
3 R.d. Person P.O.V.
"Bakugou, makasih banyak ya!" ucap (Y/n) sambil tersenyum. "Tch- jangan berterimakasih padaku sialan" jawab Bakugou sambil mengernyitkan keningnya. "Kalau begitu aku pulang?" tanya (Y/n). Kemudian Bakugou terdiam dan menatap (y/n) dengan serius, sampai membuat (y/n) berpikir 'anak ini kenapa?'
Kemudian Bakugou mendekati (y/n), "E-eh Bakugou, kau mau apa?" tanya (yn/) dengan canggung. Kemudian Bakugou mendekati (y/n) hingga jarak mereka itu benar-benar dekat, sekitar 6 cm diantaranya. Hal itu membuat indra penciuman (y/n) tajam, dan mencium aroma parfum laki-laki darinya. 'Sial... Mengapa wangi parfumnya itu membuatku gugup... Dan lagi mengapa dia mendekatiku dan menatapku seperti ini?' batin (Y/n).
Kemudian Bakugou mengambil daun dari helaian rambutnya itu, dan membuangnya... 'Eh?' hal itu membuat (y/n) malu dengan pikirannya.
"Kau... Apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Bakugou kepada (y/n). "Itu semua.. Tergantung padamu, Bakugou... Kalau aku.. Aku akan mempercayaimu, dari awal aku selalu mempercayaimu" ucap (y/n) sambil menyipitkan matanya dan bibirnya itu melengkung membentuk senyuman terindah yang pernah Bakugou lihat.
Kemudian (y/n) menghilang seperti biasa, setelah itu Bakugou jongkok dan menutup wajahnya itu dengan tangan kanannya. 'Sial... Ada apa denganku?' batin Bakugou.
'Nggak mungkin kan...?' batinnya lagi.
'Sialan! SADARLAH *****!'
▪️▫️▪️▫️▪️
Ch 05\,5 - Sweet Memories (Pt. 2) | I'm Promise! | Bakugou Katsuki x Readers | Different world AU
3 R.d. Person P.O.V.
Tampak keadaan dimana (Y/n) sedang melayang di antara planet-planet yang tidak dikenali oleh dirinya... Hal itu membuat (Y/n) melihat sekitar dan merasa kebingungan akan hal yang ia lihat dan ia rasakan. Kini jantungnya itu berdetak lebih keras untuk menyalurkan darahnya ke seluruh tubuh, hal ini dikarenakan dirinya yang takut mati karena kehabisan oksigen.
Tapi kenyataannya, (Y/n) tidak kehabisan nafas sama sekali dan bisa berjalan di situ tanpa takut untuk jatuh. 'Ini dimana?' batin (Y/n).
'Ini di luar angkasa kan? sebenarnya apa yang terja-' kemudian suara bising itu memasuki telinga (y/n) tanpa celah... Hal itu membuat (y/n) kaget dan menutup kupingnya yang mulai sakit itu, bagaikan ilusi (y/n) kembali di dunianya yang sedang duduk dan selesai melukis bunga mawar merah. 'Eh... Apa-apaan lagi ini?' batin (y/n).
(Y/n) P.O.V.
Setelah itu, aku hanya menatap gambar bunga mawar itu... Warnanya benar-benar bagus dan mencolok, tapi sepertinya ini belum selesai kan? Kemudian aku mulai menggores warna oranye, merah, dan kuning... Monokrom warna itu kemudian menyempurnakan lukisanku hingga terlihat sempurna,
"Sempurna!" gumamku. Kemudian secara mendadak pintu ruanganku dibuka, "Ah... Halo, bu!" ucapku sambil menyapa ibuku yang baru masuk. "(Y/n)... Dokter sebentar lagi akan memberikanmu psikotest, apakah kamu bisa mengerjakannya?" kenapa tiba-tiba ya? Apa dokter membutuhkan itu untuk melihat kesehatanku ya?
"Tentu saja, bu! Aku bisa mengerjakannya" jawabku sambil tersenyum. "Kalau begitu ibu serahkan itu padamu, ya" ucapnya sambil membalas senyumku.
Tapi entah mengapa... Di mataku, senyuman itu terlihat seperti senyum yang sedang dipaksakan olehnya... Sepertinya aku terlalu berlebihan? Aku tidak boleh berprasangka buruk dong dengan ibuku sendiri!
