
"Hahahah.. sebentar.... hahahah.....AHAHAHAHAHA!!!!" Fang berkata disela-sela tertawanya.
Fang yang tidak bisa berhenti tertawa keluar dari kediaman mizuki dan berjalan ke kediaman teratai merahnya. Bahkan ramai yang berpikir bahwa Putra mahkota gila setelah keluar dari kediaman teratai ungu.
"MI..SA..KI" ujar mizuki persuku kata melotot kearah misaki yang tertawa di sudut pintu.
"Baik, baik. Putri ini akan undur diri" ujar misaki menahan tawa. Mizuki dengan amarah yang udah sampai ubun-ubun terus mengamuk dan membaling bantal ke arah misaki tapi sayang sang empunya udah menghilang.
"ARGHHH!!!" para pelayan terkesiap mendengar raungan mizuki dan melihat bantal yang tiba-tiba keluar dari ruangan.
"Apa yang mulia putri mizuki mengamuk karna Putra mahkota tertawa lantang tadi" bisik pelayan A kepada Pelayan B
"mungkin, sejak kecil yang mulia tidak suka diledaki terutama kalau itu adalah putra mahkota" bisik pelayan B
"Emangnya kenapa?" tanya pelayan C menyela.
"Dasar kau pelayan baru, jangan tiba-tiba menyela" gerutu pelayan A. Pelayan C tersenyum canggung dan berkata "maaf, maaf. Cepat sambung cerita"
"Yang mulia sejak kecil tidak menyukai Putra mahkota. Dapat dikatakan bahwa keduanya ibarat Seperti anjing dan kucing. Tapi akhir-akhir ini, sifat pemarah yang mulia sedikit mereda. Ku rasa itu pasti kehadiran Putri ketiga. Kalau gak gimana kedua saudara ini bisa akur"
^^^Seperti anjing dan kucing : bertengkar setiap kali bertemu satu sama lain^^^
.
.
.
#Skip....
..._______________...
"Hahahaha" tawa misaki di kamarnya.
"Putri... putri, kalau Yang mulia Raja mengetahui anda meledaki putri kedua pasti anda akan ditambahi hukumannya" an qi mengeleng-geleng kepala.
Tersentak dengan perkataan an Qi, misaki berteriak cemas dan keluar dari kediamannya. Dibelakangnya, An Qi berteriak "PUTR-" tapi sayang misaki udah lama menghilang dari pandangan.
"Putri masih belum mandi lagi" gumam an qi canggung.
...________________...
Misaki masuk ke dalam aula disiplin. Di dalam aula, udah tersedia meja yang diatasnya terbentang kertas putih dan alat tulis. Misaki merasa lega karna semua peralatan menulis udah siap. Dia dengan tenang duduk di depan meja dan membuka buku peraturan untuk disalin.
"Huh... membosankan" gumam misaki menghela napas.
...lima menit kemudian......
"tanganku udah pengal" keluh misaki memijat pengelangan tangannya.
"Malas banget lanjutkan" batin misaki mengubah pose tubuhnya kepada membaring dan menutup mata.
"Putri ketiga, lagi malasaan yah" sindir seseorang.
"Bukan urusanmu" ujar misaki dingin sambil berbaring menyamping dengan tangan lurus.
"Eh?!" tersentak misaki membuka mata dan melihat seseorang yang sedang duduk di jendela.
"E..engkau..." misaki terkejut dan bangun dari berbaring. Misaki menatap sengit pada bocah yang duduk di jendela "Apa yang kau lakukan di sini!? "
Ditatap oleh tatapan sengit, Mu ruishen berpura-pura malu"Aiya~ jangan menatapku seperti itu dong"
Urat biru timbul di dahi misaki "bocah ini..." Tiba-tiba, muncul buku yang entah darimana datangnya hampir memukul wajah mu ruishen.
"Eh, putri kenapa menyerangku?" tanya polos mu ruishen menghindar lemparkan buku.
"KELUAR!!!" teriak misaki membaling buku yang berada di sekitarnya. Mu ruishen tersenyum enggan dan keluar "Baik-baik"
Misaki tiba-tiba tersandar dan bergumum "Ya ampun, aku kan udah 22 tahun, masa sih dengan seorang bocah saja aku udah kesal"
"Akhir-akhir ini keperibadian ku malah berubah semakin menyimpang"
"Aneh tapi nyata" sebuah kalimat yang tiba-tiba muncul di otak misaki
"Benar, aneh tapi nyata" misaki terkekeh. Misaki melihat keluar jendela dan berkata "Bagaimana keadaan alice dan ayah? "
...____________________...
Maaf kalo ada typo atau perkataan melayu
Like(Gratis)β₯οΈπ
Komen(kalau mau)π¬π΅
Vote(harus ikhlas)ππ