I'M Promise! | Bakugou Katsuki X Readers | Different World AU

I'M Promise! | Bakugou Katsuki X Readers | Different World AU
#09,5



Author Naration P.O.V.


"Saya tidak mengerti apa yang kalian katakan... Bukankah jika kalian mendobrak pintu seperti ini kalian sudah melanggar hukum rumah sakit?" kata (Y/n) sambil tersenyum ramah. "Aku sudah memberikan mereka Izin" kata Ibunya itu yang mendadak datang. "Bukankah, ini adalah hal yang baik (Y/n)? Kau akan menjadi objek penelitian yang akan dikenal oleh banyak orang loh" ucapnya kepada (Y/n).


"Bukankah akan lebih baik jika kau membantu negara untuk memecahkan masalah medis? Bagaimana jika ada seorang lain yang menderita hal yang sama sepertimu? Bukankah lebih baik kita menemukan obatnya terlebih dahulu?" kata Idris sambil mencari simpati publik.


(Y/n) yang mendengarkan perkataan Idris itu benar-benar hilang respect dengannya karena... Dirinya itu dianggap sebagai objek, bukan sebagai subjek. Perkataannya yang merupakan pisau bermata dua, hal itu tentu saja membuat beberapa orang mengira bahwa ibunya itu merupakan gadis yang memikirkan nyawa manusia.


(Y/n) tersenyum, "Ah... Maaf, Ibu.. Saya tidak pernah mendengar kalau Ibu menyuruh saya menjadi topik percobaan atau penelitian... Dan saya juga tidak tahu kalau saya menderita skizofrenia atau semacamnya? Kalau begitu... Apakah bisa dibilang ini adalah pemaksaan?" ucap (Y/n) dengan senyum licik.


Karena saat itu kondisinya sedang tidak stabil, Ibunya itu menampar pipi (Y/n). "Nona!" ucap Lancelot dengan kaget. (Y/n) memegangi pipinya, "Bu, sakit! Apa ibu mau memperlihatkan sisi buruk Ibu di depan publik?" kata (Y/n) yang kini meneteskan air matanya.


Hal itu membuat Idris sadar kalau ia sendiri sedang dijebak, 'Kalau begitu... Biarkan kau merasakan ini, Penjahat' batin (Y/n). "Lancelot, bisakah kau memberikan bukti kalau saya tidak diberitahu oleh Ibu untuk berpartisipasi soal penelitian ini?" tanya (Y/n) kepadanya. Lancelot mengangguk, dia mengeluarkan rekaman black box yang ia kantongi di sakunya. "HENTIKAN! Aku tidak pernah melakukan hal yang seperti itu! Mereka lah yang memutar balikkan fakta!" kata Ibunya itu yang kini mengandalkan kemampuan actingnya.


'Begitukah, Bu? Awalnya aku benar-benar ingin... Memaafkanmu,' batin (Y/n). Kemudian (Y/n) menganggukan kepalanya kepada Lancelot.


Lancelot mengangguk dengan tegas dan mulai memasukkan black box ke dalam radio. Namun sebelum itu, Yuliana yang cekatan dia menahan tangan Lancelot untuk memasukkan blackbox ke dalam radio. Dia mengambil Black Box nya dan melihat ke arah dalamnya. Namun karena dirinya itu terlalu dongkol... Black Box yang ia pengang hanyalah kotak yang berisi pengapus,


(Y/n) tersenyum karena Ibunya itu memakan umpannya dengan baik... Padahal sebenarnya?


Dia sendiri yang memasukkan Blackbox ke radio kecil yang sekarang ia miliki.


//Flashback with 3 R.d. Person P.O.V.


"Lancelot, apakah aku boleh meminta tolong?" tanya (Y/n) setelah mendengarkan kebenaran dari Lancelot. "Sihlakan, Nona" ucap Lancelot kepadanya. (Y/n) tersenyum, "Terimakasih, ya.." ucap (Y/n) yang berterimakasih kepadanya. "Buat apa Nona, saya akan belum melakukan apa-apa?" tanya Lancelot dengan sedikit bingung. "


"Terimakasih sudah setia kepada Ibuku... Terimakasih banyak" ucap (Y/n) kepadanya. "Dan terimakasih juga Tuan mau membantuku nantinya" Lancelot mengangguk dengan ramah. "Sudah sepantasnya saya lakukan, Nona" balasnya.


