
Acara pesta yang seharusnya bersenang-senang namun ini digantikan oleh rasa tegang dan Justin hampir tidak sadarkan diri ketika dibawa ke dalam rumah.
Cleo menyuruh anak buahnya menaruh Justin disofa, lalu membuka jas yang dikenakan Justin, ia memang sedikit cemas karena ada darah menetes panjang ke bawah.
Dengan paksa Cleo merobek kemeja putih yang dipakai Justin.
SREK.. TUK TUK TUK
Kancing baju nya pun ikut terlepas begitu saja, namun Cleo bernafas lega dan menjauh melihat kondisi perut Justin.
"Kau.. Issshhhh" Cleo hampir mengumpat melihat yang dipakai Justin.
"Hah.. Tetap safety, tapi sakit" terengah Justin sambil terkekeh dan mencoba melepas rompi anti peluru. Justin duduk melepas rompi nya sedangkan Cleo ikut membantu.
Meski perutnya terluka namun tidak terlalu dalam, Justin melihat rompi yang tertancap peluru yang sudah menembus tentu mengurangi tingkat luka pada perutnya.
"Istrimu yang melakukan ini padamu, selanjutnya bagaimana?" Tanya Cleo yang menunggu keputusan Justin.
"Kau sudah menyuruh tamu pergi?. Apalagi..Aku harus memberikan kelonggaran, dia melakukan nya karena diancam" Justin menarik peluru yang tertancap di rompi dan peluru sudah ada ditangan nya.
"Sudah. Apa katamu? Kelonggaran? Kau sudah tahu ini terjadi? Sebab itu kau memakai rompi ini?" Gak habis pikir Cleo dengan Justin ia mempertaruhkan nyawa nya sendiri demi wanita yang menembaknya dihari pernikahan yang seharusnya suka cita.
Anak buahnya menaruh sepatu hills disofa yang ditinggalkan oleh pemilik nya, Justin hanya menatap sepatu itu.
"Aku tidak sengaja mendengar nya, nanti ku ceritakan, untuk itu carikan pembersih yang masuk ke ruang pengantin, wanita itu memakai sepatu boot" perintah Justin.
Anak buahnya langsung bergegas mencari sebelum benar-benar melarikan diri perempuan yang dimaksud.
"Kau tahu? aku menyuruh mereka menjaga dengan ketat tamu undangan, dan serangan dari luar, tak kusangka pengantin nya sendiri yang melakukannya.. kali ini aku salah kira" pungkas Cleo. Namun Justin hanya diam ia tahu Cleo sudah sangat membantu menyiapkan acara ini.
Beberapa menit wanita yang dimaksud itu tertangkap dihalaman belakang ingin melarikan diri, namun sebelum terlambat penjaga Justin sudah menangkapnya. Dan mendudukkan wanita itu serta dua penjaga disamping kanan kiri wanita tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu? Apa saja yang mereka suruh disini?" Tanya Justin to the point.
"Tidak tahu" jawab wanita itu asal.
Justin menjentikkan jari, lalu para penjaga nya langsung mengambil pisau dan satu penjaga memegang kaki wanita itu bersiap untuk kehilangan satu kakinya.
"Oh.. Iya iya! Aku akan katakan!!" Panik wanita itu.
Justin mengangguk lalu mengambil satu foto Vera dan Victor lalu menunjukkan pada wanita itu.
"Apa orang ini?" Tanya Justin.
"Iya, mereka merekrut ku di jalanan, mereka berjanji memberi kan ku uang, setelah pekerjaan selesai, hari ini aku belum dibayar" ucap cepat wanita itu sambil berlutut didepan Justin.
"Jadi, pistol itu kau menaruh nya didalam?" Tanya Justin.
"Iya, mereka menyuruh ku begitu, hanya itu, aku bahkan tidak tahu jika pistol itu sungguhan" pungkas wanita itu terlihat raut wajahnya yang tidak tahu apa pun.
"Kau bukan pertama kali hari ini kan? Waktu itu kau juga ada. Apa yang mereka suruh waktu itu? " ingat Justin.
"Itu.. Aku menaruh earphones dibawah kasur, dan mengambil kalung ditempat sampah" jelas wanita itu.
"Kalung? Bagaimana dengan bentuknya?" Tanya Justin.
"Aku tidak lihat, mereka menyebutnya kalung hanya disuruh mengambil benda itu" geleng wanita itu.
"Baiklah, kau boleh pergi, tapi jangan mengatakan hal ini pada mereka, jika kau melakukannya kaki mu akan hilang" ancam Justin. Dan diangguk oleh wanita itu dan langsung pergi.
"Kenapa kau melepaskannya?" Tanya Cleo.
"Dia tidak tahu apapun" Justin mendudukkan dirinya disofa, ia melihat lagi peluru ditangannya lalu melihat rompi yang sudah ada bekas cekungan bekas peluru.
