I Don'T Want To Be The Protagonist

I Don'T Want To Be The Protagonist
7 | Pesta Debut Arthur



Saat ini kediaman Archduke terlihat ramai dengan para pelayan yang tengah sibuk mempersiapkan acara untuk Pesta perayaan debut Arthur. Anak-anak bangsawan didunia ini akan merayakan pesta debut saat ulang tahun mereka yang ke 15 tahun sebagai bentuk kedewasaan mereka dan bukti bahwa mereka siap untuk bersosialisasi dengan bangsawan keluarga lain. Aku yang sekarang berumur 12 tahun. Menuju ruang makan dimana aku, kakak, dan ayah makan bersama. Sejak aku umur 8 tahun kita selalu makan bersama karena ini hadiah ulang tahun yang kuminta.


"Selamat pagi ayah, kakak" ucapku saat memasuki ruangan dan tak lupa mencium pipi keduanya. Ya aku mencium pipi keduanya, sekarang mereka cukup menyayangiku waktu 7 tahun tidak ku buang sia-sia. Aku terus berusaha mendekati mereka dan akhirnya aku berhasil meruntuhkan tembok dinding mereka dengan keimutanku. Jika diingat kembali, sungguh perjuangan yang luar biasa.


"Selamat pagi Yuna" kulihat mereka senyum membalas salamku. Butuh 7 tahun untuk membuat mereka tersenyum seperti ini kepadaku. Rasanya aku ingin menangis saat kuingat kembali hal-hal yang kulakukan kepada mereka selama 7 tahun.


"kakak selamat ulang tahun" aku memberikan hadiah berupa sapu tangan yang aku sulam sendiri. Asal kalian tau aku sangat berbakat, cukup singkat bagiku untuk mempelajari sesuatu dan selalu berhasil, seperti yang diharapkan dari tokoh protagonis.


"Terima kasih adikku" Arthur menerima sapu tangan itu dan memelukku


"Yuna, kau hanya memberikannya kepada Arthur?" suara ini milik ayahku yang dapat kuliat iri melihat sapu tangan yang kuberikan kepada Arthur


"Kalau ayah ulang tahun aku akan memberikannya juga kepada ayah. Awalnya aku ingin membuat 2 tapi tangan ku sakit saat menyulam" jawabku dengan nada yang kubuat sok sedih dan bertunduk sedih, padahal sebenarnya aku memang malas untuk membuat 2 sulaman


"Tidak usah kau pikirkan, jika tanganmu sakit kau tak usah membuatnya lagi. Jika aku melihatmu menyulam lagi aku akan menghilangkan semua alat sulam dari kediaman ini" setelah berkata ini ayahku menarik ku dari pelukan kakak dan mendudukkan ku dipangkuannya sambil melihat tanganku. Aku yang mulai terbiasa dengan sikapnya ini hanya menghela nafas. Aku bahkan ingat saat aku berumur 10 tahun, aku tak sengaja jatuh ditaman karena gundukan tanah, ayah dan kakak bahkan berniat untuk memberikan hukuman mati kepada pengurus taman itu. Aku bahkan sampai memohon kepadanya untuk membiarkan pengurus taman tetap hidup.


"Ayah, kakak, apa nanti aku di bolehkan untuk ikut bersama kalian saat pesta debut kak Arthur?" tanyaku kepada keduanya sambil memakan makananku di pangkuan ayah. Aku bertanya seperti ini karena kuingat Yuna di cerita asli tidak diizinkan keluar saat acara debut Arthur, bangsawan yang bertanya kemana Yuna hanya akan dijawab sedang sakit oleh ayah dan kakak.


"Boleh, tapi kau hanya boleh berada didekatku atau kakakmu, dan ingat jangan berbicara dengan anak lelaki" Aku hanya mengangguk dan melanjutkan makanku, lagipula siapa yang akan mendekati ku jika dua monster ini bersama ku.


Dimalam hari aku telah siap dengan pakaian yang telah disiapkan oleh para pelayan, aku cukup lelah dengan persiapan yang mereka lakukan, butuh berjam-jam untuk aku bersiap-siap, mulai dari luluran, mandi bunga, berpakaian, hingga riasan. Aku melihat diriku yang sangat cantik didepan cermin. Walaupun riasan ini tak terlalu mewah dan aku memakai gaun yang sederhana dengan aksesoris yang sangat sedikit tapi ini tidak dapat menutupi kecantikan Yuna. Sekali lagi aku terkesima dengan penampilanku. Tak lama aku mendengar Yuzhu datang untuk menjemputku.