"Kalau begitu... Karena aku tidak tahu kapan Ibu bergerak... Apakah aku boleh minta tolong kepadamu untuk menyiapkan semacam perekam suara?" kata (Y/n) padanya.


"Hm? Maksud anda black box?" tanya Lancelot. "Black Box? Bukannya itu hanya ada untuk pesawat?" tanya (Y/n) dengan bingung. "Biar saya jelaskan, Nona... Black Box ini juga biasanya dipakai tidak hanya di pesawat... Jadi wajar jika anda merasa bingung" katanya kepada (Y/n). "Ah... Begitu ya, terimakasih sudah memberitahuku Lancelot" ungkap (Y/n) sambil berterimakasih.


"Namun, aku rasa Ibu tidak akan sebodoh itu... Tenaganya itu kuat, dia memang terlihat seperti gadis yang lemah lembut... Tapi, dia itu kuat. Karena itu, Lancelot. Aku butuh... Kamu?" ucap (Y/n) dengan ragu-ragu memanggil Lancelot dengan kata ganti 'Kamu'


Lancelot tersenyum tipis, "Anda bebas memanggil saya apa saja, Nona" ucapnya sambil tersenyum ramah. "Ah... Kalau begitu aku butuh Tuan Lancelot untuk membuat benda tiruan Black Box, aku yang akan memegang black box nya dan tuan Lancelot yang memegang benda tiruannya... Apa itu terlalu sulit?" ucap (Y/n) dengan ragu.


Lancelot tersenyum, "Ternyata anda itu memang cerdas sama seperti Ibu anda" gumamnya kepada (Y/n). "Ah... Tidak! Saya ini hanya gadis biasa yang tidak terlalu pintar!" kata (Y/n) dengan canggung. 'Lagipula ide ini bisa dibilang ide yang belum matang dikarenakan ide ini biasanya aku temukan di komik-komik action' batin (Y/n).


"Bagaimanapun, saya juga butuh radio kecil? yang bisa kupegang? Dan berhubung disana ada radio yang besar yang bisa mengalihkan perhatiannya?" kata (Y/n) yang menunjuk ke arah radio yang berada di meja. Meja itu tepat bersebelahan dengan kasur,


Lancelot kali ini benar-benar terkesan dengan keterampilan (Y/n). "Baik Nona, saya akan mengerjakannya dengan baik" katanya dengan tegas. "Aku mohon bantuannya, ya tuan? Lalu... Apa tugas ini sulit?" tanya (Y/n) kepadanya.


"Tidak sama sekali, Nona..." katanya sambil menggelengkan kepalanya.


//Flashback off 


"Dokter... Bisakah anda meninggalkan kami sebentar?" 


"(Y/n)... Kau ini masih sakit ya?" 


"Hah... Benar-benar anak yang tidak bisa diatur"  


"Kursi roda otomatis, ruang VIP, dan dokter yang memihakmu? Apakah kamu baru saja menjual tubuhmu?" 


"Iya kan? Lalu mengapa kau bisa mendapatkan semua pelayanan ini?" 


"Hah... Bagaimana kalau adikmu mengikuti kelemahanmu?" 


"Anak gila yang tidak tahu sopan santun... Bukankah aku sudah pernah mengajarimu untuk tidak memotong perkataan orang tua?" 


Mereka yang berada di sana hanya bisa terdiam, dan ada juga yang mencatat hal itu. "Semuanya dengarkan kata-kata saya... Ibu saya tidak pernah mengatakan soal ini, saya juga dapat mengatakan bahwa kami baru bertemu hari ini... Jika kalian tidak percaya, saya juga merekamnya lewat ponsel yang menunjukkan waktu dan tanggal" ucap (Y/n) dengan mantap.


"Dan jika kalian memindahkan ini" ucap (Y/n) sambil mengetuk black box yang berada di dalam radio. "Kalau kalian pindahkan ini ke flash disk atau USB, kalian dapat melihat kebenaran tanggal dari rekaman saya" ucap (Y/n) sambil tersenyum.


"Lagipula... jika melihat perkataan ibu ini yang berada di dalam blackbox... Bukankah dia terlihat seperti orang tua yang memaksakan kehendak anaknya?" hal itu membuat simpati publik berbalik ke arah (Y/n).


