
▪️▫️▪️▫️▪️
Ch 07 - You and me | I'm Promise! | Bakugou Katsuki x Readers | Different world AU
Ingatlah selalu bahwa setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan bandingkan dirimu dengan orang lain - Bakugou
▪️▫️▪️▫️▪️
3 R.d. Person P.O.V.
"Bagaimana kau bisa" ucapan (Y/n) terpotong oleh Bakugou. "Sudah kubilang bukan? Aku memiliki penglihatan aneh tentangmu di setiap malam sialan!" ucap Bakugou dengan kesal. Gertakan giginya itu membuat (Y/n) sadar kalau laki-laki itu memedulikannya.
"Terimaka" ucapan terimakasih itu terpotong saat (Y/n) merasakan gemuruh yang hebat mendatangi kepalanya. Seisi otaknya itu serasa berat dan sirkulasinya terasa berhenti, "Hoi! GADIS RSJ! KAU KENAPA?!" kata Bakugou sambil meninggikan suaranya.
***
(Y/n) P.O.V.
Kenapa ini? Aku ini kenapa? Mataku jadi gelap dan kepalaku pusing, setelah itu nafasku jadi terengah-engah dan tidak terkendali...
*Keadaan dirinya dari dunia nyata itu memasuki dirinya secara tiba-tiba*
"Nona (Y/n)! Kumohon tenanglah!" kata seorang perawat bodoh yang menghalangiku. "JANGAN GANGGU AKU SIALAN! LUKISANKU- LUKISANKU!!?! LUKISANKU MASIH BELUM SEMPURNA!!!" kemudian aku mematahkan canvasku sendiri.
'Apa-apaan ini?!' - 'Mengapa aku melakukan hal seperti ini? Hal seperti itu tidak akan terjadi, kan?'
*Sepotong memori yang masuk* -Fyi : Jadi ceritanya (Y/n) itu beradaptasi buat masuk dan nerima sudut pandang asli dari Ibu Kandungnya.
"Kau itu bukan anakku! Kenapa aku harus bertanggung jawab?!" saat itu aku tiba-tiba masuk ke tubuh seorang wanita yang asing yang sedang mengintip seorang dari kejauhan.
Sebenarnya ini dimana? Ini di rumah sakit? Lalu kenapa aku bersembunyi dan melihat ke arah orang itu yang memarahi bayinya sen... Gumaman dalam hatiku itu terpotong saat melihat wajah ibuku sendiri... Ibuku sendiri lah yang memarahi bayi itu, hal itu membuatku sejenak berpikir... Sebenarnya seperti apa masa lalu ibu sebelumnya?
Aku tak mengerti, karena Ibu tak pernah bercerita sama sekali soal masa lalunya. Kemudian aku yang berada di tubuh ini berjalan pergi dan mengangkat telepon.
"Halo, saya akan segera kesana" ucap diriku yang berada di tubuh seorang yang asing. Kemudian diriku itu berjalan menuju tangga darurat, dan menemui seorang laki-laki yang berwibawa. "Nona, pameran lukisan akan segera diselenggarakan. Kita harus pergi" kata seorang itu padanya.
"Lancelot, bisakah aku minta tolong sesuatu?" tanya diriku. Seorang yang bernama Lancelot itu sedikit tersentak, "Kenapa, nona?" tanyanya lagi. "Tolong panggil seseorang agar bisa mengawasi adikku. Sekarang dia ada di kamar AD40, dan tolong kau berikan gaji yang sesuai dengan pekerjaannya" ucap diriku lagi kepadanya. Dia terlihat canggung dan kembali membuka mulutnya, "Maaf kalau diri saya lancang, tetapi... Sampai kapan anda terus berbuat baik begini kepada adik anda, Nona Adelle?" tanyanya dengan serius.
Adelle? Siapa? Dan adiknya... Ibuku? Mengapa Ibuku tidak pernah menceritakan soal ini?
"Yuli adalah anak yang malang, dikarenakan lingkungan di sekitarnya tidak mendukung dirinya... Dia jadi seperti itu"
*End of Sepotong memori yang masuk - Back to 3 R.d. Person P.O.V.*
(Y/n) yang tidak membalas perkataannya itu, membuat dirinya panik karena wajah (Y/n) yang pucat. Selang beberapa detik (Y/n) tersadar akan kondisinya itu, "WOI!" hal itu membuat (Y/n) sekali lagi kaget. 'Yuli? Adelle siapa?' batin (Y/n) secara sekilas. "Kenapa, Bakugou?" tanya (Y/n) sambil mengenyampingkan memori barusan.
"Kau" kemudian Bakugou menutup rapat mulutnya. "Nggak jadi" lanjutnya pada (Y/n). (Y/n) tersenyum dan melihat keadaan saat itu, roti garlic barusan yang Bakugou makan kini sudah habis dan hanya tersisa sampah saja. "Bakugou... Makasih banyak karena sudah membantuku... Dan kau sudah habis ya?" tanya (Y/n) yang langsung berbasa-basi. "YAIYALAH! KALAU UDAH TAHU NGAPAIN TANYA!?!" solot Bakugou.
