
3 R.d. Person P.O.V.
Teriakan (Y/n) itu membuat anak-anak yang berada di asrama juga ikut salah paham... Mereka kira, Bakugou dan (Y/n) sedang ribut.
"KAN KAMU NULIS BAHASA JEPANG *****!?!" protes Bakugou lagi. "Nggak! Gw nulis bahasa ind- Sebentar-sebentar... Nggak mungkin kan?" ucap (Y/n) yang baru sadar.
Kemudian dia mengambil buku tebal yang Bakugou kasih, "Eh? Kok... Bahasa indonesia?" hal itu juga membuat Bakugou melupakan tulisan (Y/n) yang mengejek dirinya. "Coba kau tulis lagi apa yang ada di sana" kata Bakugou sambil menunjuk artikel reproduksi.
'Kenapa harus bagian itu sih, eh?' kemudian Bakugou menggeser jarinya menuju hormon yang berkaitan. 'Ah... Rupanya aku terlalu kegeeran' batin (Y/n) dengan malu.
'Kenapa gw harus nunjuk itu sih' batin Bakugou yang sekarang sudah merasakan keamanan.
"Minta kertas" ucap (Y/n) padanya. "YANG TADI KAMU KEMANAIN?!" protes Bakugou. "Kan kamu ledakin, beb" jawab (Y/n) dengan kesabaran ekstra yang dikaruniakan dari langit. "KOK JADI BEB BAB BEB?!" protes Bakugou. "Ya atuh mau apalagi? Kesel aku sumpah" ungkap (Y/n) dengan jujur. Kemudian Bakugou sedikit tersentak dengan apa yang dikatakan (Y/n),
"Tapi ngak apa-apa deh nyebelin, aku tetep suka" ungkap (Y/n) lagi yang baru saja mengatakan klarifikasi. Hal itu membuat Bakugou salah tingkah, dia langsung menyerahkan kertasnya tepat di depan wajah (Y/n). "BERISIK AH! CEPET ISI KERTAS ITU!" protesnya kepada (Y/n).
"Muka guweh jangan disumpelin kertas dong!" ucap (Y/n) yang kini manyun sambil melihat ke arah kertas yang diberikan. Bakugou tersenyum tipis saat (Y/n) menulis apa yang seharusnya dia lakukan.
Singkat cerita, saat itu... Mereka mengetahui bahwa salah satu spesialisasi quirk (Y/n) adalah penerjemah. Bagaikan subtitle yang selalu ditayangkan di anime, quirk (Y/n) merupakan realisasinya. Jika (Y/n) ataupun Bakugou menggunakan bahasa yang sebaliknya, maka proses penerjemahan akan hancur.
Setelah itu (Y/n) berhasil masuk U.A dikarenakan kemampuan quirknya... Dan juga uang yang ia punya? Apa memang U.A sebaik itu? Bukankah U.A merupakan SMU terbaik?
Sebenarnya, U.A benar-benar penasaran dengan motif seorang (Y/n) yang masuk secara mendadak. Karena itu mereka menerima (Y/n) dengan latar belakang yang tidak jelas itu.
Jauh dari apa yang U.A pikirkan, (Y/n) hanyalah anak biasa yang tidak terlatih dalam fisik maupun kebugaran... Dan juga nilainya itu setara dengan nilai anak U.A rata-rata.
***Skipped Time : Seminggu kemudian (Switched dimention : Dunia nyata)***
(Y/n) yang baru saja kembali dari dimensi lain, kembali mencoba untuk membuka mata. Di sekian kalinya ia mencoba, ia berhasil membuka matanya. "Ah... Apa aku sudah bisa berbicara?" ucap (Y/n) dengan lirih.
Hal itu membuat seorang yang menjaga dirinya itu langsung berdiri... Namun dia bukanlah Lancelot,
"Nona, sudah bangun?" tanyanya kepada (Y/n) seraya tidak percaya. "Ya... Jangan panggil aku nona ya, kak... Saya ini bukan siapa-siapa" jawab (Y/n) kepadanya.