"Tolong kau jawab sejujur-jujurnya ya (y/n)... Karena ini dibutuhkan agar kamu bisa beraktivitas sebagaimana mestinya" kemudian aku mengganguki perkataannya tanda mengerti. "Ngomong-ngomong kau menggambar lagi ya?" tanyanya kepadaku sambil melihat kanvas gambar.
"Iya! Ibu, apa ini bagus?" tanyaku padanya sambil memberi lihat lukisanku.
3 R.d. Person P.O.V.
Seketika waktu terhenti secara mendadak, ibunya pun terbelalak melihat lukisan yang dihasilkan oleh (Y/n)... Kemudian memori-memori yang ia tidak ingin ingat kembali muncul, tetesan warna... Monokrom warna yang dihasilkan oleh (Y/n) itu membuatnya merasa tidak tenang, "Ah... Bagus kok, ibu pergi dulu ya! Nanti kalau ada dokter langsung kerjakan tesnya aja ya" katanya kepada (y/n) yang setelah itu langsung pergi meninggalkannya.
Kemudian (Y/n) yang memiliki kepekaan yang tajam itu terngiang-ngiang dengan ekspresi wajah Ibunya itu... 'Ada apa ya? Mengapa wajah ibu seperti itu?' kata (Y/n) dalam hati kecilnya itu.
//Di sisi Lain
Kemudian Ibu (Y/n) membuka pintu darurat dan menutupnya dengan pelan. Setelah itu dia langsung jongkok ke bawah, berusaha menenangkan dirinya yang panik karena itu...
'Tenang, yuliana... Semua itu sudah lewat... Orang mati itu tak'kan pernah hidup lagi...' batinnya.
'Tetapi jika begini... Bukankah, anak itu benar-benar terlihat seperti ibu kandungnya?! Bukankah harus kubunuh?!'
***
"Nona (Y/n)... Disini ada soal yang menanyakan keadaan fisik anda, dan juga soal yang menanyakan keadaan mental anda... Apakah sejauh ini anda mengalami pasca halusinasi?" tanya si Dokter kepada (Y/n).
"Saya rasa tidak ada sama sekali, Dokter... Terimakasih atas perhatiannya" jawab (Y/n) dengan sopan. Kemudian si dokter tersenyum, "Kalau begitu, bisakah kita mulai tesnya?" tanyanya pada (Y/n). (Y/n) mengangguk dengan mantap padanya,
"Kalau begitu waktu mengisi semuanya adalah 2 jam, apa nona ingin meminta tambahan waktu?" tanya si Dokter padanya.
"Berapa jumlah dari soal yang akan diberikan?" tanya (Y/n). "Ada 30 soal" ucap si dokter dengan jujur.
'Kyk soal ujian aja dah' batin (Y/n). "Baiklah" ucap (Y/n) sambil tersenyum canggung.
*Skipped Time - The next day : 3 R.d. Person P.O.V.**
Setelah (Y/n) mulai belajar memakan makanan seperti biasa tanpa menggunakan infus itu kini sedang menatap makanannya yang ingin dia makan itu. Di sisi lain dia sekarang sedang memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dan timbul lagi pertanyaan dalam pikirannya soal penawaran tuan Jake dan lukisannya, kemudian pintu ruangannya itu diketuk...
"Permisi, apa boleh saya masuk?" tanya seorang yang ada di luar. "Boleh, sihlakan masuk" kata (y/n) dari dalam. Pintu itu pun bergeser, "Maaf karena saya datang lagi... Apa nona adalah nona (y/n)?" tanya seorang wanita cantik yang baru masuk itu.
"Ah benar..." jawab (y/n) padanya. 'Kini dia mulai menjawab pertanyaanku ya?' batin wanita itu. 'Kemarin dia itu benar-benar diam seperti boneka hidup, yang terus-menerus melukis tanpa mengucapkan apapun... Tetapi, anak ini... Dia benar-benar pelukis yang hebat, dia bisa mengadaptasi dirinya dengan lukisan yang ia gambar... Seharusnya itu adalah hal yang sulit untuk pelukis... Karena itu, aku akan mencari tahu lebih jauh kemampuannya...' batinnya lagi.
Di sisi lain dia masih merasa kesal karena kelakuan (Y/n) kemarin yang membiarkannya bicara sendiri...