"Kamu ini nggak ngerti teknik basa-basi seorang perempuan ya" ucap (Y/n) sambil menghela nafas pelan. "AKU TAHU DAN AKU NGGAK MAU MELAKUKANNYA SIALAN!" kata Bakugou to the point.
"Wajar sih, tapi aku tidak peduli! Mari kita makan!" ucap (Y/n) sambil mengucapkan doa sejenak dan makan.
*Ilustrasi buat cuci mata, sumber : Pinterest. (Kalian bisa sesuaiin sendiri tempatnya dan rambut Y/n nya ya^^)*
Ntar kalau ada waktu kubuatin ilustrasi deh:^**
'Kalau aku teriak kegirangan disini kira-kira boleh nggak ya?' batin (Y/n). 'Nggak dimensinya yang bagus, ada bahan banyak buat cuci mata, bahan buat ngerhalu, dan lagi makanannya enak! Gila top banget disini!' ucap (Y/n) dalam hatinya.
"Memangnya seenak itu?" tanya Bakugou pelan. (Y/n) mengangguk dengan cepat, "Kata siapa nggak enak!? Ini enak banget tau!!" kata (Y/n). Kemudian (Y/n) terdiam sejenak, "Mau?" tanya (Y/n) padanya sambil tersenyum ceria.
Bakugou tersentak, 'Hah? Dia mau aku makan bekasnya?!' batinnya secara sekilas sambil mengernyitkan keningnya.
"NGGAK! ENAK AJA AKU MAKAN BEKASMU!" protes Bakugou dengan nada meninggi saat melihat (Y/n) memberi lihat roti yang ia makan.
"Aku nggak mau menyodorkan bekasku juga kok!" ucap (Y/n) kepadanya sambil membuang wajahnya secara sengaja. Hal itu tentu saja membuat Bakugou malu karena ke-geer-an, "HAHH?!" katanya spontan.
"Iya juga, kau nggak begitu suka makanan manis kan?" ucap (Y/n) sambil makan. "Sehawusny akoh belwi banywuak -Seharusnya aku beli banyak" katanya sambil makan.
'Dia ini mau mati apa?' pikir Bakugou saat melihat (Y/n) yang makan sambil berbicara. "HABISIN DULU BODOH!" protes Bakugou padanya. 'He? Dia nggak nyaman kalau aku berbicara sambil makan ya?' batin (Y/n). 'Kalau makan makan- Ngobrol ya ngobrol sialan' batin Bakugou secara sekilas.
Kemudian (Y/n) menelan makanannya, "Iyain aja deh" ucap (Y/n) kepadanya. "IYAIN-IYAIN AJA APA MAKSUDNYA?! KALAU LU MAKAN SAMBIL NGOMONG NTAR KESEDEK TERUS MATI GW NGGAK TANGGUNG JAWAB!" protes Bakugou padanya. "Guwehh nggak bakal mat" baru saja dibicarakan... Namun (Y/n) benar-benar tersedak makanan, "NAH LOH KAN?!" kata Bakugou dengan kasar.
"AWAS MATI WOI! JANGAN MATI!" kemudian (Y/n) hanya bisa tertawa sambil terbatuk-batuk... "Ma- S-sA KkE- Ss- ED- EK DoO- ANG BISA MATI HE-HEH!?! -Masa kesedek doang bisa mati heh!?! " protes (Y/n) yang kini tidak bisa mengontrol batuknya. Batuknya dan tawaannya itu tercampur aduk hingga membuatnya kesal, "NGGAK ADA YANG LUCU! HENTIKAN BATUKMU ITU SIALAN!?!" kata Bakugou dengan panik dan kesal dengan perilaku (Y/n) yang tidak patuh pada perkataannya.
"Kalau makanan mu itu terlalu besar hingga tidak bisa membuat epiglotismu menutup. Itu bisa menghentikan proses pernapasanmu sialan!" protes Bakugou padanya.
Selang beberapa detik (Y/n) sudah tidak batuk lagi,
'Yaelah anak pinter, kenapa harus bawa biologi sih?!'
- batin (Y/n) yang saat itu tertusuk oleh ucapan anak yang pintar.
"WOI! MINUM!" perintah Bakugou yang kini sudah ada di depannya dan memberikan botol minum yang tadinya berada di sebelah minum. "Lu bisa nggak sih jangan nakutin gw dengan cara bilang jangan mati? Gw jadi takut ***!" ucap (Y/n) yang langsung mengambil botol minum dari tangannya dan menyadari sesuatu.
'Wah gawat- aku kelepasan' ucap (Y/n) dalam hatinya yang sadar bahwa ia berkata sedikit kasar kepada bakugou. "Untung gw ngingetin... kalau nggak lu bisa mati! Kau harus berterimakasih padaku" ucap Bakugou langsung memasang senyum liciknya. "Heh! Jangan takutin aku dong!" ucap (Y/n) yang tiba-tiba panik karena Bakugou mengatakan kata 'mati'.
