
▫️▪️▫️▪️▫️
Ch 09 - Reality | I'm Promise! | Bakugou x Readers | Different world AU
Aku nggak boleh jadi beban, aku harus kuat untuk melindungi kebenaran - (Y/n)
▫️▪️▫️▪️▫️
Di saat (Y/n) ingin melakukan pembalasan, Lancelot memasuki ruangan... "Nona (Y/n), dan siapa anda?" hal itu membuat Idris alias Yuliana kaget dengan keberadaan pelayan setia milik Adelle.
'Jangan bilang' batin Yuliana. Lancelot tersenyum, "Nona (Y/n) perlu sendirian, Ibu... Karena sekarang dia sedang masa pemulihan" ucap Lancelot kepadanya. Idris mengepal tangannya, kemudian dia memiliki ide yang cemerlang. "Saya Ibunya, mengapa kau malah ikut-ikutan? Maaf jika kata-kataku agak kasar tapi... Bukankah ini jadinya penculikan anak?" ancam Idris.
Lancelot terdiam sejenak, namun senyumnya itu tidak sirna dari wajahnya... "Apa Ibu salah orang? Dia adalah nona muda dari AD Company, mengapa ibu harus mengaturnya? Saya akan melaporkannya ke pihak berwajib jika anda mau" kata Lancelot kepadanya.
Idris kesal dengan apa yang terjadi saat itu, namun... Dia tidak putus asa karena ia masih memiliki kelemahan (Y/n). "AD Company katamu? Bukankah itu adalah perkumpulan para penipu handal?" kata Idris kepadanya.
*Sumber : Pinterest (Manhwa : Sadistic beauty)
"Astaga... Gimana jadinya ya? Dia itu penipu handal yang suka menjual organ dalam manusia?" kata Idris dengan wajah yang tidak suka. Hal itu membuat Lancelot sedikit kesal, namun Lancelot tetap memasang senyum profesionalnya. "(Y/n)! Apakah kau benar kenal dengan orang ini? Dia itu orang yang dulu pernah menculik Ibu!" kata Idris sambil meneteskan air matanya.
*Sumber : Pinterest (Manhwa : The Villainous reverses the hourglass)
"KAU DENGAR IBU NAK?! JANGAN MAU SAMA PENIPU HANDAL!" katanya dengan kemampuan actingnya yang hebat itu. (Y/n) terdiam sejenak dengan perbuatan Ibunya yang kekanak-kanakan, kini dia menyadari... Bahwa memang Ibunya itu berbakat dalam berakting, namun sayang... Ia benar-benar tidak menggunakan bakatnya ke arah yang lebih baik.
"Lancelot, bisakah kau tinggalkan kami sebentar?" tanya (Y/n) dengan lembut. Lancelot hanya bisa menelan ludahnya secara kasar.
"Baik, Nona" ucap Lancelot yang membungkuk dan pergi keluar. Kemudian Idris senang karena tipu dayanya berhasil, sekarang yang hanya ada dalam pikirannya adalah... Bagaimana cara agar dia bisa mengembalikan ekonominya agar ia bisa berbalik.
Karena itu, dia perlu membuat umpan yang sempurna kepada (Y/n). Di matanya, (Y/n) hanyalah seorang bidak yang tidak berguna... "(Y/n), kau percaya pada ibu kan?" katanya kepada (Y/n) yang kemudian mendekati (Y/n) dan memegangi tangannya.
"Iya, aku percaya" balas (Y/n). "Kalau begitu putuskan hubunganmu dengan penipu itu, ya? Ayo kita pulang" katanya kepada (Y/n) dengan penuh harapan.
"Kau percaya pada ibu kan? Ibu akan membesarkanmu lagi sebaik mungkin... Bukankah ibu ini sudah baik kepadamu?" kata Ibunya itu kepadanya. Memang keadaan saat itu benar-benar membuat (Y/n) hampir termanipulasi. Namun dirinya itu sekarang sudah terlepas dari semua kebohongan yang diciptakan oleh ibunya. "Keluarlah dari ruangan ini, dan tidak usah tinggal di rumah sakit lagi, ya?" katanya dengan nada yang manis.