"K-Kau..." geram Idris. Sesuasana mulai berbisik dan menatap sinis ke arah Idris. 'Benar seperti katamu, Bakugou... Jika aku tidak menghentikannya maka dia akan merangkak naik' batin (Y/n) secara sekilas.


▫️▪️▫️▪️▫️


#09\,5 - Reality (Pt.2) | I'm Promise! | Bakugou x Readers | Different world AU


Ini bukan salahku, dan itu juga bukan salahmu - (Y/n)


▫️▪️▫️▪️▫️


"Kalau begitu apa saya digolongkan bersalah? Lalu mengapa Ibu yang memperbolehkan mereka masuk? Apa Ibu diperbolehkan memberi ijin kepada orang lain oleh pihak rumah sakit?" kata (Y/n) sambil tersenyum licik.


"Lagipula, Bu... Ini kan masa pandemi... Kita harus mengurangi kontak fisik, bukankah kata Ibu begitu?" lanjut (Y/n). Kemudian Idris yang ingin mengamuk itu ditahan oleh Lancelot yang sedari tadi memang sudah waspada dengan apa yang akan dilakukannya.


Kemudian datang beberapa polisi menuju ruang mereka, (Y/n) tersentak kaget karena itu. 'Kau kira aku ini siapa? Kau kan memang sedang berhadapan dengan orang dewasa yang lebih berpelangaman denganmu' begitu pikir Yuliana alias Idris.


Namun... "Yuliana rossvert... Anda tertangkap!"  Yuliana tersentak. "BAGAIMANA KAU TAHU NAMAKU?!" teriak Yuliana yang kini sudah stress. Kemudian dia sadar kalau dia mengakui dirinya sendiri, setelah itu Lancelot langsung membuat Yuliana berlutut dibawah sambil menahan kedua tangannya.


"Lancelot, apa kau?" tanya (Y/n) kepadanya. Lancelot mengangguk, "Karena saya berhasil menemukan keberadaan anda... Saya bisa menangkap Yuliana Rossvert karena kasus pembunuhan terhadap Nona Adelle" (Y/n) benar-benar kaget dengan keadaan saat itu.


"(Y/)- (Y/n)! Kau tidak boleh begini kan?!" katanya sambil menangis. "Kau sayang pada Ibumu kan?" (Y/n) hanya bisa termenung sebentar. "Maafkan saya, tante" hal itu membuat Yuliana kaget. "Saya berniat untuk membebaskan tante dari hukuman penjara... Namun, sepertinya saya tidak bisa..." kata (Y/n) dengan langsung.


"Tante menganggap saya sebagai objek dan bidak yang bisa tante korbankan... Dan saya tidak mau dianggap seperti itu" ucap (Y/n) sambil menangis. "BACOT!" katanya sambil melepaskan tahanan dari Lancelot dan satu orang lainnya. Namun anak buah Lancelot yang lainnya menahan Yuliana, "KAU TIDAK BOLEH BEGINI!"


"AKU SUDAH MEMBESARKANMU DENGAN BAIK KAN?! KAU HARUSNYA TUNDUK!" hal itu membuat (Y/n) sedikit merinding karena traumanya. "DASAR ANAK PENYAKITAN! GILA! AUTIS! PENYAKIT SKIZOFRENIA?! KAU ITU MEMANG AWALNYA SUDAH HYPERACTIVE DAN PADA AKHIRNYA KAU AKAN MASUK KE DALAM RSJ!"


"KAU HARUS BERSYUKUR! KARENA JIKA AKU MEMBIARKANMU KAU PASTI DEPRESI DAN BUNUH DIRI!"



*Sumber : Webtoon (True Beauty, tokoh : Bo Jeong)


"KARENA ANAK SEPERTIMU ITU MEMANG PANTAS MATI MAKANYA AKU MENYELAMATKANMU!" hal itu benar-benar membuat hati (Y/n) tersakiti. "Tante maaf... Saya tidak bisa menolong tante" kata (Y/n) sambil memalingkan wajahnya. Yuliana tersentak kaget karena mengerti apa yang dimaksudkan oleh (Y/n).


"TIDAK! (Y/N)?! KUMOHON!" katanya lagi. (Y/n) tetap membuang mukanya dan menangis. "Maaf... Lancelot? Apakah kau bisa memroses setelahnya?" kata (Y/n) padanya. Lancelot mengangguk, pintu terbuka secara mendadak. "Komandan! Di rumahnya!" kata salah satu orang yang masuk ruangan.