"Ah tidak... Saya berhak memanggil anda sebagai Nona saya" ucapnya dengan tegas. "Kalau begitu saya panggilkan dokter ya?" tanyanya dengan ramah. "Ah, terimakasih... Kakak baik sekali" dia tersenyum dengan ramah di balik maskernya dan kemudian menekan tombol untuk memanggil dokter dan juga perawat.
'Ah... Apa yang harus aku lanjutkan selanjutnya disini ya? Apa ini saatnya aku menghadapi kenyataan?' batin (Y/n).
***
"Nona (Y/n), apa kau bisa berbicara?" tanya si Dokter kepada (Y/n). "Saya bisa" ucap (Y/n) dengan nada rendah. "Bagaimana perasaan anda?" tanya si dokter kepada (Y/n). "Saya... Baik-baik saja, terimakasih sudah menyelamatkan saya" jawab (Y/n) sambil tersenyum.
"Sama-sama, nona (Y/n)... Sudah seharusnya saya menyelamatkan anda" ungkap si Dokter dengan tulus. (Y/n) tersenyum sambil meneteskan air mata, 'Di saat aku kehilangan keluarga asliku, bisa-bisanya aku bahagia hanya dikarenakan nyawaku di selamatkan' batin (Y/n).
Kemudian ada telepon masuk, orang yang tadi membungkuk kepada (Y/n) tanda bahwa ia meminta ijin untuk mengangkat telepon. (Y/n) yang bingung hanya bisa tersenyum canggung,
***3 R.d. Person P.O.V : di sisi orang asing itu***
"Apa kau memiliki hal yang ingin kau sampaikan?" tanya seorang lewat telepon. "Itu soal, nona" ucapnya dengan pelan. "Bicaralah" perintah seorang itu yang bernama Lancelot. "Nona (Y/n) sudah sadar tuan" ucapnya kepada Lancelot.
"Sejak kapan?" tanya Lancelot lagi memastikan. "Barusan, Nona sadar dan bisa berbicara" ucapnya kepada Lancelot. "Baiklah... Aku akan segera menemuinya" ucap Lancelot kepada anak buahnya itu.
"Baik tuan" ucap anak buahnya itu dengan patuh. Kemudian Lancelot mempersihlakan anak buahnya itu untuk mematikan telepon.
***
Namun sangat disayangkan, saat itu (Y/n) tertidur pulas untuk melanjutkan masa pemulihannya. Sehingga hari itu, Lancelot tidak sempat berbicara dengan (Y/n). Sampai keesokan harinya (Y/n) terbangun pagi sekali... Dia berusaha untuk mengambil posisi duduk, "Tak usah dipaksakan nona" ucap Lancelot kepadanya. (Y/n) menelan ludahnya dengan kasar, kini orang 'itu' datang lagi ke hadapannya.
"Ehm..." ucap (Y/n) dengan ragu. "Biarkan saya memperkenalkan diri, nama saya Lancelot... Salam kenal, Nona (Y/n)" katanya kepada (Y/n). "Ah, halo tuan Lancelot" ucap (Y/n) dengan canggung. Wajah Lancelot yang ditutupi dengan masker itu sedikit canggung saat (Y/n) memanggilnya tuan.
"Anda cukup memanggil saya Lancelot, Nona" katanya kepada (Y/n). "Ah... Saya tidak bisa begitu tuan!" ucap (Y/n) yang rendah diri. 'Sikap rendah dirinya itu benar-benar mirip nona Adelle' batin Lancelot.
"Nona tidak perlu takut, nona kan majikan saya" hal itu membuat (Y/n) sedikit kaget. "Ah... Anda sepertinya salah paham! Saya ini hanya anak biasa yang tidak menarik perhatian, tuan" ucap (Y/n) dengan canggung.
"Saya yakin, saya tidak salah orang... Karena saya dapat melihat Nona Adelle di dalam diri anda, Nona (Y/n)" ucapnya kepada (Y/n). Hal itu membuat (Y/n) penasaran, "Apakah saya bisa memercayai anda, tuan?" tanya (Y/n) dengan ragu.
