
3 R.d. Person P.O.V.
(Y/n) berlari menuju tangga darurat dan kembali bertemu dengan seorang laki-laki yang berpakaian rapih di sana.
'Lancelot, aku ingin minta satu hal padamu... Aku tidak tahu apa yang akan Yuliana lakukan selanjutnya... Kumohon jagalah semua yang berkaitan denganku'
Disaat (Y/n) ingin terjatuh, Lancelot menahan dirinya agar tidak terjatuh. "Dek, apa kau tidak apa-apa?!" ucap Lancelot yang panik terhadap (Y/n) yang baru saja ia temui.
Kemudian (Y/n) berkata pelan sambil berusaha untuk mendonggakan wajahnya itu untuk menatap ke arah Lancelot. "Aku tak mau kesana... Kumohon, tolong pindahkan aku ke tempat yang lain" katanya pelan. Lancelot membelalakan matanya karena ia dapat melihat wajah yang mirip dengan nona yang ia layani dulu.
"Nona Adelle?" tanyanya pelan. Namun (Y/n) sama sekali tidak mendengarkan dan sudah pingsan terlebih dahulu.
*Switched Dimension : 3 R.d. Person P.O.V.*
Suatu hal yang tak terduga terjadi, (Y/n) tampak terjatuh di dalam tanah dengan kondisi yang tidak memungkinkan. "Hey! KAU KENAPA SIALAN!?!" teriak Bakugou padanya. Bakugou berlari ke arahnya karena khawatir, dia menggoyangkan tubuhnya dengan harapan agar (Y/n) dapat terbangun dan tersadar dengan apa yang ia lakukan. Karena tubuhnya itu dingin bagaikan orang mati, Bakugou yang panik itu langsung memposisikan tubuh (Y/n) tepat di depannya.
"HEY! SADAR!" namun (Y/n) sama sekali tak menjawab. Bakugou dengan panik menggoyangkan tubuh (Y/n) sekali. Dua kali, tiga kali...
"WOI! JANGAN BERCANDA!" ucap Bakugou dengan sisi emosionalnya. Kemudian air mata (Y/n) menetes secara mendadak, hal itu membuat Bakugou sadar bahwa (Y/n) masih hidup. Tetapi di pikirannya itu masih memikirkan mengapa bisa tubuhnya itu bersuhu dingin. Dengan cepat ia memegang tangan (Y/n) dan mencari denyut nadinya. 'Sialan, jangan bercanda kau gadis rsj!' detak jantung Bakugou mulai berdetak kencang karena ia takut kehilangan (Y/n).
Kemudian detak jantungnya mulai berkolerasi dengan detak nadi (Y/n) yang kini ia sedang rasakan. 'Dia masih hidup ka' perkataan dalam hatinya itu berhenti ketika (Y/n) memegang tangannya.
(Y/n) yang meneteskan air mata itu secara mendadak membuatnya tertegun sejenak... "B-Bakugou... Apa memang aku ini tidak ditakdirkan untuk hidup?" kata (y/n) dengan lirih. "K- kau baik-baik saja?" tanya Bakugou padanya. (Y/n) menggelengkan kepalanya,
"Tidak... Aku tidak baik-baik saja"
▪️▫️▪️▫️▪️
#07\,5 - You and me | I'm Promise! | Bakugou Katsuki x Readers | Different world AU
Terlepas dari itu semua kau itu layak hidup! - Bakugou
▪️▫️▪️▫️▪️
Kini Bakugou hanya bisa terdiam di depan ruang perawatan Recovery girl, kemudian pintu itu terbuka dengan cepat Bakugou berdiri. "Apa dia baik-baik saja?" katanya dengan tenang. Recovery Girl mengangguk, "Tak ada yang aneh dari pengecekan fisiknya, kalau bukan dari fisiknya mungkin masalahnya adalah dari trauma dan juga faktor psikologis" ucap Recovery Girl kepadanya.
'Faktor Psikologis?' batin Bakugou secara sekilas. 'Sebenarnya mengapa anak ini sampai membela-belakan untuk datang kepadaku? Apa mungkin karena dia peduli dengan gadis ini?' batin Recovery Girl secara sekilas. "Bagaimanapun quirknya itu memiliki ciri khas yang langka, apakah kau tahu quirk yang dimiliki anak itu?" hal itu membuat Bakugou kaget.
Dia berpikir sejenak dan menggelengkan kepalanya, "Bagaimanapun gadis itu memiliki quirk yang berhubungan dengan cara pikirnya, spesialisasinya itulah yang membuatku berpikir seperti itu" ucap Bakugou dengan jujur.
