
Warning! Cerita ini mengandung back story ibu (Y/n) yang mungkin akan sedikit mencengangkan kepada para pembaca! Karena itu saya harap kepada para pembaca agar bijak dalam menyikapi seluruh kata kasar, keluh kesah, dan masalah yang hanya sementara! Terimakasih, dan selamat membaca!
-Aiichyy
Side P.O.V. (Dapat dilihat secara lengkap di Chapter 05,5)
Kemudian Ibu (Y/n) membuka pintu darurat dan menutupnya dengan pelan. Setelah itu dia langsung jongkok ke bawah, berusaha menenangkan dirinya yang panik karena itu...
'Tenang, yuliana... Semua itu sudah lewat... Orang mati itu tak'kan pernah hidup lagi...' batinnya.
'Tetapi jika begini... Bukankah, anak itu benar-benar terlihat seperti ibu kandungnya?! Bukankah harus kubunuh?!' -Idris a.k.a Yuliana (Ibu Y/n [?])
Yuliana P.O.V. //flashback mode
Keluarga kami... Terdiri dari 4 orang, Ayah, Ibu, Kakak dan Aku. Keluarga kami terkenal sebagai keluarga yang berbakat di bidang seni... Aku yang benar-benar menyukai seni karena keluargaku, harapanku benar-benar hancur di saat aku dinyatakan tidak memiliki bakat di bidang seni. Jika dibandingkan dengan kakak perempuanku... Aku bukanlah apa-apa, tentu saja aku membencinya!
*** 3 R.d. Person P.O.V. ***
*Fyi : Latar waktu saat itu ialah saat Adelle kelas 3 SMA dan Yuliana berada di kelas 1 SMA
Telepon rumah berbunyi, "Dek.. Bisa tolong angkatin telepon?" tanya Kakaknya itu kepada Yuliana. - Adelle (Kakak perempuan kandung Yuliana).
"Angkat sendiri! Kamu kan punya tangan sama kaki" ucapnya dengan ketus. "Baiklah" ucap kakaknya itu sambil menghela nafas pelan terhadap perilaku adiknya itu. Namun dia sama sekali tidak tersinggung atau pun tidak suka dengan adiknya, dia selalu berpikir positif untuk menghilangkan pikiran negatif.
"Halo" ucap Adelle setelah mengangkat telepon. Kemudian Adelle tampak sedikit tersentak dengan berita yang ia dapatkan dari telepon. "APA SIH KAK?! JANGAN BANYAK GAYA!" teriak Yuliana padanya.
Tetesan air mata yang keluar dari mata Adelle itu membuat Yuliana tertegun, "Kak kenapa?!" ucapnya kepada Adelle dengan tidak sopan. "Baiklah terimakasih banyak, bisakah saya mengetahui dimana rumah sakit tempat ayah dan ibu berada?" tanya Adelle pelan.
Hal itu membuat adiknya Yuliana tersentak, "KAK! JANGAN BERCANDA!" teriaknya kepada kakaknya. "Baiklah terimakasih, kami akan segera kesana" ucap Adelle sambil menutup telepon.
Kemudian Adelle menatap Yuliana dengan sendu,
Yuliana P.O.V.
"Dek, ikut kakak yuk?" tanyanya dengan mata yang terus menerus mengeluarkan air mata. Hal itu membuatku terdiam sejenak, "Kenapa aku harus ikut?" tanyaku padanya.
Dia menggelengkan kepalanya sedikit dan menghela nafas pelan, "Dek, dengerin kakak ya" ucapnya yang kemudian memegang pundakku.
Mataku terbelalak saat mendengar perkataannya, saat itu kehidupanku sudah berada di ujung tanduk. Berita kecelakaan Ayah dan Ibuku membuat aku merasa depresi karena kehilangan banyak hal. Dan benar saja... Ayah dan Ibuku tidak bisa melawan kritis karena keadaan fisiologis yang semakin melemah. Dan akhirnya aku hanya bisa terdiam dan menerima keadaan bahwa mereka sudah meninggal dunia.
▪️▫️▪️▫️▪️
Ch 06\,5 - Can you stay here for a while? (Pt.2) | I'm Promise! | Bakugou Katsuki x Readers | Different world AU
Sejahat apapun dirinya, aku akan tetap berbuat baik padanya - Adelle
▪️▫️▪️▫️▪️
//In the other side : 3 R.d. Person P.O.V.
Adelle mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan kepala sekolah, "Permisi" ucap Adelle perlahan. Kemudian pintu terbuka, "Ah... Adelle ya? Sihlakan masuk" ucap Ibu kepala sekolah yang langsung menyambut Adelle.