"Atau Ibu akan memindahkanmu ke ruangan lain... Pokoknya jangan berhubungan dengan penipu itu" kembali (Y/n) diperhadapkan dengan pilihan yang sulit.
"Ibu, aku punya sedikit syarat" ucap (Y/n) yang mendadak membuka mulutnya. 'kenapa harus pakai syarat-syarat? Dasar anak banyak omong yang penyakitan' batin Idris secara sekilas.
"Apa itu, nak?" kata Idris sambil tersenyum. "Bisakah kau ceritakan... Soal Adelle dan AD Company?" ucap (Y/n) sambil memprovokasinya.
Saat itu Idris alias Yuliana tersentak dan kembali mengingat masa lalu, karena kondisi mentalnya yang tidak stabil dia sama sekali tidak bisa berakting ataupun menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Dia keluar tanpa bicara apapun... Kemudian Lancelot memasuki ruangan setelah mengetahui Yuliana keluar. "Apa yang nona lakukan padanya?" tanya Lancelot langsung kepada (Y/n). "Ah... Aku hanya memintanya menceritakan soal Ibuku, tapi... Kalau melihatnya menutup mulut begitu, aku rasa aku tidak bisa lagi mempercayainya" kata (Y/n) dengan nada merendah.
Lancelot tersenyum melihat (Y/n), "Terimakasih sudah memercayai saya, Nona" ucapnya berterimakasih kepada (Y/n). (Y/n) hanya bisa tertawa canggung saat Lancelot memanggilnya Nona.
***
"Halo, saya sudah menemui anaknya.. Kalian bisa memulai penelitian kalian" ucap Idris lewat telepon. "Baik, terimakasih banyak Ibu Idris" kata seorang lewat telepon. "Ibu sekarang ada dimana?" tanyanya kepada Idris. "Saya ada di rumah sakit juga... Karena itu kau mau bertemu?" tanya Idris to the point kepadanya. "Kebetulan yang bagus, kalau begitu saya akan memulai penelitian hari ini" ucapnya lewat telepon. "Kalau begitu uangnya?" tanya Idris lagi.
"Saya akan mengirim uangnya jika saya sudah mengidentifikasi skizofrenia yang dialami oleh anak Ibu" katanya lagi. 'Tch... Memangnya aku peduli? Anak itu kan memang sudah terkena skizofrenia' batin Idris.
"Kalau begitu sampai nanti, kau bisa membicarakan lagi kapan kita akan bertemu" ucap Idris yang ingin mematikan telepon. "Sebentar, Bu! Bisakah kita bertemu seka" ucapannya terpotong saat teleponnya itu dimatikan.
'Anak itu... Darimana dia mendapatkan nama Adelle?' batin Idris dengan kesal. Kemudian teleponnya kembali berdering, dari ponselnya dapat kita lihat bahwa seorang yang lain menelpon Idris. Terdapat tulisan 'Media stasiun TV', kemudian Idris mengangkat teleponnya.
*One side P.O.V.*
"Halo," jawab Idris sambil mengangkat telepon. "Iya benar... Saya memang sudah menemukan anak saya, jika anda mau meliputnya sihlakan saja" ucap Idris lagi sambil tersenyum licik.
"Nona... Sebenarnya ada hal lain yang perlu nona urus... Apakah nona kenal seorang yang bernama Jake?" tanya Lancelot kepadanya. (Y/n) berpikir keras untuk menemukan nama itu, "apa dia apresiator seni?" tanya (Y/n) yang baru ingat.
"Kebetulan dia adalah seorang yang ingin menjadikan nona sebagai pelukis terkenal... Jadi, kira-kira apa yang akan nona lakukan?" tanya Lancelot. "Bagaimanapun banyakyang menginginkanku setelah mengetahui bahwa aku adalah anak dari Adelle kan, Lancelot?" tanya (Y/n) padanya.