"Anu, apa aku melakukan kesalahan?" tanya (Y/n) padanya. "Kalau begitu saya minta maaf sebesar-besarnya..." ucap (Y/n) yang tiba-tiba meminta maaf karena merasa bahwa dia bersalah. "Apa maksudmu itu... Kau meminta maaf karena kejadian kemarin?" tanya Wanita itu sambil mengetesnya. "Kejadian kemarin?" tanya (Y/n) secara mendadak. Hal itu membuatnya sedikit tersentak, "Sepertinya saya memang benar-benar membuat kesalahan ya? Saya minta maaf sebesar-besarnya" sesal (Y/n).
"Baiklah, aku akan melupakan kejadian kemarin jika kau mau" ucap Wanita itu sambil mencoba mengikhlaskan kejadian yang kemarin. (Y/n) masih saja memiliki tanda tanya besar dengan apa yang dimaksudkan oleh wanita itu,
//Flashback with 3 R.d. Person P.O.V. - Ingatan yang tidak dimiliki oleh (Y/n).
(Y/n) dengan kemampuan melukisnya itu pun mulai mencampurkan warna hijau dengan warna hitam... Mulai melukis daun dan juga tetesan air, saat itu dia benar-benar tidak sadar dengan pintu yang diketuk...
"Permisi, ada orang di dalam?" tanya seorang wanita sambil mengetuk pintu. Karena tidak ada jawaban, ia menanyakan kepada perawat setempat apakah ruangan itu terisi atau tidak. Tetapi perawat disana menjawab bahwa (Y/n) ada di ruangannya. Hal itu membuatnya masuk setelah diizinkan, dia berusaha untuk membuat pikiran negatif soal (Y/n).
"Halo... Saya masuk ya," ucap wanita itu sambil menggeser pintu ruangan. Kemudian ia melihat (Y/n) yang melukis dengan perhatian yang penuh, "Apakah anda nona (Y/n)?" (Y/n) tetap melukis tanpa memperhatikan kehadiran wanita itu.
"Kau suka sekali menggambar ya?" tanya wanita itu lagi. Tetapi (Y/n) tetap tidak memedulikannya, 'Apa dia bisu?' batinnya. "Saya ijin lihat y-" perkataannya itu terhenti saat melihat skill melukis (Y/n) yang sangat bagus.
'Anak ini... Skillnya sudah setara dengan seniman-seniman senior yang sudah melukis untuk berpuluh-puluh tahun... Saya sekarang mengerti mengapa tuan Jake menginginkannya' katanya dalam hati kecilnya.
"Halo... Apa kau bisa mendengarkanku? Kumohon balas perkataanku... Gambarmu bagus sekali loh!" (Y/n) tetap diam dan melanjutkan lukisannya. (Y/n) melihat ke arahnya sebentar, hal itu membuatnya tersadar dengan tatapan kosong (Y/n). Di sisi lain, tatapannya itu terlihat bahagia dan bercahaya.
Tentu saja hal itu membuatnya terasa tersentuh untuk sementara waktu, kemudian (Y/n) kembali melukis. "H-hey? Apakah kau tuli?" tanya wanita itu dengan bingung.
Tepat saat itu seorang perawat masuk, "Ah... Kau ingin berbicara dengan nona (Y/n)?" tanya perawat itu padanya. "Iya, apa dia ini tunarungu?" tanyanya pada si perawat. Kemudian si perawat tersebut menggelengkan kepalanya, setelah itu langsung berbisik.
"Di saat dia melukis, dia selalu tidak menjawab apa yang kita katakan... Tatapannya kosong seperti sedang mendalaminya... Kuharap Ibu tidak menyinggung hal ini padanya... Karena kami sedang mencari lebih lanjut apakah dia begitu karena penyakit mental atau bukan..." bisik si perawat itu padanya.
Hal itu membuatnya sedikit kesal, namun penasaran mengapa (Y/n) seperti itu.
//End of Flashback - Ingatan yang tidak dimiliki oleh (Y/n).
"Tetapi dengan satu syarat" wanita itu kembali membuka mulutnya. Hal itu membuat (Y/n) menatap matanya secara terang-terangan tanda bahwa ia mendengarkan. 'Anak ini, kalau dia sedang tidak melukis... Dia benar-benar memerhatikan lawan bicaranya itu dengan baik' batinnya.
"Aku mau kau melukisku, karena aku mau melihat bakatmu" ucap Wanita itu dengan jujur. (Y/n) membelalakan matanya karena kaget... "Apa Kakak serius?" tanya (Y/n) padanya yang mendadak di panggil kakak.
