Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 35 ⌑



Mereka berdua terkagum jika hanya membayangkannya saja isi brangkas tersebut.


"Sebanyak apa?" Tanya Chris.


"Eitt.. Jangan itu miliknya" senggol Justin.


"Apa salahnya bertanya sebanyak apa? Bagaimana cara memindahkan harta sebanyak itu, aku yakin membutuhkan sampai 1 sampai 2 minggu" tutur Chris yang menebak-nebak.


"Lebih tepatnya 1 minggu, agar tidak menarik perhatian, aku meminta orang untuk melakukan itu" terang Vivian.


"Apa mungkin.. Kau menaruhnya dirumahmu?" Tanya Cleo.


"Tidak, di tempat lain" pungkas Vivian.


"Sudah kuduga.. Kau memang mafia" singgung Justin dengan senyum sambil melihat Vivian.


"Pertama kali datang, pengacara James mendatangiku, tepat saat aku sampai di bandara, saat katanya rumahku adalah peninggalan dari ibuku, ya memang ayahku menaruh beberapa barang ibuku dirumahku. Itu tidak penting.. Bagaimana aku bisa masuk dan mengambilnya" jelas Vivian.


"Bagaimana??" Penasaran Chris.


"Ternyata.. Ayahku membuat dua pintu masuk menuju harta, awalnya aku tidak tahu apapun setelah sampai rumah itu, hanya terlihat nyaman untuk ditinggali, kemudian aku menemukan kunci didalam buku bedah sepertinya milik ibuku, atau memang sengaja ayahku menaruhnya disana" cerita Vivian.


Tok tok


Cerita itu berhenti mendengar ketukan pintu, terlihatlah Cleo dengan wajah serius.


"Maaf menyela.. Diluar ada Victor" ujar Cleo.


Mereka berdua juga tak menyangka Victor berani kemari, mereka berdua pun turun menuju luar meninggalkan Vivian dikamar.


Sampai dihalaman luar terlihat Cleo seperti menunggu dan jawaban nya terjawab sudah, ia memang tidak ingin percaya.


"Benar dugaanku, kau disini rupanya, menjebak adikku" pungkas Victor.


"Kau yang lebih dulu merencanakannya, jadi kubalas apa yang kau perbuat" pungkas Justin.


"Kau menggangu orang yang salah" timpali Chris.


"Benarkah? Dan adikku Vivian sekarang tidak berguna lagi, dia merusak semuanya, ia harus mati" seketika raut wajah Victor dingin.


Justin pun yang melihat raut wajah Victor berubah, ia langsung pergi ke dalam dengan terburu-buru.


Diluar Chris hanya diam menatap tajam.


"Pergilah, aku tidak berselera menyerangmu.. Tapi jika kau melakukan hal bodoh pada Vivian, aku tahu dimana aku mencarimu dan mencekik lehermu" ancam Chris.


"Kau dapat harta dari nya? Sampai mau melindungi wanita itu" balas Victor.


"Entahlah.. Pergilah kau pencandu, hahh.. Bodohnya aku mendengar kan ocehan nya" Chris berbalik dan pergi dibelakangnya Victor menahan amarahnya sambil berbalik pergi.


Justin dengan terburu-buru membuka pintu kamar, terlihat Vivian yang menyenderkan tubuhnya ke lemari besar sambil memegang perut yang luka darahnya merembas kembali.


Terlihat dua pria tergeletak tak jauh yang tidak sadarkan diri, Justin langsung menghampiri Vivian dan melihat perut yang darahnya merembas.


"Darah.. Kau tidak apa-apa?" Tanya Justin.


"Lukanya terbuka lagi kurasa, aku hanya memakai kakiku, tapi tak apa" angguk Vivian pelipisnya terlihat butiran keringat ia menahan sakitnya.


Tanpa bicara Justin membantu Vivian duduk dan memberikan pereda nyeri pada Vivian.


"Aku.. Memukul nya.. Kurasa dia akan bangun" pungkas Vivian.


Justin pun menyuruh anak buahnya menyingkirkan dua pria tersebut.


"Bagus sekali.. Aku bangga padamu" puji Justin tiba-tiba sambil melihat Vivian penuh cinta.


"Kenapa?" Bingung Vivian.


"Ini luka pistol, luka nya tidak main-main sakitnya, tapi kau membuat dua orang pingsan" terang Justin.


"Yang luka perutku, kaki ku baik-baik saja, aku bisa tendang mereka, tendangan juga tidak main-main" jawab Vivian.


Chris masuk melihat dua pria asing dikeluarkan.


"Mereka siapa?" Kaget Chris.


"Anak buah nya Victor" pungkas Justin.


"Mereka melakukan apapun, sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanya Chris pada Justin.