Saat itu Adelle lah yang mengajak Ibu Kepala Sekolah bertemu, saat itu Adelle langsung mengatakan sejujur-jujurnya terhadap Ibu Kepala Sekolah dan ia menyatakan bahwa ia ingin putus sekolah. Tentu saja hal itu mengagetkan dikarenakan Adelle merupakan siswa teladan di SMA itu. "Adelle, apa kamu yakin? Sekolah pun sebenarnya bisa memberikan beasiswa kepadamu" ucap si Ibu Kepala Sekolah dengan khawatir.
Adelle tersenyum tulus, "Saya tidak apa-apa Bu... Kalau boleh, apakah saya boleh meminta adik saya saja yang menerima beasiswa?" hal itu membuat si Kepala sekolah sedikit tersentak.
Tentu saja, hal ini terjadi karena nilai Yuliana yang bisa dikatakan sebagai nilai rata-rata. Dan sekolah pun tidak rela untuk memberikan beasiswa terhadap anak yang biasa saja. "Adelle... Nilaimu itu sangatlah sayang, Nak... Kau pasti bisa sukses suatu hari nanti... Memangnya ekonomi mu sekarang sangatlah tidak bisa untuk membiayai uang sekolah?" hal itu membuat Adelle terdiam.
Lingkungan pekerjaan saat itu masih belum terbuka lebar seperti sekarang... Sebenarnya uangnya saat itu cukup jika untuk membiayai satu orang untuk bersekolah... Namun tawaran beasiswa ini tentu saja membuat Adelle berpikir kembali untuk bersekolah.
"Bu, kalau begitu... Jika saya mendapatkan beasiswa... Bisakah setidaknya uang sekolah adik saya dikurangi juga?" tanya Adelle dengan ragu.
"Saya akan memikirkannya kembali, tapi Adelle... Untuk mendapatkan beasiswa itu, kau perlu menjalankan satu tes yang bisa dibilang sangat sulit dibanding kemampuanmu sekarang" ucap si Ibu Kepala Sekolah kepadanya.
Adelle mengepal tangannya sebagai tanda bahwa ia takut gagal... "Kalau begitu, biarkan saya mengikuti tesnya bu" ucap Adelle dengan mantap. Seketika pikirannya untuk putus sekolah agar bisa membiayai adiknya secara mewah itu berganti...
Rencananya untuk mendapatkan beasiswa sekaligus kerja part time sebagai guru les itu muncul. Di sisi lain dia juga berencana untuk mengembangkan bakatnya dalam melukis dan menjual hasil lukisannya kepada banyak orang.
Untuk sekarang dia hanya bisa berdoa kepada langit dan berharap akan ada jalan keluar... Dia juga mulai menerapkan hidup hemat demi adiknya dan juga dirinya agar bisa sekolah.
Yuliana P.O.V.
Kehidupanku mulai berbalik ke arah sebaliknya, kakak mulai memecat semua asisten rumah tangga agar kami bisa bertahan hidup... Begitulah katanya, tapi apa?! Memecat seluruh asisten malah akan menyusahkan kita! Di rumah yang seluas ini... Memangnya siapa yang mau membersihkannya?
"Dek... Bantu kakak yuk?" Enak aja! Suruh siapa mecat pembantu!?! "Nggak! Urus aja sana sendiri! Kamu yang cari masalah, kenapa aku harus ikut-ikutan?" kataku dengan ketus kepadanya.
Aku benar-benar benci padanya, dirinya yang sok-sok sempurna itu, sok-sok pintar, sok-sokan elegan... Sialan!
"Adelle cantik banget ya?"
"Iya banget, dia itu bener-bener tipeku sih!"
"Bukannya aku denger dia udah ada yang punya?"
"Eh itu adeknya tanyain aja!"
"Gak mau ah, meuni dekil kitu ! Mana kasar lagi orangnya wkwk"
*Fyi : meuni dekil kitu = Kotor gitu
Sok-sokan elegan, tukang manipulasi! Perusak image orang! Pokoknya aku benci dengan kakakku!
Kemudian suara telepon rumah berbunyi\, aku yang excited karena merasa itu adalah pacarku... Dengan cepat aku langsung turun... Suara telepon itu terhenti\, saat aku menuruni tangga aku dapat melihat kakakku yang mengangkat telepon. ***!
Seketika moodku menjadi tidak stabil, "Dek! Ini telepon dari james!" panggilnya kepadaku. Dengan cepat aku berjalan ke arahnya dan merampas telepon genggam dari tangannya. Kemudian dia terdiam dan kembali mengepel lantai... "Halo, James?" ucapku kepadanya lewat telepon. "Sayang, kamu mau nginep nggak?" seketika moodku langsung berubah.