"Kenapa, jelaskan dengan suara yang jelas!" kata si komandan Polisi yang berada disana. "Di rumah Yuliana Rossvert alias Idris Voltum, terdapat seorang anak kecil yang berdarah-darah dan tidak berdaya!" hal itu membuat (Y/n) tersentak kaget dengan perilaku Yuliana yang tidak berkemanusiaan.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKKU?!" teriak (Y/n) padanya. "Dia kan bukan adik kandungmu? Lagipula ANAK BRENGSEK ITU BENAR-BENAR MIRIP DENGAN LAKI-LAKI BRENGSEK ITU (Y/N)! KALIAN ITU MEMANG KELUARGA YANG TIDAK BISA MEMBUATKU MAJU!" ungkapnya.


"Terlepas dari hubungan sedarah... DIA ITU ADIKKU! KAU TIDAK BOLEH BEGITU! DASAR MANUSIA TIDAK BERPRIKEMANUSIAAN!" bentak (Y/n) dengan kesal.


Dia tertawa melihat (Y/n), "KEMANUSIAAN?! BULLSHIT!" hal itu membuat (Y/n) tersentak."Ha... KALAU BEGITU AKU MEMBUNUHMU DARI AWAL!" teriaknya kepada (Y/n). (Y/n) sekali lagi tersentak karena ucapannya. Lancelot yang menyadari hal itu langsung mengambil langkah...


"Amankan dia sekarang!" kata Lancelot kepada mereka.


Author Naration P.O.V.


(Y/n) kembali teringat tentang memori di masa lampau yang mengatakan bahwa mereka sering tertawa bersama di meja makan. Memori dimana (Y/n) dimarahi karena suka menyemburkan air dari mulutnya, memori dimana mereka mendapatkan 'Quality Time'.


Namun itu semua berakhir dikarenakan kejahatan. Hubungan yang palsu, itu yang akhirnya membuat mereka semua saling berbentrokan.


Bingung? Kesal? Merasa aneh? Bagaimanapun kalian memang tidak salah... Alur kehidupan ini sangatlah berantakan bagaikan benang kusut. Hal yang tidak masuk akal bisa jadi masuk akal saat itu.


"LEPAS! AKU MAU HIDUP TANPA ORANG-ORANG SEPERTI KALIAN?!" teriak Yuliana yang kini diseret untuk diamankan. (Y/n) hanya bisa menatap kosong melihat itu semua, "Nona..?" tanya Lancelot padanya.


"Tuan.. Maaf, bisakah kau mengurus adikku?" tanya (Y/n) padanya. "Adik Nona?" (Y/n) mengangguk. "Soal itu, mereka sudah membawanya ke rumah sakit" ucap Lancelot kepadanya. "Rumah sakit mana?" tanya (Y/n) kepadanya.


"Rumah sakit sini" jawabnya dengan ragu. "Ah... Baguslah" ucap (Y/n) kepadanya. "Kalau begitu, Lancelot... Aku akan tidur sebentar, bisakah kau membiarkanku sebentar?" tanya (Y/n) padanya. "Ah, baik nona" katanya sambil mengangguk. "Terimakasih" kata (Y/n) yang kemudian langsung mengambil posisi tidur.


3 R.d. Person P.O.V.


Setelah itu Lancelot mengetahui apa yang harus ia lakukan, "Saya permisi, Nona" katanya sambil membungkuk dan pergi. (Y/n) menghela nafas panjang, kemudian dia mengambil posisi tidur membelakangi pintu ruangan. Lagi, air matanya mulai menetes. Dirinya merasakan sakit hati yang hebat sekaligus hati yang hampa.


Baru saja ia keluar dari hubungan yang palsu, tapi ia sudah merasakan lelah dan tidak berdaya.


Dirinya itu membenci dirinya yang saat itu hidup dan mengembat semuanya. Tak butuh waktu lama, (Y/n) menutup mata karena ia lelah. Saat membuka mata, ia kembali datang ke dimensi lain yaitu dimensi 'Boku No Hero Academia'


**Switched Dimension**


Gantungan pakaian digantung dengan rapih di tiang yang disediakan, (Y/n) yang baru saja datang dia sama sekali tidak peduli tentang tepat itu dan kembali menangis. Dia lelah, dia hanya ingin ketenangan, dia tidak mau berpikir, yang ia pikirkan sekarang hanyalah aku ingin tidur dengan tenang. Dia tak mau bersosialisasi ataupun berbiara dengan siapa-siapa.