"Anda dapat memercayai saya, Nona" katanya sambil bertekuk satu lutut. Hal itu membuat (Y/n) tersentak untuk ke sekian kalinya, "Anda boleh berdiri!" perintah (Y/n) kepadanya. "Saya akan menyerahkan jantung saya sebagai tanda kepercayaan" lanjutnya lagi dengan tegas.
'J-Jantung? Kenapa rasanya aku kayak berada di drma-drama ya?' batin (Y/n) dengan canggung. 'Tapi bukankah ini artinya aku bisa memercayainya?' batin (Y/n) lagi.
"Maaf tuan Lancelot, bisakah anda ceritakan.. Seperti apa Ibu saya?" kata (Y/n) dengan serius. Namun Lancelot sama sekali tidak bergeming dan tidak kaget dengan perkataan (Y/n). "Saya akan menceritakannya kepada anda" jawabnya kepada (Y/n).
Tanpa ditutup-tutupi, tanpa diubah-ubah... Cerita Lancelot itu membuat (Y/n) sedikit kaget dengan apa yang terjadi sebenarnya. Ya meskipun cerita itu tidak lengkap dan tidak terlalu jelas dikarenakan ada beberapa cerita yang Lancelot tidak tahu... Tetap saja (Y/n) berterimakasih terhadapnya karena sudah banyak menceritakan hal yang ia tidak tahu.
Waktu bergulir dengan cepat, (Y/n) yang menjalani dua kehidupan di dimensi Boku No Hero Academia dan dunia nyata itu... Membuat (Y/n) tidak meragukan jati dirinya lagi. Semakin hari (Y/n) juga semakin berkembang, selain itu hubungannya dengan Bakugou semakin dekat.
Namun mereka sama sekali tidak menyadari tentang apa yang tumbuh diantara mereka. Debaran yang menggila saat memegang tangan, bahkan perasaan rindu yang berlebihan, namun mereka sendiri berusaha untuk meredamnya dan fokus untuk menyelesaikan masalah mereka masing-masing. Hingga hubungan mereka itu menimbulkan suatu simbiosis 'Mutualisme'.
Hari yang tenang? Tentu saja tidak, tepat 3 hari sesudah (Y/n) mengetahui kebenaran... Tak sengaja (Y/n) bertemu dengan Idris saat (Y/n) sedang melakukan jalan pagi menggunakan kursi roda otomatisnya.
"(Y/n)?! Astaga Nak! Kau kembali!" ucap ibunya itu yang kemudian berlari dan memeluknya. Sesak, itulah yang dirasakan oleh (Y/n). "Ibu?" ucap (Y/n) dengan nada yang seolah tak percaya.
//Flashback : On (Side P.O.V)
"Bakugou... Bagaimana cara aku menghadapi orang tua palsuku ya? Apa aku harus berkata secara terang-terangan?" tanya (Y/n) kepada Bakugou setelah pulang sekolah. "Kau cukup diam saja dan biarkan waktu menjawab, sialan" ucap Bakugou kepada (Y/n). Hal itu tentu saja membuat (Y/n) tersentak, "Ada apa dengan dirimu, rasanya seperti bukan kau saja" kata (Y/n) dengan nada tidak percaya. "LAH TERUS MAU NGAPAIN LAGI SIALAN?!" teriak Bakugou padanya.
'Aku kira kau akan bilang bunuh saja, terang-terangan saja lalu masukkan dia ke dalam penjara' batin (Y/n) secara sekilas. "Bagaimana pun, percuma juga kalau kau langsung melawannya... Kau itu masih lemah" hal itu membuat (Y/n) sedikit naik darah. Tapi (Y/n) mencoba untuk berpikir logis, "Memangnya tendanganku itu selemah itu?" tanya (Y/n) padanya.
"Heh, gimana aku mau bilang kamu kuat kalau ketabrak tiang dikit aja udah nangis?" ejek Bakugou terhadap kelemahan (Y/n).
"Heh! Aku nggak nangis! Aku cuman meringis" protes (Y/n). "Sama aja\, itu kan sinonim" kata Bakugou. "Nggak ada\, Bakugou... Itu bukan sinonim" ucap Bakugou dengan flat. "ITU SINONIM *****!" protes Bakugou yang lagi-lagi mengeluarkan emosinya.