"Sudah kuduga... Ini semua berasal dari traumanya" ucap Recovery Girl dengan jujur. "Aku masih tidak terlalu yakin tapi anak itu baik-baik saja... Sebaiknya jika kau mau tahu lebih lanjut sihlakan kau bawa ke tempat yang lain ya? Aku sudah terlalu tua untuk mengurus hal yang seperti itu" ucap Recovery Girl kepadanya. 'Nenek tua ini pasti mengatakan dia tidak mau mengurus anak yang bukan dari U.A kan?' batin Bakugou dengan sekilas.
"Terimakasih" ucap Bakugou pelan dan langsung menyelonong masuk ruangan. Recovery Girl sedikit kaget akan ucapannya itu, 'Anak ini, setelah All For One ditangkap... Dia menjadi banyak berubah' batin Recovery Girl.
***
Bakugou membuka pintu dan kembali menutupnya, (Y/n) tampak tenang di atas ranjang perawatan. 'Sebenarnya sampai kapan kau ingin membuatku khawatir terus, Gadis Rsj?' batin Bakugou.
Bakugou P.O.V.
Aku tak mau bicara banyak soal gadis ini... Aku selalu merasakan perasaan aneh jika berada di dekatnya, gadis yang terlalu terkekang, gadis yang tidak berani mengatakan keinginannya, gadi yang tertimpa banyak ekspetasi dan kebohongan. Itulah yang paling banyak mendeskripsikannya. Aku... Meskipun kami baru bertemu beberapa hari, entah mengapa aku selalu membayangkannya, memikirkannya, dirinya dan topengnya itu membuatku sadar akan keadaan setiap orang yang berbeda-beda.
'Bakugou, kau bahagia kan?'
Bagaimana aku bisa bahagia jika dirimu begini sialan... Aku melihat ke arah wajahnya yang tertidur, helaian rambutnya sedikit menutupi wajahnya. Aku merapihkan rambutnya agar aku bisa melihat wajahnya lebih jelas.
Hal itu membuatku teringat dengan perkataansi rambut aneh, 'Bagimu (Y/n) itu apa?'
Kipas angin yang berada di sekitar sana mulai berotasi ke arah kami, angin yang tenang itu membuatku semakin menyadari. Kalau aku benar-benar ingin membantunya. Aku tidak memiliki perasaan khusus, aku tidak memiliki maksud tersembunyi untuknya. Yang kurasakan hanyalah... Aku hanya menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Mungkin sebagai adik perempuan? Tch, benar-benar merepotkan. Bagaimanapun dia memang lebih muda jika dibandingkan denganku.
Tak apa jika aku menganggapnya lebih muda dibandingkan denganku kan?
(Y/n) P.O.V.
Aku membuka mataku perlahan, dan dapat menemui Bakugou yang berada di atas pandanganku. "Bakugou?" panggilku padanya. "Kau sudah bangun?" tanyanya pelan. Aku mulai memroses apa yang terjadi, aku kembali meneteskan air mata.
"Bakugou, aku ini beban kan?" kataku dengan spontan. Masa lalu yang kudapatkan dari penglihatan barusan masih saja memenuhi pemikiranku. "Bakugou... Apa tanggapanmu jika kau dibilang anak haram?" dia mengernyitkan keningnya.
"Siapa yang bilang begitu?!" katanya dengan tegas. Aku terdiam, "SIAPA YANG BILANG BEGITU HAH?!" teriaknya kepadaku sekali lagi. "Entahlah... Aku juga masih tidak tahu pasti" kemudian dia memegang pundakku dengan tegas, "PASTI TERJADI SESUATU KAN?!"
3 R.d. Person P.O.V.
(Y/n) kembali meneteskan air matanya, "Bakugou, maaf... Aku ini anak yang gagal kan? Apa aku ini beban? Kini aku... Sepertinya aku sekarang sedang mengalami masa kehancuran" ucap (Y/n) yang kini mengusap air matanya dengan kedua tangannya. Dengan pelan Bakugou mengangkat tangannya dari pundaknya, "Sedari awal aku selalu membebanimu dengan masalah-masalahku dan terlalu egois terhadapmu... Bukan hanya aku yang membutuhkan pertolongan, ak-" kemudian (Y/n) mulai terisak. "H-hey, hentikan!" katanya pada (Y/n).
"Kau sama sekali tidak seperti, mengerti?" kemudian Bakugou menundukkan kepalanya. (Y/n) memaksakan senyum dengan airnya yang masih meneteskan air mata.
"Apanya yang tidak seperti itu Bakugou? Ibuku sekarang sudah mengeluarkanku dari keluarganya" hal itu membuat Bakugou tersentak. "H-Hah?" (Y/n) mengangguk.
