
3 R.d. Person P.O.V.
Bakugou mendatangi tempat yang biasanya didatangi olehnya dan (Y/n). Bisa dibilang itu adalah tempat rahasia yang ditemukan oleh Bakugou dan (Y/n) mengetahuinya karena waktu itu dia sempat berteleportasi ke sini.
*tempat yang dimaksud adalah tempat yang berada di Ch 05,5 - Sweet Memories (Pt. 2)
"Bakugou, kau ingat saat pertama kali kita bertemu?" tanya (Y/n) kepadanya. "Kenapa tiba-tiba?" tanya Bakugou kepadanya. "He? Bukankah saat itu kau lucu banget ya? Kau yang menganggap aku sebagai villain terus teriak-teriak?" ejek (Y/n) sambil menahan tawanya.
"JANGAN BICARAKAN SOAL ITU!" protes Bakugou yang kini malu akan perbuatannya. (Y/n) hanya bisa tertawa ngakak melihat Bakugou yang seperti itu. Seiring tawaan (Y/n) memudar, Bakugou langsung menanyakan topik pembicaraan inti "Lagipula kau mau bicara apa sih? Jangan-jangan kau mau bicara soal itu?" ucap Bakugou memutuskan. "Soal itu? Apaan?" tanya (Y/n) padanya.
"Lupakan..." kata Bakugou sambil melihat ke arah lain. "Sekarang lebih baik kau jelaskan... Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Bakugou padanya. "Apa memang kau ingin bernostalgia sebelum pergi? Kau masih akan datang kesini kan?" tanya Bakugou padanya.
Hal itu tentu saja membuat (Y/n) sedikit tersentak dengan apa yang harus dilakukannya. Aliran darahnya itu seperti berhenti mengalir di saat Bakugou mengatakan hal seperti itu. Otaknya kembali memutar memori dimana mereka tertawa lepas bersama.
Dirinya yang tidak rela itu sekarang sudah berada di ujung tanduk. (Y/n) melihat ke arah lain sambil tersenyum, "Terimakasih" ucap (Y/n) padanya. Tempo waktu melambat setelah (Y/n) mengatakan hal itu.
"Hah?" kata Bakugou sambil mengernyitkan keningnya. Tentu saja detak jantung bakugou juga ikut menegang dikarenakan atmosfer sekitar yang sangat mendukung (Y/n) untuk mengucapkan terimakasih. (Y/n) terdiam sementara karena dia tidak tahu dia harus mulai dari mana. Angin malam mulai berhembus pelan sehingga keadaan itu semakin terasa sedih. "Maafkan aku... Bakugou" ucap (Y/n) sambil meneteskan air mata. "Maaf..." ulangnya lagi. Kemudian (Y/n) juga dapat merasakan keberadaannya yang mulai melemah.
"Hei! Jangan menangis sialan!" ucap Bakugou yang langsung sigap di hadapannya. Namun, (Y/n) tidak bisa berbohong ataupun menenangkan dirinya. Baginya sekarang berbicara itupun sudah sangat sulit... Bagaimana bisa dia menenangkan dirinya jika dia tidak bisa berbicara hal yang sejujurnya?
"Jelaskan dulu baru menangis!" kata Bakugou dengan panik. "KAU DENGAR AKU?! Jelaskan.." kata Bakugou dengan suara yang memelan.
Tindakan (Y/n) yang terdiam mematung sambil menangis itu membuat Bakugou tersentuh dengan perasaan apa yang sedang rasakan.
"JELASKAN APA YANG TERJADI!?!" lanjutnya sambil menggoyangkan tubuh si Gadis yang berada di hadapannya. Perasaan (Y/n) benar-benar tercampur aduk, jantungnya yang dari tadi merasa tenang kembali merasakan denyutan yang mendalam seperti yang ia rasakan sebelumnya.
Tempat yang aman, tentram dan penuh kenangan itu kini didominasi dengan peristiwa yang tidak bisa dipercaya oleh Bakugou sendiri. (Y/n) mengangkat kepalanya dengan pelan, "Maaf Bakugou..." ucapnya lagi. Hal itu membuat Bakugou melepaskan pegangannya dari pundaknya itu.
Sebenarnya, Bakugou tidak mau mendengar perkataan maafnya. Yang Bakugou mau hanyalah penjelasan daripada (Y/n) yang membuat (Y/n) jadi seperti itu. Tapi Bakugou sadar, bahwa bukan waktunya Bakugou harus bersikap seperti itu. Karena bersikap seperti itu tanpa tahu keadaan, hanya akan memperburuk melodi kebersamaan mereka saat ini.
"A-aku tidak bisa sepertimu...! Aku tidak bisa berjalan berdampingan denganmu!" tangisan gadis itu mulai mengucur deras. Kata-kata tidak bisa sepertimu itu mengartikan bahwa dirinya itu adalah penghuni dari dimensi lain yang hanya bisa datang dan pergi seenaknya. Dirinya itu terus merasa bersalah karena sudah membebani Bakugou, dirinya merasa tidak suka dengan diriya yang egois dan menangis cuma karena hal itu.
Perkataannya soal dia tidak bisa berjalan berdampingan bersama dengannya itu menandakan bahwa ia semakin lemah dan tidak kuat jika melanjutkan perjalanan bersamanya.
Tentu dia mendapatkan banyak keuntungan di saat berjalan bersamaan dengannya. Namun sampai kapan? Hal itu hanya membuatnya lari dari kenyataan yang ia sedang alami. Dia pun mengakui kalau dia itu egois, apakah itu egois atau bukan? Apa ini adalah kisah romansa yang sangat toxic?
Apa jika dirinya memaksakan diri... Semuanya akan selesai? Jawabannya benar-benar terpampan keras di depan matanya. 'Tidak' lima huruf, satu kata, struktur kata itu membuat (Y/n) semakin tertusuk dengan apa yang harus ia lakukan.
Dirinya yang tidak bisa mengontrol emosinya itu membuat Bakugou terdiam dan mencoba mengerti perasaannya. Dia kini merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang merasa 'terpaksa' untuk melepaskan seseorang yang mereka cintai.
Namun ada perbedaan diantara dia dan orang-orang... Ialah dia yang merasa sok tragis karena dirinya yang ingin berpisah dengan tokoh utama dari dimensi lain.