"Iya sayang iya" secara tidak sengaja (Y/n) langsung menyebur air minum ke depannya. "BAKUGOU?! LU BILANG APA?!" kata (Y/n) yang kini tidak percaya, matanya sedikit berbinar dan wajahnya sedikit merona karena baru pertama kali Bakugou mengucapkan kata 'sayang' yang bahkan dia tidak pernah dengar saat di Anime aslinya.
"OI BAJU GW *****! BAJU GW! LU JOROK ***!?!" keadaan berubah karena Baju Bakugou yang basah akibat (Y/n) menyembur.
... 'Eh?'
"Hwaa! Sorry! Aduh... Gimana nih!" ucap (Y/n) yang panik. "JANGAN PEGANG-PEGANG HEH!" protes Bakugou. "Aku aja belum megang!" protes (Y/n) padanya. Hal itu membuat (Y/n) kesal karena Bakugou terus menerus menghindarinya... "Sini ah! Biar kulihat!" kata (Y/n) yang tiba-tiba menarik tangan Bakugou dan memegang di area basah. "O-OI!"
Hal itu membuat (Y/n) merasa bersalah dan berusaha mencari jalan keluar, 'RASANYA GADIS INI INGIN KULEDAKKAN SIA-' kata-kata dalam hatinya itu terpotong di saat (Y/n) menyentuh pelan bajunya yang membuat dirinya menjadi gugup.
Secara tidak sadar (Y/n) langsung membuat suatu kondisi dimana baju Bakgou tiba-tiba kering, 'Eh kok kering?' batin Bakugou secara sekilas. "Hm? Bakugou udah kering tuh!" ucap (Y/n) dengan ceria.
Kemudian dia mendongak ke atas, dan secara tidak sengaja wajah mereka berdekatan. 'EH GILA DEKET BANGET BOSS!' batin (Y/n) secara sekilas.
*Sumber : Pinterest (Kurang lebih begitu, saya nggak nemu gambar yang cocok buat scene ini... Ntar kurevisi deh kalau aku dah dapet TvT) // bajunya btw baju biasa ya bukan baju heronya T>T
Dengan cepat mereka berdua langsung menghindar, diam sejenak dan memproses apa yang terjadi. "OI!" panggil Bakugou setelahnya. "Ah! Aku duduk lagi ya!" ucap (Y/n) yang langsung berjalan dengan kaku ke arah taplaknya.
"Kau apakan bajuku?" hal itu membuat langkah (Y/n) terhenti. "Baju?" tanya (Y/n) sambil berbali. "Apa lagi kalau bukan bajuku sialan... Kau apakan bisa sampai kering begini?" tanya Bakugou dengan serius. "Eh... Nggak tau juga?" kata (Y/n) sambil memiringkan kepalanya.
Hal itu membuat Bakugou naik darah karena kesal, "SUDAH AH! AKU MALAS BERBICARA DENGANMU!" kata Bakugou sambil berbalik. 'Eh?! Kok pergi?!' batin (Y/n). Kemudian (Y/n) melangkah cepat, "Tunggu Bakugou! Aku akan menjelaskannya!" ucap (Y/n) dengan suara keras.
Bakugou membuat senyum tipis saat membelakangi (Y/n), "Kalau begitu jelaskan sialan" ucapnya sambil berbalik dan mengembalikan ekspresi wajahnya seperti sedia kala. 'Eh? Terus aku mau ngomong apa dong?!' batin (Y/n) dalam hatinya.
"Hm- eto" ucap (Y/n) sambil berusaha untuk memikirkan perkataannya. 'Tch, ada-ada aja.. Dia mau ngomong tapi dia nggak tau cara nyusun katanya?' batin Bakugou sambil mengendalikan emosinya.
'Pft, bagaimana caranya untuk memanggilku kembali patut diapresiasi' batin Bakugou. "Jadi teoriku soal quirkmu itu bisa dibilang benar kan?" hal itu membuat mata (Y/n) terbelalak.
"Aku nggak yakin" ucap (Y/n) dengan merendah. "Tch, lalu?" tanya Bakugou sambil mengernyitkan kening. "Tapi sepertinya teorimu itu benar" ucap (Y/n) yang kembali melanjutkan perkataannya.
*** Switched scene (With Author Naration P.O.V.)
"Nona (Y/n) sudah saatny" kemudian perawat itu menghentikan perkataannya. "Nona (Y/n)! Tangan anda!" ucap perawat itu dengan panik. Dengan cepat perawat itu mendekati (Y/n), "Nona apa kau tak-" ucapannya itu terhenti di saat (Y/n) mendorongnya dengan keras menggunakan satu tangannya. Kini pakaian si perawat sudah terkena darah (Y/n), tanpa mengatakan maaf tanpa merasa bersalah (Y/n) menatap tajam perawat itu dan berkata.
"Jangan sentuh aku dasar serangga kotor!" ucap (Y/n) dengan nada dingin. Seketika atmosfer terasa dingin dan tajam, hal itu membuat sang perawat tersentak dan sedikit tersinggung.