"Aku beban banget kan? Nilai nggak pernah bagus... Aku juga dulu kena penyakit hyperactive... Aku ini anak haram" kemudian (Y/n) menghentikan perkataannya. Tangisannya itu semakin menjadi, dia memeluk kedua kakinya yang kini sedang dilapisi oleh selimut dan menutupi mukanya dengan itu.
"Bakugou... Bisakah kau keluar sebentar? Aku butuh waktu sendiri" ucap (Y/n) dengan lirih. Bakugou menutup rapat mulutnya, dan mengepalkan tangannya dengan erat.
Kemudian (Y/n) mengangkat kepalanya, "Kenapa? Kau nggak mau keluar? Aku kan beban banget untukmu..." kata (Y/n) sambil merendahkan diri.
Dengan cepat Bakugou memeluknya, hal itu tentu saja membuat (Y/n) kaget. "B-Bakugou! Nanti bajumu bas" ucapannya terpotong oleh Bakugou. "Jangan pedulikan soal pakaianku,Sialan! Menangis saja sampai kau puas... Kita masih punya banyak waktu, aku tak mau meninggalkanmu sendiri... Oke?" ungkap Bakugou dengan tulus.
'Kenapa dia-' lalu air mata (Y/n) mengucur dengan deras. "Bakugou... Aku harus jadi apa?" ucap (Y/n) yang kini berada di pelukannya itu. "Aku capek, Bakugou... Aku benar-benar lelah..."
"H-harus masuk IPA..."
"Kamu harus pinter"
"Jangan aneh-aneh, jangan marah-marah!"
"Ibuku itu sedari dulu selalu berbohong kepadaku tentang mas-masa lalunya!" kata (Y/n) dengan sakit hati. "Aku nggak ngerti kenapa aku harus lahir! Aku nggak minta lahir kok!" teriak (Y/n) dengan sedikit keras.
"Identitasku ini siapa? Kenapa semakin kesini rasanya semakin sakit, Bakugou?"
"Apa memang aku separah itu? Aku ini terlalu tidak jelas... Masalah yang datang secara berderet ini..."
"Membuatku berpikir kalau aku adalah akar dari segalanya, Bakugou!" (Y/n) menangis lagi. Air matanya itu mengucur lebih deras dibanding saat ia bertemu dengan Bakugou. Saat itu Bakugou teringat dengan trauma saat All Might kehilangan quirknya, dia merasa kalau dialah akar dari segalanya. Hal itu sama persis dengan apa yang (Y/n) rasakan saat ini. "Aku nggak minta lahir! Nggak ada yang mau sama aku! Aku bener-bener nggak minta lahir kalau aku JADI BEBAN GINI BAKUGOU!" kata (Y/n) dengan kecewa.
Dirinya yang sering dibanding-bandingkan, disepet secara tidak sadar... Di saat semuanya membaik, badai datang secara tiba-tiba... Dirinya benar-benar tidak menyangka kalau dia memiliki masalah sebesar itu.
Karena itu dia hanya bisa mengubur emosi dan perasaan sedihnya di dalam hatinya. Dia tidak mau membebani orang lain dengan ceritanya. Namun, sekarang secara nggak sadar (Y/n) sudah menarik Bakugou ke dalam ceritanya dan masalahnya. Hal itu membuat (Y/n) merasa amat sangat bersalah...
'Amat sangat bersalah' mungkin adalah kata-kata yang tidak efektif untuk menjelaskan kondisinya... Namun, saat ini (Y/n) memang merasakan keadaan yang seperti itu.
"Kemana aku harus pulang? Aku nggak punya siapa-siapa... Kini aku jadinya menyusahkan dirim-" perkataannya berhenti di saat Bakugou mengelus punggungnya. Awalnya pelukan itu ditujukan untuk membuat (Y/n) tenang, kini (Y/n) merasa semakin tenang karenanya.
"Itu bukan salahmu, kau kaget kan?" mata (Y/n) terbelalak kaget. (Y/n) mengangguk, "Aku kaget... Kalau ibuku itu-"
*** Switched Dimension***
Di dimensi yang berbeda, dimana dunia asli (Y/n) berada... Setelah Lancelot melihat wajah yang mirip dengan nona yang dulu ia layani... Ia menjadi yakin kalau sudah saatnya ia melakukan tugas tersembunyi dari nona yang ia layani. (Y/n) yang terkulai lemas itu membuat Lancelot sedikit menegang. Jika (Y/n) tidak bisa diselamatkan, artinya dia gagal menyelamatkan anak majikannya dari tangan Yuliana.
Kemudian seorang dokter keluar dari ruangan (Y/n), "Bagaimana keadaannya dokter?" tanyanya kepada si Dokter. "Bagaimanapun... Kondisinya itu sangat mencengangkan untuk kami. Tapi syukurlah dia belum kehilangan banyak darah" Lancelot bernapas lega karena mendengar perkataan si Dokter.