'Dia ini menarik! Biasanya orang saat melihatku 100% mereka akan memanggilku Ibu, tapi anak ini... Kenapa aku jadi salting sendiri?' batinnya. "Kalau begitu bisakah kau mulai sekarang?" hal itu membuat (Y/n) menelan ludah dengan kasar.
'Bagaimana Ini?' batinnya. "Maaf... Sejujurnya aku pun masih tidak bisa mengatakan kalau diriku ini berbakat... Karena itu aku tak mau kakak kecewa dengan saya..." kata (Y/n) padanya. "Tak perlu begitu, kau ini sedang merendahkan diri kan?" tanyanya dengan serius.
(Y/n) menunduk, "Maaf... Bisakah aku memotret kakak?" ucap (Y/n) padanya. "Memangnya mengapa?" tanyanya dengan canggung. "Aku butuh banyak referensi... Karena jujur ketika melukis aku butuh banyak proses untuk melakukannya" ucap (Y/n) dengan gugup.
"Baiklah" ucapnya setuju.
***
Preposisi, warna, goresan, kanvas, kuas, intuisi, imijinasi itu semua dibutuhkan (Y/n) untuk menerapkan sebuah karya. Dia tidak bisa melakukan itu semua dalam satu waktu yang bersamaan, kini dia sedang menyalahkan diri sendiri kaena sama sekali tidak mengingat apa yang dilakukan dirinya aat mulai melukis di kanvas. Dirinya itu kini mulai mempertanyakan tentang isi kepalanya itu. Setelah berjam-jam duduk dan melukis di kertas untuk fase persiapan...
Kini dirinya menyadari bahwa dirinya itu sama sekali tidak berbakat melukis. Amarah dan kekesalannya itu menumpuk hingga membawanya berpindah dimensi.
//Swiched dimension (with Y/n P.O.V)
Eh? Dimana aku?... Jika tebakanku benar, pasti aku berpindah lagi ke dimensi Boku no Hero Academia... Ya walau agak membosankan sih, aku yang tiba-tiba berpindah... Ya... Saking tahunya aku tentang apa yang terjadi, aku sampai lelah memikirkan apa yang terjadi. Ngomong-ngomong suara teriak-teriak ini pasti Bakugou kan?
//Di sisi lain (Bakugou P.O.V.)
Sebenarnya sepulang dari Disney Land, masih banyak yang harus kupertanyakan kepadanya. Namun dia yang buru-buru pulang dan-
"Kalau begitu, Calon Pro Hero?"
"Bakugou, makasih banyak ya!"
"E-eh Bakugou, kau mau apa?"
Sialan..!
3 R.d. Person P.O.V.
Bakugou yang masih terngiang-ngiang dengan apa yang terjadi kemarin itu kini mendobrakkan kepalanya kepada salah satu pohon yang ada disana. Untungnya, tempat itu merupakan tempat persembunyianya... Jadi tidak ada yang bisa melihatnya,
'Salah satunya adalah caranya mendapatkan uang, itu ilegal atau nggak sih?! MASA DIA MINTA KE LANGIT DAN LANGSUNG DAPET?! GW AJA GA PER-' kemudian kata-kata Bakugou dalam hatinya itu berhenti karena alam bawah sadarnya itu terus menerus memerintahnya untuk mencoba hal itu. Kalau hl itu berhasil, dia bisa melakukan banyak hal kan?
"*****! APA YANG GW PIKIRIN SIH! GW GAK MAU ***!!" penolakannya itu disertai dengan suara keras yang menandakan bahwa ia malau melakukan hal tersebut.
Namun alam bawah sadarnya itu membuat dirinya benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika namun bisa dijelaskan dengan imijinasi itu membuatnya makin penasaran.
Kemudian ia melihati sekitar dengan hati-hati, setiap sudut dari tempat dimana ia berdiri itu dia periksa... Ada sekitar 5 menit ia melakukan pemeriksaan tsb. Sambil sedikit bergumam dalam hatinya, aman kan ya? Semoga aja nggak ada hambatan atau hal yang membuat harga diriku hancur...
Author Naration P.O.V.
Padahal sebenarnya... Bakugou sudah banyak mendapatkan tekanan untuk harga dirinya di saat bersama dengan (Y/n)... Dia yang sudah menyadari bahwa dirinya itu mulai kehilangan dirinya itu berusaha untuk menolak kenyataan bahwa ia sudah kehilangan harga dirinya dan berusaha untuk membangun kembali harga dirinya itu.
