Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 41 ⌑ END



Justin menghela nafasnya, sebenarnya mau apalagi dia berani kesini. Justin pun keluar melihat Victor yang menunggu.


"Sungguhan kau ada disini" ujar Victor melihat Justin.


"Hei" Justin melempar barang bubuk pada Victor dan ditangkap dengan tangannya.


"Enyah saja kau" malas Justin menanggapi orang seperti itu.


Victor yang senang mendapat barang yang ia mau, dengan hidungnya ia mencium barang tersebut. Lalu pergi dari sana dengan senang.


"Hanya berikan begitu saja?" Tanya Cleo.


"Dia pencandu, dia tidak akan bertahan tanpa barang itu" tutur Justin yang masuk kembali.


"Benar juga" angguk Cleo.


Mereka berjalan beriringan, ada yang membuat Cleo penasaran.


"Bos pernah menggunakan nya?" Tanya Cleo.


"Ya.. Waktu operasi" terang Justin.


"Bukan yang itu" ujar Cleo.


"Tidak lah, Aku pebisnis, kalau kau jual rokok apa kau juga harus merokok justru orang seperti itu lah yang membuat cepat kaya raya" terang Justin membantah.


"Bedakan itu, Aku pebisnis" tekankan kata tersebut pada Cleo.


"Ya.. Aku paham" jawab Cleo.


Justin tiba diruangan nya, dan berbalik melihat Cleo.


"Aku.. Sudah berpikir sejak lama.. Kurasa aku.."


...


Dirumah hanya kesendirian lagi keseharian Vivian masih sama, hanya berjuang terus hidup, sudah berbulan-bulan lamanya. Belum ada kabar lagi tentang Justin.


Perut Vivian makin membuncit disaat usia kandungannya semakin membesar 6 bulan jalan ke 7. Sungguh memang ia agak sulit menjalani hari biasanya karena perutnya.


"Hanya bersih-bersih aku sudah keringatan" tak percaya Vivian ia merasa lelah.


Bulan terus berlanjut, Justin belum datang, tapi sekarang bukan itu lagi dipikiran Vivian, ia termenung sambil mengelus perut buncitnya didekat jendela.


"Aku akan membesarkan mu sendiri" monolog Vivian.


Tepat saat bulan ini, Vivian masuk rumah sakit untuk melahirkan, setelah berjam-jam operasi anak laki-laki telah lahir.


Bahkan setelah pemulihan dirumah sakit tak hanya sekali perawat atau dokter menanyakan ayah nya.


"Infus saya akan lepas karena anda sudah pulih begitu juga bayi nya juga sehat" terang salah satu suster.


"Ya.. Terimakasih" ujar Vivian.


"Seperti nya ayah nya belum datang, tadi bukan nya kemari? " Tanya suster tersebut.


"Oh.. Dia bukan ayah nya, dia pengacara. Ayah nya sedang perjalanan bisnis" jawab Vivian yang mulai risih dengan pertanyaan itu.


Tak lama dua hari kemudian ia pun bisa pergi dari rumah sakit dan pulang ke rumahnya yang berada di hutan.


Karena Vivian telah menyiapkan kasur untuk bayinya, dulu ada ruangan yang penuh perkakasnya namun kini diubah menjadi kamar baby.



"Namamu.. Hmm.. Siapa yaa.." Bingung Vivian ia baru teringat kalau anak nya belum diberi nama.


"Julian.. Kau suka? Aku harap" bicara asal Vivian pada bayi yang belum mengerti namun pasti selalu mendengar. Melihat anak nya memang mirip Justin.


"Aku.. Mengandungnya lama.. Kenapa wajahnya mirip sekali dengan ayah nya" diantara senang dan gemas karena wajah nya sangat mirip dengan Justin.


...


Di tempat lain Justin menerima foto dari anak buahnya tentu untuk melihat Vivian. Ia terkejut ketika melihat foto tersebut karena Vivian terlihat sedang menggendong bayi.