"Namun kami tidak tahu, kapan dia akan sadar" ucap si Dokter kepadanya. Lancelot mengangguk, "Kalau begitu dokter, bisakah saya meminta satu permintaan?" tanyanya pada si dokter.
***Switched Dimension***
Setelah (Y/n) tenang, "Bakugou, bisakah kau melepaskan aku? Aku benar-benar berterimakasih karena kau sudah menghiburku" ucap (Y/n) dengan pelan. Bakugou melepas pelukannya, kemudian ia melihat ke arah (Y/n) sejenak. Sehingga mata mereka saling bertemu, "Kau bilang kau tidak mau pulang kan? Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Bakugou padanya.
(Y/n) menunduk dan menggelengkan kepalanya perlahan, "Aku nggak tahu.. Pasti lama kelamaan sekolahku akan mengeluarkanku, karena keberadaanku yang tidak jelas dan ibuku pasti tidak akan mau membayar sekolahku" ucap (Y/n) padanya dengan jujur.
"Kalau begitu tinggallah disini" ucap Bakugou to the point. "Aku nggak punya rumah disini" hal itu membuat Bakugou juga sadar dengan (Y/n) yang sama sekali tidak memiliki rumah.
"Bagaimanapun keberadaanmu pasti akan membuat orang-orang bingung... Sebaiknya apa yang harus aku katakan ke pihak sekolah?" gumam Bakugou pelan. Saking pelannya suara Bakugou, (Y/n) tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.
"Kau bilang apa?" Namun Bakugou terdiam dan termenung dalam pikirannya. (Y/n) hanya bisa tersenyum meratapi nasibnya sendiri, "Bakugou... Seberat apapun itu... Sepertinya aku hanya akan pulang untuk tidur... Lagipula aku tidak terlalu ingat apa yang aku lakukan di dunia nyata"
"Aku berlari dan sepertinya aku sudah mati?" hal itu membuat Bakugou sedikit mengernyitkan keningnya.
Seketika perubahan atmosfer itu terjadi, "APA MAKSUDMU KAU SUDAH MATI HAH?!" (Y/n) tertawa pelan.
"JANGAN BERCANDA!" kata Bakugou dengan serius. Kemudian (Y/n) menghentikan tawanya, "Aku jadi tidak ingin pulang ke rumah karena semua ini... Semuanya hanyalah kesenangan semata... Tapi aku nggak boleh kabur dari kenyataan kan?" ucap (Y/n) yang lagi-lagi mengeluarkan sikap idealisnya.
"Stop jadi idealis dan mulailah mengerti dirimu sendiri, Bodoh!" protes Bakugou padanya. "Bagaimanapun kau itu akan jadi orang yang hebat jika dibandingkan denganku... Masalahmu itu sangatlah unik, bukankah pada akhirnya kau bisa menyelesaikan semuanya?" kata Bakugou.
(Y/n) jadi berpikir sekali lagi soal itu, "Tapi ini bukan artinya kau harus terus memaksakan dirimu itu... Selagi disini, kau harus pikirkan kembali cara-cara yang akan membuatmu siap untuk kembali. Nggak usah jauh-jauh, sialan... Kau harus pikirkan kau mau tinggal dimana sekarang?"
(Y/n) memutar otaknya untuk berpikir lebih lanjut, "Bagaimanapun itu bukan artinya aku akan membiarkanmu sendirian" kata Bakugou padanya. "Aku pun kalau jadi kau, pasti akan bingung. Jika aku tinggal di duniamu, aku pasti meledakkan orang-orang sialan itu" ungkap Bakugou. (Y/n) tertawa, "Ngotot banget" ujarnya.
"GW NGGAK NGOTOT!" protesnya pada (Y/n). "Tapi trimakasih banyak... Bakugou" kata (y/n). Hal itu membuat Bakugou tidak jadi marah, "Lagi-lagi kau membuatku terbebani" kata (Y/n) kepadanya yang kini berusaha menutupi wajahnya yang sedikit memerah. Sejenak (Y/n) berpikir, mengapa Bakugou baik padanya?
Padahal dia itu bukanlah siapa-siapa... Melihat sisi baik dari Bakugou, mendapatkan ketulusan hatinya, "Bakugou... Untukmu aku ini apa?" hal itu membuat Bakugou sedikit kaget.
Bakugou melihat ke arah lain, "Entahlah" hal itu membuat (Y/n) sedikit kecewa karena mendengarkan jawabannya.
*Oot = Out of Topic
"Eh-eh iya!" ucap (Y/n) yang kemudian berpikir keras. Bakugou hanya bisa menahan tawa melihat (Y/n) yang berpikir keras seperti itu.
