Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 29 ⌑



Mereka saling menyalahkan satu sama lain, sedangkan Vivian yang menonton dengan Cleo.


"Bukannya kita harus memisahkan mereka" cicit Vivian.


Justin yang kembali dengan kotak p3k ditangannya melihat mereka saling menodongkan senjata.


"Kalian sungguh akan terus begini? Jangan sampai benda itu melubangi pesawatku, kalau kalian tidak punya parasut" peringat Justin pada mereka.


Vera memutar bola matanya malas mendengar ocehan Justin, lalu menggeser tangan nya ke arah Justin. Vivian langsung bangkit melihat itu.


"Bagaimana aku bisa tenang? Kalian meremehkan ku, aku membuang waktu, tenaga kalau tidak ada hasilnya aku yang akan melubangi kepalamu" ancam Vera.


Vivian berdiri didepan Justin menghalau arah pistol tersebut.


"Berhenti lah, pria ini tidak ada hubungannya dengan rencanamu, kau hanya butuh aku untuk membukanya" dingin Vivian menghadapi Vera.


"Karena itu aku semakin kesal, semuanya meremehkan ku, kalau tidak berjalan lancar kau gantikan dia" ucap Vera sekaligus ancaman untuk Vivian ia menurunkan tangannya.


"Baiklah" jawab Vivian lalu kembali duduk ke bangkunya.


Kenapa dia harus mengatakan itu, berkali-kali untuk melindungi nya. Justin duduk.


"Kenapa kau iyakan? Aku bahkan mampu untuk melindungimu, kenapa kau terus mencoba melindungi ku?" Protes Justin.


Vivian terdiam cukup lama berfikir.


"Karena aku mencintaimu. Aku tidak bisa lagi melihatmu terluka karna ku, seperti tadi menghadapi bahaya karna ku" jawab Vivian.


Tak menjawab Justin berjongkok, lalu melihat luka dikaki Vivian, ia pun menggunting celana Jeans Vivian agar bisa mengobati lukanya.


"Aku juga begitu. Karena aku mencintaimu. Sebab itu aku bisa melindungi mu se-bahaya apapun" pungkas Justin fokus sambil mengolesi betadine ke luka Vivian.


Mereka terdiam, Justin hanya fokus mengobati luka di kaki Vivian, sedangkan Vivian hanya diam memperhatikan Justin.


"Kalau dipikir-pikir kau bisa tahu keberadaan ku. Karena ini kan" unjuk tangan kiri Vivian yang terdapat cincin pernikahan dari Justin.


"Kau tahu rupanya" jawab Justin tidak kaget sambil membuka salep luka untuk wajah.


Dengan jari telunjuk Justin mengolesi salep dipipi Vivian yang tergores serta sudut bibir yang luka.


"Kau selalu memberikanku barang pasti ada tujuan, aku iseng menscan dengan ponselku, ternyata GPS kau taruh disini" terang Vivian melihat cincin dijemari nya.


"Sebab itu kau membawanya ke mana-mana, agar aku bisa menemukanmu, begitu??" Tanya Justin yang masih mengolesi luka diwajah Vivian dengan lembut.


"Kau menemukan jawaban nya" senyum Vivian.


Cleo yang menghela nafasnya.


"Maaf nih ya.. Mengganggu Lovey Dovey kalian.. Apa kau punya rencana? Kita sedang dalam penculikan di pesawat sendiri" gubris Cleo.


"Entahlah.. Belum ada yang terpikirkan olehku" pungkas Justin dengan enteng.


"Belum ada?" Tak semangat Cleo.


"Untuk sekarang, cobalah untuk menawarkan kontrak, kontrak akan sangat penting tidak bisa diganggu gugat" usul Vivian.


"Tidak buruk" pungkas Cleo.


Justin pun menoleh ke belakang dan berdiri menghampiri tempat mereka.


"Perjalanan masih panjang, tanda tangani kontrak" usul Justin dengan mulus.


"Kontrak? Itu rencana Mafia.. Kontrak, coba kita dengarkan" remeh Chris.


"Sebagai ketua, aku mau setelah selesai kau melepaskan kami, jangan lagi ganggu kami" terang Justin.


"Stop, kami??" Cicit Vera.


"Iya, kami! Aku dengan Vivian dan orang-orang ku, lagipula Vivian adalah istriku" ucap Justin.


"Itu kontrak yang kau buat, tapi urusanku dengan wanita itu belum selesai" tutur Vera.


"Aku dengan nya sudah satu set, seperti pizza dengan cola. Dia istriku" bela Justin.


"Itu kontrak sekarang, aku punya lain kontrak dengannya sebelum kalian menikah, jadi kontrak masih berlaku"  balas Vera dengan santai.


