
Cleo yang ditanya hanya bingung menjawab, pikirannya kosong.
"Itu milikku, tentu saja kau tidak akan mengerti, kemarikan" pinta Vivian dengan mulus.
"Jangan sampai kalian melakukan rencana di belakang ku, atau kau tau akibatnya" peringatan Chris.
Vivian berdecih melihat Chris.
"Bukannya kau yang selalu melakukan rencana? Yaa.. Meskipun rencana nya tidak berguna" remeh Vivian.
"Benarkah" Chris tidak terpancing malah mengambil buku dipegang Vivian dan hanya mempercepat halaman dengan ibu jarinya. Sedangkan Cleo menahan paniknya.
Vivian berdiri dan mengambil paksa buku nya.
"Dan.. Aku ingatkan.. Jangan sentuh apapun jika itu bukan milikmu, buku ini akan berguna bagiku tapi tidak denganmu" balas Vivian yang selalu memprovokasi Chris.
"Hupmm" Justin mendengus menahan tawanya.
"Otak kosong" celetuk Cleo.
"Hmp.." Justin hampir tertawa meledak.
"Kalian bersenang-senang" receh Chris ia pun kembali ke tempat duduknya.
Vivian kembali duduk, Justin yang menahan tawanya menunjukan ibu jarinya pada Vivian. Vivian hanya senyum tipis.
...
Sesampainya di bandara Seoul, tanpa mereka tahu ternyata wajah Chris, Justin, dan Vera masuk dalam peringatan BIN.
Di gedung BIN yang sibuk, kesana kemari karena kedatangan mereka, bahkan mereka dipantau CCTV BIN.
"Kepala Tim, kita harus bagaimana? Apa kita harus menangkapnya?" Tanya karyawan bawahannya.
"Untuk sekarang pantau saja mereka, kalau membuat organisasi atau hal merugikan baru keluarkan surat penangkapan" terang kepala tim nya.
"Baik" patuh karyawannya.
Dijalan raya mobil melaju sedang perjalanan memakan waktu dua jam. Mereka sampai di rumah Vivian yang berada di hutan, kelihatan tidak ada yang berbeda.
Vivian masuk dan menuju laci samping televisi terdapat kunci ia lalu mengambil nya dan memberikannya pada Vera.
"Sekarang lepaskan dia, bawa saja aku" ujar Vivian.
"Tidak mungkin" jawab singkat Vera setelah kunci ada ditangannya lalu berbalik.
Bukannya melepaskan mereka sesuai perjanjian, namun Vivian dengan Justin dibawa untuk ikut mereka dikawal oleh dua orang anak buah Vera.
Tidak dengan Cleo ia dilepaskan.
"Boss" panggil Cleo nampak wajahnya khawatir.
"Jangan khawatir, kau pulanglah, pasti kau juga lelah" perintah Justin.
"Bagaimana aku bisa pulang" ucap Cleo yang mengeluarkan ponselnya karena ada pesan masuk.
Baru saat Justin ingin pergi, ditahan oleh Cleo.
"Tunggu, lihat.. Kau masuk dalam pengawasan BIN termasuk Vera dan Chris" ungkap Cleo memperlihatkan foto Justin.
"Hm" angguk Justin.
"Foto nya terlihat bagus" ucap Justin melihat fotonya.
"Apa anda bercanda?" Tak habis pikir Cleo masih sempat memuji foto dari BIN.
"Ayo, sebelum mereka kesini" pungkas Vera langsung pergi berjalan karena memang tak jauh dari rumah Vera.
Perjalanan membutuhkan waktu 25 menit mereka berjalan, dan medan nya tidak main-main.
"Kau lelah?" Tanya Vivian pada Justin yang terlihat ngos-ngosan.
"Hahh.. Tidak" geleng Justin meski perkataan nya sangat bertolak belakang dengan keadaannya.
"Baiklah, teruslah semangat" Vivian jalan lebih dulu padahal jalan nya sudah miring 30 derajat. Yang kesusahan naik mereka sudah seperti merangkak.
Sampai pada kuil yang dimaksud, Vera tanpa istirahat ia langsung menuju paviliun yang kemarin.
Vivian melihat jam tangannya, disaat itu Vera langsung menuju bawah tempat dimana tempat kunci untuk membuka brangkas nya.
Mereka memutar kunci secara bersamaan dan berbunyi.
TAK CLAK
Artinya kunci sudah diputar dan bisa dibuka pintunya. Vera pun memutar knopnya.
Pintu brangkas besar itu pun terbuka, semua menantikan isi dari brangkas tersebut, Vera tersenyum tak percaya, ia masuk dalam brangkas itu, lalu raut wajahnya dengan cepat berubah marah karena brangkas tersebut kosong yang hanya tersisa terdapat rak besar serta kayu tidak tahu guna nya apa.
