Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 37 ⌑



Didalam lemari terdapat brangkas yang berada dilantai, Vivian tersenyum senang lalu berjongkok melihat lampu brangkas masih menyala berarti sensor masih menyala.


Justin terkejut ada brangkas disana, Vivian langsung mendekatkan wajahnya matanya discan brangkas dan memasukkan kode yang rumit.


Dan brangkas terbuka dengan mudahnya.


"Ini punya siapa?" Tanya Justin.


Vivian memutar knop brangkas tersebut, dan terbukalah sebuah basement bawah tanah.


"Bukankah kau bertanya dimana hartanya" ucap Vivian.


"Aaa" baru ingat Justin tak percaya Vivian menyembunyikan harta itu dibangunan panti asuhan.


"Tapi.. Apa kepala panti tahu ini?" Tanya lagi Justin.


"Tidak tahu, aku memberinya kontrak jika aku juga bisa leluasa memakai ruangan nya, aku mengeluarkan banyak uang untuk membangun sebuah panti ditanah kosong" ungkap Vivian.


Ada tangga yang menurun, ia pun turun kebawah diikuti Justin sampai terlihat ruang basement yang ukurannya tidak terlalu lebar namun membuat banyak harta didalamnya.



"Waahh.. Itu emas sungguhan??" Tanya Justin melihat tumpukan emas batangan.


"Iya.. Butuh banyak waktu untuk memindahkan semua ini" terang Vivian.


"Kau menunjukkan ini padaku?" Tanya Justin.


"Iya, aku akan memindahkan semua nya" terang Vivian.


"Semuanya? Kenapa?" Tanya Justin.


"Jadi.. Aku butuh dirimu" suara lembut Vivian pada Justin membuatnya mengerti maksud nya.


Senyum Justin.


"Apa yang kau butuhkan?" Tawar Justin.


...


Keesokannya pada malam hari panti yang terlihat sepi, lalu ada 2 truk kontainer besar berada di panti tersebut. Justin mengerahkan anak buahnya untuk mengeluarkan satu persatu barang berharga tersebut.


Sebelum truk datang Vivian telah mengemas semua emas batangan ke mobil pribadinya, sampai mobil nya terlihat turun karena berat nya emas tersebut.


Anak buah Justin mengeluarkan barang-barang lain seperti guci, lukisan, dan pernak-pernik sejarah yang nilai jualnya sangat tinggi.


"Hati-hati.. Barang nya sangat sensitif" peringatan Vivian melihat anak buah Justin dengan hati-hati membawa dan mengemas dengan kayu baru dimasukkan ke truk kontainer.


Setelah Vivian memastikan barang yang dibawah sudah kosong, dan mengunci truk tersebut ia kembali ke dalam. Dan menyuruh anak buah Justin merapihkan ruangan tersebut seperti tidak terjadi apapun.


Semua anak-anak panti kosong, kenapa karena tadi pagi Vivian mengirim nya liburan.


(Flashback On)


Kemarin saat datang ke panti.


"Aku ada hadiah lain untuk anak-anak, dan pengurus panti, besok bawa anak-anak bermain di pantai, sekarang musim panas, aku sudah lama ingin memberikan hadiah yang tidak terlupakan ini" terang Vivian.


"Berlibur?" Ucap Emily kaget sekaligus bersyukur.


"Iya.. Bagaimana menurut anda? Biaya anda tidak perlu khawatir, perjalanan 2 hari 1 malam, aku sudah siapkan transportasi, makan, dan kebutuhan lain" terang lagi Vivian dengan senyum.


"Ini kabar menggembirakan bagi anak-anak, selama ini mereka tidak pernah pergi dari sini" ucap Emily.


"Jadi.. Besok pergi bersenang-senang, aku sudah buat jadwal lengkap untuk berkunjung kesana" Vivian menyodorkan kertas yaitu jadwal perjalanan mereka sangat terperinci, dari makan siang sampai ke toilet.


Dan Vivian berdiri diluar ruangan hanya mendengarkan melihat dari jendela saat kepala panti memberikan pengumuman didepan anak-anak.


Mereka sangat senang, entah itu membuat Vivian ikut bahagia melihat cerah wajah mereka.


Justin hanya memandang Vivian dari samping yang sedang tersenyum. Reflek tangan Vivian menautkan ke lengan Justin.


"Kau mengeluarkan banyak uang" bisik Justin.


"Lihatlah mereka, meski hanya 2 hari 1 malam, mereka sangat senang, dulu aku juga begitu merasakan selalu disini karena ibuku masih bekerja" ungkap Vivian.


