I Don'T Want To Be The Protagonist

I Don'T Want To Be The Protagonist
14 | Berteman?



Yuna saat ini tengah berlari menuju kelasnya. Salahkan kakak yang mengajaknya bercerita tadi salahkan juga dirinya yang tak melihat waktu.


"Oke Yuna tenang, masih ada 1 menit lagi" Yuna akhirnya melihat pintu kelasnya, saat akan masuk tiba-tiba Prof. James juga muncul di depan kelas.


"Yuna de Windford, terlambat 1 detik" kata prof. James sambil melihat jam saku nya


"Prof. James maaf, bisakah anda membiarkan ku hari ini? Lagipula aku hanya terlambat 1 detik"


"Tidak bisa, aku sudah mengatakannya kemarin aku paling benci orang yang terlambat, sekarang kau bisa menunggu diluar dan jangan masuk sampai jam pelajaranku selesai" setelah mengatakan itu Prof. James menutup pintu kelas menggunakan sihirnya


Aku juga tidak memohon lagi, bagaimanapun aku pasti tidak akan di beri kemudahan, prof. James tidak menyukai ku, bahkan jika aku menangis darah pun ia tak akan mengizinkan ku untuk masuk kelasnya.


"Aku akan meminjam catatan teman sekalas saja nanti" walaupun aku tak menyukai prof. James, tapi pelajaran ramuan sihir termasuk sangat penting apalagi untuk siswa tingkat 1 sepertiku.


2 jam aku berdiri di depan pintu, Yuzhu beberapa kali menyuruhku untuk istirahat dan kembali saja ke kamar, tapi aku tak mau, bagaimanapun ini adalah kesalahanku sendiri, aku harus menanggung akibatnya. Jika aku kembali ke asrama, jangan sampai prof. James semakin membenciku. Bel pergantian jam pelajaran pun berbunyi, aku mengintip ke dalam kelas melihat apakah prof. James masih ada atau tidak, setelah memastikan ia tak ada aku akhirnya membuka pintu dan masuk ke dalam kelas


"Yuna kau membuat masalah besar pagi ini"


"Iya aku tahu, bisakah kau meminjamkan ku catatan hari ini?" Orang yang mengajakku berbicara adalah Andreas, ia adalah orang yang mengajakku berkenalan kemarin, dia rakyat biasa yang saat ini mendapatkan peringkat 5 di kelas kami.


Andreas kemudian memberikan ku buku catatannya, aku mencatat semua nya terlebih dahulu kemudian menanyakan hal yang tidak ku mengerti pada Andreas. Untung saja Andreas termasuk murid yang rajin dan catatannya mudah di mengerti. Aku sangat berterima kasih padanya saat ini


"Ohya Yuna, kau sudah tahu ingin mendaftar ke klub apa?" mendengar pertanyaan Andreas membuat ku mengingat kembali alasanku terlambat masuk kelas hari ini


"Aku ingin mendaftar ke klub penelitian alat sihir"


"Wah itu klub yang cukup sulit untuk di masuki, kudengar tes masuknya sangat sulit. Dan kudengar putra mahkota ingin membuat alat sihir yang tidak masuk akal"


"Dari mana kau mendengar info itu?"


"Dari senior tingkat 2 yang keluar dari klub penelitian alat sihir"


"Wah senior itu benar-benar menyebarkan banyak rumor, setidaknya jika kau keluar jangan sampai kau membuat rumor buruk"


"aku tak peduli, aku tetap akan mencoba masuk ke klub itu. Lagipula aku tahu alat yang ingin di ciptakan putra mahkota, dan kurasa alat itu sangat berguna"


"Memang alat sihir apa yang ingin di buatnya?"


"Pintu kemana saja"


"Pintu kenana saja?"


"Iya, ini pintu yang membuat kita bisa pergi ke lokasi apapun tanpa memerlukan banyak sihir"


"Wah itu luar biasa!" tiba-tiba pangeran Alan muncul


"Pangeran Alan" aku dan Andreas kaget karna Alan yang tiba-tiba muncul, kami secara spontan memberikan salam padanya


"Tidak usah memberikan salam, kalian bisa memanggilku Alan" aku sejujurnya agak tidak nyaman berdekatan dengan Alan, mengingat ia yang jatuh cinta pada Yuna di novel pada saat ia memiliki tunangan membuat ku merasa Alan hampir seperti bajingan?


