
Story yang mencengangkan itulah rencana mereka siapkan, bahkan mempertaruhkan nyawa sendiri sudah jadi hal lumrah bagi Justin. Dan rencana itu hanya diketahui oleh mereka berdua bahkan Cleo pun tidak tahu.
"Dia akan bangun kan?" Menyesal Chris melihat Vivian.
"Tentu saja" angguk Justin.
"Apa dia juga tidak tahu?" Tanya Chris.
"Iya. Vivian tidak tahu rencana kita, dia akan baik-baik saja" jawab Justin sambil memegang punggung tangan Vivian.
Namun bagaikan keajaiban Vivian membuka matanya, pertama ia lihat adalah rumah yang tidak asing, lalu melihat pria yang ia cintai sekaligus pria yang tidak menyangka berada disini.
"Kenapa kalian sangat berisik? Aku sampai terbangun" ungkap Vivian dengan suara seraknya.
"Bagaimana dengan tubuhmu?" Tanya Justin yang khawatir.
"Semuanya sakit" jawab parau Vivian yang berusaha duduk.
Vivian bergantian melihat Justin dan Chris, ia menyadari ada sesuatu diantara mereka.
"Ada apa dia disini?" Tanya Vivian yang langsung tertuju pada Chris yang sedang berdiri.
"Dia ingin minta maaf, aku yang menyuruhnya" terang Justin yang sambil membenarkan selimut.
"Benarkah" Vivian mencoba membuka infusan ditangannya.
"Eiii.. Aku saja" halang Justin yang membuka infusan ditangan Vivian.
Justin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan mengaku kalau dia juga mengikuti alur yang Vera buat. Dan Chris berpura-pura menjadi jahat.
Vivian menyender ke dinding kasur, sambil melihat Justin.
"Aku minta maaf, soal peluru itu, aku tidak menyangka kalau kena" sesal Chris.
"Tak apa.. Biar dia yang menggantikan mu" Vivian menatap Justin bermaksud dia lah yang menerima kekesalan nya.
"Baiklah.. Aku akan Terima apapun itu, tapi.. Aku ingin bicara sesuatu" angguk Justin lalu melihat Chris menyuruhnya pergi.
Chris pun keluar dari kamar, suasana berubah serius Vivian pun menantikan apa yang ingin dibicarakan oleh Justin.
"Ada apa?" Penasaran Vivian.
"Kau sudah siap?" Tanya Justin memastikan.
"Iya.. Apa yang ingin kau bicarakan?" Tambah penasaran Vivian.
"Apa kau tahu kalau kau sedang hamil?" Tanya Justin.
"Aku? Hamil?--" tutur Vivian reflek memegang perutnya yang terdapat perban. Justin terdiam Vivian pun jadi terdiam juga untuk berfikir.
"Bayi nya.. Sudah tidak ada" tebak Vivian menutup mulutnya.
"Hm" angguk pelan Justin.
Vivian langsung termenung dan memegang perutnya yang rata, benar ia tidak mengetahui perubahan dari tubuhnya yang sedang hamil, ia memang telat datang bulan namun Vivian mengabaikan itu, tapi nasi sudah menjadi bubur ia tidak bisa menyelamatkan bayi nya.
"Aku baru tahu kalau hamil, terlebih kemarin aku menjatuhkan mobil dari jalan atas.. Hahh.." Rutuk Vivian menyalahkan dirinya sendiri.
"Jangan salahkan dirimu.. Mungkin belum waktunya kita mendapatkannya" pungkas Justin menenangkan.
"Benar, aku masih muda.. Masih bisa mendapatkannya lagi.. Dengan pria baru" celetuk Vivian yang dengan mudah ia menjadi dirinya lagi.
"Pria baru? Apa aku tidak salah dengar? Buat apa aku kesana? Kalau bukan untuk istriku" ulang Justin yang protes.
"Aku temui banyak pria disana.. Sangat tampan" singgung lagi Vivian.
"Kurasa perutmu yang terluka bukan kepalamu.. Eoh.." Pungkas Justin cemburu.
Vivian terkekeh, lalu memegang tangan Justin sembari tersenyum.
...
Di luar Chris menuruni tangga yang tak sengaja berpapasan dengan Cleo, ia terkejut bukan nya dia sudah seharusnya di pesawat.
"Terlambat naik pesawat kah??" Celetuk Cleo.
"Tentu tidak.. Aku habis berkunjung dilantai atas, bertemu dengan Justin" wajah nampak serius namun sebenarnya ia hanya akting.
"Wow.. Wow.. Rileks.. Dia sedang dimabuk cinta" terang Chris sambil masih menuruni tangga.