"Iya aku mau!" ucapku dengan senang. "Kalau gitu aku jemput kamu nanti ya" katany kepadaku. Suaranya itu benar-benar membuatku tenang, "Dek, James Ngomong apa tuh?" pertanyaannya itu membuatku kembali kesal.
"Bukan urusanmu! Sana bersih-bersih lagi!" kemudian aku meninggalkannya.
*** 3 R.d. Person P.O.V. //Waktu yang berbeda ***
"Dek, makan yuk?" ajak Adelle kepada adiknya sambil membawa piring makanannya. Karena kesal sekaligus benci, dia menjatuhkan piring yang berisi makanan itu... Saat itu waktu terasa sangat lambat, sang kakak hanya bisa menatap sedih di saat makanan itu jatuh berserakan.
"JANGAN GANGGU AKU! AKU NGGAK MAU MAKAN!" teriaknya kepada kakaknya. "Dek!" ucap si Kakak dengan nada sedikit meninggi.
Wajah khawatir sekaligus kesal dan sedih itu membuat Yuliana semakin membencinya, "Jangan mengasihani aku! Aku benci melihat wajah bodohmu itu!" kemudian Yuliana membanting pintu di depan kakaknya dengan kasar.
Adelle hanya bisa menatap terhadap makanan yang berserakan, dirinya berusaha untuk tidak menangis, tidak mendendam kepada adiknya itu. Walaupun memang dirinya tidak bisa menyangkal bahwa dirinya itu kesal terhadap adiknya yang membuang makanan secara sengaja.
Namun karena dirinya tidak bisa marah, akhirnya dia menangis untuk mengeluarkan segala keluh kesahnya. Uang yang sangat terbatas untuk bertahan hidup itu membuat Adelle frustasi, karena itu sangat penting baginya untuk menghargai makanan dan tidak membuangnya.
Dengan berat hati akhirnya ia membuang semuanya dan memohon ampun terhadap langit karena perbuatannya itu. Karena, tidak mungkin ia memberikan kepada pengemis soal makanan yang jatuh itu. Dan tidak mungkin juga ia memberikan itu terhadap kucing jalanan, apalagi nasi yang bukan merupakan makanan pokok bagi kucing jalanan.
Semakin hari perilaku adiknya semakin membuat Adelle harus menahan emosi lebih dan lebih lagi... Selain itu dia juga tahu kalau Yuliana yang merupakan anak pencinta daging. Biasanya dia hanya mengambil daging dan membiarkan yang lainnya. Namun terkadang dia juga membuang seluruh makanannya ke tempat sampah tepat di depan mata kakaknya itu. Seorang kakak yang malang... Dirinya sekarang berusaha untuk bersabar dan memaklumi adiknya itu, tak ada waktu untuk bersantai...
Kini, Adelle juga belajar untuk mempersiapkan ujian agar dirinya bisa mendapatkan beasiswa. Memang sangat sulit bagi dirinya untuk tetap berada di sisi produktif dimana Belajar-kerja-belajar. Sampai-sampai Adelle melupakan waktu tidur untuk menjaga agar dirinya bisa tetap di sisi produktif.
Di sisi lain, adiknya itu hanya bisa bersantai, bermain dan mencuri uang yang didapatkan oleh kakaknya secara susah payah. Adelle yang belum sempat marah kepadanya soal itu sudah dibentak saja oleh Adiknya yang tidak tahu diri.
Namun masalah mereka tidak terhenti sampai disitu saja. Kehidupan mereka makin hancur di saat seorang rentenir menatangi rumah mereka dan memberi tahu kalau orang tuanya itu berutang sebesar 200 Juta dengan rumah sebagai jaminannya.
Hal itu membuat Adelle kaget dengan utang milik ayah dan ibunya itu.. Hal itu membuat dirinya berpikir secara cepat, bahwa rumah yang memiliki luas tanah 2000 m dan luas bangunan 1500 m persegi itu tidak sebanding dengan harga 200 juta... Bahkan harganya bisa saja mencapai miliaran. Dirinya yang terlalu memegang banyak beban... Saat itu otaknya memikirkan banyak hal, uang utang, uang sekolah, uang makan...
Selain itu Adelle juga diperhadapkan dengan tingkah laku adiknya yang suka pulang larut malam, dirinya yang menunggu adiknya pulang itu... Akhirnya ketiduran di sofa untuk menunggu kedatangan adiknya. Sampai suatu hari, "Kakak kenapa sih nungguin aku terus?! Kakak tuh ngebebaini pikiran aku tau nggak?! Kakak itu bisanya terus aja ngatur hidup orang lain! BAHKAN SAMPAI NGAMBIL KEBERUNTUNGAN ORANG LAIN HAH?!" hal itu membuat Adelle yang selama ini menahan emosinya itu meledak di depan adiknya.