Dengan cepat (Y/n) berdiri, karena tingkahnya yang terlalu sembrono itu... Infusnya yang berada di tangannya itu kini terlepas. Sebenarnya tak apa jika (Y/n) melepaskan infusnya, karena seharusnya hari ini adalah hari dimana (Y/n) harus melepas infusnya dan mengecek keadaan agar dirinya bisa pulang.
Biasanya, saat (Y/n) pergi ke dimensi lain. Tubuh aslinya itu aman dan tidak melakukan apa-apa. Namun tidak dengan kali ini, tubuhnya itu terasa seperti dikendalikan oleh orang lain selain (Y/n). Karena itu jangan heran mengapa (Y/n) menerima suatu penglihatan di dunia yang lain, dan juga memori yang ia dapatkan dari masa lampau.
Sebenarnya apa yang terjadi? Hal itu sama sekali belum terjawab... Karena itu biarkan waktu terus berjalan dan menjawab semuanya.
*** Back to the other dimension - With 3 R.d. Person P.O.V. ***
"Sebenarnya tadi aku sempat merasakan adanya angin yang keluar dari tanganku" ucap (Y/n) yang kini sedang duduk di taplak sambil melihati tangannya.
Bakugou melihati (Y/n) secara sekilas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Apa ada hal yang kau lakukan sebelumnya?" tanya Bakugou padanya. 'Entah mengapa dia ini seperti menginstropeksi diriku untuk menyadari suatu hal yang belum aku ketahui' batin (Y/n) secara sekilas.
"Sebelumnya? Aku tidak terlalu mengerti... Ttapi satu hal yang pasti aku" tiba-tiba (Y/n) menghentikan perkataannya karena menyadari sesuatu. 'Ah iya juga, apa ini karena perasaan bersalahku yang begitu kuat barusan?' batin (Y/n). "Aku sempat merasa bersalah padamu, karena aku bajumu basah... Apa lagi, air itu berasal dari mulutku" kata (Y/n) dengan terus terang.
Hal itu membuat Bakugou kembali mengingat kejadian tadi dimana (Y/n) menyemprotkan air itu ke pakaiannya. "SURUH SIAPA LU NYEMBURIN HAH??! LAGIPULA KAU INI MEMANG JOROK SIALAN!"
"KALAUPUN KAU DIBILANG SEBAGAI ANAK TAK ATAUPUN RSJ MUNGKIN SAJA BEBERAPA ORANG AKAN PERCAYA KALAU KAU SEPERTI ITU SIALAN!" protes Bakugou. "Maaf" ucap (Y/n) dengan pelan. 'Sial aku salah bicara' batin Bakugou yang merasa bersalah karena ia meneriaki (Y/n).
"MAAF! LAGIPULA KAU SIH"kemudian Bakugou menghentikan perkataannya karena (Y/n) tersenyum sambil menunjukkan jempolnya. "Daijobu! Aku tahu kok!" ucap (Y/n) yang keceplosan menggunakan bahasa Jepang.
"Woi! Sudah kubilang jangan gunakan bahasa yang bercampur itu kan?!" protes Bakugou. "Gomenne!" ucap (Y/n) dengan iseng. Hal itu membuat Bakugou mengernyitkan keningnya karena kesal\, dan juga menggertakan giginya. (Y/n) tertawa lepas karena Bakugou yang seperti itu\, "KUPING GW BISA RUSAK *****!?!" protes Bakugou lagi.
"Iya deh iya!" kata (Y/n) sabil tersenyum lagi. 'Sialan sudah berapa kali sih dia tersenyum seperti itu?' batin Bakugou sambil berdecih. "Omong-omong Bakugou... Bisa aku coba ngomong bahasa Jepang la" permintaan (Y/n) itu ditolak Bakugou yang sudah frustasi. "NGGAK!"
"Cepet amat" komentar (Y/n). "AKU HARUS CEPAT KALAU TIDAK KAU BISA MERUSAK KUPINGKU *****!?!" ucap Bakugou padanya. Kemudian agar meredam masalah (Y/n) kembali menghabiskan makanannya\, "Jangan makan sambil bicara\, kalau nggak kubunuh kau!" ancam Bakugou.
"Hm! mmhmmmhm!" ucap (Y/n) yang kini makan sambil menutup mulutnya agar tidak tersedak lagi. "Sumpah- LU KENAPA GITU AMAT SIH!?!" ucap Bakugou yang kini menertawakan (Y/n).
(Y/n) dengan cepat menelan makanannya, "Yaelah bang! Gw makan bentar nggak ngomong dikomentarin juga! Lu kek ibu-ibu, tapi selera ketawanya kayak bapak-bapak!" ucap (Y/n) to the point sambil melahap makanannya lagi. Setelah itu Bakugou menyadari perbuatannya,
"HEH! LU BILANG APA!?!" protesnya. "Tapi emang kamu begitu kan? Aku menerimanya kok, justru kalau kamu nggak gitu, nggak seru ntar" ucap (Y/n) setelah menelan makanan. Hal itu membuat dirinya sedikit tersentak, "Btw... Rotinya enak banget, emakmu punya selera yang bagus ya" puji (Y/n) padanya.