"Kau terlalu lembut, dia sudah menyusup kesini, artinya mereka menginginkan sesuatu, kalung itu" balas Cleo.
Namun bukan kalung itu masalah bagi Justin, tetapi perkataan Vivian sebelum menembaknya.
"Tapi.. ini sama sekali tidak mengenai bagian organ ku, lihatlah" unjuk Justin pada rompi bekas peluru.
"Tidak, dia penembak handal Jika ingin membunuhku harusnya dia membidik bagian dada ku. Diantara dia menyelamatkan ku atau peringatan darinya" ucap Justin yang berpikir begitu.
***
Saat siang Vera dibuat kesal lagi karena hilang kontak dengan Vivian, begitu juga anak buah yang ia kerahkan untuk memantau panti asuhan belum ada kabar barangkali Vivian kesana.
"Bagaimana hasilnya? Sudah kau temukan Vivian?" Tanya Vera.
"Belum, dia masuk hutan tidak tertangkap kamera hutan" jelas salah satu pria didepan komputer.
"Haruskah kita bunuh satu anak dengan ini" ceplos salah satu anak buahnya sambil memegang pistol.
Vera mendekat lalu menampar pria tersebut.
PLAKK
"Kau gila?!! Kau mau masuk pencarian BIN?! Kau tidak akan kubayar untuk membunuh, pakai otakmu, bodoh" amarah Vera meluap.
"Maaf.. Bos, Aku tidak berpikir panjang" sesal anak buahnya.
"Siapkan obat nya, kematian paling lumrah disini adalah gagal jantung" jawab lagi Vera.
"Ye" patuh anak buahnya.
Victor hanya memerhatikan pertikaian itu sambil mengisap rokoknya.
"Tapi.. Kenapa kau memberikan Vivian pistol? ingin dia masuk BIN??" Tanya Victor yang tak tahu itu membuat Vera menatap tajam.
"Kau sungguh Bodoh, Justin Mafia!! Dia tidak akan melaporkan hal itu, itu sama saja dia menggali kuburan nya sendiri" Vera terus mengumpati kakaknya yang kurang pandai dalam hal tersebut. Victor kesal menginjak putung rokok nya yang ia buang, jelas ia sebagai tertua tidak dihormati terus ditindas sangat tidak leluasa.
Namun hari sudah malam dengan cepat, ternyata Vivian berdiri memantau rumah yang dulu ia tinggalin dengan keadaan gelap, ternyata tidak ada orang.
Ia datang ke rumahnya dengan keadaan masih sama kaki yang luka serta lengan ia masih abaikan, ia menyalakan lampu untuk menerangi ruangan. Lalu berjalan ke kamar mandi air gemercik shower terdengar tanda ia sedang mandi.
Tidak mungkin kan ia menembak Justin hanya untuk mandi dirumahnya, Vivian punya rencana lain.
Selesai mandi Vivian mengambil botol air lalu menuju dapur ia membuka laci pisau lalu dibaliknya terdapat sebuah ponsel ia mengambilnya. Ia mengutak-atik ponsel tersebut dan seulas senyum tertarik dari sudut bibirnya.
Vivian mengambil kalung diamond tersebut yang sekarang berada di tangannya.
"Besok sudah berakhir" senyum Vivian lalu ia menuju kamar nya untuk beristirahat malam ini.
***
Paginya Vivian yang sudah siap dengan jaket kulitnya yang berwarna hitam dan celana hitam tak lupa kaca mata hitam menghiasi.
Vivian pergi ke hutan dekat jalan raya, disana terdapat sebuah motor sport warna hitam. Ia memakai helm dengan luwes Vivian menaiki nya bahkan suara bas motor yang terdengar keras biasanya dipakai laki-laki.
Motor yang dikendarai Vivian melaju cepat, untuk menuju ke sebuah rumah yaitu markas Vera dan Victor.
Vivian masuk begitu saja meski ditatap anak buah Vera ia tidak takut, sampai pada ruang tengah yang terdapat beberapa komputer.
Disana ada Vera dan Victor yang menyambut kedatangan Vivian yang begitu berani, Vivian mengeluarkan plastik clip isi kalung itu dan menunjukkan nya pada Vera.
"Sudah kan" ucap Vivian menaruh dimeja.
"Aku punya trauma, jika palsu akan kepotong tangan mu untuk berjaga-jaga" ucap Vera lalu mendelik pada anak buahnya dan langsung menutup pintu. Vera langsung mengambil kalung tersebut dan mengecek keaslian kalung.
Setelah dipastikan asli, Vivian minta janjinya.
"Mundur" perintah Vera dari walkie.
"Kedepan nya jangan ganggu mereka, mereka tidak ada sangkut paut dengan pekerjaan kita" tutur Vivian dengan dingin.
"Dan Justin, jangan libatkan lagi dia" lanjut Vivian.
"Entahlah.. Itu tergantung keadaan" ucap Vera.
Itu cukup membuat Vivian kesal Vera selalu tidak menepati perkataannya.