"KAMU INI ARGH! BISA NGGAK SIH !?! JANGAN NYALAHIN ORANG YANG NGGAK BERSALAH! BISA NGGAK SIH JANGAN PULANG MALEM2?! KAKAK KAN-" Plak! Ucapannya itu terpotong oleh tamparan dari adiknya.
Kemudian tamparan dari Yuliana itu memanas di pipi Adelle... "Aku benci kakak! Kamu tau kenapa?! Kakak itu egois!" ucap Yuliana yang kemudian membanting pintu kamarnya di depan kakaknya. "Yuli! Buka pintunya! Kakak tau kakak salah!" ucap Adelle yang kini mengedor pintu kamarnya. "Pergi sana!" ucap Yuli pada kakaknya.
Karena tidak tahan dan berpikiran pendek, Yuliana mengemasi semua barang dan pergi dari rumah itu. 'Aku tak mau tinggal dengan seorang kakak yang gila' batinnya dengan kasar sambil meninggalkan rumah.
Saat terbangun dari tidurnya yang kurang nyenyak, Adelle langsung mendatangi kamar Yuliana untuk meminta maaf sekali lagi dan ingin memberi alasan mengapa dia bisa marah seperti itu. Saat mengetuk pintu, dia merasa kamar itu begitu sunyi... Karena khawatir, dia langsung memasuki ke dalam kamar dengan kata permisi. Namun, semuanya itu terlambat...
Kini dia hanya bisa menatap kamar adiknya yang kini kosong melompong... Semua pakaiannya di dalam lemarinya itu hilang.
Selain itu uang simpanannya diambil oleh adiknya tanpa bersisa... Semua uang benar-benar habisa tanpa bersisa, kau tahu artinya? Adelle tidak bisa makan untuk saat itu dan juga selanjutnya. 'Seorang adik yang kejam yang berniat membunuh kakaknya secara tersirat' begitulah pikiran orang awam jika mendengar cerita ini.
Adelle dengan perasaan khawatirnya itu dengan cepat mengunci rumah, dan melapor kepada polisi dikarenakan adiknya yang hilang. Awalnya dia juga tahu kalau adiknya kabur, tapi karena ia sangat menyayangi adiknya... Dia pun berusaha untuk mendapatkan kembali adiknya. Benar saja apa yang menjadi pilihannya itu, kini perasaannya benar-benar hancur di saat melihat adiknya itu tertawa bahagia bersama James yang dikatakan sebagai pacarnya.
Pikiran Adelle benar-benar kosong, hatinya itu benar-benar sedih karena dirinya sama sekali tidak bisa membuat adiknya tertawa lepas seperti itu. Akhirnya dia pergi dan mengucapkan terimakasih terhadap polisi yang sudah membantunya...
Yuliana P.O.V.
Daritadi pagi aku benar-benar merasa pusing dan tidak enak badan... Sebenarnya aku ini kenapa ya? Saat itu aku berada di kloset dan kembali memuntahkan makanan yang sebelumnya aku makan... Sebenarnya aku ini kenapa ya? Mengapa aku seperti ini?
"Yuli!! Kamu kenapa sih, ah! Gw mau ke toilet!" ucap Windy yang merupakan temanku saat itu. "Sebentar ah!" kemudian aku menyiram closet agar muntahanku itu terbuang.
Aku membuka pintu, "Yuli?!" katanya dengan kaget. "Kenapa?" tanyaku to the point. "Mukamu! Pucet banget! Lu abis ngapain!?!" tanyanya padaku.
"Nggak tau!" kataku sambil melewatinya. "Ntar pesenin pizza lagi ya biar aku yang bayar!" ucapku dengan santai. "Tunggu dulu, Yuli!" katanya sambil menahan tanganku. "Apa sih?!" tanyaku padanya.
"Kamu muntah udah berapa kali?" tanyanya padaku. Aku kembali mengingat-ngingat kejadian sebelumnya... "Nggak tau ah! Kalau nggak salah dari beberapa hari yang lalu aku sempet muntah tapi nggak sampai parah begini" ucapku padanya.
Kemudian dia membelalakan matanya, "Apa sih?!" tanyaku sambil menarik tanganku. "Gw mau tidur jangan ganggu!"