"Aku.. Akan hidup dengan wanita ini" jawab Justin membuat Vivian menoleh.


"Wanita ini?" Ulang Vivian tidak salah dengar.


"Kau lakukan itu untukku, aku yakin kau pasti bisa" jawab Justin.


"Tentu saja, aku bawa Cleo" jawab yakin Chris.


"Bawa saja kalau dia mau" pungkas Justin.


Saat Cleo dengar ia melihat kedua bos nya ini.


"Aku tidak setuju, aku akan mengikuti Bos Justin" tolak Cleo.


"Mereka sudah menikah, sampai kapan kau akan mengikuti Justin?? Kau tahu kita tidak bisa lama-lama disini" pungkas Chris sambil melihat ke Cleo.


"Tapi kan.." Ragu Cleo memang ada benarnya.


"Pergilah.. Temani Chris dia sangat kesepian" timpali Justin.


"Yak.. Aku tidak terlalu kesepian" bantah Chris yang pada akhirnya mereka pun pergi meninggalkan negara ini.


...


Malamnya Vivian duduk di kursi meja makan, melihat makanan sudah siap dimeja dengan banyak lauk.


"Apa ada tamu lagi yang bergabung??" Tanya Vivian.


"Hm.. Sepupu ku.. Lucas" jawab Justin sambil mengambil beberapa daging ke piring kecil.


Lucas datang dari lantai atas, yang memakai kemeja putih serta dasi tak lupa rompi hitam yang menjadi ciri khasnya.


Mata Vivian terus tertuju pada Lucas sampai duduk disamping Justin.


"Apa anda ingin pergi keluar?" Tanya polos Vivian karena melihat Lucas yang rapih sedangkan Justin ia hanya memakai kemeja putih biasa tanpa dasi.


"Aa.. Memang style nya seperti itu" jawab Justin yang menaruh piring berisi daging disamping mangkuk nasi Vivian.


Lucas hanya duduk memperlihatkan tatapan tajamnya dengan senyuman tipis.



"Seseorang bisa terlihat dari cara berpakaian, dengan ini akan tahu siapa boss nya" terang Lucas.


Vivian hanya mengangguk sambil memakan daging yang diberi Justin.


"Besok kau akan pergi kan?" Tanya Justin yang ikut makan.


"Iya" jawab Lucas sambil mengunyah makanannya dengan mulut penuhnya.


"Bisnis mu baik saja?" Tanya Justin mereka terlihat akrab tentu saja dulu waktu kecil mereka berada disekolah yang sama bahkan pelatihan pun sama.


"Questa volta ho tratto profitto da un'impresa più grande" (Kali ini aku mengambil skala bisnis yang lebih besar, dan menguntungkan) jawab Lucas.


"Benarkah? Itu dimana? Meksiko?" Tebak Justin.


"Rio" singkat Lucas.


"Bisnis kalian nàrkōbā" ceplos Vivian sambil makan dengan polosnya membuat Justin dan Lucas terdiam sambil melihat ke arah Vivian.


"Atau manusia.. Dua-dua nya bisa jadi" lanjut Vivian masih santai mengunyah makanan.


"Biasanya wanita tidak mengetahui hal-hal buruk seperti itu" ucap Lucas.


"Memang nya tidak boleh? Meksiko dari dulu memang terkenal nya seperti itu, banyak Mafia disana, disini pun juga banyak" jawab Vivian.


Lalu tak lama pengacara James datang, tentu untuk melihat kondisi Vivian. Mereka duduk diruang tamu sedang membicarakan hal serius.


"Syukurlah anda tidak papa, dan karena anda terluka, ada uang dari pihak asuransi biaya pengobatan sekaligus uang pemulihan semuanya 15 miliar" terang pengacara James sambil menyodorkan 4 koper besar berisi uang.



Ketiga nya terkejut Justin dan Lucas terkejut karena nominal uang tersebut, tapi Vivian malah bingung mengapa ia terluka dapat uang.


"Bagaimana aku bisa dapat uang sebanyak ini? Seingatku aku tidak pernah mendaftar asuransi manapun" bantah Vivian.


"Eii.. Menolak 15 miliar, sayang sekali" ucap pelan Lucas.


"Jangan khawatir, ayah anda telah mendaftarkan asuransi dan membayar nya secara rutin" terang pengacara James.


"Bagaimana? Ayahku sudah meninggal" terang Vivian.


"Itu.. Aku juga tidak tahu, jelas ada nama ayah anda yang membayar asuransi anda secara teratur setiap bulan nya" terang pengacara James.


Tak percaya ayahnya ternyata sayang terhadapnya meski semasa hidup yang ia tahu hanya ayah yang tak ada kasih sayang padanya. Namun kini terjawab membuat Vivian tersenyum simpul.