri?" ucap Pria bermasker yang tiba-tiba memasuki ruanganku.
"Ah tidak, ini milik anak saya" jawab Ibuku dengan jujur. "Milik anak ibu? Anak ibu yang mana?" tanyanya kepada Ibuku. "Apakah ini anak ibu?" sambungnya sambil menunjuk ke arahku. "Iya benar" kataku dan Ibuku secara bersamaan.
"Kebetulan saya juga ingin mencari karya yang seperti ini, lukisan ini cukup menggambarkan imijinasi saya!" katanya dengan nada yang ceria. "Dimana tempat ini?" tanyanya padaku.
Ibuku menatapku dengan penuh harapan padaku agar aku mau menjawab pertanyaan orang itu. "Ehm... Itu gedung yang saya temukan di anime, saya menggambarkannya karena itu sangat indah" jawabku padanya.
"Oh, anime ya? Dibanding itu sebenarnya saya penasaran dengan teknik mewarnainya... Saya belum pernah menemukan seorang pelukis yang memiliki ciri khas seperti ini! Spektrum warna yang ditimbulkan dari semua warna ini benar-benar terlihat harmonis dan melukiskan perasaan seorang pelukis disini! Seperti ada jiwa didalamnya! Kalau begitu, aku akan beli! Apakah kau bersedia menjualnya?" tanyanya padaku.
"Ehm, saya tidak yakin... Karena ini adalah lukisan pertama saya... Rasanya saya masih belum terlalu pede untuk menjual lukisannya, ini benar-benar masih banyak kekurangan" ucapku dengan nada yang merendah.
"Jadi, sekarang kau sedang membingungkan suatu seni? Kalau begitu biarkan aku membuktikan kalau penilaian saya tidak salah..." ucapnya sambil memasukkan tangannya ke saku kemeja yang ada di depan dadanya itu. Dan mengambil sebuah kertas kartu nama,
"Perkenalkan nama saya Jake, saya adalah seorang apresiator seni khususnya lukisan... Saya tentunya adalah seorang apresiator tingkat internasional"
Saat itu aku berpikir,
Apakah aku sedang beruntung? Atau memang aku sehebat itu?
***
//Flashback : on
Warna-warni palet cat air, kanvas besar yang dipakai untuk melukis, dan juga masih banyak peralatan lainya yang dipakai oleh seorang pelukis handal. Hal itu benar-benar menginspirasiku untuk mencampurkan warna bahkan belajar menggambar...
Sejak TK, tak sedikit orang yang memuji gambaranku itu...
..."(Y/n) hebat!" "Aku iri denganmu yang bisa gambar!"...
Banyak pujian yang kudapatkan untuk itu... Tetapi, tentunya kritik dan ejekan juga lebih banyak dari pujian yang kudapatkan...
..."Eh lihat tuh! Si penggila warna dan gambar!"...
..."Katanya dia bodoh banget di pelajaran loh!"...
..."Masa pas diajak ngomong dia sok-sok seru?"...
..."Bisanya cuma gambar doang dia mah, gambarannya juga jelek tuh~"...
..."Dia pasti mencuci otak bu guru dan orang dewasa untuk mengatakan bahwa lukisannya itu bagus!"...
..."Cantik sih... Tapi aneh! Sok-sok seru... Mana gambarannya burik banget! Masa gambar gitu doang dibanggain?"...
..."Lu gak bakal bisa hidup kalau kemampuan lu cuma itu doang!"...
..."Masa gambar kyk anak tk gak bisa? Malah sok-sok pake style orang dewasa lagi!"...
..."Jangan banyak ngimpi! Nanti jatoh sakit!"...
//Flashback : off
Apa aku pantas? Apa aku layak? Apakah dia ini cuma bercanda? Aku terlalu takut untuk melakukan hal-hal yang baru... Aku masih kurang cukup...
Aku takut untuk melakukan hal-hal yang belum pasti, karena aku takut tersakiti...
Traumaku terlalu banyak, imijinasiku terlalu tinggi... Apa aku memang selayak itu?
Masih ada orang lain kan? Selain aku yang banyak kekurangan ini, kan? Kenapa aku?
...-To Be Contunied to Ch 03,5...
Makasih yang udah mau baca sampe akhir>
Sampai ketemu besok siang>
...▪️▫️▪️▫️▪️...