//Flashback: On (with 3 R.d. Person P.O.V) | Selengkapnya bisa dilihat di Chapter 04,5 - Feelings(2)
"Seandainya aku punya duit di dunia ini~!" ucap (y/n) dengan kemampuan halusinasinya. "Lu kira duit bakal datang dari langit hah?!" balas Bakugou sambil mengernyitkan kening padanya. Kernyitan kening itu tentu saja membuat (y/n) tertusuk kenyataan, "Ya... nggak sih~" ucap (y/n) sambil menggaruk pipinya. (Y/n) yang malu karena keluhannya yang tidak masuk akal, kini dia hanya ingin berhalusinasi dimana dia memiliki banyak uang...
Pasti jalannya akan berbeda kan? Begitulah pikirannya... Namun kenyataan yang kini dia harus terima adalah dia harus menerima kenyataan dimana dia tidak memiliki uang sepeser pun di dunia ini. Hal itu juga memicu dirinya untuk berpikir... 'Yaelah, gw masuk isekai tapi nggak dikasih duit... Gimana caranya gw mau makan? Sebenernya ada apa dengan dunia ini?! Dipindahin dimensi tapi nggak dikasih bekel! Au ah, frustasi!' batin (Y/n dengan sedikit kesal.
"Huwaaa~! Kalau begini gak ada artinya aku kesini kena malapetaka kyk gini!" keluh (y/n). "Aku dipindahin ke sini gak dikasih duit kek?! Kenapa aku gak punya quirk yang ngasilin duit?!" keluhnya lagi.
"YA GA GITU JUGA KONSEPNYA !?!" kata Bakugou yang kesal karena keluhan (y/n) itu.
Kemudian (y/n) memonyongkan mulutnya, "Ya kamu yang ngambil terus ngilangin gitu aja gak ada inisiatif buat cari kek?!" keluhnya lagi. Hal ini membuat Bakugou tersepet karena ucapannya yang asal-asalan itu.
"YA GW-" ucapan Bakugou terpotong oleh keluhan (y/n). "Oh- Langit?! Kenapa kau tidak mengasihani hamba?! Hamba kan orang baru disini! Tolong berikan duit dari langit!" ucap (y/n) pasrah. "LU NGAPAIN SIH?! LU MALU-MALUIN GW AJA DAH!" protes Bakugou yang malu karena perilaku (y/n). "Oh langit! Tolong maklumi saya! Saya kan orang baru- turunkan hujan duit!"
"OI! KALAU LU MEMANG LULUSAN RSJ JANGAN BAWA-BAWA GW AN-" ucapan Bakugou terhenti di saat uang turun menyerupai hujan di tempat (y/n). "He?! Duit?!" ucap (y/n) dengan girang.
"KOK BISA?!" protes Bakugou dengan wajah yang seolah tak percaya. "Oh tentu\~! Kan aku anak yang baik hati\, pintar dan tidak sombong!" jawab (y/n) sambil memungut uang yang berterbangan itu. "Kemudian aku juga anak yang cantik\, tulus\, bertole-" ucapan (y/n) terpotong oleh Bakugou yang kesal. "***** **!?!"
//Flashback: Off (back to Author Naration P.O.V)
"Oh langit? bisakah kau memberikan duit?" ucapnya yang kemudian tak sengaja mengeluarkan wajah cileupeung-nya.
*Fyi: Cileupeung itu bahasa sunda juga ya ges:v Aku nggak tau cara nulisnya, tapi cara pembacaannya sih gitu... Intinya begitu wkwkw... Cileupeung itu sebutan buat mereka yang bodoh dan lugu, atau bisa dibilang juga wajah orang idiot dengan tatapan kosongnya.
"KASIH GW DUIT *EBLEK!" ucap Bakugou yang emosi dengan apa yang ia lakukan. Sedangkan (Y/n) yang saat itu baru sampai hanya bisa menahan tawa di balik semak-semak, hal itu membuat Bakugou sadar akan kehadiran seseorang disana.
"Siapa disana?!" tanya Bakugou dengan waspada. "HOI KELUARLAH!" perintah Bakugou yang mulai emosi dengan kedatangan orang asing tersebut.
