
Bunga pemberian dari Justin yang selalu dikirim oleh nya, memang menghilang kan rasa rindunya sejenak.
"Romantis apanya.. Kalau dia paham seharusnya dia berada disini, melakukannya langsung, menunggu anaknya lahir bersama" mood Vivian rusak.
"Eh? Anak?" Ulang James.
Vivian menaruh garpunya dengan mood tidak baik.
"Kupikir aku hamil, 2 bulan dia tidak datang, aku tidak pernah membayangkan hamil disaat suamiku tidak disisiku.. Ishhh.." Vivian kesal.
"Itu kabar bagus, aku akan beri tah-" seru James.
"Jangan, jangan beri tahu dia" larang Vivian.
"Kenapa? Jika Justin tahu dia akan sangat senang" balas James.
"Aku tidak ingin merusak rencana nya, jika urusannya belum selesai bagaimana, dan mungkin lebih baik dia tidak tahu, begitu bayi nya lahir dan besar bagaimana jika dia tahu kalau ayahnya mafia.. Itu kejahatan terberat" kegelisahan Vivian selama ini.
"Sekarang sepertinya tidak perlu memikirkan itu, pikirkan saja bayi nya tetap sehat dan ibunya juga, aku berusaha membantu" pungkas James.
"Sudahlah.. Besok bawakan gurita" pungkas Vivian.
"Ya.." Angguk paham James.
James melihat sekeliling rumah yang nyaman tentunya.
"Aku akan beri uang, belikan bahan pokok dari makanan, kebersihan, sampai obat untuk luka dan lain-lain bisa dicicil bawa nya" permintaan Vivian cukup banyak.
"Dibawa kesini?" Tanya James.
"Iya, jika perutku sudah besar aku tidak akan mungkin turun gunung bolak-balik, kau saja" pungkas Vivian.
"Sebaiknya keluar dari sini, dan bebas pergi ke klinik untuk mengecek bayi nya" James membujuk tentu akan sulit nanti.
"Aku tidak mau, aku yang akan periksa sendiri, aku terlalu malas untuk bertemu seseorang jika tidak penting, lebih baik di rumah" tolak Vivian.
"Baiklah, jika memang itu kemauan anda, aku akan bawakan keperluan lainnya, dan akan berkunjung jika tugas ku selesai" angguk James bahkan menawarkan dirinya.
"Jangan, kesini sebulan sekali saja" larang Vivian padahal James ingin berbuat baik.
"Tapi-- baiklah" jawab James.
Tok Tok
Diluar Vivian membuka nya terlihat pria tampan yang ia kenal yang menatapnya.
"Lu.. Lucas.. Kenapa ada disini?" Tanya Vivian.
"Boleh aku masuk? Karena titipan nya banyak" suara rendah Lucas terdengar.
Vivian melihat anak buah Justin membawa banyak bahan pokok, dan lain-lain sambil ada yang ngos-ngosan.
"Oh.. Iya.. Masuklah" merasa kasihan melihat mereka membawa banyak barang.
Saat anak buahnya sedang mengerjakan tugasnya, Lucas melihat sekeliling rumah.
"Silahkan duduk" tutur Vivian sambil menyediakan teh.
"Apa pengacara tidak ada kerjaan? Malah mendaki" tutur Lucas yang melihat sekeliling rumah namun perkataannya tertuju pada James yang duduk santai.
"Bicara dengan siapa? Dan Aku pengacara Nyonya Vivian" perjelas James.
"Kalian diamlah.. Ini semua apa?" Tutur Vivian melihat ke Lucas.
"Justin memintaku untuk mengirimkan nya.. Tapi kenapa kau tidak balas pesannya" terang Lucas.
"Sekarang dia ada dimana?" Tanya Vivian.
"Rusia"
"Rusi.. Mengirim orang bisa, kenapa dia lebih mementingkan yang lain" kesal Vivian.
"Disana perkumpulan mafia lebih besar, jika masuk lebih dalam.. Itu bisa jauh dari pemikiran mu" terang Lucas.
"Apa dia baik-baik saja" ragu Vivian.
"Jika kau penasaran, kenapa tidak mengatakan langsung pada nya" balas Lucas.
Satu anak buahnya mendekat.
"Bos. Sudah selesai semuanya" terang nya.
"Bagus, kalian pulang lah lebih dulu" jawab Lucas.
"Aku juga pulang" sahut James.
"Gurita! Jangan lupa" ucap Vivian.
Mereka pun pergi menuruni gunung, dan melewati hutan tadi.