3 R.d. Person P.O.V.
Yuliana berjalan menyusuri lorong dan menemukan para staff yang sedang membersihkan bekas darah dari (Y/n). "Hei, hei... Kau tahu anak dari Ibu itu? Anak itu katanya jadi punya gangguan psikologis loh" kata seorang kepada yang lainnya.
"Iya aku dengan katanya sih anaknya ibu itu stress karena lukisannya sendiri" jawab seorang lagi. "Apa ibunya terlalu ambisius?" kemudian seorang datang dan berkata, "Hey! Jangan keras-keras nanti kedengaran loh, bu!"
Yuliana hanya bisa menahan emosinya, 'Sialan... Rasanya ingin kusobek mulutnya' batinnya. "Bu! Kakak udah sembuh? Bukannya hari ini dia pulang?" tanya Adik (Y/n) yang kini berada di jenjang pendidikan SD. "Nanti Ibu ceritakan ya" ucap Ibunya itu sambil memasang senyum palsu di hadapannya.
Kemudian seorang psikolog yang bertanggung jawab terhadap mental (Y/n) mendatanginya. "Atas nama Ibu Idris?" hal itu membuat Yuliana menoleh. "Iya benar" jawab Yuliana yang kini berbalik sambil memegang tangan anaknya.
"Saya ingin menyampaikan mengenai diagnosa (Y/n)" ucapnya kepada Idris. 'Ck... Anak itu lagi, anak itu lagi... Anak itu benar-benar menyusahkan... Sama seperti ibunya. Namun aku tidak bisa menyebarkan gossip buruk lagi soal diriku' batin Yuliana dengan kepala dingin.
"Baiklah, sihlakan..." ucap Yuliana padanya. "Kalau begitu sihlakan ikuti saya" katanya kepada Idris (a.k.a Yuliana).
Idris menggangguk tanda setuju, "Bu, nanti bawa kakak pulang ya? Aku mau makan bareng Kakak, Ibu, dan Ayah" hal itu membuat Idris sedikit tersentak.
***Flashback : with 3 R.d. Person P.O.V.***
Idris mulai berjalan kesana kemari karena cemas dengan keadaannya sekarang. Sekarang dia menelpon suami palsunya itu untuk menegaskan suatu perintah.
'Laki-laki ini benar-benar gila! Masa daritadi dia tidak angkat teleponku?! Angkat teleponku Sialan! Angkat! Dasar cowok gila yang tamak' kemudian teleponnya diangkat setelah 10 kali menelpon.
"Kenapa kau tidak angkat teleponku?" tanya Idris dengan dingin. "Memangnya kenapa aku harus mengangkat teleponmu? Kita kan bukan suami istri asli" jawab Ayah palsu (Y/n) dengan acuh tak acuh. "Dasar kurang ajar! Ingatlah kalau aku lah yang membayarmu! Kau harus ikuti kata-kataku!" kata Idris dengan sifat egois miliknya. "Kalau kau tak mau aku akan batalkan kontraknya" lanjutnya lagi dengan dingin.
Hal itu membuat lawan bicaranya merasa kesal dan tidak suka, "Batalkan saja, aku sudah bosan denganmu" katanya. Idris mengernyitkan keningnya, "Hah?! Kau ini kan tidak bisa Apa-apa denganku! Kau harus TUNDUK!"
"Kata siapa?" hal itu membuat Idris sedikit kaget. "Uangmu itu sedikit!" katanya dengan nada mengecam. "Aduh... Kalau bodoh jangan kelewatan dong!" katanya lagi sambil memasang senyum yang meremehkan di balik telepon.
'Gadis gila yang hanya ingin kemewahan... Aku benar-benar tak habis pikir dengannya' batinnya dengan kesal. "Kau... Tutup mulutmu itu!" perintah Idris padanya. "Bukankah aku yang seharusnya memiliki pangkat tertinggi di keluarga?" tanya si Ayah palsu.
'Dia ini... Seenaknya!?!' batin Idris. "Kau nggak sadar kalau uangmu itu tinggal sedikit? Kekuatanmu itu melemah seiring pandemi ini berjalan!" protesnya pada Idris dengan nada kasar. "KATA SIAPA UANGKU SEDIKIT?!" teriak Idris padanya. "Hah, sudahlah... Urus saja anak kakakmu itu, aku nggak peduli" ucapnya dengan hati yang kesal, lelah dan tidak peduli kepada Idris. "HEH! SADAR DIRI! ANAKMU JUGA HIDUP KAN KARENA AK-"
"Aku tidak peduli dengan perempuan j***** sepertimu! Kau kira aku mau hidup dalam ekspetasi gilamu? Aku juga sudah menemukan gadis baru yang bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan mu" hal itu membuat Idris tersentak. "KAU- BENAR-BENAR!!"
