Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 33 ⌑



Diruang tamu mewah tersebut, Cleo sedang berjalan menuju lantai atas bersama Pengacara James dan Lucas.



Didalam kamar mereka mendengar orang yang akan masuk.


"Kau sembunyilah" perintah Justin.


"Kenapa aku harus lakukan itu?" Protes Chris.


"Cepat!" Perintah lagi Justin yang tidak teriak kencang.


Justin segera keluar dari kamar dan menutup pintu untuk menyambut mereka.


"Ada apa?" Tanya Justin.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Pengacara James.


"Yaa.. Kau bisa pulang dulu, nanti aku kabari kondisi terkininya, jika sudah sadar aku akan menghubungi mu" terang Justin yang masih berdiri diambang pintu.


"Lalu Lucas.. Kau tidak jalan-jalan? Busan? Atau Namsan?? Disini bagus" lanjut Justin menyuruh Lucas berlibur.


Mereka saling lihat lalu Lucas mengangguk setuju, Cleo pun mengantarkan Lucas pergi. Karena pengacara James ada kerjaan ia memutuskan untuk kembali ke kantor, dan malam nya ia akan kembali kesini untuk memeriksa keadaan Vivian.


Justin berjalan masuk ke kamar ia lega karena sudah mengusir mereka.


Didalam Chris termenung melihat Vivian yang masih terbaring, selang infus masih menancap kulitnya.


"Ini salahku, seharusnya aku tidak benar-benar menembak" ucap Chris.


"Iya.. Ini karenamu, dia juga kehilangan bayi nya" pungkas Justin.


"Bayi?" Ulang Chris setelah sadar ia terperangah tak percaya, dia lah juga membuat bayi itu tak bersalah.


Namun faktanya adalah peluru nyasar tersebut dari pistol yang dipakai Vera yang tak sengaja mengenai Vivian karena berusaha melindungi Justin. Chris menembak dengan sengaja meleset kan tembakan saat ditarik pelatuknya.


Karena jenis peluru yang dipakai Vera dan Chris sama jadi sulit dari mana peluru tersebut.


"Kapan dia bangun?" Tanya Chris.


"Tidak tahu, aku harus tetap mengawasinya" jawab Justin.


Chris mengeluarkan sesuatu dari coat nya yang ternyata itu kalung berlian sapphire blue yang dicuri oleh Vivian.


"Ini punyamu? Aku mencuri di pesawat" ungkap Chris lalu memberikan kalung itu pada Justin.


"Iya.. Rencana nya sungguh lancar" senyum Justin menerima kalung tersebut.


(Flashback On)


Jauh sebelum Justin bertemu Vivian mereka yang sedang merencanakan bisnis, dan disana ada Giselle wanita berdarah italia yang membantu bisnis mereka karena Justin dengan Chris mereka dekat.


Namun suatu hari bisnis tersebut tidak berjalan lancar seperti ada informasi yang bocor karena barangnya selalu disita bahkan sampai hilang itu saja sudah sangat merugikan. Disitu Chris curiga dengan Giselle yang selalu menghilang saat genting dan jika ditanya selalu tidak tahu, ternyata tidak hanya Chris menaruh curiga dengan Giselle tapi Justin juga.


Akhirnya mereka mengawasi Giselle tanpa diketahuinya, dan benar dia melakukan itu untuk seseorang yang belum diketahui siapa dalangnya. Tapi yang jelas Giselle menyampaikan pertengkaran mereka, jadi itulah rencana dimulai.


"Kau sudah menetapkan posisi yang aman?! Kenapa mereka bisa tahu? Apa yang kau lakukan?" Pecah amarah Justin pada Chris.


"Kau ini kenapa? Sudah hampir 10 tahun bekerja di bidang ini. Masih saja dengan cara kuno. Seharusnya kau lebih tahu mengandalkan logika itu lebih masuk akal" cecar Justin.


"Kau saja yang berpikir.. Memang nya mudah?? Sudahlah.. Aku tidak mau lakukan itu lagi.. Lebih baik aku yang keluar" bangkit Chris yang menatap Justin.


Mereka berdua sadar ada Giselle diam-diam menguping pembicaraan tersebut, Chris mengangguk kecil, dan dibalas sama oleh Justin, itu kode mereka. Lalu Chris keluar dari mansion yang berada di Italia tersebut dengan amarahnya.


