
Justin berjalan keluar dengan payung ditangannya, namun bukan dipakai malah memegangnya sampai menuju mobil, melihat Justin juga semakin menjauh, Vivian hanya menghela nafasnya pelan.
Vivian menutup pintu serta menguncinya, pikiran terus berfikir tidak baik, lalu mematikan lampu dan naik ke lantai 2 ia pun mencoba kembali tidur. Namun Vivian membaca buku sampai ia tertidur dengan sendiri nya.
Matahari mulai muncul, butiran-butiran air dari ujung dedaunan yang jatuh mengalir ke daun lain bersama embun pagi, cuaca yang sejuk menyelimuti hutan.
Vivian terbangun dengan mata lelahnya, ia menuju kamar mandi, setelahnya seperti kegiatan sebelumnya ia menyiapkan sarapan nya dengan kilat, sarapan dengan seadanya sayuran dan kopi.
Saat ia menyuap makanan nya dan mengunyah matanya melihat sekeliling rumahnya yang sekarang kenapa terasa sepi.
SUK
Reflek Vivian menusuk sosis dipiringnya, ternyata sosok Justin sudah sangat melekat disisinya.
"Pria jahat" umpat Vivian.
Tok Tok
Suara ketukan pintu tanda tamu datang, Vivian langsung menghampiri untuk membuka.
"Siapa ya??" Tanya Vivian melihat pria dengan membawa papan.
"Selamat pagi, Aku diutus oleh Boss, dan mengirim ini dan membantu untuk dipasangkan diruang tengah" terang pria tersebut memberikan papan yang terbungkus tersebut.
"Iya.. Terimakasih" Vivian menerima papan tersebut.
Ia pun bingung apa isi nya, saat dibuka ternyata adalah sebuah foto prewedding yang ukuran nya 90 centi yang cukup besar.
Pria tersebut pun memasang diruang tengah, tepat dibawah perapian photo prewedding itu dipasang.
Setelah itu ia pergi, Vivian tersenyum ternyata Justin menyiapkan foto ini membuatnya terkagum. Lalu terdengar suara seperti drone dari luar.
Karena penasaran apa itu Vivian pun keluar untuk memastikan, dan benar itu adalah drone yang membawa bunga.
"Selamat pagi.. Nona Vivian.. Aku pengantar bunga, semoga hari mu menyenangkan" suara dari drone tersebut membuat Vivian terkagum.
"Terimakasih" ucap Vivian sambil melihat drone itu pergi lagi.
...'Aku akan menemani hari-harimu dengan bunga'...
...'JS'...
Tau itu dari Justin yang mengirimkan nya, Vivian membawa masuk bunga tersebut dan menaruhnya dimeja makan.
"Cantiknya" puji Vivian dia terkagum kembali dengan suprise yang diberi Justin.
"Kapan dia memesan bunga? Memang nya sudah ada yang buka sepagi itu" Vivian menyentuh bunga tersebut.
...
Di tempat lain, Justin yang berada di pesawat sedang serius dengan tabletnya. Ia memakai pesawat bisnis class.
"Dia pasti sudah menerima hadiahku kan" monolog Justin melihat jam tangan nya.
Beberapa jam kemudian Justin sampai ia langsung menyalakan ponselnya. Namun tidak ada notifikasi pesan dari istrinya, karena ia terburu-buru Justin tidak mengirim pesan ke Vivian.
...
Hari Vivian dimulai kembali mencari makanan dihutan yang sudah lama ia rindukan, bahkan bermain di sungai yang dingin.
"Ahh.. Sejuknya" lenguh Vivian kaki nya bermain di sungai.
Mengingat pertama kali ia bertemu dengan Justin yang terluka meski tahu itu sudah dalam skenario nya. Namun ia sudah sangat mencintainya bahkan kini dia telah menjadi suaminya.
Di belakang Vivian dari tadi ada seseorang yang membuntuti dan mengawasinya.
Setelah puas main di sungai, Vivian kembali dengan mengambil buah yang ada untuk dibawa pulang.
Saat berjalan disela-sela pohon, seorang pria yang membuntuti Vivian tiba-tiba kehilangan nya, dan saat berbalik Vivian sudah ada disana.
"Oh!!" Kaget pria tersebut.
"Siapa kau? Kenapa mengikuti ku dari tadi??" Sinis Vivian wajahnya berubah galak.
"Aku disuruh Boss Justin untuk menjaga Nyonya. Maafkan saya" sesal pria tersebut.
"Aku tidak perlu dijaga, pulanglah.. Kau pasti lelah karena naik hutan ini" tak ambil pusing Vivian melepaskan pria tersebut lalu pergi dari sana.
Sesampainya dirumah padahal masih sore namun Vivian mengunci rumah nya dengan rapat.