Setelah itu (Y/n) mengecek lagi di Google apa perbedaan dari meringis dan juga menangis. Karena menurutnya itu adalah hal yang berbeda, "Beda Bakugou! Beda! Lihatlah ini!" ucap (Y/n) yang kemudian memberi lihat ponselnya.
Kemudian Bakugou mengambil ponselnya dan melihat, 'Nggak peduli, yang penting moodnya yang barusan sedih sudah berubah kan?' begitu pikir Bakugou. Tentu saja hal itu membuat (Y/n) salah paham kalau Bakugou itu sebenarnya adalah orang bodoh dalam hal sastra dan bahasa.
Bakugou memberikan ponselnya, namun di saat (Y/n) ingin mengambilnya.. Bakugou mengangkat tinggi-tinggi ponselnya itu sehingga (Y/n) tidak bisa mengambilnya.
"Hey! Berikan ponselku!" ucap (Y/n) kepadanya. "Cebol sih" ejek Bakugou. "Tinggiku yang 160 ini nggak cebol, dasar bom ranjau!" ejek (Y/n). "GW BUKAN BOM RANJAU!" protes Bakugou. "Lah terus apa? Bukannya bom ranjau itu bagus karena kuat ya?" tanya (Y/n) sambil tersenyum. Hal itu membuat Bakugou terdiam sejenak dan memikirkan spesifikasi Bom Ranjau.
"Jerapah! Kasih hp gw!" Bakugou yang barusan melupakan kemarahannya sekarang kembali marah karena ia dipanggil jerapah. Namun, dia mencoba untuk mengolah emosinya... Dengan cepat, Bakugou langsung memberikan ponselnya itu padanya. 'Eh? Kok emosinya cepet banget berubah ya? Apa karena dia moody?' batin (Y/n) secara sekilas.
"Sekarang kau sudah lebih tenang kan?" kata Bakugou sambil meremehkannya. Kemudian (Y/n) sadar bahwa kepanikannya itu hilang karena Bakugou.
"Kalau kau bertemu dengan penipu handal itu... Cukup diam saja dan asah pisaumu itu" kata Bakugou padanya.
//End of flashback (Back to 3 R.d. Person P.O.V)
"Nak, kenapa kau lari secara mendadak di hari itu?" ucap Ibunya itu sambil memegangi pipinya. "Ah... Aku nggak tahu, karena sudah lama bu" ucap (Y/n) sambil tersenyum. Kemudian raut wajah Idris berubah sedikit yang seolah mengatakan... 'Kau ini sudah berani meremehkanku ya? Aku tahu pasti kau kabur karena terjadi sesuatu' kemudian Idris kembali berdiri di hadapannya.
Saat itu (Y/n) jadi mengerti... Mengapa dia selalu merasakan bahwa raut wajah ibunya itu terkadang membawa aura yang negatif. "Bagaimanapun, Nak... Mengapa kau masih bisa tinggal di rumah sakit? Kan ibu tidak membayar biaya rumah sakitmu" kata Idris kepadanya.
'Iya, karena kau sama sekali tidak peduli denganku... Aku tahu itu kok, kau yang menyembunyikan ini selama bertahun-tahun membuatku merasa tersakiti' batin (Y/n) secara sekilas. "Eh? Masa iya?" kata (Y/n) sambil berakting.
"Ibu, akan membayarkan biaya mu ya?" kata Idris sambil pencitraan kepadanya. "Setelah itu, ada yang ingin Ibu sampaikan" kata Idris sambil tersenyum ramah. (Y/n) membalas senyuman ramahnya, "biar Ibu dorong ya?" pinta Ibunya itu padanya.
"Kalau Ibu tak mau juga nggak apa-apa kok, Ibu pasti lelah" kata (Y/n) sambil tersenyum. 'Anak ini... Apa dia meremehkanku?' batin Idris secara sekilas. "Kalau begitu bagaimana kau bisa masuk denganku, Nak?" kata Idris sambil tertawa. 'Aku mengerti mengapa dulu aku percaya pada Ibu palsuku ini... Dia benar-benar memiliki kemampuan berakting yang sangat baik' batin (Y/n) secara sekilas.
