I'M Promise! | Bakugou Katsuki X Readers | Different World AU

I'M Promise! | Bakugou Katsuki X Readers | Different World AU
#02



...▫️▪️▫️▪️▫️...


...♪ For Better Experience only ♪...


...♪ #02 Soundtrack : LANY - ILYSB (Piano cover) ♪...


(Y/n) P.O.V.


Pembuktian? Hah... Aku jadi tak mengerti lagi, kenapa aku harus mengalami ini semua sih? Sebentar... Aku masih bisa memastikannya kan? Apa ini U.A.?


Jangan gila (y/n)! Ini hanyalah bayanganmu! Bukanlah dunia nyata! Tapi... Kenapa semuanya terasa nyata? 


Setelah itu aku tak tahu apa yang kupikirkan, tapi  aku mulai berjalan lurus dan menemukan gedung, apa ini gedung? Atau sekolah U.A.? Aku memang harus memastikan ini hanyalah bayanganku atau bukan!


Apakah aku masih bermimpi? Atau aku berkhayal? Apa ini semua hanyalah film?


Tidak (y/n)... Ini nyata...!


Lalu karena aku penasaran, aku menyentuh dinding gedung itu. Dinding itu bercat warna biru, dan sangat halus... Pewarnaan cat temboknya benar-benar rapih dan rata ya? Astaga! Aku benar-benar tak percaya ini...


'Aku beneran ada di U.A ! Persis seperti yang ada di anime Boku No Hero Academia'


.


.


.


...Ch 02 - Another Dimension | I'm Promise!  | Bakugou Katsuki x Readers | Different world AU ...


Ini hanyalah permulaan dari semuanya, jika kau mencari pengetahuan lebih lagi tentang dunia ini... Maka semakin banyak yang masih menjadi misteri, karena itu jika kau menemukan sesuatu hal yang aneh... Bisa jadi itu adalah petunjuk untuk membuka fakta baru


- Bakugou Katsuki


(Y/n) P.O.V.


Aku benar-benar tak bermimpi! Kira-kira Bakugou dia masih ada disini atau pergi ya? Sebenarnya aku ingin memastikan dia manusia atau bukan... Dan lagi sepertinya tadi aku terlalu mengagetkannya dan keras padanya... Hanya karena emosiku sesaat...


Seharusnya tadi aku lebih memerhatikan emosi ku... Dan lagi entah mengapa saat aku berada disini, perasaanku lebih lega dan tenang... Tidak seperti biasanya, aku jika ada di dunia nyata... Aku tidak merasakan perasaan ini sama sekali.


Eh? Sedang apa dia disana? 


Lalu aku memberhentikan langkahku, kupandang ke arah depan dan menemukan Bakugou yang seperti sedang frustasi. 


^^^*Fyi : posisi Bakugou saat itu adalah seperti sedang berdiri lurus ke depan, dengan tangan kirinya yang menonjok tembok hingga tembok itu sedikit retak. Tembok itu untungnya ga retak banget, tapi ada retakannya... (Kebayang ga sih? wkwk...) Intinya tembok itu retaknya tuh cuma dikit, dan bagian disana tuh gosong karena ledakan Bakugou...^^^


Dia daritadi disana? Apa dia emang jalannya lambat? 


Apa aku harus dekati lagi? Tapi... Apa dia benar-benar ingin bukti? Apa aku harus kesana dan minta maaf? Dan lagi jika disini, aku tak punya tempat tinggal...


Pasti U.A. pun tak mau orang asing tinggal disana... Masa aku harus jadi gelandangan?


Hah... Aku memang terlalu gegabah... Seharusnya aku tdi tidak meneriakinya sampai seperti itu! "HOI, KAU MAU SAMPAI KAPAN MENGIKUTI DAN MENGHANTUIKU TERUS, HAH?!" eh? dia sadar ya? 


Bagaimanapun, sepertinya aku harus minta maaf... Aku tadi terlalu melepaskannya...


"Maaf" ucapku pelan. "Bagaimanapun, ucapanmu tadi benar... Aku terlalu kelepasan, aku sepertinya terlalu kaget karena aku ada disini secara men-" ucapanku terpotong oleh perkataannya. "AKU TAK MAU DENGAR SOAL PERKATAAN DAN PERMINTAAN MAAF BODOHMU ITU, SIALAN! AKU MAU BUKTI-"


Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari dan memeluknya.


