Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 32 ⌑



Kabar itu menggembirakan, tapi belum yakin karena keduanya harus selamat.


"Jadi..apa kabar buruknya?" Tanya Justin hati-hati.


"Keduanya sedang dalam bahaya, kurasa janin nya tidak akan bisa bertahan, dan jika tidak dikeluarkan juga sangat bahaya untuk ibunya" terang Dokter James.


Seperti mendengar petir yang menggelegar dikuping Justin, masih tidak percaya.


"Aku bahkan tidak tahu kalau dia hamil" geleng Justin merasa ia kecewa dengan dirinya.


"Terkadang.. Sebagian wanita bisa tidak menyadari dirinya sedang hamil, memang kita tidak bisa menebak hanya melihat fisiknya jika baru trisemester pertama. Sedangkan janin nya baru 5 minggu, itu termasuk sangat kecil dan rawan untuk keguguran" jelas Dokter John.


"Lalu apa karena peluru nya, dia tidak bisa bertahan?" Tanya Justin.


"Usia kandungan seperti itu memang sangat lemah, bisa dipicu pendarahan lain seperti luka tersebut" terang Dokter John.


"Lantas aku harus bagaimana dok?" Tanya Justin.


"Anda harus memilih jika ingin dipertahankan, ibunya bisa mengakibatkan komplikasi-"


"Selamatkan ibunya" ucap cepat Justin tanpa pikir lagi.


"Anda yakin? Tetap saja itu bayi kalian??" Tanya pengacara James.


"Kalau menyelamatkan ibunya, apa selanjutnya dia bisa mengandung lagi?" Tanya Justin.


"Tentu saja, asalkan ibunya kondisi sehat" angguk dokter John.


"Segera lakukan itu" ucap Justin ia yakin dengan pilihannya, sebab yakin kalau nanti mereka bisa mendapatkan nya kembali.


Dokter John yang langsung ke ruang medis kembali dan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nya.


Justin terduduk wajahnya sangat lesu, ia mengusap wajahnya nampak ia sedang merenungkan. Semoga saja pilihannya ini menjadi pilihan terbaik yang ia ambil.


Setelah hampir 2 jam menyelesaikan operasi dadakan tersebut, dokter pun keluar dan memanggil Justin.


Dengan memakai masker ia melihat Vivian yang masih terbaring selesai operasi.


"Operasi nya lancar, tanda vitalnya sudah normal, dan ini" jelas Dokter John sambil memberikan nampan stainless terdapat peluru yang berlumuran darah.


"Kerja bagus, maaf mengganggu anda jauh-jauh dari rumah sakit, sisanya biar aku yang urus, jika ada masalah aku akan menghubungi anda" pungkas Dokter John.


"Besok pagi, jika tidak ada pendarahan lagi, bisa dipindahkan ke kamar, dan kalau tiga hari belum bangun, periksa lukanya sudah mengering dan cabut infusnya" pesan dokter John sebelum pergi.


"Baiklah, aku paham" angguk Justin.


Lalu Dokter John serta perawat magang pun pergi. Tinggalkan Justin dengan Vivian yang masih terbaring lemah dengan bantuan alat pernafasan yang terus menyala.


"Cepatlah bangun.. Kenapa tidak bilang padaku" ucap pelan Justin sambil melihat wajah Vivian.


Tangan Justin terulur memegang jemari Vivian yang terinfus, dan mengusap jemari nya dengan lembut.


Sedangkan Vivian masih terlelap karena infus, dan lukanya masih basah, Justin keluar melihat Cleo yang masih menunggu.


"Bagaimana dengannya?" Tanya Cleo.


"Berjalan lancar, berikan dia kamar" unjuk Justin pada pengacara James.


"Sungguh?" Tanya Cleo.


Hanya anggukkan kecil, Justin bukannya istirahat namun malah minum whiskey dan duduk di sofa sembari merenung.


Sampai menjelang pagi Justin yang terlelap disofa, ia terbangun dengan keadaan bau alkohol lalu ia pergi ke ruang medis yang ternyata Vivian belum sadar. Disitu Justin melepas infusan dan melepas alat bantu dan menggendong ala bridal style menuju kamar utama.


Langsung ia baringkan ditempat tidur tak lupa Justin mengecek nafas nya normal, dan luka jahit pun memang belum mengering, disitu Justin dengan telaten memasangkan kembali infusan yang ditangan Vivian.



Dan menyelipkan tangan Vivian dibawah selimut, Justin mendudukkan dirinya disamping Vivian tangannya terulur merapihkan anak rambut Vivian.