"Sebenarnya Jake adalah sekutu lama Adelle... Setelah ia tahu bahwa Nona adalah anak dari adelle, dia jadi ingin membantu AD Company lebih lagi" ucap Lancelot kepadanya. 'Bukankah ini akhirnya akan berhubungan dengan tanggung jawab?' batin (Y/n).
'Aku ini masih terlalu lemah, aku ini masih menjadi beban yang menghambat orang lain... Tapi, aku tidak boleh bilang begitu, kan? Bakugou?' batin (Y/n) dalam hatinya.
"Lancelot... Sebenarnya apa yang Ibu lakukan saat mendapatkan banyak tugas seperti ini?" tanya (Y/n) padanya. Kemudian Lancelot sedikit tersentak, "Apa yakin kau tidak salah orang... Lancelot?" kata (Y/n) dengan ragu.
"Nona... Saya benar-benar mempercayai Nona... Ini semua salah saya karena saya terlalu lama dalam pencarian keberadaan Nona" katanya sambil meminta maaf. "Ah nggak ini bukan salah anda, Tuan! Ehm anu... Saya hanya kaget" kata (Y/n) sambil melihat ke arah lain "Bagaimanapun ini semua salah saya" ucapnya dengan nada yang merendah. "Tidak... Saya harus berterimakasih kepada anda tuan Lancelot... Kalau saja anda tidak memberitahu saya... Saya pasti aka" perkataan (Y/n) terpotong saat banyak orang yang mendobrak masuk.
"Nona (Y/n)... Apakah benar adanya bahwa anda mengalami skizofrenia di masa remaja?" ucap seorang wartawan yang masuk. "Bagaimana perasaan anda?"
"Apakah anda memiliki gejala komplikasi?" hal itu tentu saja membuat Lancelot dan juga (Y/n) sedikit kaget melihat itu semua. Tentu saja, itu semua adalah perbuatan Yuliana yang hausa akan kekuasaan. Dia tidak peduli kepada mereka berdua dan berusaha untuk menghancurkan dan mengambil keuntungan dari masa kehancuran itu.
Bisa dibilang... Kondisi psikologisnya kambuh?
//Flashback : On (Y/n P.O.V.)
Aku saat itu sedang belajar di perpustakaan bersama Bakugou yang saat itu belajar untuk mengejar pelajaran. Sebenarnya saat aku belajar, aku lebih banyak belajar darinya, entah itu cara agar bisa fokus, cara menemukan metode belajar...
Saat aku bilang kalau aku ini bisa semua metode belajar yang ia lakukan hanya bisa menertawakanku karena diriku yang aneh ini.
3 R.d. Person P.O.V.
Bakugou sedikit merenggangkan badannya setelah membaca jurnal penelitian, matanya langsung tertuju ke arah (Y/n) sedang membaca buku dengan serius. 'Anak ini kalau misalnya ada faktor pendukung... Dia ini benar-benar ambisius juga' batinnya secara sekilas.
"Bakugou," hal itu membuat Bakugou kaget. "APA SIH?!" teriak Bakugou padanya. "Menurutmu, apa yang harus aku lakukan terhadap Ibuku?" tanyanya secara mendadak. "Dia kan bukan Ibu kandungmu... Mengapa kau harus memikirkannya?" kata Bakugou dengan jujur.
"Tapi dia adalah adik dari Ibu Kandungku... Dan Ibu kandungku juga pastinya nggak mau membunuhnya kan?" ungkap (Y/n). "Tch... Susah juga ya... Kalau kau sendiri?" (Y/n) terdiam dan menatap kosong buku pelajaran yang ia baca saat itu.
"Aku tidak tahu, entah mengapa aku hanya bisa melihat ke arah waktu yang berjalan dan mengambil langkah yang dadakan" ungkap (Y/n). "Kalau kau begini terus... Bagaimana bisa kau berkembang? Dunia ini jahat, Gadis RSJ... Kau harus ingat itu, kau tidak bisa terus berdiam dan membiarkan mereka berdiri di atasmu" kata Bakugou sambil melihat ke arah (Y/n) yang edikit tersentak.