"HOI-! APA-APAAN KA-" tiba-tiba dia menghentikan perkataannya. "Aku tahu, ini terlihat gila... Aku memang gila, tetapi bisakah kehadiranku ini menjadi salah satu bukti? Aku yang quirkless ini bukankah salah satu bukti?" ucapku sambil melepaskan pelukan itu.


"ITU SAMA SEKALI BUKAN BUKTI, SIALAN?! ORANG QUIRKLESS PUN BELUM TENTU MENGALAMI HAL YANG SEPERTIMU! PERBEDAAN DIMENSI? APAKAH KAU KIRA DUNIA INI HANYA DIPENUHI KHAYALANMU SAJA?! APA KAU KIRA INI SCIENCE FICTION?! TIDAK SIALAN!" Ya aku terlalu gegabah...


"Kalau begitu kau bisa bunuh aku" ucapku lagi. "HAH?! UNTUK APA AKU MEMBUNUHMU?!"


"Tch! Kau ini memang anak lulusan RSJ! Dengar ya! Aku tak bisa mengatakan itu adalah bukti, kehadiranmu itu bukanlah sesuatu yang kuat untuk dijadikan bukti.. ATAUPUN JAMINAN SIALAN?! Heh- Ide bagus kau menggunakan nyawamu untuk menjadi jaminan... Tapi bukankah ITU ADALAH HAL YANG GILA?! KALAU KAU MATI CUMA KARENA ALASAN ITU- BUKANKAH ITU HAL YANG MEMBUATKU DIJEBLOSKAN DALAM PENJARA! KUSO ONNA!"


"Pokoknya aku ingin kau-" ucapannya terpotong saat seseorang mendekati kami. 


"Bakugou, aku butuh saranmu untuk- Oh? Kau sedang apa dengan perempuan itu?" Suara itu, nada itu, sepertinya aku mengenalinya...


"Eh? Shoto Todoroki, kan?" tanyaku seraya tak percaya.


"Eh? Iya benar" ucapnya sambil menggangukan kepalanya. "Ha! Lihat kan? Kau masih tidak percaya? Kalau todoroki bisa melihatku maka-" ucapanku terpotong oleh Todoroki. "Maaf, tapi kau siapa?" katanya dengan jujur. Muka polosnya itu membuatku kesal..!


Ergh! Anak ini beneran polos, dan tidak peka akan situasi ya?! 


"Pft-!" Eh? Bakugou, tertawa?


"Bakugou, kau tertawa?" tanya Todoroki langsung padanya. "TIDAK SIALAN! AKU TIDAK TERTAWA!" protesnya sambil membela dirinya sendiri. Aku menghela nafas, "Dasar! Terlepas dari Bakugou yang ada di dunia ku, ataupun kau yang ada disini... Dua-duanya tidak ada bedanya! Kau ini tetap saja Tsundere, Bakugou!" ucapku sambil mengejek.


"Bakugou, kau mengenalnya?" tanya Todoroki lagi. Sial! Tamatlah riwayatku, jika Bakugou bilang dia tidak mengenalku! Haduh! Kalau begitu kejadiannya aku ingin pulang! Pulangkan aku sekarang! Jika di dunia ini aku masuk penjara, itu sama saja bohong!


"Aku menge-" Terdengar suara cahaya yang bising di telingaku. Karena aku tak kuat menahannya, aku menutup kedua telingaku itu dan berlutut di tanah. Kepalaku pusing, badanku mati rasa! Loh?! Badanku-? Lalu kenapa Bakugou dan Todoroki terlihat panik?


"HOI! KAU MAU KE-"


//Switch place...


Aw! Eh? Badanku tidak sakit lagi? Aku pun perlahan membuka mataku yang awal mulanya tertutup, Eh?


Aku kembali? Ini kamarku kan? Sial, aku benar-benar kembali ke dunia nyata! 


Tapi aku yang di dunia asli? Loh? Aku tak ingat kalau aku belajar?! Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa aku bermimpi? Tapi aku yakin tadi bukanlah mimpi?!


Aku pun mulai berdiri dan melihat sekitar, tampaknya badanku itu masih belum bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Sehingga mataku itu mulai berkunang-kunang, dan kepalaku rasanya pusing tujuh keliling...


Tiba-tiba udara menjadi panas, sehingga pada akhirnya aku kehilangan kesadaran...


*Brak!*


3 R.d. Person P.O.V.


"Bu, kau dengar tidak?" tanya adik (y/n) yang kaget setelah mendengar suara yang keras. "Kenapa, nak?" tanya Ibu (y/n) terhadap adiknya itu.