Di dunia ini tedapat 11 dimensi, jika (Y/n) terus memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam dimensi ini... (Y/n) juga akan membuat bumi hancur secara sendirinya.
Semiwir angin sejuk itu menjadi pengantar bagi kisah sedih (Y/n)... "Aku" kemudian (Y/n) membuka mulutnya dengan berat hati. "Aku benar-benar tidak bisa" kata (Y/n) yang menekankan dirinya untuk sadar akan kenyataan.
Takdir yang kini sudah membawanya sampai disitu, membuat dirinya semakin tertekan. Ada beberapa macam tekanan yang dialami oleh orang-orang pada umumnya, namun tekanan ini... Tekanan ini hanya dapat dirasakan oleh mereka yang baru saja terjatuh dan baru bangun dari kesakitan mereka. (Y/n) kembali menghirup udara yang berada di dunia Boku No Hero Academia agar bisa menikmati keadaan itu untuk terakhir kalinya. Bakugou menatap (Y/n) dengan tulus, hal itu membuat tangisan (Y/n) semakin jadi...
Dirinya terus menerus berandai... Namun, semakin (Y/n) memikirkan dirinya, semakin terancamlah dirinya itu. Hal itu juga terus membuatnya menggali luka dan juga menggali traumanya. Kemudian isakannya itu semakin keras. Ia pun kini bisa merasakan akhir yang pahit dari kisahnya. Bakugou yang diam membatu itu kini memperhatikannya secara terang-terangan sebagai tanda bahwa ia peduli. "Aku menginginkanmu, Bakugou" jantung Bakugou berdetak kencang, entah ke arah senang atau sedih.
"Jika aku begini terus" dia menghentikan perkataannya karena memorinya bersama Bakugou kini mengucur deras bagaikan air terjun di alam bawah sadarnya. Kenangan-kenangan yang berisi tawa, tangis, dan hal-hal indah yang lainnya itu memenuhi hatinya dan memberikan sensasi hangat yang mendalam.
"Berdiri di dua kepastian...Hal itu akan menghancurkan diriku, dan juga tubuhku..." kata (Y/n) sambil menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya. Keberadaan (Y/n) dan juga perkataan (Y/n) itu membuat Bakugou tersadar akan kedatangannya yang mendadak bagaikan hantu.
"Apakah kita harus berpisah seperti ini?" kata (Y/n) sambil melihat ke arahnya. Bakugou terdiam membatu mendengarkan semua itu, kini otaknya juga mulai memecahkan potongan puzzle.
"Apa maksudmu? Apa kau benar-benar ingin pergi?" kata Bakugou dengan tatapan yang sendu. (Y/n) sekali lagi terdiam, "Bakugou, aku benar-benar menyukaimu" hal itu membuat Bakugou tersentak kaget.
Pemikirannya soal (Y/n) yang tidak suka padanya itu kini menghilang. Ia langsung memeluk gadis pujaan hatinya itu. Tentu saja, hal itu membuat (Y/n) bisa mendengar debaran jantung Bakugou. "Bakugou, jangan bilang kau" Bakugou menyela perkataannya dengan pelan. "Aku juga, dasar bodoh... Kenapa kau bertanya?" kata Bakugou dengan pelan.
Bakugou pun sekarang mengerti mengapa dia menyukai gadis ini, "Setelah semua yang aku lakukan dan aku katakan padamu... Kau kira aku akan diam dan membiarkanmu?" kata Bakugou yang kini tidak bisa menahan perasaannya. "Tapi... Apa kau benar-benar akan pergi (Y/n)?" tanya Bakugou dengan nada yang pelan.
(Y/n) yang kaget mendengar namanya dipanggil itu tidak bisa menghentikan debaran jantungnya yang kini sedang berjalan ke dua arah. Baik itu senang ataupun sedih. Bakugou memegang kepalanya dan mengusap rambutnya pelan, "Jelaskan padaku, (Y/n)" ucap Bakugou dengan suaranya yang sedikit bergetar.
"Bukankah kau tak'kan peduli?" Bakugou mengedipkan matanya perlahan, "Dasar bodoh, kata siapa aku tidak peduli?" ujarnya lagi pada (Y/n).
Jantungnya yang memanas dikarenakan terlalu mendalami apa yang terjadi itu, membuat dirinya semakin tidak rela melepaskannya. Dunia nyata dan juga dunia dimana Bakugou tinggal itu tidaklah sama. Mulai dari iklim, seusasana, karakteristik orang-orang yang menetap di kedua dunia itu.
"Bakugou, aku harus pergi" ucapan (Y/n) itu membuat Bakugou kaget. "JANGAN BERCANDA!" teriakan Bakugou itu benar-benar membuat (Y/n) semakin sesak. "Aku... Masih banyak hal yang aku belum katakan kepadamu, (Y/n)" ucapnya.
"Katakan sekarang saja\, kita masih punya banyak waktu" ucap (Y/n) kepadanya sembari terisak. "Nggak\, sialan... Waktu itu cepat *****" hal itu membuat (Y/n) kembali tersadar akan waktu yang begitu cepat.
"Sejak kau datang... Aku semakin menyadari, kalau ada hal yang tidak bisa aku miliki itu ada pada dirimu" kata Bakugou sambil mengeratkan pelukannya. Tekanan yang dirasakan (Y/n) sekarang adalah tekanan dimana dirinya harus memilih pilihan yang tepat. Cepat atau lambat, dia harus memilih.
Dirinya sekarang tidak bisa membayangkan lagi, jika dirinya dan karakter 2D itu tinggal bersama-sama. Berjalan bersama, makan bersama, tertawa bersama, rasanya itu hanya sewaan sesaat. Makanan manis yang warna warni, teman-temannya yang mempercayainya sepenuh hati.
Dimensi itu, merupakan kenyataan indah yang bahkan tak pantas disebut sebagai mimpi. Karena kondisi dan situasi yang sesuai, hal itu terus saja membuat otak (Y/n) berandai. Seandainya Bakugou itu nyata... Dan seandainya dirinya itu berada di dimensi yang sama. Dimensi ini merupakan dimensi yang membuat (Y/n) berkembang secara aktif.
