Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 25 ⌑



Dimansion Justin mendapat kabar anak buahnya yang sudah dioperasi karena luka tembak.


Lalu Justin menaiki tangga untuk menuju ruang rahasia.


"Dia menembak kaki, tidak berniat membunuh, itu karena menghalangi nya" ucap Justin sambil menaiki tangga diikuti Cleo


"Aku masih tidak mengerti, kalau dia minta kalung kau bisa saja memberikannya, kupikir dia sudah merencanakan ini" terang Cleo.


"Entahlah, Aku terkadang juga tidak bisa membaca nya, dia sangat tidak terduga" ucap Justin.


Ruang rahasia terbuka, mereka masuk dan berbincang didalam, lalu Cleo mendekati lemari kaca dan dahinya berkerut.


"Tapi.. Dibawah stand kalung ini sepertinya ada kertas" unjuk Cleo.


"Apa maksudmu? Kertas apa--" Justin mendekat dan melihat benar.


"Iya nih, itu seperti kertas" ucap Justin yang langsung saling melihat-lihat.


***


Vivian yang masih berada markas Vera, untuk membuat perjanjian ia tidak ingin orang yang tak bersalah ikut kena imbas karena nya.


"Mereka tidak tahu apapun" ucap Vivian.


"Jadi apa setelah ini kau akan kembali dengan Justin? Kalau dipikir kalian sudah menikah" tutur Vera dengan maksud.


"Aku--"


Vera menaruh map didepan Vivian.


"Oh.. Aku sampai lupa ada hadiah pernikahan, jika aku jadi kau aku akan berpikir lagi untuk kembali pada Justin" terang Vera.


Vivian bingung sekaligus penasaran dengan perkataan Vera, ia pun mengambil map tersebut dan menarik berkas didalamnya.


"Tapi sepertinya kau harus kembali kesana, membuat masalah nya selesai" ucap Vera.


Vivian tambah bingung dengan melihat berkas tersebut, dan beberapa foto serta pemutar audio. Vivian mendengarkan ia bergeming mendengar lewat earphones nya. Suara yang ia kenal berbicara dengan bahasa italy adalah khas suara ayah nya.


"Ini suara-- Siapa Leo?" Vivian cukup terkejut lalu melihat foto pria yang bertulis Leo.


"Yang jelas, ayah menyuruh orang untuk membunuh Leo, Tuan Leo adalah ayah Justin" ungkap Vera.


DENG


"Apa?" Tak habis pikir Vivian berusaha tenang dengan keterkejutan nya.


"Sebab itu kau harus kembali, pergi bunuh Justin" perintah Vera.


"Tidak bisa" tegas Vivian bola matanya bergetar.


"Kenapa harus membunuhnya? Aku sudah tidak bisa lagi, tidak. Sampai kapanpun Aku tidak bisa" jawab Vivian mengapa harus itu jalan keluarnya.


"Justin jika tahu, kau pasti mati, jika kita tidak bergerak lebih dulu, kau kalah, bukan. Kita kalah" tekan Vera mendekat ke arah Vivian.


"Kirim orang lain untuk melakukan nya, Aku lepas tangan" dingin Vivian menolak untuk menjalankan hal yang tentu tidak bisa ia lakukan.


Ia pun berbalik ingin keluar namun dihadang anak buah Vera.


"Minggir" dingin Vivian.


Vera diam berpikir Vivian menolak melakukannya.


Anak buahnya ingin mendorong Vivian, lalu Vivian mengambil cepat pisau kecil yang berada di pinggang anak buah Vera dan mengarahkan nya ke leher pria didepannya.


"Buka" perintah Vivian dengan menggertak kan gigi nya.


Anak buahnya melihat Vera, dan dianggukkan oleh Vera, mereka pun membiarkan Vivian pergi.


Victor menghampiri Vera.


"Apa rencanamu? Kau membiarkan pergi?" Tanya Victor.


"Dia.. Punya perasaan pada Justin, melibatkannya sungguh sulit, lebih baik kirim orang lebih handal" terang Vera pada Victor.


***


Justin menggeser lemari kaca dan mengambil secarik kertas tersebut pada bawah stand kalung dan ada tulisan dikertas tersebut.



Itulah isi dari secarik kertas yang ditemukan, hal itu sukses membuat Justin berpikir.


"Ini biasa yang dilakukan orang ketika meminjam sesuatu tapi belum ijin" ucap Justin.


"Benar, Dia melakukan nya demi seseorang, setelah meninggalkan kertas ini" tebak Cleo.


"Hm.. Kata satu ini 'Suatu saat kita bertemu lagi akan kukembalikan' itu rencana nya kita akan bertemu lagi" baca ulang Justin.