*** 3 R.d. Person P.O.V. ***
"Saya tidak berkata kalau saya akan menjual rumah dengan sertifikat yang bapak pegang... Tapi saya akan menawarkan rumah yang lain seharga 465 Juta" kata Adelle padanya sambil tersenyum ramah. "Memangnya kau punya rumah yang lain?" tanya si rentenir sambil tersenyum meremehkan. "Saya harap bapak tidak meremehkan keluarga kami, jika bapak tidak mau maka saya akan memberikan uang di muka sebesar 200 juta seperti yang bapak mau" ucap (Y/n) dengan serius.
'Tidak boleh, begini... Mengapa anak ini punya uang 200 juta? Dan mengapa anak ini begitu yakin kalau aku memiliki sertifikat rumah yang besar itu? Apa aku harus memerintahkan seorang pembunuh untuk merampas seluruh hartanya? Bagaimanapun anak ini... Benar-benar kaya dong?!' batin si rentenir.
Kemudian Adelle tersenyum, "Kok diam Pak? Astaga..." ucapnya sambil tertawa kecil. "Ah maaf saya" kemudian Adelle memotong perkataannya. "Saya kira saya percaya dengan bapak? Keluarga saya sama sekali tidak memiliki utang sebesar 200 juta!" hal itu membuat si rentenir tersentak.
"Wah.. Benar kan? Dasar penipu" ucap Adelle dengan sorotan mata tajamnya. "Sertifikat rumah, masih saya pegang" ucap Adelle yang kemudian menunjukan sertifikat rumah. "Bapak kira anak-anak seperti saya itu bodoh pak?" lanjut Adelle sambil tersenyum.
"Kamu!" saat Rentenir itu ingin menyerang Adelle... Seketika polisi datang menyerbu si Rentenir palsu, ternyata Rentenir palsu tersebut sudah membodohi banyak orang yang bernasib seperti Adelle.
Kehidupan Adelle yang dipenuhi dengan rasa syukur, kasih, dan hal-hal yang lain yang menghasilkan buah manis... Membuat Adelle semakin diberkahi di tengah kesulitan, tanpa disangka-sangka... Adelle berhasil mendapatkan beasiswa untuk dirinya... Dia menjual rumah warisan yang ia dapatkan dan menyimpan uangnya untuk di masa depan.
Berita tentang adiknya Yuliana itu hilang begitu saja, setelah adiknya kabur dari rumah... Dia tidak pernah masuk sekolah, Adelle yang bingung itu pun mendatangi rumah James untuk mengecek keadaan adiknya. Namun kabar yang mencengangkan diterima olehnya, James dikatakan pindah dengan orang tuanya ke luar negeri.
Firasat yang tidak enak itu pun terus memenuhi kepala dan hati Adelle.
Tak terasa hari kelulusan sekaligus perpisahan SMA sudah datang, karena adik dari Adelle tidak datang ke sekolah selama ini. Mulai muncul rumor tidak jelas soal Adelle, namun lebih banyak rumor soal Yuliana dibandingkan dengannya.
'Eh tau nggak sih? Itu Adelle lulusan terbaik di angkatan kita... Adeknya hamil loh!'
'Wah siapa? Si Yuliana?'
Mata Adelle terbelalak saat mendengar rumor itu, namun dia tidak ada pilihan lain selain diam dan menunggu hingga acara itu selesai.
***
Adelle pergi ke apartemennya dengan beban pikiran yang menumpuk. Kembali dia teringat soal adiknya dan alasan mengapa dia melakukan semua ini... Saat berjalan memasuki gedung apartemennya, dia menemukan seorang yang tak asing baginya.
"Y- Yuli?!" ucap Adelle seraya tak percaya. Yuliana benar-benar kacau, bajunya yang lusuh... Wajah yang tidak terawat, dan matanya yang sembab. "K- kak?" tanya nya sambil melihat ke arah Adelle yang saat itu sudah mengenakan baju wisuda.
Tanpa basa-basi Adelle langsung berlari dan memeluknya,
"Kamu kemana aja dek?"
Tangisan Yuliana semakin menjadi saat itu, "Maaf kak, aku udah hancur banget" katanya sambil menangisi perbuatannya.
***
Kini Yuliana memasuki apartemen minimalis milik kakaknya, matanya kini hanya bisa melihat sekitar dengan tidak percaya.
"Maaf kalau sederhana... Ayo masuk, dek!" ucap kakaknya itu padanya. Kemudian Yuliana dengan pelan ingin turun ke bawah untuk melepas sepatunya, namun karena perutnya yang besar ia agak kesusahan untuk itu. "Coba sebentar, dek!" ucap Adelle yang kemudian berlutut dengan satu kaki dan berniat untuk melepaskan sepatu adiknya. "Eh, kak tak usah!" ucap Yuliana langsung.