Mereka yang terlupakan akan keadaan yang berbeda itu kini benar-benar tercuci otak untuk sementara waktu karena keberadaan portal yang memihak kepada (Y/n) terlebih dahulu.
Dunia itu maha adil, begitu kata orang...Bagaikan lembaran buku yang jika dibaca, maka akan mencapai akhir dan usai. "Aku pun tidak tahu mengapa aku merasakan hal bodoh yang seperti ini" ungkap Bakugou yang saat itu tersadar dalam fase penyangkalannya. "Kau itu memiliki keunikan tersendiri, yang membuatku ingin terus bersamamu (Y/n)" lanjutnya lagi sambil meneteskan air matanya.
Detik itu adalah pertama kalinya Bakugou menitikkan air mata di depannya. Lebih tepatnya, di pelukannya.
"Portal" ucap (Y/n). Hal itu membuat Bakugou membuka telinganya dan meniymak perkataan (Y/n).
"Awal mula aku datang kesini... Itu dikarenakan portal yang memihak kepadaku" lanjut (Y/n) kepadanya. "Waktu yang kita habiskan untuk mengenal, tertawa, dan hal-hal yang lain.. Itu sudah habis dan hanya tersisa sedikit, Bakugou" ucap (Y/n) padanya sembari terisak.
Kini Bakugou yang baru saja mendengar hal itu melepaskan pelukannya dan menatap langsung ke mata (Y/n). "JANGAN BERCANDA!" mata (Y/n) terbelalak melihat Bakugou yang menangis di depannya. Hatinya pun ikut tercabik-cabik saat ia melihat Bakugou menangis dengan emosinya.
"JANGAN BERCANDA GADIS RSJ! APA TAK ADA JALAN LAIN UNTUK MENGHALAU SEMUA ITU HAH?!" mata (Y/n) terus mengeluarkan air mata karena tidak tahu harus apa. "AKU MENCINTAIMU SIALAN!?! KENAPA KAU HARUS PERGI!" protes Bakugou padanya.
Dari ekspresinya itu... (Y/n) dapat merasakan ketulusan dunia ini, dan ketulusan Bakugou terhadap dirinya. Tak ada orang yang sepertinya. Tak pernah ada orang yang mau membantunya seperti itu. Semuanya kini masuk akal... Bahwa ternyata mereka saling jatuh cinta dikarenakan banyak hal yang sama...
Hal yang sangat disayangkan... 'Mereka tidak bisa bersatu'
"Maaf, Bakugou... Maaf" kata (Y/n) kepadanya. "AKU TAK MAU KAU PERGI! KUMOHON... TINGGALLAH DISINI!" teriak Bakugou kepada (Y/n). Terlalu banyak hal yang tak bisa disampaikan secara langsung. "KENAPA KAU HARUS MENGALAH DENGAN PORTAL ITU?! APA TAK ADA CARA LAIN?!" kata Bakugou yang tidak rela untuk kehilangan orang yang sangat disayangi olehnya.
Sumber : Pinterest (Visualnya bisa disesuaikan dengan dia yang menggunakan baju formal)
"Nggak bisa\, Bakugou..." kemudian Bakugou mengepalkan tangannya. "Aku... Penghancur segalanya ya? Seharusnya aku tidak datang" ucap (Y/n) sambil menyesali perbuatannya. "Kumohon berhentilah menyangkal dirimu sendiri\, (Y/n)... Itu semua nggak benar t*ll" kata Bakugou dengan air matanya yang menetes.
"Dunia memang tidak adil... Mengapa aku harus dipertemukan oleh kau yang bahkan tinggal di dunia yang berbeda?"
kata mereka secara bersamaan. Kemudian (Y/n) melihat tangannya yang mulai terurai hingga membentuk serbuk... "Ah.. Sudah waktunya ya?" Bakugou membelalakan matanya.
"Kau...?" tanya Bakugou yang melihat ke arahnya seolah tak percaya. (Y/n) tersenyum kecut, "Ah... Sepertinya waktuku sudah mulai berk" Bakugou menyela perkataannya.
"(Y/n)... Kapan kau akan datang lagi?" tanya Bakugou padanya. "Nanti?" kata (Y/n) yang kini memaksakan senyum. "Kau... Dasar... Disaat-saat begini kau bisa-bisanya bercanda" kata Bakugou yang memaksakan dirinya untuk tertawa. "Iya dong... Kan, (Y/n)" ucap (Y/n) yang sedih itu sambil membanggakan dirinya.
Bakugou yang tidak bisa berbohong lagi dengan perasaannya menarik pergelangan tangan (Y/n) yang mulai terurai. "Bakugou?" ucap (Y/n) sambil melihatnya.
Hati tidak akan melihat paras, hati juga tidak akan berbohong... Saat itu, Bakugou menarik dagu (Y/n) dan mendekatkan dengan wajah miliknya. Sebelum bersentuhan (Y/n) mengedipkan kedua matanya dengan pelan sebagai tanda bahwa ia mengizinkan.
Hingga bibir mereka saling bersentuhan, ciuman yang sangat sederhana tanpa melakukan apapun. Setelah itu mereka selesai melakukannya dikarenakan mereka yang masih ingin melihat satu sama lain sebelum berpisah.
"Bakugou... Aku sudah menuliskan surat untukmu" ungkap (Y/n) kepada Bakugou. "Dasar kau... Kau ini lebih memilih menuliskannya dibandingkan membicarakannya denganku terlebih dahulu ya?" kata Bakugou yang kini memaksakan senyum meskipun hatinya itu sakit. (Y/n) tersenyum, "Aku sudah memberikannya kepada teman-teman saat aku berpamitan dengan mereka... Aku tak menyangka tadi adalah kali terakhir aku bertemu dengan mereka" kata (Y/n) yang menundukkan kepala.
Sembari menunggu semua tubuhnya terurai, mereka berbicara untuk sementara waktu agar bisa berpisah dengan cara yang indah. "(Y/n)..." ucap Bakugou pelan. (Y/n) menatap Bakugou baik-baik sambil mengusap air matanya.