Dia tidak mau berjalan ataupun bernapas lagi, begitulah pikirnya. Nafasnya itu terasa berat dan matanya sangat ingin menutup. Ia tidak mau memikirkan apapun lagi, disaat itu pintu terbuka. Timbul terang di hadapannya, tampak seorang anak laki-laki yang menjadi jalan baginya untuk pulang.


"Hoi! Kau ngapain di lemariku?!" kata Bakugou padanya. "Bakugou..?" kata (Y/n) yang melihat ke arahnya. "Hoi! Apa yang kau lakukan?! Lihatlah dirimu! KAU KENAPA?!" ucap Bakugou yang langsung jongkok di hadapannya agar bisa menyamakan posisi dirinya dengan (Y/n).


"K-Kau... Kenapa kau selalu datang padaku di saat aku sangat lemah dan tak berdaya?" ucap (Y/n) sambil terisak. Kelelahannya itu benar-benar tertumpah saat itu, dan waktu itu.


(Y/n) menangis tersedu-sedu karena hatinya yang benar-benar hancur. Kemudian, Bakugou kembali memeluknya karena ia merasa bahwa (Y/n) membutuhkannya. "Bakugou... Aku berhasil" ucap (Y/n) dengan lirih saat berada di pelukannya.


"Hah?" kata Bakugou yang sedikit kaget. "Aku... Berhasil memenjarakan orang tua palsuku, tapi... Hatiku sakit sekali, Bakugou... Aku tahu aku berlebihan, aku tahu aku gila... Tapi memangnya harus begini? Aku jahat ya?" kata (Y/n).


"Tapi dia kan?! Masa dia mmau menjualku kepada orang yang tidak dikenal?! Buat alasan aku kena skizofrenia, aku autis dan aku hiperaktif! Aku kesal..." lanjut (Y/n) lagi.


"Nggak hanya itu! Dia nggak pernah memercayaiku saat aku menjalankan tanggung jawab, membatasi segalanya, dan sekarang dia menutupi banyak hal dengan kebohongan? Dan lagi... Argh! Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan!?!" kata (Y/n) lagi. (Y/n) benar-benar merasa bersalah, karenanya adiknya itu merasakan hal yang tidak sepatutnya ia rasakan.


Karenanya, Ibunya harus meninggal setelah melahirkan. Karenanya... Yuliana tidak bisa hidup dengan tenang.  Air matanya yang memanas itu menetes dari matanya, air matanya itu turun menyusuri jalan dari mata menuju mulut.


Terus, dan terus... Ia tidak bisa menghentikannya, timbul perasaan sedih, kesal, dan bersalah yang bercampur di dalam hatinya.


Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya sekarang. Lagi dan lagi (Y/n) terus mengeluarkan apa yang ia rasakan. Sampai pada akhirnya (Y/n) hanya bisa mereasa tidak enak dengan Bakugou karena ia membuat Bakugou ikut terlibat dalam masalahnya. "Maaf, Bakugou... Kayaknya aku terlalu berlebihan" ucap (Y/n) dengan perasaan tidak enak.


"Tapi kau merasa lebih tenang kan?" tanya Bakugou padanya. Hal itu membuat (Y/n) mengangguk, "Terimakasih banyak, Bakugou" ungkap (Y/n) dengan jujur.


Waktu terus berlalu begitu cepat, (Y/n) kini berusaha untuk memulihkan perasaannya. Meskipun kadang perasaannya itu muncul di saat malam hari. Semakin hari, harinya itu semakin baik. Dia dapat terus berkembang dengan baik, selain itu dia jadi lebih semangat dalam menjadi studinya di U.A.


Kini, Bakugou benar-benar senang dengan perilakunya di masa lampau, dia sangat berterimakasih kepada dirinya yang dulu yang mau memerhatikan dan memercayai (Y/n). Seperti yang kita tahu, bahwa waktulah yang menjawab semuanya. Perkembangan karakter Bakugou juga membuat (Y/n) menjadi senang.


Apa hanya perasaan senang saja yang timbul? Tidak... Debaran-debaran sebelumnya itu pun terus berkembang biak hingga menjadikan suatu perasaan yang utuh.


-End of #09


Halo^^ Makasih udah mau baca, sampai chap selanjutnya^^~