"Aku bermaksud untuk menyindirmu, seandainya jika orang tua palsu mu itu menghancurkanmu? Apa hal yang kau lakukan hanya bisa diam?" (Y/n) yang saat itu mendengar perkataan Bakugou langsung tersadar dengan apa yang dilakukan.
"Nah, lihatlah si gila ini. Baru sadar kah?" kata Bakugou lagi. "Kau tidak boleh begitu, lagipula orang itu sudah melakukan banyak kejahatan kan?" setika (Y/n) mengingat apa yang dikatakan Lancelot tentang kejahatan yang dilakukan oleh Idris alian Yuliana.
"Aku akan memercayakan hal itu padamu... Karena" kemudian Bakugou menutup rapat mulutnya. 'Aku selalu saja berpikir kalau aku dan dia berada di dunia yang sama... Kalau saja..' batin Bakugou secara sekilas.
"Aku tidak bisa membantumu lebih dari ini, (Y/n)?" (Y/n) yang mendengar namanya tersebut itu meneteskan air mata. "Tidak apa-apa, Bakugou... Selagi kau memberikanku pencerahan dan lampu untuk pulang... Itu sudah cukup, terimakasih" kata (Y/n) padanya sambil tersenyum lega.
//Flashback : Off (the story will be done by Author Naration P.O.V.)
"Saya tidak mengerti apa yang kalian katakan... Bukankah jika kalian mendobrak pintu seperti ini kalian sudah melanggar hukum rumah sakit?" kata (Y/n) sambil tersenyum ramah. "Aku sudah memberikan mereka Izin" kata Ibunya itu yang mendadak datang. "Bukankah, ini adalah hal yang baik (Y/n)? Kau akan menjadi objek penelitian yang akan dikenal oleh banyak orang loh" ucapnya kepada (Y/n).
"Bukankah akan lebih baik jika kau membantu negara untuk memecahkan masalah medis? Bagaimana jika ada seorang lain yang menderita hal yang sama sepertimu? Bukankah lebih baik kita menemukan obatnya terlebih dahulu?" kata Idris sambil mencari simpati publik.
(Y/n) yang mendengarkan perkataan Idris itu benar-benar hilang respect dengannya karena... Dirinya itu dianggap sebagai objek, bukan sebagai subjek. Perkataannya yang merupakan pisau bermata dua, hal itu tentu saja membuat beberapa orang mengira bahwa ibunya itu merupakan gadis yang memikirkan nyawa manusia.
(Y/n) tersenyum, "Ah... Maaf, Ibu.. Saya tidak pernah mendengar kalau Ibu menyuruh saya menjadi topik percobaan atau penelitian... Dan saya juga tidak tahu kalau saya menderita skizofrenia atau semacamnya? Kalau begitu... Apakah bisa dibilang ini adalah pemaksaan?" ucap (Y/n) dengan senyum licik.
Karena saat itu kondisinya sedang tidak stabil, Ibunya itu menampar pipi (Y/n). "Nona!" ucap Lancelot dengan kaget. (Y/n) memegangi pipinya, "Bu, sakit! Apa ibu mau memperlihatkan sisi buruk Ibu di depan publik?" kata (Y/n) yang kini meneteskan air matanya.
Hal itu membuat Idris sadar kalau ia sendiri sedang dijebak, 'Kalau begitu... Biarkan kau merasakan ini, Penjahat' batin (Y/n). "Lancelot, bisakah kau memberikan bukti kalau saya tidak diberitahu oleh Ibu untuk berpartisipasi soal penelitian ini?" tanya (Y/n) kepadanya. Lancelot mengangguk, dia mengeluarkan rekaman black box yang ia kantongi di sakunya. "HENTIKAN! Aku tidak pernah melakukan hal yang seperti itu! Mereka lah yang memutar balikkan fakta!"
-To Be Contunied to #09,5
Makasih dah mau baca^^!
Sampai nanti di chap selanjutnya^^~