"Jaga dirimu, jangan suka teriak-teriak... Nanti pita suaramu bisa cedera loh" kata (Y/n) padanya. "Jangan makan pedes-pedes terus... Kamu ini kadang suka bohong kalau perutmu nggak sakit... Ya kuakui pedas itu enak... Tapi jangan sampai sakit ya?" kata (Y/n) yang kemudian memberi nasihat kepada Bakugou. "Kau juga..." jawab Bakugou kepadanya.
"Jangan sampai kau bertemu dan menikah dengan orang yang sepertiku di duniamu" (Y/n) tertawa. "Di dunia ini tak ada yang bisa menggantikanmu, Bakugou" ucap (Y/n) yang masih tidak bisa menghentikan tangisannya.
"Berjanjilah padaku, bahwa kau akan baik-baik saja" ucap Bakugou kepadanya sambil tersenyum kecut. "Aku berjanji" ucap (Y/n) sambil tersenyum.
"Kalau begitu, Bakugou... Berjanjilah juga padaku kalau kamu akan melakukan yang terbaik... Jangan lupakan soal relasi, ya?" nasihat (Y/n) padanya. "Aku nggak mau berteman dengan para extra sialan" (Y/n) hanya bisa tertawa pelan sambil menangis. "Kau jangan suka makan sambil bicara, nanti kalau kau mati aku akan meledakkan kuburanmu" ancam Bakugou kepadanya. "Heh jangan gitu!" ucap (Y/n) yang sekarang bingung akan dirinya sendiri. Apa dia itu sedang menangis atau tertawa. Begitu pun juga dengan Bakugou...
"KATAKAN DULU SIALAN! APAKAH KAU BERJANJI?!" ucap Bakugou yang meninggikan suaranya. (Y/n) hanya bisa memaksakan senyum di kala hatinya itu sangat sakit, "Aku berjanji akan diam ketika makan" kata (Y/n) dengan serius.
"Kalau kau begitu, nanti kau malah kayak si setengah-setengah santai dikit lah!" ucap Bakugou yang menertawainya. "Heh, nggak lah!" kata (Y/n) padanya.
"Jangan suka makan terlambat, jangan suka pulang malem-malem, perkuat bela dirimu itu yang menurutku sudah bagus" ucap Bakugou. "Eh? Bukannya kau bilang kalau bela diriku itu tidak bagus?" kata (Y/n) yang masih terisak. "Kau itu jelek saat menangis kau tahu itu? Suara isakanmu sekaligus nafasmu itu tidak enak sekali didengar sialan!" kata Bakugou padanya.
"Kau juga sama!" lanjut (Y/n). Kemudian, Bakugou tersenyum sekali lagi. "Jangan lakukan hal yang aneh-aneh, jangan bunuh diri... Terkecuali jika aku menghancurkan portal untuk membunuhmu" kata Bakugou yang masih merasakan sakit dalam hatinya. "Memangnya bisa?" kata (Y/n) sambil tertawa lagi.
"Ya, bisa lah... Aku kan perfectionist sayang" hal itu membuat (Y/n) tersentak. "Mengapa? Kau kaget ya?" kata Bakugou padanya. "Rasanya aku masih tak percaya kalau kau memiliki sifat yang begitu" kata (Y/n) kepadanya.
Bakugou tersenyum tulus, "Bagaimanapun aku tak menyesal... Dan aku juga hanya menunjukkan sifatku yang begini hanya kepada dirimu" (Y/n) tersentak dengan apa yang dikatakan Bakugou.
Kata-kata Bakugou yang mengatakan 'hanya untuk dirinya' itu membuat (Y/n) menangis lagi. Bakugou mendekatinya, "Lalu... Apa kau akan mencari orang yang sepertiku?" (Y/n) menggeleng. "Aku tak mau berjanji soal itu" ucap (Y/n) kepadanya.
Bakugou menatap sendu ke arah (Y/n) yang sudah sedikit lagi terurai. Dirinya menangis lagi, dan memeluk (Y/n) untuk terakhir kalinya. "Bakugou maaf... Aku tidak bisa memelukmu lagi karena tanganku itu sudah terurai" ucap (Y/n).
"Tak apa... Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan" kata Bakugou dengan air mata yang turun semakin deras. "Jaga kesehatan, jangan cari gadis yang sebodoh diriku, jangan cari cewek yang seegois aku" Bakugou menggeleng.
"Kau tidak seperti itu sialan... Kau itu penyabar, dan mau menerimaku apa adanya, bagaimana bisa aku tidak mau bersama seperti dirimu yang seperti itu?" (Y/n) tertawa pelan. "Dan lagi senyumanmu dan suara tawamu itu membuatku tenang... Seandainya saja" ucap Bakugou yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Terimakasih, Bakugou... Berjanjilah padaku sampai saatnya tiba kau menjadi pro hero dan menggapai impianmu untuk menjadi nomor 1, namun... Jangan paksakan dirimu ya? Berjanjilah padaku" ucap (Y/n) padanya yang kini badannya sudah terurai.
"Aku berjanji sialan" kata Bakugou padanya. "Sampai saatnya tiba aku akan datang untuk terakhir kalinya" mata Bakugou terbelalak. "Jangan bercanda!" ucap Bakugou yang kini masih memiliki sedikit harapan. (Y/n) tersenyum, "Aku mencintaimu, Bakugou"
"AKU JUGA SIALAN! LEBIH DARI YANG KAU KIRA!" portal tertutup di saat yang bertepatan. Senyum (Y/n) itu menjadi hal yang paling terakhir terurai setelah semuanya. Bakugou langsung jongkok di tanah, karena sudah lama ia tidak menangis... Air matanya itu benar-benar menetes banyak.
Mulai tercium bau air yang menetes ke tanah, lalu timbul rintik-rintik air yang turun di kedua dimensi. Apakah itu hanya kebetulan? Tampaknya langit itu pun ikut bersedih karena kisah cinta mereka yang tidak dapat dipersatukan.
Kehidupan masing-masing, di dunia yang berbeda.
Mungkin itulah yang menjadi takdir mengenaskan bagi kami...