"Itu loh, Bu! Di kamar tempat kakak dikurung... Aku mendengar suara benda besar yang jatuh!" ucap adiknya itu dengan jujur. "Ah, masa sih?" tanya Ibunya itu seraya tak percaya. Adiknya itu mengangguk dengan serius, hal itu membuat ibunya semakin merasa bersalah.


"(Y/n)! Kau tidak belajar?! Apa yang kau lakukan?!" tanyanya dengan suara yang keras. Tidak ada jawaban, hal itu membuatnya kesal dan membuka pintunya...


"(Y/N)!?! HAH! ASTAGA, YA TUHAN! BI! TELFON AMBULANS!" ucap Ibunya itu yang panik dengan kepala (y/n) yang berdarah, dan hidungnya yang mimisan itu.


"(Y/n)! Buka matamu, Nak?! Kau masih bisa dengar ibu tidak?! Nak!"


"Nak! Kumohon berikan ibu jawaban nak!" ucapnya sambil mulai meneteskan air mata. "Maafkan, Ibu! Ibu tak bermaksud! Nak, Bangun Nak!"


Lalu (y/n) sedikit menggerakan badannya, "(Y/N)?!" 


"Bu! Tak usah!" ucapnya dengan luruh. "(Y/N)! MAAFKAN IBU NAK!" ucap Ibunya itu yang langsung memeluk anaknya itu. 'Hangat...' Batin (y/n).


(Y/n) P.O.V.


Aku memeluk balik Ibuku itu, sepertinya kali ini Ibu benar-benar merasa bersalah.. Dia memelukku dengan erat sambil menangis. "Tapi nak, kau ini berdarah.. Kalau begini terus kau bisa kehilanga-"


"BU! AWAS!" ucapku langsung melepas pelukanku dan melindunginya.


*Jleb!* Ah, Bibi ya? Dia... Tak akan kumaafkan!


"Nak!"


.


.


Ah... Untuk terakhir kalinya, sepertinya aku benar-benar merasakan kehangatan... Entah mengapa aku berterimakasih kepada diriku sendiri...


Hari ini aku berkhayal pergi ke U.A.


Bertemu si bom ngegas itu... Meskipun aku merasa dia sering ngegas dan kasar, tetapi entah mengapa justru sikapnya itu membuatku lega dan tenang...


.


.


.


.


.


'HOI! JANGAN MATI SIALAN!' ah lagi-lagi aku mendapatkan suaranya yang terus terngiang-ngiang di kepalaku.


'JANGAN MATI SIALAN! BUKA MATAMU!' hah? Untuk apa? Apakah aku sudah di surga?


Kenapa di surga juga aku harus bertemu dengan dia sih? Loh? Ini?


Aku membuka mataku yang awal mulanya terpejam, menemukan tempat yang luas dengan padang rumput yang menyegarkan mata. Aku duduk di tengah taman di kelilingi oleh berbagai jenis bunga yang tersusun sesuai spesiesnya di setiap arah mata angin.


Di tengah taman itu aku sedang duduk di kursi taman yang nyaman.


"Eh? Itu?" Aku melihat ke arah utara dan melihat seorang dari kejauhan. Siapa dia?


Dia melihat ke arahku dan mendekatiku, rasanya aku mengenalinya... Selang beberapa waktu aku menyadari bahwa itu adalah Bakugou Katsuki, "Ah... Kau sudah menungguku ya?" ucapnya sambil melihatiku.


"Ah, iya..." tampaknya aku yang disini sedang menunggunya. Dia mengambil tanganku dan menciumnya, astaga! Kenapa dia sebucin ini?! "Bukankah kita harus pergi?" ucapnya sambil memasang senyum meremehkan.


"Padahal aku belum memulai apa-apa mukamu sudah semerah itu" sambungnya sambil kembali memasang senyum meremehkanku.


.


.


.


.


...*Pip pip pip pip (Suara alat bantu kehidupan di rumah sakit)*...


Aku dimana?! Oh iya, Ibu?! Aw! Seluruh badanku!


"Astaga! Dokter!" ucap seorang perawat langsung keluar dari ruanganku itu. Aku di rumah sakit?


Setelah itu para medis langsung mendekatiku, "Nona (y/n) apakah anda merasakan apapun?" tanya seorang dokter yang menghampiriku itu. Aku mengangguk, "Badanku masih berat dan-" aku terbatuk-batuk karena suaraku yang serak.


"Ah! Nona (y/n)! Apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan panik. "Ah saya tak apa" ucapku pelan. Lalu tiba-tiba aku cegukan, sial! Malu-maluin aja...