"Operasinya lancar. Kenapa kau belum membuka matamu? Hmm?" Ucap lembut Justin.


"Kau ingin istirahat lebih lama ya? Jangan lama-lama temani aku lagi" lagi Justin hanya monolog dengan nada yang lembut.


Justin bangkit dari duduknya setelah mengatakan itu ia pun beranjak untuk mandi. Didalam suara kucuran shower meluncur bebas dipundak lebarnya, ada lebam luka bakar memanjang di punggungnya, yang waktu itu belum sama sekali diobati dengan benar, Justin membiarkan itu sampai membekas dipunggung kekarnya.



Diluar Cleo yang melihat jam tangannya padahal sedang sarapan.


"Jam 8 pagi ini.. Chris akan dideportasi" pungkas Cleo setelah mendapat informasi.


"Dia pasti kesini" ucap Justin yang memakan roti sarapannya.


"Eh? Kesini? Tidak mungkin disana pasti penjagaan yang ketat" bantah pengacara James.


"Ingin bertaruh?" Tantang Justin sambil mengunyah roti.


"Lalu apa aku harus memanggil BIN melindungi rumah ini?" Tawar Pengacara James.


"Tidak, tidak perlu" geleng Justin masih santai.


...


Di bandara didepannya Vera yang dikawal super ketat sedangkan Chris dibelakang lalu datanglah dua orang pria berwajah italia dengan membawa surat.


Agen yang mengawal nya membaca surat tersebut, dan mendelik ke arah orang italia tadi.


"Sì" (Baiklah) jawab Agen yang mengawal Chris.


Lalu orang italia tersebut membuka borgol ditangan Chris, Vera yang melihat itu hanya tak percaya, bahkan ia disuruh jalan lebih dulu.


"Grazie" ucap Chris yang tangannya sudah terlepas dari borgol.


Bukannya pergi ke pesawat namun Chris malah keluar dari bandara. Dan masuk dalam mobil.


...


10.00


Justin pergi ke lantai atas dengan membawa air minum, lalu menuju kamar dimana Vivian berada.


Saat membuka pintu terlihat siluet pria dengan celana hitamnya yang mencolok adalah baju dan topi berwarna putih.



Pria itu berbalik wajah yang ia kenal Chris dengan tatapan tajam ke arah Justin serta smirknya, sedangkan Justin hanya berdiam ditempatnya.


"Hentikan.. Wajahmu sungguh tidak cocok" gubris Justin sembari berjalan menuju nakas untuk menaruh nampan berisi air putih.


"Benarkah" kikuk Chris.


"Kenapa kau memakai baju putih, kau sangat mencolok padahal sedang melarikan diri" ujar Justin mengejek.


"Jangan mengkritik cara berpakaianku, aku harus tetap keren" protes Chris.


"Dia datang terlambat kan?" Tanya Justin.


"Iya, berkat mu" jawab Chris.


Dilain tempat yaitu berada di pesawat khusus, Vera saat itu wajahnya nampak kesal tentu saja, tersadar telah ditipu,dipermainkan dan dijebak.


"Tunggu.. Victor--. dia kabur, Síál! Dasar pecandu, melimpahkannya padaku begitu?" Monolog Vera teringat Victor tidak ada ditempat, padahal ia yakin sudah mengirim pesan padanya untuk bertemu di kuil namun ia tidak datang dengan terpaksa ia melanjutkan rencana tanpa nya, tapi kena apesnya ia ditangkap dan belum punya rencana untuk kabur.


Ditempat Justin yang melihat Chris dari atas sampai bawah.


"Masih untung kau masih bernafas" pungkas Justin.


"Ya.. Berkatmu BIN mengintrogasi ku dengan ketat, bahkan ancaman sekalipun, aku berkata jujur tapi mereka tidak percaya.. Mereka memang bódóh atau tidak percaya" ungkap kekesalan Chris.


"Tapi mereka menjemput mu tepat waktu, kalau tidak kau sudah berada di pesawat itu" balas Justin yang terlihat santai mengobrol tanpa ada kebencian.


"Membayangkan nya saja aku tidak mau" balas Chris.


"Kau memang seharusnya pantas mendapatkannya" pungkas Justin lalu melempar peluru ke arah Chris dan ditangkap dengan tangannya.


Chris melihat peluru tersebut, yang jelas mengenalinya.


"Rencana nya berjalan mulus kan" ucap Chris melihat serius wajah Justin.


"Ya.. Kerja bagus" ucap Justin yang juga menatap Chris dengan serius.


Sesuatu dibalik tatapan yang mencurigakan yang hanya diketahui mereka berdua.