I Don'T Want To Be The Protagonist

I Don'T Want To Be The Protagonist
16 | Menuju Akademi Cratein



Hari ini Yuna bersama para anggota klub penelitian alat sihir berangkat menuju akademi cratein. Perlombaan antar akadeni tahun ini di adakan di sana.


"Yuna!!" Yuna yang sedang memeriksa barang bawaan berbalik ke arah orang yang memanggilnya


"Andreas, kalian juga berangkat hari ini?"


"Iya, klub ramuan sihir juga ingin berangkat lebih awal karena kami berniat mengumpulkan beberapa tanaman di perjalanan nanti. Kalian juga berangkat lebih cepat ya?"


"Iya, kami rencana nya ingin melihat-lihat akademi cratein terlebih dahulu kemudian melakukan penyesuaian ke alat sihir kami sebelum lomba"


"Baiklah kalau begitu aku kembali dulu ke klub ramuan sihir"


"oke, semangat lomba nya semoga kalian bisa menang"


"kalian juga" Yuna mengangguk dan melihat Andreas berlari kembali ke tim ramuan sihir. Yuna memperhatikan klub lain ternyata banyak klub yang ingin berangkat lebih awal. Perlombaan akan dimulai minggu depan. Perjalanan akan memakan waktu 2 hari.


Selama 3 minggu ini Yuna tidak menyianyiakan waktu ia mencoba menyelesaikan alat-alat sihir yang belum selesai di ruang klub. Dibantu dengan Lyra dan Alan, mereka bertiga mengelesaikan kompor listrik dan pemanas. Tentu hal ini berguna untuk mereka selama perjalanan ke akademi cratein.


"Yuna, apakah semua nya sudah lengkap"


"Sudah lengkap. Kita sudah bisa berangkat"


"Baiklah, aku akan melaporkannya dulu ke prof. Ares. Kamu tolong beritahu yang lain untuk bersiap di kereta"


"Baik putra mahkota"


"Sudah kubilang berapa kali, panggil saja aku Rey. Putra mahkota terdengar terlalu formal"


"Bukankah sedikit tidak sopan? Terlebih lagi kau lebih tua 3 tahun dariku haruskah ku panggil kak Rey saja?"


"Aku bukan kakakmu"


"Tapi Lyra dan Alan memanggilmu kak Rey. Aku tak ingin berbeda dari mereka"


"Ya sudah putra mahkota saja, atau kau bisa memanggilku ketua. Pokoknya aku tidak mau kau panggil kakak"


"kenapa?" mendengar pertanyaan Yuna, Reykell akhirnya berjalan mendekat ke arah Yuna dan meletakkan tangannya di kepala Yuna


"Karena aku tak ingin hubungan kita menjadi kakak adik. Alan adikku dan Lyra tunangan Alan tentu saja mereka berdua memanggilku kakak. Tapi kau, kau berbeda. Aku ingin kau menjadi tunanganku bukan adikku" Yuna sedikit terkejut dengan perkataan Reykell, ia sebelumnya sudah sering mendengar Arthur dan Reykell bertengkar dan membahas soal menjadi pasangan Yuna. Sejauh ini Reykell terlihat seperti bercanda dan sengaja menggoda Arthur. Tapi kali ini tatapannya ke arah Yuna terlihat sangat serius.


"Apa yang kau katakan, jangan menggodaku. Kakak sedang tidak ada disini. Aku akan pergi mencari Alan dan Lyra terlebih dahulu" Yuna akhirnya melarikan diri. Sejujurnya ia merasa malu di tatap seperti itu oleh Reykell, detak jantungnya juga tak beraturan


"Yuna, kau kenapa? Detak jantung dan aliran mana mu tak beraturan" Yuna tiba-tiba mendengar suara Sylvie di kepala nya.


"*Diamlah Sylvie!!, jangan muncul jika tidak perlu"


"Tuan, anda tidak apa-apa? Detak jantung anda tidak beraturan" Kali ini Yukii yang bertanya


"Yukii, apakah kau dan Sylvie janjian untuk menggodaku?"


"Hah!? Apa maksud ada tuan? Seharian ini aku bahkan belum bertemu dengan Sylvie"


"Sudahlah lupakan saja, lanjutkan saja tidurmu" Yukii yang mendengar itu kemudian mengangguk dan melanjutkan rutinitas favoritnya yaitu tidur.


