
Pikiran Vivian sungguh kalut, Vera mendapatkan kelemahan lain dari Vivian.
"Jangan sentuh, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini" balas Vivian.
"Tentu saja, mereka akan baik-baik saja ketika kau menuruti perkataanku" ucap Vera.
Vivian menahan amarahnya padahal dirinya sudah siap yang akan menghadiri acara pernikahan nya. Ia menggigit bibir nya berusaha tenang meski kakinya sungguh tengah gemetar.
Yang dimaksud anak-anak adalah panti asuhan dulu yang pernah Vivian tinggal di sana, namun dua tahun yang lalu Vivian memindahkan panti asuhan ditempat lain yang lebih bagus bahkan mengganti nama panti, dan melakukan pengosongan gedung serta cabut berkas yang ada disana. Bahkan Vivian sendiri yang membakar semua data lama tersebut.
"Aku harus melakukan apa?" Dingin Vivian dengan tatapan tajamnya yang telah lama berpikir.
"Atas Bidet ada pistol.. Pakai, carilah cara untuk keluar dari rumah itu" jelas Vera.
Vivian langsung memeriksanya dan benar terdapat sebuah pistol disana, ia pun mengambilnya.
"Siapa yang harus kubunuh?" Wanti-wanti Vivian bertanya.
"Siapa pun yang menghalangi mu pergi, termasuk pengantin pria sekalipun. Selesaikan dengan cara mu, dan bawa kalungnya padaku" singkat Vera lalu sambungan nya dimatikan.
Vivian membuang earphones ke dalam toilet, dengan sambil memegang pistol tersebut.
"Pengantin perempuan.. Sudah waktunya" panggil seorang wanita dari luar.
"Iya.." Jawab Vivian dari dalam kamar mandi.
Lalu ia pun memeriksa isi pistol tersebut dan memasukkan beberapa peluru didalamnya lalu dipasangkan dipaha kanan nya dengan erat dan tidak terlihat karena gaun.
Wajahnya dingin ketika dipantulan cermin, namun saat keluar seketika memasang raut wajah dengan senyumnya.
Acara pernikahan segera dimulai, dengan buket bunga ditangan Vivian serta senyuman cerah dari bibirnya.
Diujung altar sudah ada Justin yang menunggu nya dengan pakaian tuxedo nya tidak lupa dengan senyum selalu menghiasi bibirnya.
Satu langkah menuju altar, Vivian berusaha tidak gugup, meski isi pikirannya dipenuhi rencana yang akan melukai pasangan nya yang sebentar lagi akan mengikat janji dengan nya.
Hanya satu jam berlalu meninggalkan mereka dialtar hanya berdua.
"Ini sungguh tulus mengatakannya, aku mencintai mu.. Aku ingin bahagia seperti orang lain, sejak ku bertemu aku baru tahu.. Kau selalu mengutamakan diriku, itu membuatku merasa spesial, Terima kasih. Aku juga tidak ingin menghilang begitu saja, membuatmu terluka lagi" ucap Vivian diakhir kalimat nadanya terasa sedih lalu ia berjalan mundur menjauh dari Justin.
"Apa arti ucapanmu?" Ucap Justin yang mengkerut kan keningnya.
"Jangan maafkan aku" singkat Vivian lalu mengeluarkan pistol dari balik gaun nya. Dan mengarahkan ke Justin.
DOR
Suara nyaring terdengar ditelinga siapapun, itu terjadi begitu cepat, semua perhatian tertuju oleh Justin yang terhuyung sambil memegang perutnya yang terluka, mata nya tertuju Vivian yang pergi begitu saja, menahan sakit diperutnya mata Justin memerah air matanya memenuhi pelupuk nya, nafasnya putus-putus menahan sakit luar biasa.
Tatapan sedih Vivian melepaskan sepatu hills nya dengan berat hati Vivian berjalan menjauh meninggalkan sepatu wedding nya yang terlihat menyedihkan.
Tubuh Justin rubuh tergeletak telentang melihat nanar sepatu putih yang ditinggalkan pemiliknya, matanya memerah menahan air matanya, perasaan campur aduk, sakit diperutnya tidak sebanding dengan hatinya.
Penjaga yang melihat Vivian kabur mereka mengejar sekitar lima orang, karena menghalangi jalan keluar Vivian ia pun melayangkan tembakan lagi namun bukan diperut melainkan di kaki.
DOR.. SUUK
DOR. DOR. DOR. DOR
Lima tembakan dilontarkan namun yang terakhir meleset, meski begitu Vivian berhasil kabur dari kejaran penjaga Justin.
Sampai pada dinding tinggi yang dirambat oleh akar pohon, Vivian merobek gaun wedding mahal nya dengan mudah.
SREKKKK.. SREK
Dan memanjat dinding dengan hati-hati tak perduli meski kaki nya mulai berdarah dan tangannya juga terluka. Ia sudah diatas dinding yang tingginya dua meter, ia pun melompat dan berguling ke tanah.