"Apa ini? Bayi siapa?" Lagi Justin memastikan matanya, karena ia sibuk baru mengecek info terbaru yang dikirim oleh anak buahnya. Justin dengan cepat menelfon anak buahnya yang baru mengirimkan foto tersebut.


"Apa ini?"


"Anda belum membaca pesan saya? Vivian sehabis melahirkan sekitar sebulan yang lalu" terang anak buahnya.


"Kenapa tidak memberi tahu laporan ini dengan cepat?!" Kesal Justin.


"Aku sudah menghubungi anda, dan anda bilang sibuk" jawab anak buahnya.


"Ahhh" Justin memijit kening nya, ya dia mengatakan itu pada anak buahnya, sungguh ia menyesalinya sekarang.


"Siapa ayahnya?" Tanya Justin yang rasanya belum siap mendengar.


"Itu saya belum mengetahui nya, tapi pengacara James sering datang dan membantu Nyonya" terang anak buahnya.


"Ya.. Kututup" Justin menutup panggilan tersebut ia merutuki semuanya.


Seharusnya dia tidak meninggalkan Vivian, Justin memejamkan matanya lalu meremas perut bagian kiri terdapat luka disana yang belum diobati sehingga darah itu mengalir dikulit putihnya.


Justin bangkit dari duduknya, dan berjalan mengambil tasnya dan memasukkan beberapa bajunya tak lupa payung berwarna pink itu ada ditangan nya.


"Boss.. Apa yang anda lakukan?" Tanya Cleo.


"Aku ingin hentikan bisnis ini, kuserahkan padamu. Aku tidak lagi terlibat, Aku sudah membuang waktu ku sia-sia" jawab Justin yang siap berangkat.


"Bos. Anda sungguh-sungguh akan pensiun?" Tanya lagi Cleo mengingat perkataan Justin waktu itu.


"Ya..Aku pergi, jika Chris bertanya.. Aku pulang dan jangan cari Aku" ucap Justin lalu pergi dari sana.


...


Di pesawat Justin memandang foto tersebut diponselnya, pikiran tentang Vivian dan bayi itu terus mengusik pikirannya.


Ponselnya bergetar tanda telfon masuk yaitu dari Lucas.


"Ada apa?" To the point Justin.


"Kau sudah pulang rupanya.. Kenapa lama sekali sadar nya. Istrimu selalu menunggumu" terang Lucas.


"Ya karena itu Aku pulang dan tidak lagi mendekati bisnis itu" balas Justin sambil keluar dari bandara.


"Bagus.. Kau bisa pensiun lebih dulu daripada Aku" jawab Lucas.


"Kau juga.. Berhentilah sebelum terlambat, sekarang Aku terlalu lelah dikehidupan itu" ujar Justin.


"Entahlah.." Jawab Lucas namun ternyata didepan pintu ada Lucas yang sedang berdiri saat mata mereka bertemu Lucas menggidikkan bahunya. Justin pun menghampiri Lucas yang memang sedang menunggu.


Lucas mengantar Justin ke tempat hutan Vivian, setelah tiga jam lamanya berhenti dipinggir jalan dekat hutan.


Namun bukannya turun Justin terdiam, ia masih belum siap, padahal langit hampir gelap ditambah awan pun tidak bersahabat.


"Temui dia, dan minta maaf padanya" tutur Lucas.


"Kau tidak ikut? Setidaknya bantu Aku menjelaskan" ajak Justin.


"Hm.. Aku hari ini ada urusan, kau duluan saja" pungkas Lucas.


Justin masih enggan pergi, sampai Lucas menghela nafasnya.


"Belum dengar dari Vivian?" Tanya Lucas.


"Apa nya?" Tanya balik Justin.


"Kau pasti tahu, dia baru saja melahirkan, bukankah itu alasanmu kembali?. Temui sana keponakan ku" terang Lucas terpaksa memberikan clue pada Justin.


"Keponakan?" Ulang Justin.


"Pergilah.. Temui dia" usir Lucas.