"Bagaimanapun keluarga si cewek berbat*ng itu memang jago masak" ucap Bakugou dengan terus terang. "Eh itu- Tokonya punya saudaramu?!" kata (Y/n) dengan kaget. "Tch, kalau aku bilang iya memangnya kenapa?" katanya sambil memasang senyum meremehkan terhadap (Y/n).
"Owalah pantas saja kau punya bakat masak..." gumam (Y/n) sambil embali melahap makanannya. "Aku bukan pintar masak karena gen kau tahu itu?!" ucap Bakugou sambil mengernyitkan keningnya.
'Mulai lagi deh... Namanya juga Bakugou ya, mood swingnya cepet banget' batin (Y/n) secara sekilas.
Author Naration P.O.V.
"Bakugou makasih ya buat hari ini!" ucap (Y/n) padanya. "Tch, jangan berterimakasih padak" ucapannya terhenti karena keberadaan (Y/n) yang menghilang. 'Sialan- dia ini seenaknya saja' batin Bakugou dengan kesal.
Ingat dengan kejadian yang barusan? Dimana (Y/n) mendapatkan ingatan yang tidak terduga?Hal itu benar-benar berkaitan erat dengan keadaan (Y/n) selanjutnya.
Kemudian setelah beberapa detik (Y/n) menghilang... Bakugou pergi untuk kembali ke asrama U.A dan berencana untuk melanjutkan latihannya.
Namun sebelum ia pulang, ia mendengar suara orang terjatuh tepat di belakangnya. Karena penasaran dengan suara yang begitu keras, Bakugou menoleh...
Suatu hal yang tak terduga terjadi, (Y/n) tampak terjatuh di dalam tanah dengan kondisi yang tidak memungkinkan. "Hey! KAU KENAPA SIALAN!?!" teriak Bakugou padanya.
(Y/n) P.O.V.
"Bakugou makasih ya buat hari ini!" ucapku padanya sambil tersenyum ramah. "Tch, jangan ber" ucapannya terpotong karena keadaan sekitarku mulai meredup. Apa aku akan kembali ke duniaku? Sepertinya aku tidak pernah melakukan hal yang seperti ini sebelumnya?
"(Y/n)" panggil seseorang dengan lembut kepadaku. Seketika ruangan itu menjadi terang, aku dapat melihat wajah seorang wanita yang cantik bagaikan malaikat. "Kau cantik sekali, nak" katanya lagi padaku. Saat itu aku dapat merasakan kembali ingatan aneh yang berada di dalam kepalaku. Tubuhku yang masih kecil bagaikan bayi, dan gendongan seorang wanita yang aku tidak kenal sama sekali, apakah ini Ibu? Tetapi mengapa wajahnya sangat berbeda?
"(Y/n)" panggil seseorang lagi. Kini aku berada di tempat yang berbeda, ini? Bukankah ini taman yang waktu itu?
*Taman yang dimaksud adalah taman yang berada di #2 - Another Dimension*
"(Y/n)... Maafin Ibu, ya... Ini semua karena Ibu terlalu baik terhadap Yuli yang kini sedang merencanakan suatu hal yang tidak baik padamu" ucapnya lagi. Aku mengernyitkan keningku sedikit, "Anda siapa? Mengapa anda terus muncul di pikiranku?" tanyaku padanya. Dia hanya bisa tersenyum tipis dan keberadaannya itu hilang dengan halus.
Entah mengapa... Secara naluriah air mataku menetes, hatiku terasa sakit, aku tidak mengerti mengapa aku merasakan hal yang seperti itu. Ada suatu hal yang tidak beres... Ada suatu hal yang perlu aku cari, begitulah perkataan yang secara sekilas kupikirkan didalam otakku.
Seketika aku berpindah tempat... Sesuana yang sangat berkebalikan dengan yang tadi, disini benar-benar gelap dan menyesakkan. Rasanya tubuhku itu seperti terbakar dengan percikan api yang panas. Saat itu mataku sangat berat sehingga aku tak dapat membukanya... Dengan tekad yang kuat aku memaksakan diriku sendiri untuk membuka mata.
'Hei nak! Kau mau tahu tentang apa yang terjadi dalam hidupmu?' kata seorang kepadaku. Tekanan dari dalam dirinya itulah yang menjadi masalah untukku. Karena tekanan dan juga aura yang ia sebarkan secara kuat... Aku jadi mual dan tidak bisa mengendalikan diriku.
'Kau mau kan? Bagaimanapun kau ini anak haram yang seharusnya tidak lahir!' perkataannya itu membuat jantungku jadi berdetak kencang. Aku yang sedari tadi memaksakan diri untuk membuka mata, kini... Mataku terbuka dan kaget dengan keadaan sekitar.
Tempat dimana aku berdiri saat itu terdapat banyak api dan asap hitam yang menutupi pandanganku. "Apa maksudmu aku anak haram! Aku ini anak kandung dari ibuku sendiri, kau tahu itu?!" kataku dengan intonasi yang meninggi.