"Kenapa? Apa ini berkaitan denganmu?! Putuskan saja kontraknya!" katanya sambil mematikan telepon. Kemudian Yuliana melempar ponselnya ke tembok,
'LAKI LAKI B*******!?!'
***Flashback : Off ***
"Nak, kita bicarakan itu nanti saja ya?" kata Idris sambil memasang senyum kepada anaknya. "Baik, Bu!" jawab anaknya itu. 'Awas saja kalau sekali lagi kau membuka mulutmu, aku akan membuangmu ke jalan, sialan' batin Idris.
"Bu, kita sudah sampai" kata si Psikolog yang mengajak Idris ke ruangannya. "Mari kita masuk" katanya sambil membuka pintu. "Sebentar ya, Pak" jawab Idris sambil tersenyum ramah. "Ah, baik" jawabnya. Idris jongkok di hadapan anaknya agar bisa menyetarakan tingginya.
"Nak, kamu duduk disini ya? Kalau ada orang yang mengajakmu bicara jangan bicara, dan jangan terima apapun yang diberikan orang asing ya" ucap Ibunya itu kepada anaknya. "Baik, Bu" ucap anaknya itu.
Kemudian Ibunya itu mendekatkan mulutnya kepada telinga anaknya, "Kalau tidak ibu mungkin tidak akan membelikanmu coklat? Karena kalau kau pergi kan kamu tidak akan bertemu ibu lagi" katanya kepada anaknya.
Tentu saja\, adik (Y/n) masih terlalu kecil untuk diancam seperti itu... Dia mengangguk sambil memejam matanya dengan erat tanda takut. Idris tersenyum tipis melihat anak laki-laki br****** itu tunduk padanya.
'Bagaimanapun kau harus tunduk, aku kan ibumu... Kau tidak bisa apa-apa tanpaku ingat itu' batinnya yang kemudian berdiri. "Bu, anaknya dibawa juga nggak apa-apa kok" ucap si Psikolog. "Tidak perlu, anakku tidak akan menunggu di dalam... Iya kan, Nak?" tanya Idris pada anak itu. Anak itu mengangguk dan langsung duduk di kursi yang berada tepat di depan ruangannya.
"Ah, baiklah... Kalau begitu sihlakan masuk, Bu" ucapnya yang dari tadi sudah membukakan pintu. Kemudian Idris masuk, dan Psikolog itu menutup pintunya.
"Kalau begitu, apa anakku memiliki gangguan yang sangat fatal?" tanya Idris dengan jelas padanya. Kemudian Psikolog itu duduk di tempatnya, dan Psikolog itu mempersihlakan Idris duduk di depannya seperti sedang konsultasi.
Kemudian dia duduk dan pandangannya itu menatap serius si Psikolog. Si Psikolog menelan ludahnya dengan kasar, "Sebenarnya gejala ini pda umumnya dimulai pada umur 20-an... Namun, setelah di diagnosa... Ternyata Nona (Y/n) mengalami suatu gejala seperti delusi, halusinasi, kemurungan yang ekstrem, dan juga kami dapat melihat kalau dia sedikit demi sedikit mulai mengisolasi dirinya dari kehidupan sosial. Hal ini dapat dilihat di saat (Y/n) menjawab bahwa ia tidak begitu senang dengan kondisi dan sesuasana sekolahnya. Selain itu nona (Y/n) mengalami perubahan mood yang cepat diakibatkan delusinya"
hal itu membuat Idris sedikit tersentak, "Jadi, jika disimpulkan... Nona (Y/n) mengalami penyakit Skizofrenia. Seperti yang saya katakan, bahwa skizofrenia pada umumnya muncul setelah usia 20 tahun. Namun, sepertinya Nona (Y/n) mengalami skizofrenia juga karena ada perubahan struktur pada otaknya" hal itu membuat Idris mengepalkan tangannya dengan erat.
"Dan lagi... Akhir-akhir ini nilai sekolahnya itu apakah berpengaruh?" tanyanya pada Idris. Idris mengangguk pelan, "Lalu apa hubungannya?" tanyanya dengan tegas.
Si psikolog menelan ludahnya dengan kasar untuk kedua kalinya... "Iya, kami dapat mengidentifikasi kalau anak anda (Y/n) mengidap penyakit Skizofrenia" ucapnya kepada Idris. Kemudian Idris menunduk, 'Sialan anak itu... Anak itu benar-benar anak gagal!'