Justin melihat pintu masuk hutan, dan hujan pun turun, hari semakin gelap, tidak memakai payung Justin menerjang hujan untuk masuk ke hutan.


"Semoga saja aku tidak lupa jalan nya" Rutuk Justin yang memakai hoodie yang telah basah.


Kepeleset, licin, dan pandangan kabur karena air hujan Justin lewati, perutnya yang robek pun belum juga diobati malah semakin merembes darah segar tersebut.


"Ahh.. Ini bisa jadi masalah, semoga saja tidak bertemu beruang, serigala semacam nya" ucap Justin yang terus melangkah.


Diperjalanan itu ia melihat bunga yang berjejer seperti penunjuk arah, Justin mengikuti nya sampai ujung dan benar ia tidak tersesat didepannya sudah menemukan rumah Vivian yang terasa hangat karena lampu dinyalakan.


Didalam rumah Vivian mendengar suara ketukan pintu, ia berpikir siapa yang mengetuk, karena ini sudah hampir malam.


Dia membuka pintu tersebut, terlihatlah Justin yang basah kuyup, Vivian melihat tak percaya bahkan menutup mulutnya.


"Aku datang terlambat.. Maaf" ucap Justin bibirnya bergetar karena kedinginan.


Justin masuk dari ujung hoodie terlihat air yang menetes terus menerus. Ia melihat sekeliling rumah yang nampak berbeda namun suasana nya tetap hangat.


"Cepat, bilas dengan air hangat" tutur Vivian.


"Ehm" angguk Justin baru ingin berjalan ia merasa luka nya berdenyut.


"Kenapa? Kau luka?" Tanya Vivian yang tanpa permisi menyibak hoodie Justin terlihat luka yang sama sekali tidak diobati, bahkan masih ada luka baru mengering.


"Aku baik-"


"Apanya yang baik?" Sela Vivian.


Setelah habis mandi, Justin mengalah Vivian mengobati dengan serius.


"Bagaimana bisa kau menahannya?" Ucap pelan Vivian sambil menjahit perut robek Justin.


Selesai diobati, Vivian merapihkan isi kotak kesehatan sembari Justin memakai kaosnya.


"Kalau terluka lagi" nada peringatan pada Justin yang tak berani lihat wajah Vivian.


"Datang lah kesini" lanjut nya yang membuat Justin menoleh.


"Aku merindukan mu" ucap Justin tiba-tiba.


"Maaf aku tidak menemani mu disaat kau membutuhkan ku" lanjut Justin nada menyesal.


"Iya.. Aku mencoba memaafkanmu" jawab Vivian ia melakukan itu karena anaknya.


"Anaknya sedang tidur" ucap Vivian.


"Aku mau melihatnya" jawab Justin.


Kehangatan mimpi itu terwujud bagi Vivian, melihat anak nya digendong dengan ayah kandungnya.


"Julian.. Namanya" ungkap Vivian.


"Nama yang bagus" jawab Justin melihat bayi mungil berada di tangan nya yang sedang tertidur pulas. Justin menaruh kembali anaknya di keranjang bayi.


"Aku.. Tidak akan pergi lagi, Aku tetap berada disisi mu" ungkap Justin.


"Kau bisa berada terus disamping anakmu?" Tanya Vivian dan diangguk oleh Justin.


"Aku pensiun dari barang itu, jangan khawatir Aku memang pebisnis, pabrik wine ku tetap berjalan" terang Justin.


"Iya.. Jangan lagi jadi bandar" ujar Vivian.


Dari sana melihat kebahagiaan itu tercipta, keluarga kecilnya kini lengkap, cinta Vivian bertahan karena Julian dan menerima apapun itu.


Moment keesokkan nya Lucas datang membawa hadiah untuk keponakan barunya itu, ia sangat senang melihat bayi mungil tersebut. Anak laki-laki nya akan tumbuh di hutan yang asri seperti alam.


Kebahagiaan itu berlangsung lama karena anak adalah kebahagiaan nya kini. Suaminya memang bandar yang menggoda.


...END...