Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 38 ⌑



Suara sunyi melanda Vivian dirumah nya, ia sangat khawatir pada Justin apalagi memang itulah pekerjaannya. Vivian berusaha tidak berpikiran negatif dan mulai melakukan bersih-bersih rumah yang sudah lama tidak dibersihkan.


"Oh.. Lihat debu tebal ini" tutur nya sambil memasang alat penyedot debu dan mulai melakukan pekerjaannya.


Setelah 5 jam bersih-bersih mengganti apapun yang berdebu, dari hordeng, seprai, kain meja makan itu diganti semua. Namun Justin juga belum datang sampai langit sudah gelap.


Vivian menunggunya sambil meminum coffee ia selalu berdiri dekat jendela besar khas seperti orang sedang menunggu. Namun yang ditunggu belum juga datang.


"Kapan kau datang?" Lirih Vivian yang melihat halaman rumah tidak ada siapapun.


"Ini aneh.. Dulu aku sendiri tidak masalah, tapi kenapa sekarang rasanya aku sangat kesepian" monolog Vivian yang berjalan duduk disofa lalu melipat kakinya supaya tidak dingin.


Bressss


Tiba-tiba hujan turun membasahi hutan yang rimbun terlihat dari jendela.


"Ahh.. Kenapa hujan sekarang" tutur Vivian yang menaruh gelas nya dan menuju balkon atas untuk menutup pintunya karena hujan.


Lalu 20 menit kemudian Justin datang, Vivian langsung menyambutnya, dan datang dalam keadaan basah kuyup.



"Kau tidak bawa payung?" Tanya Vivian yang langsung pergi ke dalam mengambil handuk kering untuk Justin.


Masih keadaan berdiri Vivian dengan teliti mengeringkan rambut Justin dan tubuhnya yang basah, Justin hanya diam menerima perlakuan hangat dari istri nya.


"Kau benar" ucap Justin.


"Hm?"


"Rumah ini terlihat jauh lebih hangat, ada kau disini" ucap Justin tatapan nya tak lepas dari istrinya.


"Bicara apa sih? Cepat ganti pakaianmu" ucap Vivian yang menyuruh Justin pergi ke kamar mandi.


Greep


Justin menahan pergelangan tangan Vivian lalu memeluknya dengan erat meski tahu padahal tubuhnya basah kuyup. Tubuh mereka saling menempel menyalurkan kehangatan.


"Bajuku basah" ucap pelan Vivian.


"Aku lapar" bisik Justin.


Justin melepaskan pelukan nya lalu melangkah ke kamar mandi, Vivian langsung mengikat rambutnya untuk bersiap memasak.


Selesai urusannya mandi terlihat Vivian sudah menunggu Justin dimeja makan, yang sudah tersedia makanan yang dimasak tentu ada sup untuk menghangatkan tubuh.



"Kenapa cuma satu mangkuk nasi?" Tanya Justin.


"Aku sudah makan, cepatlah duduk" jawab Vivian yang memberikan sendok kayu pada Justin.


Meski hanya sup, telur, dan beberapa ham makanan sederhana itu membuatnya rindu, ini makanan rumahan.


"Aku memang tinggal di Italia, tapi aku juga merindukan masakan ini" senyum Justin.


"Habiskan" Vivian mendekatkan lauk lainnya pada mangkuk nasi Justin.


...


Vivian memandang keluar jendela yang masih hujan dengan tangan terlipat, lalu Justin datang dari belakang memeluk Vivian .


"Ini sangat romantis benarkan" bisik Justin tepat dibelakang telinga Vivian.


"Ada yang perlu ku tanyakan" ucap Vivian.


"Apa?"


Vivian melepaskan pelukan Justin dan berdiri menatap nya.


"Apa kau akan pergi lagi?" Tanya Vivian dengan serius.


Justin enggan menjawab malah menatap Vivian. Ia tidak bisa menyangkalnya pekerjaannya terlalu berbahaya.


"Mengapa kau tidak menjawab?" Tanya Vivian.


"Aku mencintaimu" ucap Justin tiba-tiba membuat Vivian menatap Justin.


Mengerti Justin tidak bisa mengatakan tidak, Justin hanya bisa memeluk tubuh kurus Vivian.


Suasana gelap di luar masih hujan, ruangan yang dingin menjadi hangat Justin mengecup lembut pundak Vivian.


"Tidak akan berubah, kau adalah istriku. Dan aku suamimu kini begitu" Justin memperjelas itu masih dalam pelukannya.


"Begitu ya.. Suami" cicit Vivian.


Bibirnya mengecup lembut dahi istrinya serta mengusap kepala nya dengan lembut. Justin melepas kaos nya dan membuangnya sembarang.