Dia tertawa dengan nada seram, 'Khi khi khi, lihatlah anak haram ini! Dia berlagak tahu segalanya, padahal kau sudah melihat sedikit cuplikan memori kan? Kenapa kau tidak sadar?!' kata asap itu yang kemudian membentuk wajah ibuku.
Aku membelalakan mataku karena melihat pribadi itu membentuk dirinya serupa dengan ibuku. "HEI! JANGAN MAIN-MAIN DENGAN WAJAH IBUKU!" teriakku padanya. Dia tertawa dengan licik dibalik wajah Ibuku,
*Masih dengan ilustrasi yang sama dimana roh itu membentuk wajah seperti gambar di atas*
'Ibu? Hei, Ibu aslimu itu sudah mati!' Hah..? Kemudian situasi disana berganti, aku melihat dengan jelas kenangan yang sama sekali aku tidak kenal...
*Potongan memori masa lampau (With unknown P.O.V.)*
*Sebagai tambahan\, (Y/n) sama sekali nggak kenal orang itu. Jadi biar para readers bisa ngerti itu siapa aku tambahin keterangan di percakapan kedua belah pihak ini ya*
"Mengapa kau ini tidak bisa diatur?" ucap Ibu dari Yuliana. Yuliana hanya bisa terdiam dan mengepalkan tangannya dengan kuat, "Nilaimu benar-benar jelek! Bisanya cuma main-main sama teman-temanmu dan menghabiskan orang tua!" kata ibunya itu lagi padanya.
"Coba lihatlah kakak mu itu! Kau tidak pernah jadikan itu sebagai bahan referensi ya?" katanya lagi. "ADUH! IBU INI KENAPA SIH?! NILAIKU KAN PAS KKM DAN NGGAK PERNAH ADA YANG NGGAK TUNTAS!" kemudian Ibunya itu menampar Yuliana. "Ibu nggak pernah ngajarin kamu ngelawan! Udah berani ya, kamu!" kata Ibunya lagi.
Ibunya itu terus menerus mengoceh kepadanya. 'Si bangka tua ini benar-benar gila... Merasa sok benar dan menampar seenaknya... Sialan' batin Yuliana.
Sesuasana berganti dimana Yuliana memasakan makanan untuk kedua orang tuanya sebelum orang tuanya itu pergi. Karena Yuliana tahu bahwa kedua orang tuanya itu mengidap Lactose Intoleran dia membuat makanan yang mengandung kandungan susu sangat banyak.
*Lactose Intoleran adalah penyakit yang tidak bisa menoleransi produk susu, singkatnya si penderita nggak punya ezim laktosa buat ngolah susu... Jadi penderita cenderung ngalamin perut kembung, diare, dan sering buang angin.
Saat itu dia membuat dodol yang ia buat dari susu sapi, dan dodol tersebut diberikan kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya itu tanpa curiga langsung memakan apa yang diberikan oleh anaknya. Kedua orang tuanya itu berpikir kalau anaknya itu ingin berbaikan dengan keduanya... Dan dodol tersebut bisa dikatakan tanda perdamaian. Yuliana tersenyum karena rencananya tersebut berhasil, dibanding disebut sebagai tanda perdamaian. Dodol itu lebih layak disebut tanda kematian.
Tepat seperti apa yang dipikirkan Yuliana, Ayahnya yang saat itu sedang menyetir... Menjadi tidak fokus dalam menyetir karena sakit perut. Selain itu Ibunya pun tidak bisa membantunya karena merasakan gejala yang sama.
Dan pada akhirnya nyawa mereka berakhir secara tragis.
*End of Potongan memori masa lampau (Back to Y/n P.O.V.)*
Siapa anak itu? 'Kau masih bertanya ya? Itu kan ibumu yang kau akui' hal itu membuatku kaget untuk ke sekian kalinya. "Kau bohong! Ibuku tidak pernah melakukan hal yang seperti itu!" protesku dengan tegas kepadanya. 'Dilihat-lihat kau ni semakin mirip dengan Adelle ya'
"SIAPA ADELLE?! SIAPA YULIANA?! MENGAPA KAU MENGHUBUNGKAN CERITA INI DENGANKU?!" saat itu aku benar-benar tidak bisa memegang kendali atas emosiku.
Kemudian dirinya yang masih menggunakan tubuh ibuku itu tersenyum licik, 'Bagaimana kalau kau tanyakan sendiri kepada Ibumu itu? Bukankah dia pasti tahu jawabannya?' katanya lagi.
"SEKARANG KAU MALAH MENYURUHKU? JELASKAN SEKARANG!" teriakku padanya. 'Sepertinya kau sudah tahu terlalu banyak, ya? Khi Khi Khi...Bukankah kau tidak mempercayaiku? Coba saja tanya ke Idris! Idris tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu ya?' Idris? Mengapa dia memanggil nama ibu seenaknya?!
Kemudian kepalaku mulai pusing karena terlalu banyak mendapatkan informasi...