Matanya menyipit.


"Ini palsu" ucap Justin.


Cleo langsung mengambil dan memeriksanya.


"Dia sudah menukar nya dengan yang palsu untuk dipajang" Justin tidak kaget dengan itu karena ia membaca kertas tersebut lebih dulu.


"Ini pasti mahal" ucap Cleo yang menaruh kalung palsu di meja.


"Untuk apa kalung ini? Itu milik ayahku, apa ada sesuatu dibalik kalung nya" pikir Justin melihat duplikat kalung palsu tersebut.


"Setau ku itu hanya kalung biasa" jawab Cleo.


Lalu tiba-tiba salah satu anak buah nya datang dengan wajah serius.


"Bos.. Ada masalah" gubris nya dengan wajah serius.


"Ada apa?" Tanya Justin.


"Chris datang, sekarang dia ada dibawah" terang anak buahnya.


"Kerahkan semua yang lain menuju kesana" perintah Justin yang langsung berjalan keluar dan diikuti Cleo.


"Beraninya dia datang kemari" tutur Cleo yang mengikuti Justin.


Dihalaman depan mansion yang mempertemukan dua organisasi itu nampak wajah mereka serius, Justin datang tepat sudah didepan Chris.



Dan dibelakang nya sudah ada banyak penjaga yang bersiaga. Begitu juga dengan orang-orang Chris.


"Aku datang.. Tak menyangka kau menyambut ku. Bukan kah disini ada pesta pernikahan?? Seperti nya tidak berjalan lancar" sapa Chris dengan senyum remeh nya.


"Kau mungkin lupa, kau tidak diterima disini" singkat Justin dengan wajah dingin nya.


"Aku mengerti.. Seperti apa sakitnya.. Ketika pengantin wanita kabur. Ouhh kau pasti sangat sedih" ucap Chris diantara perhatian atau mengejek.


"Kuperingatkan kau.. Mungkin kau bisa masuk seenaknya, tapi tidak bisa untuk keluar" balas Justin.


Decih Chris lalu tangannya merogoh saku jas bagian dalam, karena gerakannya tersebut anak buah Justin langsung siaga mengeluarkan pistol begitu juga dengan orang-orang Chris mereka saling mengarahkan pistol.


Namun Justin dan Chris sama sekali tidak bergeming diantara ladang pistol tersebut.


Chris menarik tangannya dari dalam saku nya, ia mengeluarkan sebuah player audio bukanlah pistol. Kedua belah pihak pun menurunkan pistol mereka.


Chris melempar ke arah Justin, yang langsung ditangkap pas ditangannya.


"Mungkin kau sudah tau.. Vivian siapa sebenarnya.. Dia adalah putri Mateo dari wanita lain. Dan rekaman di sana adalah suara Mateo" terang Chris.


Justin juga tak menyangka dia hanya tahu jika ayah Vivian Mafia, tapi  baru tahu ayah nya adalah mafia terkenal.


"Lantas apa hubungan ayah nya denganku?" Pungkas Justin.


"Coba dengarkan itu.. Karena ada kaitannya dengan kematian ayahmu" terang Chris.


Wajah Justin tambah serius dan memutar audio tersebut.


"Apa itu cukup untuk hadiah pernikahan dariku?" Smirk Chris. Justin terdiam mematung.


"Tetap saja Vivian darah daging Mateo, dia sungguh menipumu, dan Gissele dia anak buah Vera yang diutus aku sudah menyingkirkan nya, jangan khawatir" terang Chris.


Membuat Cleo mendelik karena selama yang dia cari, berada ditangan Chris.


"Pérsêtãn. Sudah selesai? Jangan memancingku, aku yang akan menilai nya" umpat Justin menatap tajam Chris.


"Baiklah, kau harus pikirkan baik-baik, aku pergi" Chris berbalik dan berjalan pergi meninggalkan mansion Justin.


"Kau lepas begitu saja??" Tanya Cleo.


"Biarkan.. Aku sudah menyempurnakan puzzel ku, Vera adalah dalangnya" balas Justin lalu masuk ke dalam Mansion.


Justin merasa frustasi ia harus pikir kan untuk membalas yang dilakukan Vera.


"Lakukan analisis suara, apakah benar ini suara Mateo" perintah Justin pada Cleo memberikan audio tersebut.


"Baiklah" angguk Cleo yang pergi keatas untuk mengambil laptop dilantai atas.


Justin mengambil gelas wine ia memegang erat.


"Diam meremehkan ku, s-ítt" Umpat Justin yang melempar gelas ke dinding.


CWASSSS


Gelas kaca langsung pecah berkeping-keping disertai amarahnya meluap.