Cleo yang kesal mengeluarkan pistol nya dan mengarahkan ke Chris. Dari lantai atas Justin nongol dan melihat Cleo dibawah.
"Turunkan.. Dan kita bicarakan" pungkas Justin.
"Apa nya?! Dia sudah--" ucapan Cleo terhenti saat melihat Justin ikut menuruni tangga bahkan ia merangkul Chris dengan santai.
"Lihat? Dia berada dipihak kita" terang Justin.
"Waah.. Anda tidak mengatakan itu padaku, keterlaluan aku apa?" Cemberut Cleo merasa dirinya tidak begitu penting.
"Semakin sedikit orang tahu, rencana kita berjalan lancar, maaf tentang itu.." pungkas Justin sambil senyum. sedangkan Cleo hanya terperangah tak percaya.
...
Lantai atas Vivian berjalan ke dekat jendela dan membukanya, keadaan nya masih lemas.
"Aku akan kembali" ucap monolog Vivian lalu melihat dimeja terdapat kalung berlian yang memang seharusnya ia kembalikan pada Justin.
Tepat saat itu Justin masuk dengan membawa piring berisi buah, ia tahu jika Vivian akan menyukai nya namun ia melihat Vivian sudah berjalan didekat jendela.
"Bagaimana bisa jalan? Perutmu baik-baik saja?" Tanya Justin.
"Aku.. Ingin pulang" pinta Vivian pada Justin.
"Pulang kemana? Disini rumahmu" jawab Justin yang tak percaya Vivian ingin pulang.
"Dari awal ini rencanaku, aku memanfaatkan mu untuk menangkap kakak ku Vera" terang Vivian.
"Aku tidak perduli, mau kau memanfaatkanku itu terserah padamu, tapi aku menjemputmu kesana karena kau istriku" jelas Justin tulus dari perkataan itu membuat Vivian terdiam mencerna perkataannya.
"Dan Chris.. Itu juga rencana mu? Membuat Vera percaya kalau kau bertengkar. Dan kau tidak marah? Bayi nya" tutur Vivian yang berusaha matanya tidak berkaca-kaca.
"Marah tentu saja, tapi aku akan dapat apa jika amarahku meledak, tidak ada, aku hanya butuh kau cepat pulih" ungkap Justin yang menyodorkan piring berisi buah.
Vivian melihat piring yang dibawa Justin, ia pun mengambil piring tersebut dan memakan buah itu dengan lahap.
"Sudah kuduga kau pasti suka" senyum Justin melihat Vivian yang memakan buah.
Terdengar suara mengetuk pintu itu Chris dan membukanya melihat berdua sedang mengobrol Chris masuk, lalu mendekat.
Setelah melihat Chris berdiri ia jadi teringat sesuatu.
"Tapi.. Bagaimana cara kalian melakukan penembakan dirumahku? Aku ingat mereka tertembak" penasaran Vivian.
Senyum Justin.
"Menurutmu kenapa Aku menyelamatkan mu dengan menutup kedua matamu? Semua settingan" ungkap Justin.
"Kalian sungguh detail, merinding aku mendengarnya. Lantas aku tertembak berarti itu diluar dari rencana kalian kan?" Ujar Vivian.
"Iya.. Itu kejadian yang tidak bisa terhindarkan. Dan anggota kemarin yang kau terjunkan dari jembatan dengan mobilnya, mereka juga terluka karena kejadian diluar rencana, aku lagi mengeluarkan biaya untuk mereka" tutur Chris.
"Itu lah tugas Bos melindungi bawahan nya" celetuk Vivian.
"Ya itu benar, itu hampir saja keluar dari rencana, tapi Justin selalu punya dua rencana disiapkan jadi terselamatkan. Asal kau tahu saja mereka juga memiliki skill yang bagus, menembak tapi tidak benar-benar menembak mereka sengaja melakukan itu, hanya menakuti" jujur Chris yang ia lakukan dulu adalah menyelamatkan anggota nya dan kembali mode akting saat di Amerika waktu itu.
"Menakuti dia hampir mengenai dadaku" protes Vivian.
"Berhentilah kau harus duduk" tuntun Justin pada Vivian yang sedang membawa piring buah sambil menuju sofa, Vivian pun menurut dan duduk dengan anteng.
Chris pun mengambil kalung berlian blue Shaphire dan duduk disofa meletakkannya di meja.
"Dari tadi aku sangat penasaran" tanya Chris dengan hati-hati.
"Apa?" Tanya Vivian.
"Apa harta nya sungguh ada? Benarkah sangat banyak??" Tanya Chris dengan penuh harap serta rasa penasaran nya yang meningkat.
Vivian melihat mereka berdua secara bergantian, mereka memang penasaran.
"Ada" jawab singkat Vivian.