"Bagaimana anda benar-benar beruntung dikarenakan anda bisa mngetahui anak anda mengalami ini terlebih dahulu... Karena biasanya Skizofrenia ini baru bisa diidentifikasi saat dewasa" katanya lagi. 'Beruntung apanya?' batin Idris.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Idris padanya. "Sebenarnya kami perlu untuk melihat struktur otak anak anda" hal itu membuat Idris sedikit kaget. "Kalau begitu terimakasih, saya percaya bahwa anak saya akan sembuh nantinya" kata Idris yang kemudian berdiri dan tersenyum.
'Skizofrenia.. Skizofrenio\, skizofreniu... Aku tak peduli\, anak itu bisanya cuma membebani ku saja... Dan lagi uangku sudah sangat sedikit... Membuangnya adalah hal yang tepat... Lagipula si b******* itu- BERANI-BERANINYA DIA MENGAMBIL UANGKU DAN KABUR BERSAMA PELAKOR?! DASAR TIDAK TAHU DIRI!' kemudian Psikolog itu menahan tangan Idris karena khawatir.
"Ibu! Saya harap ibu ingat ini... Apabila skizofrenia tidak ditangani secara dini, maka gejala tersebut akan terus berlangsung dan dapat menyebabkan komplikasi seperti munculnya ide untuk bunuh diri, gangguan cemas, depresi, penyalahgunaan obat-obatan, tidak bisa bekerja/sekolah, masalah keuangan, dan anak anda akan menjadi agresif seperti perilaku mengamuk yang ia baru lakukan kemarin" hal itu membuat Idris merasa sedikit tenang.
'Kalau begitu sekarang dia sudah mati kan? Tinggal aku keluarkan saja dari kartu keluarga... Dirinya dan juga laki-laki ******** itu' batinnya. Kemudian pintu samping terbuka\, "Adrian... Apakah kau barusan mengatakan soal skizofrenia?" ucap seorang laki-laki yang sudah berumur mendekati mereka.
Kemudian Idris, menarik pelan tangannya yang dipegang oleh Adrian si Psikolog. Kemudian Adrian tampak kaget dan cemas dengan perilakunya, "Adrian... Bukankah remaja penderita skizofrenia itu sangat langka?" katanya kepada Adrian sambil memegang kedua pundaknya.
Diantara banyak seorang di dunia, cuma seorang yang mengalami gejala langka. Bukankah hal itu membuatnya menjadi spesial? Tentu saja banyak ilmuwan banyak yang menginginkannya menjadi kelinci percobaan saat mengetahui hal itu. Begitulah pikir seorang tua yang kini sedang berbicara dengan Adrian si Psikolog.
'Apa maksudnya ini?' batin Idris sambil merotasikan pupil matanya ke arah lain. Kemudian si laki-laki paruh baya itu berjalan menuju Idris, "Halo, mohon maafkan dan lupakanlah apa yang dikatakan anak didik saya ini..." hal itu membuat Idris mengangguk dengan canggung dan tertawa kecil.
'Apa sih?' batinnya. "Ibu bukan orang yang bodoh kan? Apakah jika saya meminta anak ibu untuk diteliti..." kemudian Idris tersenyum ramah hal itu membuat pria itu terdiam.
"Lalu apa yang bisa saya dapatkan dari itu? Tidak ada kan?" tanya Idris sambil memasang senyum.
*** 3 R.d. Person PO.V. //di sisi (Y/n) ***
'Dimana aku?' batin (Y/n) yang baru saja kembali dari dimensi lain. Kemudian Lancelot kaget melihat (Y/n) yang baru saja membuka matanya. "Ah, halo?" ucapnya kepada (Y/n). Kemudian (Y/n) berusaha untuk membuka mulutnya yang kini sedang dipakai masker oksigen.
"Ah, anda tak usah bicara! Dokter mengatakan anda perlu pemulihan" ucap Lancelot padanya. (Y/n) hanya bisa tersenyum dan mengedipkan matanya dua kali, perilaku (Y/n) itu membuat Lancelot tersadar kalau (Y/n) benar-benar anak dari majikannya.
"Tidak... Ini tidak mungkin kan?" gumamnya. Kemudian (Y/n) mengacungkan jempolnya dengan tekanan lemah, 'Beliau... Apa ini benar-benar anak dari beliau?' tanyanya dalam hati.
"Apa nama nona adalah (Y/n)?" tanyanya memastikan. (Y/n) tersentak, "M-mengap" hal itu membuat Lancelot panik karena (Y/n) yang berbicara.
"Ah jangan berbicara nona!" katanya. Hal itu membuat (Y/n) teringat kembali dan tertawa pelan, kemudian (Y/n) memberi kode lewat tangan kirinya yang tidak diinfus agar lancelot mendekat.
Lancelot mendekat seperti apa yang dikatakan (Y/n), kemudian (Y/n) memberi kode agar menyodorkan tangannya. Lancelot dengan ragu memberikan tangannya, (Y/n) membetulkan posisinya. Tentu saja hal ini sedikit menyakitkan karena tubuhnya aat itu benar-benar lemah...