"Apa disini ada tempat tidur untuk tamu?" Tanya Lucas dengan pede dengan memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Ingin menginap? Ada nya sofa" jawab Vivian menuju pantry untuk mengambil buah dan ia cuci.
"Tidak ada ya.. Tak apa, aku bisa tidur disini, tapi.. Kau yakin disini aman?" Sahut Lucas untuk memastikan ini aman atau tidak.
"Kenapa?"
"Apa harimau juga berkunjung?? Atau beruang?" Was-was Lucas.
"Disini harimau sudah punah, mungkin beruang" jawab Vivian sambil mengupas buah.
"Kau yakin disini aman??" Tanya sekali lagi Lucas.
"Terkadang ada rusa mampir di halaman depan" ujar Vivian duduk di meja makan. Lucas pun mengikuti duduk disana.
"Kau tidak takut?" Tanya Lucas.
"Manusia lebih menakutkan, dan jika sudah sore pastikan pintu terkunci rapat serta jendela" terang Vivian mengambil satu potong buah.
"Kenapa?" Ngeri Lucas.
"Kalau takut kenapa tidak pulang saja?" Tutur Vivian.
"Tidak, lagipula sebentar lagi sore, sulit menemukan jalan pulang" bantah keras soal itu, dan memiliki alasan cukup, Lucas ikut memakan apel yang sudah dikupas.
Mereka terdiam sejenak, Lucas memperhatikan Vivian.
"Tadi.. Kenapa minta gurita pada James?" Tanya Lucas.
"Aku ingin makan itu, tidak bukan Aku.. Itu.. Aku sedang hamil, sudah 2 bulan" terang Vivian.
"Serius? Lantas Aku akan punya keponakan" senang Lucas.
"Iya.. Tapi jangan katakan ini pada Justin, Aku tidak ingin memberatkan pikirannya" tutur Vivian.
"Biar Aku saja yang urus dia" lanjut Vivian.
"Justin akan senang, jangan khawatir dia pasti akan pulang" ujar Lucas.
Vivian hanya mengulum bibirnya sambil mengangguk.
"Kau tahu.. Justin punya sebuah pulau" ungkap Lucas.
"Pulau? Tanah ditengah lautan?" Perjelas Vivian.
"Iya, ayahnya yang menghadiahkan pulau itu, sudah tradisi keluarga, disana ada rumah mewah, biasanya pulau itu dipakai untuk pelarian" ungkap lagi Lucas.
"Pelarian?" Ulang Vivian rada tidak suka bagian itu.
"Pulau itu sudah tertulis milik pribadi, jadi tidak akan ada yang berani masuk" terang Lucas.
"Waahh.. Aku tidak tahu kalau itu bisa dilakukan" kagum Vivian membayangkan rumah tepi laut.
"Ibu Justin tetap aman dia berada di pulau milik ayah nya, menyembunyikan dari semua saingan bisnis sehingga leluasa menjalankan bisnis tanpa takut" ungkap Lucas.
"Justin tidak mengatakan apapun tentang pulau itu" ujar Vivian.
"Dia akan bilang, apalagi kau sedang mengandung anak nya, Justin pasti akan melindungi mu" tutur Lucas.
Dalam lubuk hatinya Vivian merindukan Justin.
...
Dua orang rusia sedang berbicara didepannya ada Justin yang mendengar percakapan. Mereka melakukan kesepakatan dan pembayaran barang nya.
Setelah itu Justin kembali ke kediaman nya dengan beberapa anak buahnya, Justin melihat satu kotak berisi barang nya bubuk itu.
"Sudah semua kan, lain kali jangan panggil aku lagi, kau urus semuanya" ujar Justin pada Chris.
"Baiklah, mereka hanya sulit untuk didekati kalau bukan kau" tutur Chris.
"Kita harus cepat pergi dari sini, kau tahu kan" peringat Justin kalau setiap negara tentu beda persepsi tentang barang yang ia bawa.
Malam itu mereka kembali ke AS untuk merapihkan barangnya. Diruangan nya Justin memandang ponselnya ia sudah mengirim pesan tetapi ia tidak menerima balasan apapun dari Vivian.
Namun itu tak membuat Justin kehilangan akal ia menyuruh orang untuk mengawasi, dengan mengirim foto-foto Vivian. Melihat Lucas sudah disana pasti sudah mengirim barang yang dibutuhkan.
Anak buah nya yang tak jauh dari sana sedang membungkus bubuk tersebut.
"Harus ditimbang dengan benar, 1 gram saja bisa membunuh kita semua" peringat Justin.
"Bos.. Victor datang" ujar Cleo yang datang dari depan.