3 R.d. Person P.O.V. //(Y/n) side adaptation
Mulai terdengar langkah kaki yang agresif mendekati semak-semak, langkah kaki yang khas itu membuat (Y/n) menegang. "HOI" ucapan Bakugou terhenti karena ia kehilangan keseimbangan. Sehingga,
Sumber : Pinterest (Pose dari salah satu manhwa/ komik dari korea, tapi aku lupa nama manhwanya apa... Aku nggak baca karena mager wkwkw)*
*Kurang lebih begitu posisinya, tapi diadaptasiin pake imajinasi aja ya kalau scenenya itu di semak-semak.
(Y/n) yang barusan berlutut itu kini wajahnya kaget karena Bakugou berhasil menghampiri dan mengidentifikasi dirinya di balik semak-semak. Bakugou yang saat itu berpegangan pada semak-semak itu sebagai tumpunya untuk mengecek keadaan menyadari bahwa (Y/n) lah yang melihat sisi lain darinya.
'Kenapa dia ada dis' kata-kata dalam hatinya itu terhenti saat ia menyadari bahwa jarak wajahnya dan (Y/n) itu sangat dekat. Kelopak mata yang manis itu, bahkan wajah yang terlihat sangat sempurna di mata Bakugou itu membuat Bakugou berdebar.
Sedangkan (Y/n) dia sedikit terpesona dengan wajah Bakugou dari dekat, hal itu juga membuatnya tak sengaja mencium aroma tubuh dari Bakugou yang sedikit menenangkannya dari masalah lukisan yang ia bawa dari dimensinya.
Posisi wajah Bakugou dan (Y/n) yang dekat jaraknya itu membuat debaran sekaligus aroma tubuh (Y/n) yang wangi itu kembali menyebar dan memasuki hidung Bakugou. (Y/n) yang tersadar akan posisi mereka langsung memerah karena malu dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Waktu serasa berhenti dan kejadian itu terekam dalam memori mereka masing-masing. Detakan jantung yang terasa dalam denyut nadi itu dapat dirasakan oleh mereka masing-masing saat itu.
"Ah... Halo" ucap (Y/n) dengan canggun melihat wajahnya yang kaget itu. Bakugou yang malu itu secara otomatis langsung menyolot padanya\, "LU NGAPAIN DISINI?! UDAH DARI KAPAN LU DISINI ***!?!" protes Bakugou padanya.
"Ah... Sejak kau mencoba tindakan bodohku?" ucap (Y/n) sambil tersenyum canggung. Kemudian Bakugou langsung mendadak berdiri dengan cepat dan melepas tangan (Y/n) yang saat itu tak sengaja ia sentuh dan pegang. 'Sialan... Udah lama dong?!' batin Bakugou sambil mengacak-ngacak rambutnya tana bahwa ia malu.
"Aku tak menyangka kalau kau sampai sepert" ucapan (Y/n) dipotong oleh solotan Bakugou. "LUPAKAN KEJADIAN TADI SIALAN! AKU TAK MAU MEMBICARAKANNYA!?!" katanya dengan wajah yang memerah.
*Sumber : Pinterest (Foto yang di crop)
Hal itu membuat (Y/n) menahan tawa karena ia tak pernah melihat Bakugou seperti ini sebelumnya. Karena memang Bakugou di anime aslinya, dia tidak pernah seperti itu sama sekali. 'Ternyata dia ini punya sisi yang seperti itu ya' batin (Y/n).
Kemudian (Y/n) teringat akan keinginannya untuk membeli roti idi dimensi ini, "Bakugou! Ada toko roti nggak ya? Aku pengen beli!" ucap (Y/n) dengan antusias. "Hah?! Kenapa tiba-tiba toko roti?!" ucap Bakugou yang langsung mengontrol ekspresi wajahnya.
*** (Y/n) P.O.V.
Setelah obrolan dan penolakan yang cukup panjang dari Bakugou, akhirnya dia mengantarkanku ke toko roti terdekat... Namun satu hal yang mengecewakan kami, saat itu toko roti tutup dikarenakan masih terlalu pagi... Selain itu saat itu adalah hari sabtu, hal itu membuatku berpikir... 'Mungkin toko roti ini bukanya agak siang, lagipula sekarang kan week end'
Aku menghela nafas pelan, "Hoi... Apa kau bisa berpegangan padaku dengan erat?" tanyanya secara mendadak. "Eh... Kenapa?" tanyaku padanya. "Tcih, kau mau ke toko roti kan?" tanyanya padaku. Aku mengganguk, "Tapi kan bisa ditunda.. Bukannya kau juga mau latihan?" tanyaku padanya.