"Apa benar disini?" Tanya Chris yang terkejut sambil masuk ke dalam karena tidak ada apapun didalam.
"Aku tidak melihat apapun" ucap pelan Justin.
"Iya ya" jawab Vivian yang tidak terkejut.
Justin dan Vivian juga ikut masuk ke dalam, bahkan Justin mendekati sebuah rak.
"Jika rak ini ada.. Isi nya pasti ada" celetuk Justin.
Vera geram melihat brangkas kosong.
"Dimana semuanya?" Tanya Vera dengan nada rendahnya pada Vivian.
"Kenapa kau tanya aku?" Jawab Vivian.
"Kenapa kosong?" Tanya Chris yang mengeluarkan pistol mengarahkan ke Vera.
Vera yang juga kesal mengeluarkan pistol mengarahkan ke Vivian.
"Katakan dimana isinya?" Geram Vera.
"Kenapa aku?" Tanya Vivian mengundurkan langkahnya.
Baru Justin ingin melindungi Vivian, namun Vera sadar itu.
"Jangan bergerak, atau aku akan menembaknya" peringatan Vera.
Tuk.. Tak
Suara sepatu datang dari tangga diatas karena ia membelakangi cahaya lampu, wajahnya hampir tidak terlihat.
"Berpesta tanpa mengajakku" sahutnya dengan suara khas nya serta kepalanya ia miringkan ke kanan.
Vivian juga tidak tahu siapa itu, sama dengan Vera yang tidak tahu ia pun melihat pria tersebut.
"Siapa kau?" Tanya Vera dengan nada menuntut.
"Kupikir wanita akan menyambut ku dengan baik, tapi ternyata tidak" terang pria tersebut.
"Banyak bicara" ucap Vera.
Dooor
Satu tembakan Vera lontarkan mengarahkan pada pria tersebut, namun berhasilnya pria tersebut menghindari pelurunya yang hampir melubangi kepalanya.
"Wanita jãlâñg" ucap pria tersebut marah lalu mengeluarkan dua pistol dari saku ke duanya, dan mengarahkan ke Vera serta Chris.
"Merunduk" perintah Justin yang merunduk dengan Vivian, dan sudah seperti perang mereka berada di ladang senjata.
Dorr.. Dor..
Dor.. Dor..
Justin langsung memegang tangan Vivian, sedangkan Vera dan Chris bersembunyi menghindari hujan peluru tersebut.
Dengan serangan balasan Vera pun menembaki pria tersebut dengan dua pistol, dan hebatnya pria tersebut berhasil bersembunyi.
Dor.. Dor..
Dor.. Dor..
Vivian mengusulkan pergi dari sini dan mengajak Justin, mereka bangkit lalu ingin berjalan keluar.
"Ayo kita pergi" ajak Vivian.
Namun disitu Chris tidak diam melihat Vivian ingin kabur, ia pun ingin menembak mereka.
Disaat itu Vivian lihat Chris ingin melontarkan peluru yang mengarah pada Justin.
Dor.. Dor..
Dua tembakan tersebut dilontarkan Vivian menubruk tubuh Justin agar terhindar dari tembakan tersebut.
Brukk
Mereka terjatuh, melihat itu pria yang menembaki melihat ujung pistol yang nongol.
Dor..
Peluru mengenai pistol yang dipegang Chris hingga terjatuh, Chris kaget. Itu bisa saja membuat tangannya cidera.
"Argh.. Kau baik-baik? Bangunlah" Vivian membantu Justin berdiri.
Diluar terdapat orang yang berpakaian lengkap perlindungan dan senjata itu BIN yang sudah mengepung tempat kuil tersebut.
Setelah itu pria tersebut berhenti menembaki dan pergi ke atas juga, sampai diluar melihat ramai para agen, mereka lah yang masuk ke dalam untuk menangkap.
Lalu ada lagi pria tampan dengan pakaian jas lengkap menghampiri mereka, tepatnya menghampiri Vivian.
"Apa anda baik-baik saja?" Tanya pria tersebut.
"Iya.. Terima kasih sudah datang" pungkas Vivian senyum.
"Tidak, itu sudah harus kulakukan" jawab pria itu dengan sopan.
Karena hal itu entah kenapa Justin merasa cemburu, karena Vivian juga tidak mengenalkan pria tersebut padanya.
Baru saat ingin menghampiri keluarlah Chris dan Vera dengan kedua tangan terborgol, Chris melihat sinis mereka yang menjebaknya.
Vera pun juga berontak namun ia dikawal sampai 5 orang agen, namun tanpa diketahui dikejauhan seorang pria yang berdiri jauh dari tempat kejadian. Pria itu Victor yang tidak lagi mencampuri urusan adiknya, lalu ia pun pergi.