"Iya, aku akan mendaftar ke klub itu"


"Wah kebetulan aku dan Lyra juga akan mendaftar klub itu, awalnya aku mendaftar karna kakak ku ada di klub itu ternyata mereka mengerjakan hal yang menarik. Jika kita berhasil menciptakan alat sihir seperti itu kita bisa dengan mudah bolak balik rumah dan akademi tanpa harus melewati portal" aku mengangguk semangat menanggapi perkataan Alan.


"Astaga apa yang kulakukan, aku terlalu bersemangat mendengar perkataan Alan" aku melihat ke arah Lyra dan disana Lyra hanya tersenyum tipis melihatku.


"Oke ayo menjauh dari pemeran utama pria, jangan sampai antagonis cantik kita menganggapku sebagai musuhnya"


"Ohya Andreas kau sendiri ingin masuk klub apa" aku buru-buru mencari pembahasan lain


"Oh aku ingin ke klub Ramuan Sihir"


"Pembina klub itu siapa?"


"Prof. James"


"Wah mendengar namanya saja sudah membuatku tak ingin masuk ke klub itu"


"Haha benar juga, prof. James sangat tidak menyukaimu, apakah kalian ingat kemarin hanya Yuna saja yang di tanya-tanya" Alan tertawa sambil mengingat bagaimana Prof. James bertanya apapun padaku kemarin


"Tapi hari ini karna Yuna tak masuk kau kan yang ditanyai oleh prof. James. Kurasa kalian sangat mirip dalam hal kesialan"


"Andreas tolong berhenti menyamakan diriku dengan Alan, apakah kau tak melihat ada tunangannya di sebelahnya" Saat aku melihat kesamping, aku baru menyadari dari tadi tiba-tiba mulai bercerita dan berkumpul dan secara alami membentuk kelompok beranggotakan 4 orang


"Ohya apakah kalian tidak ingin ke kantin bersama, kurasa kita berempat sangat cocok untuk berteman"


Aku rasanya ingin berteriak dan mengatakan tidak cocok, tapi akupun tak bisa tiba-tiba menunjukkan ketidaknyamananku kepada Lyra dan Alan. Karna kuliat Andreas sangat setuju dengan saran Alan, akupun akhirnya mengangguk pasrah dan mengikuti mereka menuju kantin.


Saat berjalan menuju kantin kami mendapatkan lumayan banyak perhatian, bagaimanapun Alan adalah pangeran aku anak seorang archduke dan lyra adalah anak duke, sangat mengherankan bagi mereka melihat kami dengan santai nya berjalan bersama Andreas yang anak rakyat biasa. Walaupun akademi olimpus telah menjadi akademi umum, masih sering terlihat para bangsawan yang tak ingin bergaul dengan rakyat biasa yang miskin dan tidak menguntungkan begitupun rakyat biasa yang tak ingin bergaul dengan para bangsawan sombong.


"Wah ini pertama kalinya aku menjadi pusat perhatian" Andreas berkata sambil duduk di kursi


"Abaikan saja, kau akan terbiasa menjadi pusat perhatian karna berteman denganku yang tampan ini" Aku sungguh tak mengira karakter Alan adalah karakter yang narsis seperti ini, di novel diceritakan ia cukup pendiam dan elegan. Aku sungguh tak menemukan bagian mana dalam diri Alan yang terlihat elegan


"Aku sebenarnya tak ingin sombong tapi aku juga cukup tampan" Andreas memasang wajah sok tampan nya yang aslinya terlihat biasa saja


"Aku juga sebenarnya ingin mengabaikan kalian berdua tapi kalian berdua bahkan tidak ada yang lebih tampan dari ayah dan kakakku" aku menatap datar ke arah Alan dan Andreas


"Aku setuju" Lyra yang dari tadi diam akhirnya berbicara


"Wah sungguh kalian para gadis sangat tahu bagaimana cara untuk membuat kita para pria ini kehilangan kepercayaan diri" Andreas memasang ekspresi sedih di wajahnya


"Sudahlah Andreas, kita memang tidak setampan tuan muda Arthur dan yang mulia Archduke" Alan menepuk pundak Andreas dan kemudian keduanya berpelukan satu sama lain


Melihat Alan dan Andreas seperti itu membuat ku dan Lyra tidak bisa menahan tawa, aku yang awalnya ingin menjauh dari Lyra dan Alan, merasa bahwa tidak buruk untuk kami berteman