▪️▫️▪️▫️▪️
Epilog - In The End | I'm Promise! | Bakugou x Readers | Different world AU
▪️▫️▪️▫️▪️
3 R.d. Person P.O.V.
Lampu itu menerangi keadaan yang ceria di malam hari, tampak seorang pembawa acara yang penuh wibawa di dalam layar Tv. Setelah intro dari acara, orang itu memulai topik selanjutnya... "Ya, kali ini kita kedatangan tamu yang ditunggu-tunggu oleh banyak kalangan!" katanya.
"Inilah, (y/n)!!" lanjut si pembawa acara televisi 'Talk Show Malam' saat itu.
Kemudian seorang perempuan elegan menaiki panggung 'Talk Show', hal itu membuat seluruh penonton acara itu dan juga staff yang ada memerhatikan secara betul-betul kepada (y/n).
Seperti yang diharapkan, (Y/n) memiliki wajah cantik dan juga aura yang elegan membuat si pembawa acara terpesona. Ditambah lagi penerangan ruangan saat itu benar-benar mendukung keberadaan dirinya. "Wah-wah! Selamat malam, (Y/n)! Kau cantik sekali hari ini ya?" ucap si pembawa acara yang merupakan seorang laki-laki. "Trimakasih banyak atas pujiannya" jawab (Y/n) sambil tersenyum ceria.
'Sebenarnya sudah berapa lama sejak saat itu?'
Waktu bergulir dengan cepat... Meskipun begitu, dia merupakan mantan terindah dan juga terakhir dalam hidupku. - (Y/n)
Switched Dimension
Apakah kalian percaya akan perbedaan dimensi? Waktu? Tekanan? Dan hal-hal yang lain? Seorang dari dunia lain yang membuka portal itu hanyalah (Y/n) seorang.
Sampai pada akhirnya dia pergi bagaikan debu yang meninggalkan banyak kenangan dan peninggalan. "Bro\, lu yakin nggak mau nikah?" tanya Kirishima kepadanya. Hal itu membuat Bakugou menyemburkan sodanya ke depan wajahnya\, "LU GILA?! GW NGGAK BUTUH CEWE ***!?! DARI WAKTU ITU LU TANYA HAL YANG SAMA MULU DAH!" protes Bakugou padanya.
"Gw mau pergi! Gw mau patroli lagi!" kata Bakugou yang langsung beranjak pergi. Sedangkan, Kirishima? Dia sibuk mencari tisu untuk mengelap wajahnya.
"Kau cari apa\, Bro?" tanya Sero padanya. "Tisu! Bawain gw tisu dong!" Sero kemudian memberikan tisu dan melihat ke arah wajahnya dan tertawa. "Lah lu knp ***?" katanya sambil tertawa. "Ini cola semburan Bakubro"
"Hah?" katanya sambil tertawa lagi. "Bro\, Bakubro nggak gay kan?" kemudian Bakugou datang. "RAMBUT ANEH! JANGAN NGOMONGIN GW LAGI!?! GW NGGAK G*Y ***!" protes Bakugou padanya.
Bakugou kemudian pergi untuk patroli setelah mengecek kelengkapan bawaannya.
(Y/n), si gadis sederhana yang datang bagaikan hantu. Itu merupakan salah satu alasan Bakugou tidak mau menikah karena sudah terlalu kecewa dengan tindakannya di masa lalu. Dirinya yang bodoh dan tidak mau menyadari perasaannya itu merupakan salah satu penyesalannya.
Switched Dimension
"Kalau begitu kita akan lanjut ke pertanyaan para fans..." kemudian (Y/n) mengangguk. "Kak... Kok kakak cantik banget sih? Kakak punya pacar nggak? Gitu kata @ryuaoberry..." hal itu membuat (Y/n) sedikit tersentak. "Sebenarnya ada juga pertanyaan lain yang mirip-mirip... Jadi kita bakal gabungin aja ya, pemirsa!" ucap si pembawa acara. "Baiklah" kata (Y/n) sambil tersenyum ramah. "Eh, tapi kenapa saya ditanya gini ya? Saya jadi malu" ucap (Y/n) sambil tertawa canggung.
"Ya, namanya juga fans... Biar kenal lebih deket aja gitu sama (Y/n)" ujar si pembawa acara sambil tertawa. "Oke deh" jawab (Y/n) dengan singkat sambil tersenyum. "Oke, jadi pertanyaannya tuh... Ya, pertama.. (Y/n) punya pacar nggak, dan seperti apa sih tipe laki-laki (Y/n)? Apa jangan-jangan udah ada rencana nikah nih?" cengir si pembawa acara. "Woah-woah! Tenang guys, aku masih single kok! Dan kalau soal tipe, yang tegas mungkin?" ucap (Y/n) sambil berpikir.
"Wah... Ternyata tipenya tegas ya? Oke lanjut ke QnA selanjutnya!" sejenak.. (Y/n) termenung di belakang topeng cerianya, kembali mengingat apa yang terjadi di masa mudanya saat dia belum jadi orang yang seberuntung dan sesukses ini...
//Flashback : On
"Kalau begitu kau mau jadi apa?" tanya Bakugou to the point sambil mengajari (Y/n) bela diri. Kali ini setelah beberapa kali menendang, tendangan (Y/n) bisa dibilang 'hampir sempurna'.
'Tendangannya' hal itu membuat Bakugou sedikit tersentak. "Aku berhasil kan?" tanya (Y/n) dengan senyum cerianya. "NGGAK! KAU NGGAK BERHASIL!"
"Aku mau jadi diriku sendiri... Setelah aku menemukan bakat... Aku akan cari banyak uang dan bertahan hidup! Setelah itu aku punya 1 rumah, 1 mobil, 1 motor, dan uang cadangan! Dan juga aku mau berkeluarga dan setelah itu hidup sejahtera!" kata (Y/n) kepadanya.
"Heh, emangnya ada cowok yang mau sama kamu?" ejek Bakugou. "Ada lah! Kalaupun nggak ada aku mau adopsi aja!" tegas (Y/n) dengan senang. Kemudian Bakugou hanya bisa menertawainya.. "Heh jangan ketawain dong! Aku kan jadi malu!" ucap (Y/n).
"Lagipula kau kira itu mudah?" kemudian (Y/n) mengangguk. "Modal nekat dan mau berusaha pasti bisa kok!" hal itu membuat Bakugou tersentak. "Hah... Dasar, tapi cita-citamu bagus" ucap Bakugou sambil tersenyum tulus.