"Tak usah apanya? Kamu tenang dulu aja ya" ucap Adelle degan pelan melepas sepatu Yuliana. Hal itu tentu saja membuat Yuliana sedikit malu dan menyesal.
"Dek, mau mandi dulu? Kakak bakal buatin kamu spagheti deh!" ucap Adelle padanya. "Nggak... Nggak usah..." hal itu membuat Adelle tersenyum ramah.
"Dulu kan kamu suka banget sama spagheti, kenapa sekarang nggak mau?" tanya Adelle yang kini membuka lemari dan mengeluarkan satu bungkus spagheti. "Mau nggak?"
"Terserah deh kak, aku mandi dulu ya" izin Yuliana dengan berat hati. "Oke deh, nanti kakak anterin bajunya ya" ucap Kakaknya itu padanya.
Yuliana kembali terdiam dengan apartemen yang kini kakaknya itu tinggali, 'Kakak sudah banyak berubah... Apa dia justru lebih baik dibandingkan dengan aku?' batin Yuliana dalam kamar mandi.
Selain Adelle yang telah banyak berubah, Yuliana pun memiliki banyak konflik saat ia tidak bersama kakaknya. Dia menghabiskan uang yang ia curi dari kakaknya untuk berfoya-foya... Tidur dengan pacarnya dan tidak menghiraukan pelajaran yang ia dapatkan di sekolah tentang free-s*x... Kini dia menyadari bahwa hidupnya benar-benar hancur... Sampai-sampai dia menjual semua bajunya bahkan kopernya untuk bertahan hidup... Sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali dan mencari kakaknya.
Namun Adelle benar-benar memaafkannya, dia mengatakan bahwa keberadaan yuliana saat ini pun sudah cukup.
Yuliana menangis menyesali segalanya, di saat dimana ia putus sekolah dan kabur untuk bersenang-senang. Dirinya sekarang menyadari atas kekejaman dunia. Di sisi lain Adelle pun terus menyalahkan dirinya sendiri karena dia tidak merawat adiknya itu dengan baik. Kalau saja dia menarik Yuliana di saat ia tertawa bahagia dengan James, bukankah itu akan jadi lebih baik dari sekarang? Begitulah pikirnya...
Di sisi lain Adelle juga sudah memiliki pekerjaan sebagai pelukis terkenal pada saat itu... Karena bakatnya dalam menghayati lukisan, dia direkrut di suatu perusahaan dengan pimpinan yang bernama Tony. Pertemuan mereka bermula di saat Adelle melukis di publik, dan Tony ingin langsung merekrutnya sebagai pelukis pribadinya.
Setelah itu Adelle menjadi sangat sibuk untuk mengumpulkan uang demi kebutuhan hidup mereka selanjutnya. Adelle langsung membiarkan adiknya itu mendapatkan check up psikologis maupun fisiologis (Kesehatan dan mental).
Karena Adelle sibuk, Yuliana menjadi sedikit kesepian saat ditinggal di apartementnya. Tak hanya itu, disanalah Yuliana juga dapat melihat kalau Adelle semakin diberkati. Hal itu membuatnya kembali iri hati kepada kakaknya, 'Mengapa kakak terus yang mendapatkan hal seperti itu?! Mengapa di kehidupannya itu terasa indah dan instan... Sangatlah mudah kalau aku menjadi dirinya... Ah- tunggu,' kemudian Yuliana menghentikan perkataan dalam hatinya itu sejenak dan memasang senyum licik.
Singkat cerita, setelah anak Yuliana lahir... Tentu saja Yuliana langsung membuangnya ke tong sampah. Pikirnya, 'Untuk apa repot-repot?! Anak ini kan yang menghancurkan hidupku!?!' batinnya.
Tentu saja ini membuat pertengkaran sementara diantara Yulian dan Adelle, "Dek, anakmu dimana?" tanya Adelle kepadanya. "Kubuang" ucapnya dengan santai sambil memasang senyum licik. Hal itu membuat Adelle tersentak, "Kamu bilang apa dek?" tanya Adelle sekali lagi.
"Lah? Kakak nggak denger ya? Kubuang!" ucapnya sambil tersenyum ceria. Kata-kata 'Kubuang' itu terus berputar di kepala Adelle, "Yuliana! Kenapa kamu buang! Anak itu masih kecil dan dia tidak bersalah ap" ucapannya disela oleh adiknya itu.
"ARGH KAKAK INI!?! MASA SIH KAKAK NGGAK TAU PENDERITAANKU?!" hal itu membuat trauma Adelle kembali. "GIMANA SIH KAKAK?! LAGIPULA INI SEMUA SALAH KAKAK KAN?!" perkataan Yuliana yang menyalahkan dirinya itu tentu saja membuat dirinya kembali merasa resah.