"Tak apa, Bu... Aku diperbolehkan memakai kursi roda otomatis" kata (Y/n) secara terang-terangan. Kemudian Idris sudah tidak tahan lagi, dia menempatkan mulutnya itu tepat di samping telinga (Y/n).
"(Y/n) bukankah itu mahal? Mengapa kau mengambilnya? Kau juga tahu kan kalau kita harus berhemat, kan? (Y/n)?" ucap Idris dengan tekanan yang mendalam. (Y/n) rasanya ingin menangis tepat di saat itu juga, namun dia menghentikan keinginannya karena ia ingat terhadap janjinya kepada Bakugou.
'Aku nggak bakal menangis meskipun ibuku mengancamku'
'Kalau begitu lakukan, jangan cuma ngomong doang'
Kemudian Idris kembali ke posisinya, (Y/n) tersenyum. "Baik, Ibu!" ucap (Y/n) sambil tersenyum ceria.
▪️▫️▪️▫️▪️
#08\,5 - If you and me together? (Pt. 2) | Bakugou Katsuki x Readers | Different world au
Tempat pulang? Itulah yang aku rasakan setiap berada di dimensi lain - (Y/n)
▫️▪️▫️▪️▫️
Singkat cerita, Idris lah yang mendorong kursi rodanya itu menuju ke dalam. "Bu, ruanganku ada disana" kata (Y/n) sambil menunjuk ke ruangan VIP. Hal itu tentu saja membuat Idris tersentak karena dia yang harus membayar semuanya. "Kamu bilang apa sih, Nak?" kata Idris sambil tertawa. "Ruanganmu kan disini" katanya sambil berbelok.
'Ah... Dia pasti mengira aku ini melunjak karena ingin ruangan VIP kan?' batin (Y/n). Saat itu, keberuntungan mendekati (Y/n)... Dokter yang biasanya memeriksa (Y/n) menyapa, tentu saja Dokter itu memandu mereka ke ruang VIP. Idris hanya bisa meredam kekesalannya dalam hatinya,
"Dokter... Bisakah anda meninggalkan kami sebentar?" tanya Idris dengan tegas sambil memasang senyum ramah. Kemudian si Dokter tidak memiliki pilihan lain setelah keluar, "(Y/n)... Kau ini masih sakit ya?" tanya Idris kepadanya.
"Hah... Benar-benar anak yang tidak bisa diatur" hal itu membuat (Y/n) tersentak. "Kursi roda otomatis, ruang VIP, dan dokter yang memihakmu? Apakah kamu baru saja menjual tubuhmu?" (Y/n) sedikit tersinggung karena ucapan Ibunya itu.
"Iya kan? Lalu mengapa kau bisa mendapatkan semua pelayanan ini?" tanya Idris dengan senyum sinis. (Y/n) meremas selimut yang ia pakai saat itu, "Hah... Bagaimana kalau adikmu mengikuti kelemahanmu?" omel Ibunya itu.
"Aku belum mengatakan bahwa itu benar, Ib" ucapan (Y/n) dipotong oleh Ibunya. "Anak gila yang tidak tahu sopan santun... Bukankah aku sudah pernah mengajarimu untuk tidak memotong perkataan orang tua?" tanya Idris dengan sorotan mata tajamnya.
'Kalau kau terlalu baik, mereka akan terus menginjak-injak harga dirimu... Jangan sampai mereka merangkak naik, dasar bodoh!'
Di saat (Y/n) ingin melakukan pembalasan, Lancelot memasuki ruangan... "Nona (Y/n), dan siapa anda?" hal itu membuat Idris alias Yuliana kaget dengan keberadaan pelayan setia milik Adelle.
'Jangan bilang' batin Yuliana.
-End of #08
Sampai nanti di chap selanjutnya! Makasih udah mau baca ^^
Terimakasih juga sudah mendukung karya ini untuk maju ya ^^~