"Anda terlihat sangat cantik nona"


"Adikku, kenapa kau merias diri secantik ini. Aku merasa akan semakin sulit untuk melindungimu"


"Ayah setuju dengan Arthur. Kau berias terlalu berlebihan" aku yang mendengar ini merasakan sakit di kepalaku. Riasanku bahkan tidak terlalu berlebihan, tidak mungkin juga aku tampil seperti pengemis saat acara besar seperti ini dimana banyak bangsawan yang hadir. Nanti mereka berfikir bahwa putri Archduke diabaikan, sungguh aku tak mau dianggap seperti ini. Aku melihat ayahku memegang tanganku disebelah kanan dan tangan kiriku dipegang oleh kakakku. Aku merasa seperti pesta ini adalah milikku. Bagaimana kira-kira pesta debutku saat umur 15 tahun nanti.


"Tuan Archduke Alexander de Windford, Tuan muda Arthur de Windford dan Nona Yuna de Windford memasuki ruangan" Aku merasa cukup tegang karena ini adalah pertama kalinya aku muncul di depan umum. Setelah masuk aula, dapat ku lihat para tamu undangan menunduk hormat, kecuali keluarga kerajaan yang telah duduk di tempat mereka. Saat berjalan menuju tempat duduk yang berada di dekat keluarga kerajaan, dapat kulihat banyak orang yang secara terang-terangan melihatku. Aku yang merasa tidak nyaman langsung memeluk lengan ayahku dan ayahku yang menyadari orang-orang melihatku memberikan mereka tatapan dingin yang membuat orang-orang itu kembali menundukkan kepala mereka. Aku melihat kearah tempat duduk keluarga kerajaan dan disana duduk Raja dan Ratu tetapi aku tak melihat putra mahkota.


Putra mahkota memiliki umur yang sama dengan Arthur dan telah melakukan pesta debut sehingga seharusnya dia ada disini sekarang. Pangeran ke 2 protagonis pria dicerita asli memang tidak hadir karena umurnya yang seumuran dengan Yuna dan belum boleh menghadiri pesta kecuali pesta dikediaman mereka sendiri. Acara dimulai dan aku hanya duduk di sebelah ayah, aku yang merasa bosan mengatakan kepada ayah kalau aku ingin bersama kakak. Ayah memperbolehkanku untuk pergi asalkan ditemani oleh Yuzhu.


Aku dan Yuzhu mencari kakak ditengah kerumunan. Dapat kulihat beberapa anak seperti ingin berbicara padaku tapi mereka takut mendekatiku. Akhirnya aku melihat kakak yang sedang berbicara dengan orang seumurannya, dan aku merasa tak ingin menganggunya, akhirnya aku mengajak Yuzhu untuk pergi ke balkon dan menyuruh Yuzhu menjaga di depan pintu balkon agar tak ada yang masuk.


Aku melepas sepatu ku dan duduk di pembatas balkon sambil menikmati angin malam. Sekarang adalah musim panas tetapi masih dapat kurasakan angin-angin segar yang kadang bertiup.


"Halo nona manis" aku kaget saat melihat ada seorang pria yang tiba-tiba duduk di sebelahku, tak sengaja aku kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Sebelum aku bisa bereaksi sebuah tangan menangkapku dan menarik pinggang ku. Aku membuka mataku dan melihat pria yang kira-kira seumuran kakak dengan rambut yang berwarna emas yang sangat cantik dan mata yang berwarna biru seperti mata kakak tapi sedikit lebih bersinar, seperti aku yang memandanginya dia juga memandangiku.


"Apakah nona peri malam" Tanya pria itu sambil terus memandangiku


"Hah?!" aku tak tau harus memberikan tanggapan yang seperti apa. Pria itu tertawa saat melihat responku dan melepaskan pelukannya dariku.


"Semoga kita bertemu lagi peri cantik" ia mengatakan itu sambil mencium rambut hitamku, setelah itu menghilang dikegelapan malam. Aku yang masih tak tau apa yang terjadi memegang dada ku yang masih berdetak tak karuan karena terkejut dan bertemu orang aneh. Baru kali ini aku melihat pria yang sangat tampan selain ayah dan kakak, tapi ntah mengapa menurutku dia sedikit lebih tampan dari ayah dan kakak. Setelah melamun beberapa saat aku memasuki aula pesta dan menuju ke tempat duduk ku disebelah ayah. Aku sedikit berharap dapat bertemu lagi dengan pria itu.