Kepalaku pusing karena terlalu menerima banyak hal... Terlalu banyak yang tidak bisa dijelaskan... Dan terlalu banyak hal yang tidak bisa kususun! Sebenarnya apa yang terjadi padaku?!
Setelah itu aku kembali di ruangan cahaya putih, berbeda dengan taman bunga yang tadi dan ruangan gelap dengan penuh kobaran api.
Tempat ini benar-benar sunyi dan...
Author Naration P.O.V.
(Y/n) membelalakan matanya saat melihat tubuh aslinya yang berada di dunia nyata itu berdarah-darah. Secara sekilas dapat kita katakan kalau saat itu (Y/n) sedang diperhadapkan dengan dirinya yang lain. Tangan yang tadinya dipasang infus itu berdarah-darah... Dan wajahnya pucat dengan banyak darah di kepalanya.
(Y/n) membelalakan matanya karena ada suatu roh yang memegang kendali tubuh (Y/n). Kacau? Itulah kata-kata yang bisa menjelaskan kondisi saat itu.
(Y/n) kembali teringat dengan memori dirinya yang ia dapatkan sedari bersama Bakugou. Memori itu tentang dirinya yang merusak canvasnya sendiri. Kemudian dia melihat kalau roh itu sedang memegang pisau dan melukai kepala dari tubuhnya itu sendiri. "HEY! PA YANG KAU LAKUKAN PADA TUBUHKU! KELUAR!" bentak (Y/n) kepadanya sambil menarik tubuh asslinya itu daripada roh itu.
Seketika kendali roh itu terlepas dan tubuhnya itu secara mendadak melepaskan pisau yang ia pegang. Pisau itu jatuh ke tanah dan menghilang, (Y/n) meletakkan kedua tangannya itu di atas pundak wadah jiwanya.
Berbicara soal wadah jiwa, wadah jiwa yang dimaksud adalah tubuh (Y/n) sendiri. Sedangkan dirinya yang sekarang merupakan perwujudan roh yang keluar dari tubuh aslinya. Di saat (Y/n) ingin menangis karena tubuh aslinya itu berdarah-darah...
Ia pun kembali memegang kendali atas tubuhnya sendiri.
*** 3 R.d. Person P.O.V. (Di saat kendali tubuh Y/n tidak berada di dalam tangannya***
Kemudian (Y/n) mengambil canvasnya dan melemparnya ke tanah, ia menginjak dengan sekuat tenaga, dan melempar semua alat lukisnya sehingga warna-warnanya itu berceceran di beberapa bagian dinding dan lantai. Dia menatap tajam si perawat, sehingga perawat itu bergetar.
Kemudian dia terhenti sebentar dan melihat ke langit-langit, matanya itu mulai mengeluarkan air mata. Hal itu membuat si Perawat tersadar kalau (Y/n) sedang mengalam depresi atau semacamnya. Karena itu dia melawan takutnya dan berdiri mendekati (Y/n). "Nona (y/n)... Tenang dulu ya?" (Y/n) terdiam. "Apa nona kaget?" pertanyaan itu kembali dihiraukannya.
"Apa nona tidak suka dengan saya?" kemudian (Y/n) menunduk dan badannya itu mulai bergetar. 'Tubuhnya... Sepertinya Nona (Y/n) belum bisa berdiri secara stabil' batinnya.
"Apa mau saya ambilkan canvas yang baru?" hal itu membuat mata (Y/n) terbelalak, "AKU TIDAK MAU MELUKIS!!" teriak (Y/n) yang kemudian merasa gelisah dan perilakunya itu tampak tidak enak dilihat.
"JANGAN IKUT CAMPUR! AKU BENCI MELUKIS!?!" kemudian (Y/n) terjatuh ke tanah dengan posisi berlutut dan kedua tangannya itu memegang kepalanya. 'Tidak suka melukis!? Apa nona (Y/n) sedang bercanda?' batin perawat itu. "SIALAN! TUBUH INI MENGAPA BANYAK MAUNYA SIH!?! AKU MAU TERLEPAS DARI INI SIALAN!" katanya dengan nafas berburu."Nona (Y/n)! Tenanglah! Itu hanya halusinasi!" ucap si perawat dengan panik.
"Nona (Y/n)! Anda harus" kemudian perkataannya itu terhenti saat (Y/n) berusaha untuk berdiri dan mengambil kembali canvas yang sudah ia kerjakan itu. "Karena ini- kan?!"
"LUKISAN SIALAN!?! LUKISAN INI BENAR-BENAR GILA! LUKISAN INI BELUM SEMPURNA *****!" teriakan (Y/n) itu sangat keras sehingga menarik perhatian sekitar. Dia mulai merusak barang-baran di sekitarnya dengan cara memukul benda-benda di sekitarnya dengan canvasnya itu.
Tentu saja banyak barang pecah, dan kamar itu mulai berantakan bagaikan kapal pecah.
"Nona (Y/n) hentikan!" ucap beberapa perawat yang tiba-tiba berdatangan.