Berlari sekuat tenaga ke arah hutan dengan kaki telanjangnya tapi air matanya juga tidak bisa dihentikan, ia berlari sambil berderai air mata.
Beberapa penjaga Justin juga mengejar nya, Vivian sudah lama tinggal di hutan yang pasti sudah hapal betul area hutan, ia berlari dengan zigzag agar mereka tidak dapat mengejarnya.
***
Di tempat Vera ia keluar dari mobil Van ingin menjemput Vivian, namun ada sebuah mobil datang.
Itu adalah Chris dengan setelan jasnya keluar dengan percaya diri.
"Mau kemana?" Tanya Chris sambil mengunyah permen karet.
"Kenapa kau ada disini?" Sinis Vera.
Namun Chris hanya tersenyum nakal penuh arti sambil mengunyah permen karetnya.
"Adikmu hari ini menikah, dia pasti kecewa karena kakak nya tidak datang" ujar Chris.
"Mau apa? Kau tidak akan datang sekedar menyapa" balas sinis Vera.
"Apa itu berjalan lancar?" Singgung Chris.
"Apa?" Vera mengkerut kan keningnya dengan wajah sinis.
"Síàlån bagaimana kau tau? Ishh.. Ros" umpat Vera yang dimaksud adalah Vivian.
"Ros adalah nama yang diberikan oleh ayahmu, Vivian nama dari lahir. Aku tahu segalanya. Bagaimana masih mau aku bicara lagi? " smirk Chris.
Akhirnya Vera duduk didalam mobil Chris, meski Vera enggan.
"Vivian yang memberitahu? Cih, dia itu sudah menipumu" receh Vera.
"Itu akan tahu ketika kau menemukan tempat rahasia nya" ucap Chris.
"Dia menipuku membawakan kalung palsu, dan dia ingin hidup normal, wanita sîàlãn itu harus membayar setara dengan hidupnya" setiap kata Vera tekankan.
Chris juga cukup tercengang karena pasalnya Vivian bilang jika Vera sudah mendapatkan kalung nya, mana yang harus ia percaya.
"Jadi.. Jika Vivian tidak bisa terlepas dari Justin mungkin dia sudah mati" terang Chris.
"Kalau kau ingin merayu untuk bekerja sama, aku menolaknya" tolak Vera yang ingin membuka pintu mobil.
"Kau yakin? Tidak ingin dengar lebih? Ini tentang ayah kalian" singgung lagi Chris.
Vera yang tadinya ingin pergi tidak jadi dan menoleh ke Chris.
"Jika tidak penting, ku pastikan kau akan mati" menegaskan perkataannya.
Chris mendecih melihat kelakuan sama persis dengan Vivian.
"Ayah kalian Mateo telah mengirimkan pembunuh ke ayah Justin, Tuan Leo" mengeluarkan map dan memberikan pada Vera.
"Aku menemukan ini karena menggeledah salah satu geng, yang membuat rusuh, dia punya data lengkap, kenapa? Pembunuhnya adalah mantan tentara dan selalu punya bukti antara pelanggan nya karena mereka bekerja untuk uang" jelas Chris.
Vera melihat foto tersebut bahkan ada rekaman suara, yang ia dengar jelas adalah suara ayahnya dengan si pembubuh sedang memberikan perintah.
"Kau punya ini? Kenapa kau memberitahu padaku? Kenapa tidak pada Justin?" Tanya Vera.
"Kau bisa gunakan itu untuk lari. Oh iya pembunuhnya sekarang dia diPenjara. Di italy" ejek Chris. Vera hanya bisa diam.
"Justin akan membunuh Vivian jika tahu ini, ayah nya adalah pembunuh ayahku, story nya sangat bagus" lagi Chris hanya mengejek menikmati keseruan perang dingin.
"Akan ku hubungi jika ruang rahasianya sudah ketemu" pungkas Vera karena ia belum tahu Vivian berhasil apa belum untuk keluar dari rumah Justin.
"Hmm.. Kau pikir aku bodoh? Akan kukirim anak buah ku untuk membantu kerja sama, mereka sangat profesional" senyum Chris.
Vera memutar bola matanya malas.
"Tapi.. Kenapa ayahku membunuh Tuan Leo? Apa ada alasannya?" Tanya Vera.
"Tentu saja, aku tidak sengaja mendengar dari sekertaris ayah kalian saat itu aku sedang berkunjung kesana. Kalau Tuan Leo juga ikut membantu membuatkan ruang rahasia milik ayah kalian. Saat itu Tuan Leo mencuri kalung diamond mahal itu, sejak itu hubungan mereka agak renggang, tak lama kudengar Tuan Leo meninggal" terang Chris itu yang ia dengar dulu.
"Kalau begitu pastikan dia tidak mengecewakan" dingin Vera yang langsung keluar dari mobil dengan membawa map.
Mobil Chris pergi Vera hanya melihatnya dengan sinis dan ia meninggalkan anak buahnya yang ikut membantu.