"Ah sebaiknya, nona (y/n) tidak memaksakan diri untuk berbicara terlebih dulu" ucapnya dengan serius. "Tapi bicara kan tidak masalah untuk-" aku cegukan lagi.


Sialan... Aku benci sakit!


"Ekhem, biar saya jelaskan tentang keadaan nona" ucapnya sambil mulai serius. "Oh iya, sus... Tolong ambilkan air hangat untuk nona ya" ucapnya kepada seorang perawat. Perawat itu mengangguk, "Baiklah dokter" ucapnya kepada dokter. 


Sial! Aku malu banget... Mana aku cegukannya lumayan keras... "Dok, apa tubuh saya baik-baik saja?" tanyaku padanya. Lalu aku yang cegukan itu membuat dokter berdehem agar si suster cepat memberiku air.


"Untungnya saat itu luka tusuk tidak terlalu dalam nona, jadi nona masih bisa sembuh dalam waktu cepat... Tetapi karena keadaan shock dan stress, Nona jadi pingsan karena kehilangan lumayan banyak darah... Saya sarankan Nona untuk menjalani rehabilitasi di rumah sakit selama seminggu... 


Setelah itu saya akan memberikan tablet untuk menjaga keadaan organ jika ditemukan adanya luka dalam. Oh iya, untuk darah sepertinya nona juga masih membutuhkan donor darah... Tapi sayangnya golongan darah Nona menunjukan darah A positif, dan sangat jarang kami menemukan pendonor darah A positif" ucapnya dengan jujur.


"Sebenarnya keadaan saya sekarang sudah bagus tanpa donor kan?" tanyaku padanya. Lalu perawat memberikanku air minum hangat, "Terimakasih suster" ucapku sambil tersenyum. 


Dia mengangguk dan membalas senyumanku, "Sebenarnya... Saya tidak bisa menjamin itu, awalnya memang tidak apa-apa.. Tetapi saya tidak bisa menjamin kedepannya, karena itu jika nona memiliki kenalan yang memiliki darah A Positif dan ingin mendonor sihlakan bicara pada saya" katanya dengan serius.


"Baik Dokter, terimakasih banyak" kataku padanya sambil tersenyum. Dia mengangguk, "Saya harap Nona tidak  beraktifitas berat dulu, dikarenakan nona kemarin baru dioperasi dan semalam nona baru dijahit di bagian punggung sebelah kiri... Sedikit lagi lebih dalam sepertinya itu akan mengenai ginjal" katanya dengan khawatir.


Hiiy! Separah itu? Lalu aku meminum air hangat yang diberikan perawat, setelah meminumnya aku kembali berbicara "Terimakasih Dok, sudah mau menyelamatkan saya" kataku lagi sambil berterimakasih untuk kedua kalinya. "Sama-sama Nona, kalau begitu selamat berisitrahat ya" jawab Dokter sambil pergi dari ruangan.


Intinya aku selamat kan? Syukurlah~!


Kemudian terdengar suara pintu rumah sakit yang tiba-tiba terbuka, "(Y/N)! ASTAGA NAK!" ucap Ibuku yang membuka pintu dengan cepat. "Ibu?" tanyaku dengan mata yang terbelalak.


"KAU SUDAH SADAR?! TERIMAKASIH YA TUHAN!" kata Ibuku langsung seraya memelukku.


Apa aku baru saja bermimpi? "(Y/n)! Kau ini membuat Ibu khawatir saja! Kau seharusnya bilang ke ibu kalau kondisimu saat itu sedang tidak enak badan! Kalau begitu Ibu takkan memaksamu!" lanjutnya sambil membentakku.


Aku menunduk dan menangis, "Maafkan aku Bu... Sebenarnya aku memang saat itu- tidak sedang fit" ucapku sambil tersenyum kecut. 


"Tidak... Justru Ibu yang merasa bersalah... Ibu sebenarnya masih belum percaya denganmu, tetapi saat kemarin Ibu lihat-lihat, kau berusaha belajar membuktikan kalau kau tidak malas sama sekali... Meskipun kau belajar hanya sejam sehari, hal itu membuat Ibu cemas sehingga Ibu termakan hasutan pembantu kita itu" jelasnya sambil mulai meneteskan air mata.


"Eh? Pembantu? Bibi gimana, Bu?" tanyaku padanya. "Dia ditangkap polisi setelah kejadian itu, tak sia-sia Ibu membiarkan adikmu les Taekwondo saat dulu pandemi belum berlangsung... Dia langsung menendang Bibi, dan akhirnya dia tersungkur ke bawah" ucap Ibu sambil menahan tawa.