"Tapi aku masih beruntung saat itu aku masih punya ibu, tapi temanku mereka tidak punya kedua nya" lanjut Vivian yang makin mengeratkan tangan nya ditengah Justin.


"Mendengarnya sepertinya sangat seru" kekeh Vivian.


"Aku serius" singkat Justin yang memang serius.


Dibalas senyuman oleh Vivian sambil melihat anak-anak. Rencana Vivian adalah mengirim anak-anak berlibur dan malam hari nya ia memulai pekerjaannya memindahkan semuanya.


(Flashback Off)


Pekerjaan hampir selesai, setelah membersihkan semua nya, tak lupa Vivian juga mengisi semua kulkas, dan bahan pokok yang lain, dan lagi hadiah kecil yang Vivian siapkan disetiap tempat tidur, jadi nanti saat mereka pulang mereka akan terkejut dengan hadiahnya.


Waktu menunjukkan jam 6 pagi truk tersebut dibawa ke sebuah administrasi warisan budaya.


Satpam yang kebingungan siapa kah yang punya truk ini, setelah dibuka terdapat banyak warisan budaya, seperti porselen yang sudah dimasukkan dengan rapih.


Dikejauhan Vivian dan Justin melihat itu dalam mobil, mereka sudah menerimanya.


"Lagi-lagi kau donasikan semuanya?" Ucap Justin.


"Iya.. Karena itu mereka memperebutkan nya, jadi lebih baik aku memberikan pada tangan yang tepat" angguk Vivian.


Mereka pun pergi dari sana, dan pergi ke restoran. Vivian asik mengaduk jajangmyeon nya dengan baik, menyuapkan mie tersebut.



"Hm.. Ini terbaik, mie paling bagus saat pindahan" angguk Vivian saat puas memakan nya.


"Ch" decih Justin yang sudah mengaduk jajangmyeon untuk Vivian namun ia sudah melahap miliknya.


"Tapi.. Kau sudah bayar anak buahmu?" Tanya Vivian dengan mulut penuh.


"Biar aku yang urus" jawab Justin lalu mengambil segelas air dan memberikan ke Vivian.


Selepasnya dari restoran, Vivian memintanya untuk kerumahnya. Meski hanya pondok kecil dihutan Vivian menyukai suasana nya apalagi ketika hujan, cuaca hutan memang selalu sejuk dan berawan.



"Aku suka disini, nyaman, damai dan sejuk" ungkap Vivian yang menyukai rumahnya.


"Rumahku lebih besar, banyak kamar, tapi kau lebih menyukai rumah yang hanya sepetak ini bahkan hanya seukuran ruang tamu rumahku, kau lebih suka rumah ini daripada aku" protes Justin yang merasa istrinya lebih memuji rumah istilahnya benda mati daripada dirinya.


"Kau memang pencemburu besar, ayo.. Bantu aku" gemas Vivian terhadap suaminya lalu berjalan ke arah mobilnya untuk mengeluarkan semua emas batangan tersebut.


Sudah didalam Vivian bingung ingin menaruh semua emas ini dimana, ia membongkar kasur dan menata nya di bawah kasur lalu dilapisi dengan kain baru ia letakkan kasur tersebut kembali.


"Selesai.." Ucap Vivian yang kelelahan.


"Kau suka dengan emas rupanya" terang Justin.


"Emas bebas berlaku dan digunakan dinegara manapun, itu simple" ungkap Vivian yang mendudukkan dirinya diatas kasur.


"Dan didalam lemari besar itu, tak hanya ada emas, ada juga uang tunai" terang Vivian mengetahui banyak uang.


"Tapi kau tahu, barang yang kau kirim ke warisan budaya, satu barang tersebut bisa sampai 50 miliar" ungkap Justin.


"50 miliar? Sebanyak itu??" Tanya Vivian kaget dengan nominal barang tersebut.


"Hm.. Kenapa? Apa kau mulai menyesal?" Tanya Justin dengan senyum.


"Eiii.. Tidak boleh begitu.. Itu untuk kepentingan negara, semua orang harus tahu barang bersejarah itu" geleng Vivian membuang pikiran negatif.


Lalu Justin mendapat sebuah telfon itu penting ia pun mengangkat nya, Vivian hanya memerhatikan Justin pergi ke bawah dengan ponsel nya.


Tak lama Justin kembali dengan wajah serius.


"Aku akan kembali" ucap Justin.


"Apa itu mendesak?" Tanya Vivian.


"Ya"


"Jangan sampai terluka, aku akan menunggumu disini" terpaksa Vivian harus mengatakan itu.


Justin hanya tersenyum lalu berbalik dan menjauh pergi dari rumah Vivian, dilihatnya hanya punggung Justin semakin menjauh dan menghilang.