(Y/n) terdiam sejenak memandangi senyumnya, kemudian Bakugou sadar dengan apa yang ia lakukan. "APA KAU LIHAT-LIHAT SIALAN?!"
"Sekali lagi dong, plis!"
"APANYA?! GAK MAU!"
//Flashback : Off
Kemudian setelah Talk Show selesai, (Y/n) berjalan menuju ruangan bersiap yang barusan ia pakai sebelum Talk Show. "(Y/n), kerja bagus!" ucap si pembawa acara yang mendekati (Y/n). Kemudian (Y/n) menghentikan langkahnya... "Terimakasih" ucap (Y/n) kepadanya.
"Nggak usah canggung juga kali! Oh iya, boleh minta nomor teleponmu?" katanya to the point. "Siapa tau kita bisa jadi teman dekat" lanjutnya. "Untuk beberapa urusan aku tidak bisa memberimu nomor pribadiku, tapi... Apakah tidak apa jika yang kuberikan padamu adalah nomor bisnis?" tanya (Y/n) sambil tersenyum ramah.
"Ah, tak apa kok!" jawabnya. "Baiklah," ucap (Y/n) lagi. "Sebenarnya saya tertarik dengan (Y/n)" hal itu membuat (Y/n) sedikit kaget. Namun ia berusaha untuk menyembunyikan perasaan kagetnya itu, karena itu (Y/n) terlihat tidak bergeming. "Umur kita tidak jauh, karena itu" dia menghentikan perkataannya.
"Baiklah akan kupikirkan lagi" ucap (Y/n) sambil tersenyum. "Kalau begitu apa tidak apa jika saya memberikan kartu nama saya?" tanya (Y/n) padanya. "Ah tidak apa" katanya. Kemudian (Y/n) tersenyum sambil memberikan kartu namanya, "Senang bertemu denganmu" kata (Y/n) sambil melambai dan pergi.
Tak lama kemudian (Y/n) bertemu dengan Anna asisten pribadinya... "Halo Anna" ucap (Y/n) kepadanya. "Ah, Nona! Apa nona memberikan kartu nama Nona ke orang tadi?" tanyanya kepada (Y/n).
(Y/n) mengangguk, kemudian Anna mengikuti langkah (Y/n) yang kini berjalan menuju tempat tujuan. "Sebenarnya saya tidak ingin memberikannya, tapi..." kemudian (Y/n) menghentikan perkataannya.
'Apa ini sudah waktunya?' batin (Y/n). "Saya mengerti, anda tidak perlu menjelaskannya"kata Anna padanya. (Y/n) tersenyum, dan kemudian menoleh ke belakang...
"Terimakasih sudah memahamiku, Anna" katanya kepada Anna. "Sama-sama, Nona... Itu sudah sepatutnya saya lakukan" katanya kepada (Y/n). (Y/n) mengalihkan pandangannya ke depan dan bernapas lega, tanpa sadar mereka sudah sampai di ruangan tunggu yang tadi (Y/n) pakai sebelum Talk Show.
"Anna, aku ingin mengambil barangku dan duduk santai untuk 5 menit... Apakah kau bisa menunggu di luar sebentar?" tanya (Y/n) padanya. Anna mengangguk, "terimakasih, Anna" kata (Y/n) sambil membuka pintu.
"Kapanpun, Nona" jawabnya sambil tersenyum. (Y/n) mengangguk dan kemudian menutup pintu, dia mengambil barang-barangnya dan berusaha untuk menghibur dirinya sendiri. Namun air matanya itu menetes secara spontan, 'Loh, kok aku nangis? Nggak boleh nangis ah! Ayo kuat!' batin (Y/n) kepada dirinya sendiri. Namun dirinya itu tidak bisa menahan air matanya, 'Ada apa denganku? Sial... Aku nggak boleh begini' batin (Y/n) lagi.
Tentu saja kejadian hari itu membuat dirinya kembali mengingat perasaan yang terkubur dari masa lalu,
Author Naration P.O.V.
Sebenarnya sudah berapa lama sejak saat itu? Mereka yang bergandengan, mereka yang saling mengejek dan saling menyangkal, mencicipi rasa bahagia, bahkan mungkin menjalani masalah yang sulit bersama-sama?
Apa arti cinta? Sebenarnya mereka pun tidak begitu tahu. Mereka yang menikmati waktu itu merupakan hal yang paling indah dilakukan sebelum perpisahan.
'Jika saja kami tinggal di dimensi yang sama, bukankah akhir yang kami dapatkan akan berbeda?'
Bagaimanapun mereka masih tidak tahu dan tidak mengerti hukum alam. Apakah dimensi mereka benar-benar berbeda? Apakah memang ini yang terbaik?
Bagaimanapun... Cerita mereka usai dan selesai sampai sana.
3 R.d. Person P.O.V. //Di sisi (Y/n)
(Y/n) membuka pintu sambil tersenyum ramah, "Anna, hari ini sudah selesai kan?" tanya (Y/n) kepadanya. Anna mengangguk dan kemudian membuka tabletnya untuk melihat jadwal yang dimiliki oleh (Y/n)...
"Iya, saya akan mengantar Nona ke rumah" ucap Anna dengan tegas. "Baiklah tolong ya" balas (Y/n) kepadanya. Mereka berjalan menuju parkiran setelah mengucapkan terimakasih kepada staff dan orang-orang yang berurusan dengan talk show barusan.
Hari itu lampu lalu lintas menyalakan lampu merah untuk berhenti, (Y/n) yang duduk di depan tepat di samping Anna yang sedang menyetir mobil itu merenung dan melihat ke arah depan.
Setelah sembuh dari penyakit Skizofrenianya, (Y/n) tidak bisa lagi membuka portal untuk pergi ke dimensi lain. Seperti kata Kagura saudara Bakugou, jika dia memaksakan diri untuk pergi membuka portal, tubuh aslinya tidak akan kuat dikarenakan jiwa (Y/n) yang sudah mulai beradaptasi dengan dunia 2 dimensi.
Jika diteruskan maka (Y/n) akan lenyap dari dua dunia ini. Saat merenung (Y/n) meneteskan air mata sekali lagi karena teringat masa lampau. Terlalu sakit rasanya untuk ditahan, dia tahu kalau dia tidak boleh begitu, dia tidak boleh egois, dan dia harus bersikap dewasa.