(Y/n) memegang tangannya, hal itu membuat Lancelot dapat merasakan suhu tubuh (Y/n) yang hangat...
'Terimakasih sudah menolongku... Aku sangat berterimakasih kepadamu, apakah kau yang membayar semua ini?'
Tulis (Y/n) di telapak tangannya, "Maksudmu apa aku membayar semuanya dan berterimakasih?" kemudian (Y/n) tersenyum. "Iya... Saya membayar semuanya, nona" hal itu membuat (Y/n) tersentak.
'Tak perlu memanggil Nona... Aku ini hanya seorang yang membebani semuanya... Karena itu aku ucapkan terimakasih karena sudah menyelamatkanku, aku kira aku sudah mati'
"Sudah mati? Tidak nona! Saya memang harus seperti itu, karena itu sudah menjadi tugas saya nona!" kemudian (Y/n) kembali menuliskan tulisan di telapak tangannya lewat ujung jarinya.
'Sepertinya anda salah orang'
"Salah? Sepertinya saya tidak salah Nona... Apakah nona bisa menuliskan nama Nona?" kemudian (Y/n) menuliskan nama depannya, hal itu membuat Lancelot tersentak. Namun karena tidak tahan (Y/n) langsung ambruk ke belakang di saat ia ingin menuliskan nama panjangnya...
"Nona!" hal itu tentu saja membuat Lancelot panik. Dia langsung menekan tombol untuk memanggil dokter bahwa (Y/n) perlu bantuan, di sisi lain ida merasa lega bahwa ia berhasil menemukan anak majikannya.
*Before it happens*
"Bakugou... Aku akan pulang dan mengecek keadaan tubuhku, sepertinya itu adalah hal yang terbaik yang bisa aku lakukan" ucap (Y/n) sambil memutuskan. Hal itu membuat Bakugou melihat ke arahnya, "Bukankah barusan kau baru saja menangis karena tidak mau pulang dan muak dengan duniamu?" hal itu membuat (Y/n) menggangguk.
"Tentu saja aku muak dengan diriku di dunia asli... Tetapi, sepertinya itu bukanlah hal yang baik untuk kabur... Aku harus tahu apa yang terjadi dengan tubuhku dulu, karena kalau dingat-ingat lagi..." (Y/n) menghentikan perkataannya.
"Aku sepertinya pingsan di jalan dan bertemu dengan seseorang, bagaimanapun jika dipikir-pikir lagi aku agak khawatir... Dan aku juga tidak tahu, bagaimana jika aku di dunia asli mati? Aku sepertinya harus memastikannya... Bakugou" ucap (Y/n) sambil menelan ludahnya dengan kasar.
Kemudian Bakugou tersenyum meremehkan, "Kau ini memang tak selemah yang aku kira... Kalau begitu selamat mencoba, Gadis RSJ" katanya kepada (Y/n).
"Jangan panggil aku gadis RSJ bisa nggak sih?" protes (Y/n) dengan kesal. "Habisnya kau itu memang kayak hantu" ungkap Bakugou. "Ya... Aku nggak bisa menyangkalnya sih" balas (Y/n) dengan canggung.
"Pokoknya... Kau harus sukses... Kalau kau mati, itu nggak seru... Karena aku lah yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri" ejek Bakugou. "Kau takkan mati, terkecuali aku sendiri yang membunuhmu" tegas Bakugou. Tentu saja perkataan itu memiliki arti, 'Jangan mati... Kau tidak boleh mati, kalau kau mati aku akan membunuh semuanya' setidaknya begitu pikir (Y/n) secara sekilas.
"Baiklah, terimakasih banyak... Bakugou!" ucap (Y/n) sambil tersenyum
*Back to Yuliana P.O.V.*
"Saya akan memberi materi yang sangat lebih dari cukup? Bagaimanapun anak anda adalah kunci dari penelitian ini" ucap si pria paruh baya itu. Idris tersenyum, "Kalau begitu... Kau akan memberiku berapa? Aku pun bisa melaporkannya ke polisi jika kau tidak memberiku harga yang serupa" ucap Idris sambil memasang senyum licik.
-End of #07
Sampai chapter selanjutnya! Maaf telat update TvT
Sebenernya author sempet belet bentar dikarenakan burn out sementara... Untungnya setelah aku skip ngetik dan ngelanjutin chap yang setelah ini... Otakku jadi lancar lagi yey:3
Kalau gitu sampai di chap selanjutnya! Siapin hati, jiwa, dan mental untuk konflik selanjutnya^^!
Makasih buat kalian yang udah mau vote dan baca!