"Bagaimanapun... Kan kakak yang bayarin anak itu sampai besar nantinya" ucap Adelle secara perlahan. Hal itu membuat Yuliana tersentak, "Kakak ini bagaimana sih? Anak itu kan nggak punya hubungan apa-apa sama kakak!" ucapnya sambil memasang senyum yang lebar.
"AHAHAHAH! AKU NGGAK BISA BERHENTI KETAWA!?! MASA KAKAK MASIH AJA MIKIRIN ANAK ITU?!" ucap Yuliana sambil menertawakannya.
*Sumber : Pinterest (Manhwa : The Villainess Reverses The Hourglass)
"Atau jangan-jangan itu adalah anak yang dihasilkan kakak dan kemudian dimasukkan kedalam rahimku?" ucap Yuliana kepadanya. Adelle tersentak melihat wajah adiknya yang seperti itu, "HAHAHA! LUCU BANGET KAKAK INI! MASA GITU AJA DIEM?!" ucap adiknya itu kepadanya.
*Sumber : Pinterest (Manhwa : Sadistic beauty)
"Heh... Kak! Dengerin ya! Aku nggak mau lihat anak itu bersamaku!" katanya kepada Adelle yang kini merinding mendengar perkataannya. "Uang yang kakak punya kan itu semua untukku?" katanya sambil memasang senyum licik.
*Sumber : Pinterest (Manhwa : The Villainess Reverses The Hourglass)
"Mengapa harus anak itu yang menikmatinya? KAN KAKAK NGGAK PUNYA HUBUNGAN DARAH SAMA ANAK ITU" katanya sambil meninggikan suaranya terhada kakaknya. Kemudian dia menghela nafas dan mengendalikan wajahnya,
*Sumber : Pinterest (Nama manhwanya masih belum terlalu yakin karena aku nggak baca)
'Dengan begini dia bisa diam saja dan berjalan sesuai kemauanku kan?' batinnya lagi.
Adelle saat itu benar-benar kesal dengan perilaku adiknya yang saat itu melonjak. "Yuliana... Kau tahu apa? Kamu sepertinya tidak pernah belajar soal Hak Asasi Manusia ya?" ucap Adelle sambil memasang senyum ramahnya.
"Buat apa? Toh anak itu kan takkan kuberi nama dan takkan kulaporkan kepada pihak yang mengurus kelahiran!" ucapnya sambil tertawa melihati kakaknya. "Hey, kak! Sadar dong! Kita kan seharusnya memang begini? Hanya aku dan kakak! Mengapa kakak nggak ngerti sih?!" ucap Yuliana kepadanya. "Baiklah kakak mengerti" ucap Adelle yang memaksakan senyum. Namun Yuliana tidak menyadari kalau kakaknya itu sedang memaksakan senyum.
'Kalau begitu biar akulah yang mengurus anak itu' batin Adelle. Akhirnya Adelle menyuruh bawahannya untuk mengambil anak itu dan menitipkannya ke panti asuhan... Ia menyuruh orangnya itu untuk menyetor uang untuk pertumbuhan anak tersebut.
Adelle yang terlalu baik hati terhadap nyawa manusia itu dianggap sebagai suatu kelemahan oleh adiknya, karena dia tidak mau kehilangan adiknya lagi... Sampai-sampai dia terjatuh dalam jebakan yang dibuat oleh adiknya. Meminum air yang diberikan oleh adiknya saat mereka sedang makan di restoran bintang 5 itu membuat dirinya tidak sadarkan diri hingga saat paginya dia sudah terbangun di kamar hotel dengan bajunya yang masih belum berganti.
Namun anehnya, orang yang pertama kali ia lihat adalah Yuliana... Jadi saat itu Adelle hanya mengira kalau dia diangkat oleh adiknya menuju kamar hotel... Padahal sebenarnya kebuntungan mendekati Adelle saat itu.
Yuliana hanya bisa tersenyum puas melihat rencananya berhasil, itulah sejarah dimana (Y/n) terlahir dari kandungan ibu aslinya... Yaitu Adelle, kakak Yuliana.
**Hari kelahiran (Y/n)**
Terdengar suara bayi yang menangis saat Adelle melahirkan, Adelle menamai anak itu dengan sebuah nama yang cantik yaitu (Y/n)... Di sisi lain, Yuliana mulai tersenyum bangga karena rencananya itu berjalan lancar. Tentu saja Yuliana senang karena dia banyak menggantikan pekerjaan kakaknya karena kakaknya yang hamil. Awalnya Adelle merasa terharu terhadap adiknya yang mau membantunya untuk menutupi gossip bahwa Adelle hamil di luar nikah.