Selain itu dia teringat kalau dirinya dan Bakugou sudah membuat janji untuk masa depan.
"Nona (Y/n) anda tidak apa-apa?" tanya Anna yang sedari tadi sudah mengajak bicara (Y/n). "Ah! Tak apa... Saya hanya memikirkan sesuatu! Kau bilang apa, Anna?" tanya (Y/n) yang kemudian mengambil tisu dan mengusap air matanya.
*** Another Dimension ***
Setelah menyelesaikan seluruh tugasnya, tepat pada jam 12 malam Bakugou kembali menuju apartemennya dan langsung merebahkan dirinya di sofa setelah menutup pintu. Hari itu dia tidak mau melakukan apa-apa dan juga ingin istirahat sebelum besok pagi ia pergi.
Secara mendadak matanya itu tertuju kepada foto album yang ia letakkan di meja. "Kenapa ada disini? Bukannya aku udah masukin?" gumamnya sambil mengambil posisi duduk. "Heh- bukankah ini saat yang tepat buat lihat wajah jelek deku semasa SMA" gumam Bakugou sambil memasang senyum mengejek ke arah foto album.
Dia membuka album itu halaman per halaman, dia hanya bisa tertawa di saat ia melihat foto teman-temannya di masa lalu. Album itu sudah termasuk foto aib, foto kenang-kenangan, dan foto-foto lainnya.
Karena waktu itu sesuasana apartemen sungguh tenang, suara tawanya itu menyebar hingga memenuhi ruangan. 'Entah mengapa aku memiliki firasat yang aneh saat aku ingin membuka halaman terakhir... Halaman terakhir pasti kosong kan?' kemudian Bakugou membuka halaman terakhir.
Bakugou sedikit tersentak dengan apa yang ia lihat, 'Foto ini' batinnya secara sekilas. Bakugou benar-benar tidak menyangka bahwa ia masih menyimpan foto itu. Kemudian ia juga dapat melihat sebagian foto (Y/n) di 2 halaman itu. Mulai dari foto saat mereka berada di Disney Land, foto bersama dengan anak-anak kelas 2-A, dan juga foto (Y/n) saat makan taiyaki yang ia beli di jalan.
Secara tak sadar air matanya menetes pelan dari sebelah matanya, ia mengusap matanya dan meletakan albumnya itu di meja kembali.
//Flashback : On
Setelah kepergian (Y/n)... Bakugou banyak diam dan tidak mau mencari masalah. Dia belajar terus menerus dan memperkuat dirinya agar bisa menepati janjinya dengan (Y/n).
Di saat ia mengambil text booknya... Selembar amplop surat jatuh tepat di depan kakinya. Dia mengambilnya karena penasaran dan membalikkan suratnya agar dia bisa menemukan nama dari pegirim surat.
Detak jantungnya itu sejenak berhenti setelah menemukan nama (Y/n) si samping belakang suratnya. Dengan spontan tangannya itu membuka suratnya dengan cepat untuk membaca isinya.
---
Dear Bom ranjau duren,
Kok ngakak ya aku nulis kayak gini... Kira-kira pas aku pergi... Tulisanku ini masih berbentuk kanji nggak ya? Kalaupun nggak tolong pake internet aja buat nerjemahin ya?
Gimana kabar? Kok bisa tau kamu aku taruh surat disini? Apa nggak sengaja?
Entah mengapa kalau aku nulis kayak begini... Aku takutnya suratku ini malah dibom sama kamu... Jujur aku takut banget surat ini nggak tersampaikan kepadamu... Pokoknya jangan sampai surat ini kebuang deh...
Pokoknya akau berterimakasih banget kepada kamu yang mau menemani aku dan menerima aku apa adanya. Mungkin ini agak Cringe... Tapi aku bener-bener suka sama kamu setelah aku disadarin oleh Kagura, saudara kamu itu...
Kamu jangan panggil dia ******** lagi ya? Kasian tau... Tapi terserah kamu aja deh! Kamu udah makan? Jangan makan cabe terus-terusan!
Biar kutebak... Kamu nggak nangis kan? Yah... Kayaknya aku terlalu berlebihan sih. Bagaimanapun itu, aku harap kamu bisa melakukan yang terbaik. Semangat Bakugou! Kamu pasti bisa!
Jangan merasa terbebani karena aku pergi ya!
*P.s: Aku nggak tahu hatus ngomong apa lagi, hehe... Semangat ya!
By : (Y/n)
---
Air mata Bakugou kembali menetes, suatu penyesalan kembali timbul dalam hatinya.
//Flashback : Off
Karena tidak peduli dan dia penasaran dengan nominasi peringkat besok dia memutuskan untuk langsung tidur.
Tepat saat ia ingin membaringkan tubuhnya, ia berubah pikiran karena merasa dirinya itu masih memiliki tenaga.
*** (Y/n) P.O.V.
Terlalu banyak hal yang harus aku lakukan di keesokan harinya... Setelah kemarin aku merenung dan membereskan semua yang aku rasakan. Kini aku kembali beraktivitas seperti sedia kala.
"Aaaa gila, kau tahu Bakugou?" ucap seorang. Kemudian aku menoleh ke belakang melihat seorang anak perempuan bersama teman-temannya. Gadis itu benar-benar mengingatkanku di masa SMA. Namun bedanya, dia memiliki banyak teman sedangkan aku tidak. Apa tadi aku salah dengar?
Kemudian mataku terbelalak saat melihat televisi yang berada tepat di area pertokoan itu memunculkan gambar seorang laki-laki yang aku rindukan.
'Aku berjanji suatu saat kita akan bertemu kembali'
3 R.d. Person P.O.V. // Switched Dimension
"Mari kita panggil pahlawan No.2" detak jantung Bakugou itu berdetak sangat kencang saat mendengar posisi itu. Sebenarnya dia pun tahu kalau dia tidak akan bisa mencapai atas... "Deku!" itu membuat mata Bakugou terbelalak.