Benar itu berhasil mengelabuhi Giselle, tak lama dari bertengkar Chris menangkap Giselle untuk diintrogasi diruang yang gelap dan minim cahaya, ia diikat di kursi mulutnya dibekap dengan kain.


Ting.. Clack..


Ting.. Clack


Suara penutup Lighter yang terdengar menggema diruang tersebut, Giselle takut? Oh tidak ia sangat tenang, tahu yang menculiknya adalah Chris.


"Come punirò una donna?" (Bagaimana caranya aku menghukum wanita?) Ujar Chris dengan santai memainkan pemantik.


Ting.. Seukkk.. Blupp



Chris menyalakan lighter nya dan mendekatkan ke wajah Giselle.


"Conosco un po' di modi per rovinare il volto di una donna" (Aku sedikit tahu cara menghancurkan wajah wanita) lanjut Chris yang sengaja makin mendekatkan lighter yang menyala ke wajah Giselle dan kesengajaan itu sampai rambut blonde panjang dibagian poni Giselle dilahap api membuat terbakar sedikit padahal tidak terlalu menyentuh tapi membuat ujung rambutnya berubah hitam karena kebakar.


"Haa.. " pekik Giselle terasa panas yang akan mengenai kulit wajahnya.


"Allora dimmi, chi ti ha detto di farlo?" (Kalau begitu katakan, siapa yang menyuruhmu?) Lagi Chris bertanya.


"Se non trovo la risposta, ti sparo in testa" (Kalau aku belum dapat jawaban, peluru ini akan bersarang dikepala mu) lanjut lagi Chris dengan wajah serius.


Lalu ponsel Giselle bergetar tanda ia dapat pesan yang isi nya tugasnya telah selesai.


Yang tanpa Giselle tahu dikegelapan disana ada Justin yang memantau bersama nyamuk selalu berbisik ditelingannya.


"Non preoccuparti, prenditi il tempo di rimanere e inizia a pensare che la tua fedeltà non ti sarà di aiuto" (Jangan khawatir, kau akan tetap disini, pikirkan secara perlahan sampai kau membuka mulutmu, ingat kesetiaan mu tidak akan membantu mu) peringat Chris lalu pergi dari sana.


Setelah tahu jika Giselle itu kata-kata, akhirnya Chris dan Justin pun mengikuti permainan mereka, yang awalnya bertengkar hebat.


Mereka mengirim pesan lewat ponsel lain, agar terus terencana semuanya, sampai tak sengaja Chris menemukan fakta kalau ayah Justin dibunuh. Ia tetap bungkam belum waktunya memberitahu Justin.


Dan tetap pada rencana mereka, saat Chris mengirim anak buah nya ke kediaman Justin itu hanyalah akting nya dengan memakai darah kambing, anak buahnya pun selamat.


Pada saat Justin tiba di Korea pun mereka melakukan skenario nya, pengejaran tiada henti, persoalan ia tertembak itu kejadian tak terduga yang ternyata ada komplotan Giselle menembaki Justin, bahkan pria itu sudah ditangkap.


Dan Justin hilang karena terjatuh dihutan, itu kejadian tak bisa terhindari yang untungnya Vivian menolong nya.


Sebenarnya saat Justin telah terbangun dari luka tembak nya ia mengirim pesan kalau dia baik-baik saja, bahkan menyuruh melanjutkan rencana nya. Setelah yakin pemilik rumah ini juga komplotan karena Justin melihat plakat militer yang terselip dibeberapa buku.


Pada saat hujan peluru di rumah Vivian yang berantakan bagaikan di serang angin topan itu juga termasuk rencana, namun disitu Justin merasa iba karena wanita ini seperti tidak tahu apapun, bahkan juga menolongnya.


Dan pada malam rumah Vivian diserbu, itu juga anak buahnya tidak benar-benar mati, mereka terluka karena luka tembak dikaki atau tangan, bahkan darahnya pun dibuat semirip mungkin, maka dari itu Justin menutup mata Vivian saat keluar melewati nya.


(Flashback Off)


Justin tersenyum puas karena rencana nya berjalan lancar, bahkan berhasil menipu Vera.