"Tapi sekarang dia milikku, kau tidak pernah tahu, seorang istri harus patuh pada suaminya kelak ketika dia menikah" Ucap Justin yang menahan amarahnya.


"Baiklah.. Janjikan itu setelah kau dapatkan kuncinya, kau melepaskan mereka" sahut Vivian dari belakang.


Justin menoleh ke Vivian.


"Iya tapi tidak dengan mu, aku butuh pertanggungjawaban jika ada masalah aku tidak perlu mencari mu" pungkas Vera dengan enteng.


"Iya lakukan itu" jawab Vivian.


"Kau.. Kenapa memutuskan sendiri" Justin menghampiri.


"Sekarang tidak ada apa-apa yang kontrak itu" oceh Justin lagi sembari duduk.


"Ikut aku" bisik Vivian lalu bangkit dari duduk nya dan menuju kebelakang, Justin yang tak habis pikir pun mengikuti namun selang beberapa saat.


Disana ada kamar dan toilet, Vivian memasuki toilet yang lumayan agak luas. Ketika Justin sampai tidak ada dalam kamar ia memasuki toilet di dalam ada Vivian yang duduk di pinggiran bathtub.


"Disini aman, tidak ada penyadap" terang Vivian.


"Apa maksud mu? Kenapa penyadap ada dipesawatku??" Tanya Justin yang juga kaget karena jelas ini pesawat pribadinya.


"Dibawah meja aku menemukan penyadap" terang Vivian.


"Beraninya dipesawat ku" kesal Justin.


"Aku sudah pastikan di sini tidak ada" pungkas Vivian.


"Aku harus lebih hati-hati" pungkas Justin.


"Ada hal lain yang ingin kubicarakan, ini penting" ungkap Vivian.


"Apa itu??"


"Sebelum terbang ke New York, aku menerima misi lagi, untuk membunuhmu" Ungkap Vivian dengan wajah serius.


DENG


"Dari siapa kau terima misi itu?" Tanya Justin.


"Vera"


"Lalu kau mengiyakan nya?" Tanya Justin penasaran.


"Aku mengatakan tidak sanggup, tadi saat dimobil dia berniat untuk membunuhmu dengan bom" terang Vivian.


"Sebab itu dia sangat ambisi" pungkas Justin.


"Ayah ku menyuruh orang lain membunuh ayahmu, alasan nya karena brangkas, itu yang sedang dicari oleh Vera, aku punya satu lagi kunci nya" ungkap Vivian.


"Brangkas? Chris tahu itu, di dalamnya sangat banyak??" Tanya Justin.


"Banyak, dana kotor yang selalu ayahku kumpulkan" terang Vivian.


"Kalau sebanyak itu.. Chris bisa melakukan bisnisnya secara luas, bahkan bisa lebih besar" asumsi Justin.


"Apa berbahaya?" Tanya Vivian yang melipat tangan nya didepan dadanya.


"Tidak ada bisnis yang tidak berbahaya bagi mafia" ungkap Justin.


Chris yang masih duduk merasa curiga, kenapa mereka lama sekali, ia pun bangkit dan berjalan ke arah pintu belakang.


Didalam toilet mereka masih mengobrol.


"Bagaimana kita akan--"


"Untuk sekarang aku akan memberi yang mereka ingin" pungkas Vivian.


Chris membuka pintu kamar terlihat punggung Justin didepannya ada Vivian mereka sedang berpelukan mesra.


"Kau tidak perlu mengganggu ku seperti ini" celetuk Justin nadanya nampak kesal.


"Keluar setelah selesai" pungkas Chris.


Mereka melepaskan pelukannya dan saling bertatapan, Justin mengangguk dan dibalas kedipan mata lembut.


Kembali ke tempat duduk tidak lagi ada perselisihan.


"Oh iya.. Kau sudah menerima uangnya?" Singgung Vivian pada Justin.


"Kuterima, membuatku kaget, berkatmu anak buahku malu, dikalahkan olehmu" pungkas Justin sambil menulis sesuatu dibuku milik Vivian.


"Aku sudah mengatakan maaf padanya" sanggah Vivian.


"Tak apa, dia hanya malu" jawab Justin lalu memberikan buku itu pada Cleo.


Cleo pun membukanya, ia masih tidak mengerti apa maksudnya. Melihat tanda yang dilingkari dibuku.


Penyadap


'Penyadap? Mereka?' Batin Cleo yang melirik tempat duduk Chris dengan Vera.


Cleo bahkan bertukar tatapan atau sinyal dari Justin yang membenarkan yang ia tandai.


"Buku ini, bahasa nya sangat sulit aku sampai tidak mengerti" alesan Cleo menutup buku tersebut.


"Buku apa?" Gubris Chris yang melihat ke arah Cleo.


DENG