Terlihat kulit putih pucat serta tattoo yang berada dilengan Justin, tangan Vivian terulur mengelus lengan Justin dan menariknya mendekat mengecup bibir nya.


CUP


"Itu belum cukup" bisik Justin yang mengecup kembali bibir Vivian dengan rakus.


Jendela besar yang mengarah ke kasur, ditambah hujan yang terus turun, kegiatan romantis dan panas itu terus menerus suara hujan rintiknya menambah tingkat romantis dan gàirâh.


2 jam berlalu membuat mereka terlelap tidur sambil berpelukan dengan keadaan naked hanya selimut menutupi tubuh mereka.


Ditambah di luar pun masih hujan, jendela pun jadi berembun karena dingin diluar hangat didalam.



Suara getar telfon membuat Vivian menggeliat dalam tidurnya, itu membuat Justin bangun karena ponselnya berada di samping nakas dekat Vivian.


"Hghmm" lenguh Justin mengusap wajahnya karena masih ngantuk.


Justin meraih ponsel dinakas samping Vivian, lalu menyibakkan selimut dan menurunkan kakinya. Justin bangkit sambil melihat ponselnya serta tubuhnya yang toples hanya celana pendek yang ia kenakan.


Ia mendekati jendela berdiri agak jauh dari Vivian tidur agar tidak mengganggu nya.


"Che c'e'?" (Ada apa?) Tanpa basa-basi ia memakai bahasa Italia.


Justin mendengarkan ia berkali-kali menghela nafasnya.


"Davvero? Il pacco?" (Begitu?? Barangnya??)


"Dimmi che non c'e' tempo per incontrarci e che hai in mano hai un accordo. Non l'ha ancora capito?!" (Katakan aku tidak bisa bertemu dengannya, kesepakatan apapun kau yang pegang. Masih belum mengerti?!) Justin menekankan bagian akhir kalimat ia terdengar menahan amarahnya.


Karena itu Vivian terbangun melihat Justin dekat jendela sedang berbicara dengan telfonnya. Ia memegang selimut yang menutupi dadanya, melihat Justin yang nampak serius dalam percakapannya.


Lagi Justin menunduk sambil menghela nafasnya.


"Si', signore" (Ya.. Aku mengerti) Justin menutup panggilan tersebut dan berbalik melihat Vivian yang sudah bangun.


"Ada apa masalah?" Tanya Vivian yang berusaha mengambil baju tidurnya.


"Oh.. Maaf" ucap Justin dengan menyesal.


Vivian memakai baju tidur dan mendekat ke Justin, lalu melihat wajahnya.


"Di luar masih hujan" Vivian mengusulkan besok saja perginya dan bahkan ini masih sangat pagi.


"Maaf.. Kali ini aku akan pergi lama" jelas Justin.


Raut wajah Vivian langsung berubah, artinya dia akan terpisah dalam waktu yang tidak bisa diperkirakan. Bibir nya mengulum berusaha berpikir.


"Kau akan melupakanku?" Tanya Vivian.


"Tidak akan.. Ada ini" Justin mengangkat tangan Vivian memperlihatkan cincin dijari manis nya yang terdapat GPS didalam berlian tersebut.


"Aku akan berusaha segera kembali" Justin meyakinkan kembali Vivian.


Vivian hanya mengigit bibirnya, dan memeluk dirinya sendiri.


"Baiklah, pergi lah" perkataan itu terucap dari Vivian.


"Jangan khawatir, aku mengirim anak buahku untuk menjaga sini" usul Justin.


"Tidak, jangan.. Aku.. Lebih suka sendiri" larang Vivian.


Justin hanya mengangguk mengerti, ia pun mengambil baju dan celana panjangnya dengan cepat ia memakai nya. Vivian juga merasa khawatir sampai menyisir rambut dengan jemarinya.


Melihat Justin yang sudah siap, Vivian pun hanya bisa melihat nya. Melihat kekhawatiran Vivian ia mendekat lalu mengecup kening Vivian lumayan lama.


Merasa kurang Vivian menarik leher Justin untuknya dipeluk, dan mengelus punggung lebar Justin membiarkan dada mereka menempel, merasa kerinduan nya akan terbatas Justin mengecup pundak dan leher Vivian dengan lembut, Vivian hanya memejamkan mata merasakan sentuhan itu.


Tak ingin ketinggalan Vivian juga mengantarnya pergi ke pintu depan.


"Bawa payung ini" Vivian menyodorkan payung berwarna pink miliknya.


Sudut bibirnya tertarik sedikit melihat warna payung tersebut.


"Kembali lah dengan selamat, aku menunggu.. Jangan sampai terluka" berkali-kali Vivian selalu mengatakan itu dengan yakin.


"Hm" senyum Justin lalu ia pun benar-benar pergi.