"Tertawa saja, Bu... Tak apa kok" ucapku sambil tersenyum. Lalu dia mengelus kepalaku dan menaruh rambutku ke belakang telinga kanan dengan jemari tangan kanannya itu.


"Bagaimanapun.. Ibu minta maaf ya... Sebagai anak pertama kau selalu saja diam dan tenang, tetapi aku yang serba kekurangan ini tanpa sengaja melukaimu karena hanya belajar 1 jam sehari... Dan tanpa tahu apa-apa tentang mu aku selalu saja menentangmu untuk melakukan apa yang kau mau dan menyuruhmu belajar seperti tempo hari... Dan ternyata setelah kejadian itu aku sadar bahwa kau memiliki kelebihan lain dibanding belajar... Dan kau pun tak segan-segan untuk nekat menjual lukisanmu dan mendapatkan uang untuk uang jajanmu itu..." ucapnya dengan penuh rasa bersalah.


"Tanpamu sepertinya keluarga ini akan runtuh" ucapnya sambil kembali meneteskan air mata. "Runtuh? Gimana maksudnya?" tanyaku dengan suaraku yang berat dan serak itu. "Sebaiknya kau tak usah bicara banyak, (y/n)... Kau sedang dalam masa pemulihan" ucapnya sambil mengusulkan saran.


Aku mengangguk, "Kau tahu pembantu kita itu? Dia memiliki obsesi yang gila untuk membunuh seluruh anggota keluarga kita demi mendapatkan uang dan harta kita" sambungnya dengan serius sambil mengusap air matanya yang terjatuh itu.


Kedua mataku terbelalak mendengar hal itu, "Ibu juga baru tahu saat polisi melihat bekas makananmu yang ada di tong sampah... Yang di dalam makanan itu ada racun..." katanya sambil menatap tajam padaku. 


"(Y/n)! Kenapa kau tidak bilang bibi meracunimu?!" protesnya padaku dengan rasa marah. "Ah... Itu aku kira Ibu tidak peduli..."jawabku padanya sambil melihat ke arah lain. "Lihat Ibu! (y/n)!" perintahnya dengan suara yang ingin menangis. Aku melihat ke arah matanya, di matanya itu terlukis perasaan marah, sedih, dan perasaan bersalah. 


"Maafkan Ibu, (y/n)! Ibu... Memang payah! Terhasut oleh pembantu, membanding-bandingkanmu... Dan Ibu tak mengerti soal apapun tentangmu, dan ternyata aku ini seorang dewasa yang gagal... Ibu hanya bisa salah paham dan tak percaya denganmu! Maafkan Ibu, ya?" ucapnya sambil menangis.


Aku yang terakhir melihat ibu menangis saat kecil, sekarang aku pun baru melihat itu setelah sekian lama. Tanpa sadar aku memeluknya, "Tak apa... Bu! Semua orang pun pasti punya salah! Ibu juga kan manusia... Jadi aku tak bisa menyalahkan, Ibu!" setelah itu Ibu pun membalas pelukanku.


.


.


.


"Semua masalah pasti memiliki akhir dan penyelesaian, karena itu jangan menyerah!" - (y/n)


//Skipped Time


Setelah itu Ibu membiarkanku istirahat, untungnya saat itu dia mempunyai uang simpanan untuk membayar uang rawat inapku. Hah... Sepertinya Katsuki benar... Tak setiap hari kita harus Bahagia...


Kira-kira dia kabarnya bagaimana ya? Terakhir saat aku disana... Aku langsung pergi begitu saj- Eh? Dimana aku?!


"HOI! KAU INI BENAR-BENAR SEPERTI HANTU SIALAN!?! TERAKHIR KAU HILANG! LALU DUA HARI KEMUDIAN KAU DATANG LAGI!" Hiiy! Orangnya ada secara mendadak?!


.


.


.


//Next Chapter


Hah? Kenapa dia tiba-tiba baik sih? Dan kenapa perubahannya itu keliatan banget? Dan lagi kenapa saat disini tubuhku fit banget? 


"Mungkin ada satu hal yang membuatmu ingin datang kesini"


"Iya kah? Apakah kau tahu apa itu?"


"AKU TIDAK TAHU SIALAN! TANYA DIRIMU SENDIRI SAJA!"


...-To Be Contunied to #02,5...


//Mengmaap cuma 2400 words:') 


Btw makasih ya udah mau nungguin chap:'3 Makasih udah mau baca, dan maaf jika ada kekurangan ya:'D


Jangan lupa like ya >


...▪️▫️▪️▫️▪️...