Dia termenung sebentar, "Si nenek tu- Ah tidak... Ibuku sering memintku membeli roti di toko roti kesukaannya... Sebenarnya aku pun tidak tahu kalau disini dalamnya seperti apa dan kualitasnya seperti apa... Jadi aku membawamu ke sini dan ternyata memang dia tutup hari ini, sama seperti dugaanku" ucapnya sambil tertawa meremehkan.
Terus... Kenapa kamu bawa aku kesini kalau kamu tau toko ini bakal tutup?! Begitulah pikirku kepadanya... Kalau begini kan malah ngabisin waktu, dasar Bom Ranjau!
"Ya... Jadi maksudmu karena kau tidak begitu mengenal tempat ini jadinya kau tidak tahu jam buka toko ini?" tanyaku padanya sambil menahan emosi.
Dia mengangguk, namun seketika emosi tenangnya itu berubah menjadi agresif kembali... "APA MAKSUDMU AKU NGGAK TAHU JAM BUKA DISINI?! AKU TAHU SEMUANYA TENTANG TOKO ROTI DI DEPAN INI JIKA DIBANDINGKAN DENGANMU!?!" katanya menyolot. "Lah, terus? Kenapa kau bilang kau nggak tahu jam buka?" ucapku sambil memasang senyum meremehkan kepadanya.
3 R.d. Person P.O.V.
Bakugou mengangguk, 'Eh sebentar... Apa dia meremehkanku karena aku tidak tahu informasi soal toko ini?!' batin Bakugou yang overthinking. "APA MAKSUDMU AKU NGGAK TAHU JAM BUKA DISINI?! AKU TAHU SEMUANYA TENTANG TOKO ROTI DI DEPAN INI JIKA DIBANDINGKAN DENGANMU!?!" protesnya kepada (Y/n) agar ia dapat mengembalikan harga dirinya yang mulai hilang di hadapannya.
'Anak ini cepet banget ya berubah emosinya... Kek cewek pada PMS' kata (Y/n) dalam hati secara sekilas.
"Lah, terus? Kenapa kau bilang kau nggak tahu jam buka?" balas (Y/n) sambil memasang senyum meremehkan kepadanya.
Hal itu membuat Bakugou kesal, tanpa basa-basi dia langsung menggengam tangan (Y/n). "BIAR KUBERITAHU PADAMU TOKO ROTI YANG LEBIH BAGUS DIBANDING INI SIALAN!" teriak Bakugou padanya.
(Y/n) membelalakan matanya karena tindakan Bakugou yang bisa dibilang agresif, (Y/n) yang sensitif dengan sentuhan pegangan tangan apalagi dengan lawan jenis itu kini salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa. "Kalau begitu tunjukkan ya!" ucap (Y/n) dengan senyumnya yang canggung. Namun senyuman canggung itu, benar-benar cocok dengannya sehingga membuat Bakugou sedikit berdebar karena merasakan rasa percaya (Y/n) terhadap dirinya.
Setelah berjalan beberapa menit, tangan (Y/n) mulai bergetar karena ia tidak biasa berjalan lama. "Bakugou berapa lama lagi?" hal itu membuat Bakugou sedikit tersentak karena tingkah (Y/n) yang tidak seperti biasanya.
Namun dengan cepat Bakugou menyadari bahwa (Y/n) itu tidak sanggup berjalan lama, kemudian ia mengernyitkan keningnya. Dan kembali teringat dengan perkataannya barusan...
"Hoi... Apa kau bisa berpegangan padaku dengan erat?"
'Sebenarnya apa yang kupikirkan barusan!?!' batin Bakugou yang kini malu dengan apa yang ia pikirkan saat dirinya dan (Y/n) berada di toko roti yang tutup.
"SEBENTAR LAGI AH SIALAN!?! BISAKAH KAU SABAR!" protes Bakugou kepada (Y/n) yang seolah-olah sudah mengeluh berkali-kali. 'Padahal kan aku nggak ngeluh... Aku kan cuma nanya kapan nyampe gitu, bang? Dasar' kata (Y/n) dalam hatinya.
"Baiklah" jawab (Y/n) padanya sambil mengatur nafas agar tidak kehabisan nafas. Ya sebenarnya penyebab (Y/n) ngos-ngosan alias kehabisan nafas adalah Bakugou sendiri yang memiliki langkah cepat bagaikan orang yang sedang berlari santai.