"Nona, hentikan!"
"Nona!"
Ada beberapa dari mereka yang berusaha untuk menahan tindakan (Y/n).
Namun... Mereka semua kalah karena (Y/n) yang mendadak menjadi sangat kuat...
Terdengar sebuah suara langkah kaki cepat menuju ruangan itu, pintu terbuka dengan cepat... Nafas yang berburu, dan wajah yang tampak stress."(Y/N)!" teriak Ibunya yang tiba-tiba datang.
Hal itu membuat (Y/n) terhenti, melihat ke arah ibunya itu dan berkata "IBU! LUKISAN INI BELUM SEMPURNA KAN?!" kata (Y/n) dengan wajahnya yang emosional sambil memberi lihat canvasnya. Hal itu membuat Ibunya teringat dengan memori masa lampau, dirinya yang kesal karena anaknya itu terlihat seperti orang yang ia benci itu kini dia berteriak di depan (Y/n).
"(Y/N)! HENTIKAN! DASAR KAU ANAK GILA!" hal itu membuat (Y/n) kaget, kemudian dia berteriak bagaikan orang gila... "ARGHHHH! LUKISANKU! SIALAN KAU (Y/N)! SIALAN!" kemudian dia mulai menubruk kepalanya sendiri dengan besi yang ada di sana... "(Y/N)!?! HENTIKAN!" ucap Ibunya yang mendadak mendekati (Y/n) dengan tempo langkah cepat.
"(Y/N)!" tepat saat itu (Y/n) yang berasal dari dimensi lain kembali. Kemudian (Y/n) memegangi dadanya karena sesak, kepalanya yang saat itu pusing karena kehilangan banyak darah... Dia tersadar akan keadaan yang saat itu dia tidak mengerti sama sekali. "I-Ibu... Kenapa ada banyak dar" belum sempat (Y/n) menyelesaikan perkataannya dia ditampar oleh ibunya sendiri.
"DASAR KAU ANAK BODOH!?! APA YANG KIRA-KIRA KAU LAKUKAN?!" teriakan ibunya itu kemudian diikuti dengan tatapan-tatapan para perawat yang menatap ke arahnya. 'Apa yang t-terjadi?' batin (Y/n).
Seketika traumanya itu memenuhi kepalanya, dengan cepat (Y/n) berlari keluar dengan kondisinya yang saat ini kehilangan banyak darah. "(Y/n)?! CEPAT KEMBALI! KALAU TIDAK KUKELUARKAN KAU DARI KARTU KELUARGA!?!" ancam Ibunya itu dari dalam ruangan. Tentu saja ancaman itu membuat (Y/n) terhenti, "KUBILANG KESINI! DALAM HITUNGAN 1..!" Entah mengapa dirinya sekarang memilih untuk kabur,
'Kau gila ya (Y/n)? Padahal kan kau bisa saja menyelesaikan masalah di saat itu juga'
Begitulah pernyataan yang sedang diributkan didalam kepalanya. Perubahan alur hidupnya yang sangat tiba-tiba itu membuat dirinya bingung, orang-orang melihatinya dan mencibirnya. Namun ia harus tetap berlari saat itu. Memang sangat tidak masuk akal pikirnya, bisa-bisanya dirinya yang baru sembuh itu... Mendapatkan luka baru yang penyebabnya sama sekali ia tak ingat.
*** Jauh di masa depan ***
"Memang itu sangat beresiko, (Y/n)... Kau tidak bisa meninggalkan tubuhmu begitu saja dan pergi ke dimensi lain tanpa persiapan" ucap seorang wanita sambil menyeruput tehnya. Setelah menyeruput tehnya, ia kembali membuka mulutnya untuk berbicara... "Dunia ini jahat ketika kau tidak berada dalam tubuhmu, kau tidak bisa memutar balik waktu, ataupun mengandalkan emosimu lagi... Jadi, apakah setelahnya kau dapat menangani masalah yang ada?" katanya lagi sambil lanjut meminum teh.
*** Back to present ***
(Y/n) berlari menuju tangga darurat dan kembali bertemu dengan seorang laki-laki yang berpakaian rapih di sana.
'Lancelot, aku ingin minta satu hal padamu... Aku tidak tahu apa yang akan Yuliana lakukan selanjutnya... Kumohon jagalah semua yang berkaitan denganku'
Disaat (Y/n) ingin terjatuh, Lancelot menahan dirinya agar tidak terjatuh. "Dek, apa kau tidak apa-apa?!" ucap Lancelot yang panik terhadap (Y/n) yang baru saja ia temui.
-To Be Contunied to Ch 07,5
Selamat menuaikan ibadah puasa bagi kalian yang merayakan^^!
Maaf kalau telat update ya:')
Author sekarang berusaha buat up secepatnya deh:') Jadi sekarang author mau ngasih tau kalau cerita ini kemungkinan update 2 kali sehari? Soalnya author sekarang lagi berusaha untuk memanage waktu biar bisa update hehe:')
Pokoknya makasih banyak bagi kalian yang udah mau baca ya>