Padahal Yuliana memiliki motif tersembunyi... Yaitu mengambil seluruh harta kakaknya, dan membunuhnya di saat anak itu lahir. Dan benar saja, rasa benci terhadap kakaknya itu muncul kembali... "Dek... Makasih udah bantu kakak selama ini ya, sehabis ini... Tolong jaga anakku ya? Kakak akan kembali kerja untukmu... Sungguh aku bersyukur memiliki adik sepertimu" ucap Adelle dengan lirih kepadanya. Yuliana sedikit tersentak dengan ucapannya,
"Kakak sudah bekerja keras" ucap Yuliana sambil memasang senyuman palsunya. Di tengah malam, kakaknya itu kehilangan nafas secara mendadak. Itu dikarenakan obat stimulan yang diberikan Yuliana secara diam-diam ke dalam infus kakaknya itu. Dia mencekik kakaknya itu sekuat tenaga. 'MATI KAU MATI!' batin Yuliana sambil tersenyum bahagia.
"D-Dek! He-Hentikan!" kata Adelle dengan setengah mati sambil memukul-mukul tangan adiknya. "Kau itu nggak berguna! Terimakasih ya, sudah memberikanku tempat untuk menikmati keberuntungan! Kakakku yang tercinta~!" katanya kepada kakaknya yang sekarang membelalakan matanya dan meneteskan air mata.
Kemudian kakaknya itu terdiam, alat yang menandai detak jantungnya itu tiba-tiba membentuk sebuah garis...Yuliana tersenyum puas dan membuat dirinya menangis dengan air mata palsunya, "SUSTER! TOLONG KAKAK SAYA!?!" katanya sambil keluar dan memanggil perawat yang ada.
Tepat saat itu, mujizat terjadi... Tepat sebelum para perawat datang nyawa Adelle kembali, "Yuliana, aku tidak akan mendendam kepadamu karena aku sungguh mencintaimu.. Kalau begitu maumu, ambil semuanya dan terakhir tolong jaga anakku ya?" hal itu membuat Yuliana tersentak.
Setelah itu perawat langsung datang dan melihat Adelle yang benar-benar sudah kehilangan nyawanya. Saat itu, kepribadiannya yang asli baru saja kembali... Dan menyadari dengan apa yang baru saja dia lakukan...
//Switched P.O.V : 3 R.d. Person P.O.V. - On Adelle side *Secara sekilas*
"Maaf untuk mengatakan ini sebelumnya... Tetapi pasien Yuliana sepertinya mengalami trauma yang sangat mendalam, sehingga hal itu juga dapat memicu keberadaan bipolar atau kepribadian ganda" ucap Psikolog itu kepada Adelle. Adelle membelalakan matanya, "Apa maksudmu soal bipolar?" kata Adelle dengan reflek.
Si Psikolog menelan ludah kasar, "Ah... Maaf, sepertinya saya terlalu kaget" ucap Adelle yang meminta maaf atas tingkah lakunya.
//Switched P.O.V : 3 R.d. Person P.O.V. - On Yuliana side
Selang beberapa hari, Yuliana hanya bisa menyesali tentang apa yang dia lakukan. Ditambah lagi Adelle sempat membuat surat wasiat terhadap dirinya yang sangat banyak dan bertumpuk. Selain itu rencana keuangan untuk selanjutnya sudah direncanakan dengan baik oleh Adelle, dirinya yang merasa semakin bersalah itu... Benar-benar membuat dirinya membenci diri sendiri atas hal yang pernah ia lakukan kepada kakaknya.
Semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur... Hal yang tersisa dari kakaknya hanyalah anaknya yaitu (Y/n).
Author Naration P.O.V.
Dengan cepat Yuliana mengambil langkah untuk mengganti identitasnya dengan nama Idris, yang (Y/n) kenal sekarang. Tak hanya itu, bahkan ayah yang dikira (Y/n) sampai saat ini adalah ayah kandungnya, ternyata itu hanyalah pria yang menjalankan kontrak dengan Yuliana untuk kebaikan (Y/n) saat itu.Hingga akhirnya mereka membentuk keluarga yang berisi 4 orang anggota yakni seorang ayah, ibu, dan dua orang anak.
Kelahiran adik (Y/n) pun sebenarnya hanyalah kecelakaan bagi Yuliana alias Idris. Malangnya nasib (Y/n) saat itu dikarenakan dia tidak tahu kondisi keluarganya saat itu.
-End of Chapter 06
Yo~ Maaf telat update ya:3 //Kalau likenya terserah kalian deh wkwk:'3