Namun (Y/n) berusaha untuk berpikir ke arah positif seperti 'Yasudahlah (Y/n) jangan ngeluh! Ini kan juga bagus buat kesehatanmu!' batin (Y/n).
Bagaikan pembaca pikiran, tiba-tiba Bakugou memelankan tempo langkahnya... "Bakugou tempo jalanmu itu melambat?" komentar (Y/n) padanya. "Memangnya iya?" tanyanya dengan santai. 'Apa jangan-jangan dia memikirkanku?' batin (Y/n).
Namun perkiraan (Y/n) itu salah karena Bakugou yang tiba-tiba berhenti, 'Loh kok berenti?' batin (Y/n). Kemudian Bakugou melepas tangan (Y/n), "Noh, udah sampe! Kau suka? Hah?!" tasnya Bakugou padanya.
'Oh... Ternyata udah mau sampe... Pantes aja toh' kata (Y/n) dalam hatinya yang merasa malu karena ke-geer-an (kegeeran).
*Fyi : Bagi kalian yang gak tahu kegeeran itu apa.. Jadi kegeeran tuh kayak 'terlalu merasa seperti itu, padahal nggak pernah terjadi hal yang seperti itu' ngerti? Atau para Readers yang bisa menjelaskan secara sederhana langsung jelasin aja ya wkwkwk
'Gadis RSJ ini memang tidak terbiasa berolahraga, kalau begitu lain kali akan keperlambat tempo langkahku' batin Bakugou secara sekilas di alam bawah sadarnya.
(Y/n) P.O.V.
Aku kira tadi saat Bakugou menceritakan soal toko roti langganannya... Dia hanyalah bercanda, namun ternyata...
*Sumber : Pinterest
Gila! Toko rotinya itu melebihi ekspetasi banget!
Author Naration P.O.V.
Ekspresi (Y/n) yang terpesona dengan Bakery langganan Mitsuki alias ibu dari Bakugou Katsuki itu membuat Bakugou tersenyum puas. Namun secara cepat Bakugou sadar dengan apa yang dilakukannya, sehingga dia langsung mengembalikan ekspresinya ke sedia kala. "Permisi!" ucap (Y/n) dengan keras.
Kemudian keluarlah seorang staff laki-laki yang merupakan petugas untuk menjaga toko roti,
"こんにちは! 私たちの店へようこそ、ハッピーショッピング!"
*Translate : Halo! Selamat datang di toko kami, selamat berbelanja! *P.s! (Y/n) tengetranslate ini sendiri dari otaknya, meskipun dia belum mengerti pasti arti dari perkataannya... Tetapi dia dapat mengerti bagian akhir dimana staff itu mengatakan selamat berbelanja kepadanya...
Kemudian (Y/n) kaget karena bahasa yang digunakan oleh si staff tersebut. Hal itu membuatnya berpikir, 'Dia memakai bahasa jepang asli?' kata (Y/n) dalam hatinya itu. Kemudian (Y/n) menelan ludah dengan kasar, "はい, ありがとうございます!" jawab (Y/n) dengan kemampuan bahasa Jepangnya yang ia dapatkan dari pelajaran sekolahnya.
*Translate : Baiklah, terimakasih banyak!
Di saat (Y/n) mengatakan dengan bahasa jepang asli, Bakugou merasa bahwa ia baru menyaksikan suatu hal yang aneh...
Bakugou P.O.V.
"はい, ありがとうございます!" // "Baiklah, terimakasih banyak" - Kedua bahasa itu bercampur masuk ke dalam telingaku.
Hal itu tentu saja membuatku bingung, sialan! Di saat ia berbicara padaku... Dia memang menggunakan bahasa jepang untuk berbicara kan?! Mengapa di saat begini dia malah memakai dua bahasa sekaligus?!
Sialan!?!
Keberadaan si Gadis Rsj ini memang sangatlah membingungkan bagiku, bukan hanya kejadian ini yang membuatku bingung... Namun masih banyak hal yang terus aku pikirkan tetang dirinya... Salah satunya adalah kasus uang kemarin.
-End of Ch 05
Halo! Udah lama nggak ketemu ya?^^ Maaf telat hehe:') Mulai sekarang I'm Promise bakal update setiap hari untuk kalian! Karena itu, makasih udah mau nunggu I'm Promise dan membacanya yeyy^^!
Sampai bertemu di esok hari>