Yuna akhirnya menunggu sendiri di kereta, tak lama Lyra dan Alan akhirnya muncul. Di susul dengan Arthur terakhir adalah Reykell. Yuna berusaha mengabaikan keberadaan Reykell dan sibuk berbicara dengan Arthur. Reykell juga sadar bahwa Yuna menghindarinya ia juga tak memusingkan itu. Reykell sadar jika Yuna itu seperti kucing liar. Kita harus bisa mengakrabkan diri dulu baru bisa berdekatan dengannya.


Perjalanan mereka akhirnya di mulai. Mereka menggunakan 1 kereta kuda dimana Yuna dan Lyra yang mengisi kereta kuda itu. Sedangkan Reykell, Alan dan Arthur mereka masing-masing menunggangi kuda. Untuk prof. Ares ia akan menyusul karena saat ini ia masih di sibukkan dengan urusan akademi. Mereka yang pergi berlomba tidak di perbolehkan untuk membawa pelayan. Karena pihak akademi cratein hanya menyiapkan kamar untuk para peserta lomba. Pelayan tidak di perbolehkan memasuki akademi cratein. Inilah perbedaan akademi olimpus dan akademi cratein.


Karena itu Yuna menyuruh Yunyi untuk tetap tinggal di asrama, sedangkan untuk Yuzhu ia menyuruhnya untuk kembali ke ibukota untuk menyampaikan surat ke ayahnya. Sebenarnya itu hanya alasan agar Yuna tidak di kawal oleh Yuzhu. Karena bagaimanapun ia akan selalu bersama dengan Arthur, bahkan memilliki Yukii dan Sylvie.


"Kita sudah berjalan cukup lama, dan hari juga sudah mulai gelap. Kebetulan di depan sana ada sungai yang mengalir. Lebih baik kita menginap disini saja malam ini" Mereka akhirnya berhenti dan mendengarkan perkataan Reykell. Mereka mulai membagi pekerjaan masing-masing. Sebelum berangkat Yuna sebenarnya sudah menyiapkan makanan. Ia hanya perlu memanaskan mereka sebentar. Tentu saja alat sihir yang di buatnya sangat berguna disaat seperti ini. Yuna dan Lyra menyiapkan makan malam. Reykell dan Arthur membuat tenda sedangkan Alan mengambil air.


"Apakah itu alat sihir yang kalian buat sebelumnya?" Arthur yang telah selesai membuat tenda duduk di sebelah Yuna yang sibuk memanaskan makanan


"Benar, kami membuat 2 alat ini sebelumnya, sebenarnya bukan membuat sih kami hanya menyelesaikannya. Semua nya sudah ada di jurnal yang diberikan oleh ketua" Yuna akhirnya memutuskan untuk memanggil Reykell dengan sebutan ketua.


"Sudah kuduga alat sihir ini sungguh berguna. Tapi apakah ini sudah didaftarkan di lembaga hak cipta?"


"Sebenarnya belum, tapi karena ini baru saja dibuat anggap saja kita menggunakannya saat ini untuk di uji coba, jadi aku tak melanggar aturan kan?


"Iya terserah kau saja" Arthur mengelus lembut kepala adiknya. Saat sedang mengelus kepala Yuna, Arthur merasakan tatapan tajam ke arahnya


"Kau kenapa?" Arthur menatap dingin ke arah Reykell


"Aku juga ingin mengelus kepala nya seperti itu"


"Kau punya adik sendiri, elus lah kepala adikmu itu"


"Tapi adikku tidak secantik dan semanis adikmu"


"Aku tak peduli, jika kau berani menyentuh adikku akan ku patahkan tanganmu itu"


"Wah kau sungguh berani memperlakukan putra mahkota seperti ini Art. Padahal aku adalah calon adik ipar mu tapi kau selalu memberikan tatapan dingin ke arahku" Yuna menatap datar ke arah mereka berdua, ini adalah rutinitas Reykell dan Arthur selama mereka memiliki waktu untuk beristirahat.


"Yuna, kau jangan sekali-kali mau di dekati olehnya, ingatlah dia itu iblis"


"Baik kakak" tak ingin memperpanjang masalah Yuna hanga mengangguk mengikuti perkataan kakaknya


"Baiklah makanan sudah siap. Ayo kita makan dulu" mereka berlima akhirnya makan bersama. Mereka juga banyak bertukar cerita selama makan. Saat itu suasana makan malam terlihat sangat harmonis.