"Dan tentu saja mereka berdua memiliki nilai performa yang berbanding sedikit! Mari kita panggil si pahlawan No. 1, Dynamight!" Bakugou terbelalak sekaligus senang karena dia berhasil memperoleh nominasi No. 1 untuk saat ini.
***Switched Dimension***
"Bakugou Katsuki, menjadi nominasi pertama tokoh pembantu di seluruh anime... Kini Hirokoshi Kohei sedang mendapatkan penghargaan atas tokoh dari karyanya itu" ucap seorang penyiar di acaara itu. (Y/n) hanya bisa membelalakan matanya melihat itu, "Nona?" tanya Anna yang bingung terhadap (Y/n) yang menghentikan langkahnya.
'Bakugou, aku nggak salah lihat kan?' batin (Y/n) yang kini melangkahkan kakinya untuk mendekati tv tersebut. Hal itu juga membuat Anna mengikuti langkah (Y/n) dengan panik. Namun karena saat itu kondisi sangat ramai, Anna terpisah dari (Y/n).
'Bakugou... Bukankah dengan begini kau berhasil?' batin (Y/n) yang kini meneteskan air mata. "Dek, itu Bakugou Katsuki kan?" tanya (Y/n) memastikan. Anak yang merupakan fans dari Bakugou itu mengangguk, "Kakak tau?" tanyanya dengan canggung. Sedangkan yang lain hanya bisa menatap canggung (Y/n) yang menangis secara mendadak.
"Syukurlah!" kata (Y/n) dengan senang.
Tepat saat (Y/n) mengatakan itu, tempat itu seketika berubah warna menjadi putih. Orang-orang yang berada di sekitar situ mulai menghilang. Dan hanya ada kesunyian di sana, secara mendadak Bakugou juga ada tepat di depannya.
Tentu saja, Bakugou yang barusan ada di panggung itu ikutan kaget mengapa keadaan tersebut bisa terjadi.
Kemudian mata Bakugou terbelalak seolah tidak percaya... (Y/n) sadar, bahwa hari itu merupakan hari 'itu'.
Hari yang merupakan kesempatan terakhir ia bertemu dengan Bakugou... Setelah itu portal akan tertutup total ketika anime Boku No Hero Academia sudah tamat.
(Y/n) berteriak, "Bakugou! Kau berhasil! Selamat!" kata (Y/n) dengan suara kerasnya. "(Y/n)?!" ucap Bakugou seraya tidak percaya.
"Iya! Ini aku! Hari ini sudah datang!" saat (Y/n) berteriak dengan keras, Bakugou berlari ke arahnya dan dengan cepat memeluknya. "(Y/n)! Ini benar-benar kamu kan?" katanya sambil memeluk. (Y/n) membalas pelukannya, "Iya... Tak kusangka hari ini sudah datang" ucap (Y/n) sambil tersenyum.
"Mungkin ini yang terakhir?" tanya (Y/n) dengan nada ceria. Kemudian Bakugou kaget dan melepaskan pelukannya dan memegang pundaknya. "(Y/n)! Jangan bercanda! Aku bisa menjadi seperti ini karena kau! Aku dapat nominasi... Ini semua karena kau!" katanya.
"Apa kau benar-benar ingin meninggalkanku? Lagi? JANGAN BERCANDA?!" kata Bakugou sambil meneteskan air mata. Semesta saat itu sedang diam melihat mereka, langit menatap sendu mereka berdua, dan angin menyanyikan lagu tenang. Di saat itu (Y/n) tersenyum, "Aku pun ingin tinggal bersamamu... Jikalau aku bisa memilih... Aku mau tinggal di dunia yang sama, Bakugou" ungkap (Y/n) dengan penuh harapan.
Setelah itu, Bakugou menyadari kalau (Y/n) mulai menghilang. Di sisi lain (Y/n) juga menyadari kalau kehadiran Bakugou juga akan menghilang. "Terimakasih sudah banyak membantuku, Bakugou! Jagalah dirimu, makan yang sehat ya! Jangan sakit! Jangan cari masalah, jang" ucapannya terpotong saat Bakugou berteriak.
"Aku tahu itu semua, bodoh!" ucapnya sambil tersenyum dan meneteskan air mata. Di sisi lain (Y/n) juga menangis, "Aku harap aku bisa mengatakan perasaanku yang sebenar" ucapannya dipotong lagi oleh Bakugou yang memegang tangannya dengan erat.
"Kau... Jangan jadi gadis gila seperti saat kita bertemu dulu... Kau baik-baik juga kan? Kau juga sepertinya sudah sukses... Karena itu jangan bunuh diri ya? (Y/n)?" (Y/n) tertawa.
Bakugou juga tertawa dengan matanya yang masih penuh dengan air mata.
"Aku mencintaimu"
"Terimakasih sudah ada dalam hidupku"
***Skipped time***
Suatu pagi di panti asuhan, "Ibu! Aku pengen eskrim!" ucap seorang anak kepada orang tuanya. "Bukannya, ibu sudah bilang kalau ibu akan membelikanmu nanti?" balas (Y/n) kepadanya. "Ih! Ibu bohong!" katanya sambil memonyongkan mulutnya. "Ahaha... Nanti ya!" ucap (Y/n) kepadanya.
"Ibu! Aku juga mau!" kemudian anak-anak yang lainnya pun datang karena menginginkan eskrim.
"Nanti ya, bukankah ibu sudah bilang kepada kalian bahwa ibu akan membelikan eskrim di akhir bulan?" tanya (Y/n) lagi sambil tersenyum kepada anak-anaknya itu. "Mau sekarang, plis!" ucap mereka sambil memohon. (Y/n) tertawa gemas melihat mereka semua, "Kalau begitu kerjakan pr kalian ya" ucap (Y/n) kepada mereka semuanya.
"Baik!" jawab mereka semua yang mulai meluncur untuk mengerjakan Pekerjaan rumah. Kemudian (Y/n) tersenyum sambil melihat ke luar jendela, "Sudah berapa lama ya?" gumamnya.
*Sumber : Pinterest
- I'm Promise End
Kalian nggak nangis kan? Jawab di kolom komentar aja ya:'3
Sorry kalau angstnya garing dan nggak buat kalian nangis... Tapi aku berterimakasih banget karena kalian udah mau baca sampai akhir!
Kalau begitu sampai di chapter After words!! >