...
Sebuah ruangan terdapat TV menyala, disana Victor sedang meminum wine melihat tayangan berita diTV.
"Sepertinya aku kenal barang itu" ucapnya melihat berita ada donasi besar yang tidak tahu siapa pemiliknya.
"Dulu, aku melihat porselen itu diruangan ayahku" pungkas Victor.
"Waahh.. Kira-kira berapa harganya" timpali anak buahnya.
"Cih, dia menyumbangkan nya, sangat menyebalkan" Victor hanya melihat berita tersebut dengan mata tajamnya.
...
Hari semakin berlalu bunga yang dikirim drone setiap pagi selalu datang menemani hari Vivian, namun sang pengirim yang ditunggu belum juga datang, hal itu tidak akan membuat Vivian bersedih.
Tamu tak terduga datang, mengetuk pintu, seorang dua wanita datang yang berpakaian mendaki namun salah satu wanita terluka.
Tanpa pikir panjang lagi Vivian pun menolong mereka dengan ramah, bahkan setelah selesai diobati Vivian menyediakan teh untuk mereka karena cuaca sudah mulai dingin.
"Untung saja, aku melihat rumah besar ini, kupikir ini kosong, aku melewati nya beberapa kali" ungkap wanita tersebut.
"Iya benar, aku pergi keluar negri sebentar, sebulan yang lalu aku baru datang" terang Vivian dengan senyum.
"Aku benar-benar Terima kasih, rumahmu sangat nyaman" ucap wanita yang terluka tersebut.
"Kau menjual herbal?" Tanya wanita tersebut.
"Tidak, aku tahu sedikit tentang tumbuhan herbal" angguk Vivian.
"Kau dokter rupanya" ceplos salah satu wanita yang hanya dibalas senyuman oleh Vivian.
"Membuka bisnis disini pun sangat bagus" ujar wanita itu.
"Aku sudah hubungi penjaga hutan, dalam 30 menit mereka akan datang, dan membawa anda turun" jelas Vivian setelah melihat ponselnya.
"Ya.. Terima kasih" tutur dua wanita tersebut.
...
2 bulan berlalu pengacara James datang dengan memakai pakaian mendaki ia tidak akan mungkin memakai jas untuk menuju hutan.
"Sudah lama tidak bertemu" ucap nya.
"Ya.. Bagaimana kabarmu?" Tanya Vivian sambil menyediakan teh hangat.
"Aku seperti biasa, ada hal lain yang perlu dibicarakan dengan anda" ungkap pengacara James.
"Apa?"
"Kemarin Justin menghubungi ku, bertanya keadaanmu, kenapa kau tidak membalas pesannya?" Tanya James.
"Begitu ya.. Aku. Sibuk" terang Vivian.
Vivian mendengus-dengus James didalam tas yang ia bawa.
"Apa kau.. Bawa ayam goreng?" Tanya Vivian mengetahui bau khas tersebut.
"Hidungmu benar-benar, nih" James mengeluarkan tiga box ayam berbumbu yang wangi nya langsung semerbak keluar.
"Oh my.. Chicken.. Sudah lama" Vivian terpana melihat warna ayam goreng tersebut, membayangkan tekstur crispy rasa asin dan manis menyatu.
Dengan garpu ia melahap ayam tersebut dengan senang.
"Sebegitu suka.. Kenapa memilih tinggal di hutan? Belilah apartemen bagus, dan makan-makanan enak" tutur James.
"Besok bawalah gurita.. Disini tidak ada laut, bawalah gurita" suruh Vivian sambil mengunyah ayam gorengnya.
"Gurita?"
"Kepiting juga enak, belilah, aku akan gantikan uangmu, aku malas untuk pergi keluar" ucap Vivian yang asik dengan makanan nya.
"Lantas apa sudah ada kabar, kalau Justin akan kembali?" Tanya James.
"Aku tidak tahu, orang itu bisa datang kapan saja, aku hanya berharap dia baik-baik saja" terang Vivian masih berusaha tersenyum.
"Seandainya Justin bekerja dengan wanita? Tahu sendiri kan pria seperti apa, anda tidak cemburu?" Tanya James.
Suk
Garpu Vivian menancapkan ke ayam goreng sambil melihat tajam James.
"Aku tahu, sangat paham, dia mafia sangat lihai dengan masalah itu, tapi itu memang sifat nya, sangat tergila-gila dengan wanita, menyebalkan" dingin Vivian.
"Itu apa? Kenapa banyak tanaman bunga?" Tunjuk James melihat ruang tamu Vivian banyak bunga.
"Hm.. Itu darinya.. Setiap pagi mengirimnya" terang Vivian melihat ruang tamunya.
"Sangat tak terduga.. Dia sangat romantis" ungkap James.