Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 22 ⌑



Justin nampak sedang berpikir sambil melihat Vivian, lalu mencerna perkataannya.


"Pergi? Lalu bagaimana dengan uangku?" Ceplos Justin.


"Bagaimana pun aku harus mengganti uangmu, entah meminjam ata--"


"Buat pernikahan" ceplos Cleo dengan enteng.


"He?" Kaget Vivian bahkan ia terperangah.


Vivian harus memutar otak, bagaimanapun ia harus menolak pernikahan itu. Ini diluar kendalinya.


"Bukan begitu.. Aku sudah meminjam uangmu, apalagi sampai membuat acara pernikahan.. Ouhh.. Pasti mahal, kau akan mengeluarkan uang lagi, lebih baik kau sim-"


"Kita bisa menyiapkan acaranya dihalaman rumah ini, hm.. Benarkan" usul Justin dan dianggukkan oleh Cleo.


"Benar juga, kita bisa menggunakan wedding outdoor, sudah dibayangkan sangat cantik" timpali Cleo.


"Boleh juga, coba carikan hiasan untuk pernikahan" perintah Justin seperti semangat Cleo langsung membuka tablet nya dan mencari bagaikan stalker hebat.


"Oh.. Ini bagus.. Tidak terlalu mencolok" unjuk Cleo pada Justin.


"Bagus.. Apa ada lagi? Bunga putih kurasa bagus" balas Justin yang menanggapi pendapatnya.


Vivian hanya diam terperangah dengan interaksi mereka, yang menikah siapa, tapi mereka sangat bersemangat.


...


Justin memerhatikan Vivian dari lantai atas di sampingnya ada Cleo, sedangkan yang diperhatikan sedang menyedot debu yang suara nya sangat berisik.


Di lantai atas Justin melihat Vivian.


"Kurasa memang mengadakan pernikahan adalah tindakan benar, dia akan terikat dengan hukum, dan aku, dia tidak akan bergerak sendiri" ucap Justin.


"Kau belum sepenuhnya mempercayai nya" timpali Cleo.


"Anehnya.. Masih ada yang terus menganggu ku, tapi aku tidak tahu apa itu. Yang jelas acara akan dilaksanakan sesuai jadwal" ungkap Justin.


"Baiklah, ada lagi?" Tanya Cleo.


"Tapi perlu diperhatikan kejujurannya, aku menghargai itu dan mencoba untuk mempercayai nya. Daftar kan pernikahan dengan paspor miliknya" perintah Justin.


"Iya, bagaimana dengan tamu undangan?" Tanya Cleo.


"Kumpulkan anak-anak dan undang teman yang ada saja" yang dimaksud anak buahnya.


"Baiklah, pernikahan tepatnya seminggu lagi, sudah ku atur" jelas Cleo yang menandai tanggal ditablet miliknya.


"Bagus.. Aku akan ajak dia untuk memilih gaun" Justin menepuk pundak Cleo lalu pergi untuk menghampiri Vivian.


...


Mereka berdua tengah sibuk memilih gaun untuk pernikahan, meski Vivian tidak ingin bertele-tele memilih.


Akhirnya mereka mencoba satu untuk melakukan sesi pemotretan.


Balutan long dress putih dengan pundak yang terekspos, sedangkan Justin jas serta dasi ia nampak tampan karena memakai make up, tangan Justin merangkul pinggang Vivian dalam pemotretan,  ia terus begitu bahkan tersenyum melihat Vivian yang begitu cantik.



Tak lupa dengan buket mereka juga berfoto seperti prewedding pada umumnya, Vivian mengaku senang dan terharu ia melakukan yang ia harapkan. Bahkan tatapannya selalu ke Justin meski disuruh melihat kamera.


"Kau sangat cantik" bisik Justin.


"Aku senang"  balas Vivian.


Terakhir pemotretan mereka senang, tak ketinggalan mereka juga berjalan-jalan melewati beberapa toko.


Namun yang tidak pernah mereka sadari, sejak tadi ada yang memperhatikan mereka sejak keluar dari mansion.


Wanita itu melepaskan kaca matanya, ialah Vera yang menatap sinis.



"Bisa dilihat, mereka akan melangsungkan pernikahan kan?" Ucap Vera dengan raut kesalnya.


"Iya..sangat romantis.. Wanita itu sangat ahli" ucap Victor yang berdiri tak jauh dari Vera.


Lalu ada telfon dari anak buahnya, dapat berita yang mengejutkan.


"Ada apa?" Tanya Vera dalam earphones nya.


"Kita dapat informasi.. Kurasa ini bisa mengancam nya" ujar dari sambungan earphones yang Vera dan Victor dengar.


"Kau yakin? Berapa persen akuratnya?" Tanya Vera.


"99℅ akurat" terang dari sambungan earphones.


"Oh.. Kita bisa pakai itu dihari penting mereka.. Itu seperti hadiah.. Suprise.." Timpali Victor dengan senyum remeh.


"Aku suka itu.. Cari kapan mereka melaksanakan pernikahan" ucap Vera dengan senyum senangnya lalu berbicara pada anak buah nya lewat earphones.


"Ayo.. Kita siapkan hadiah kita" ajak Vera dengan senyum penuh rencana lalu berjalan pergi.


...



"Ini disebut latihan?" Tanya Vivian mendongak.


"Hm. Kita akan berjalan sampai ujung sana" Justin memegang kedua tangan Vivian dan berhadapan.


"Lalu apa lagi?" Tanya Vivian.


"Hm.. Kita berjanji disini.." Jawab Justin.


"Tapi.. Apakah kau mengundang banyak orang? Apa teman mafia mu juga datang? " Tanya Vivian sekarang ia tidak perlu sungkan menyebut Mafia.


"Tidak, hanya anak buah ku saja dan beberapa kenalan, tapi akan ku pastikan pernikahan ini tidak akan terlupakan bagimu Nyonya Mafia" terang Justin.


"Sekarang aku menjadi Nyonya Mafia.. Nama yang keren..Aku wanita beruntung" ucap Vivian sambil senyum. Justin hanya mendengus menahan tawa.


Mereka asik mengobrol membicarakan bagian mana saja yang harus dihias, dan menaruh wedding cake mereka.


Dari kejauhan ada Cleo yang mengurus memesan apa saja yang dibutuhkan.


"Pastikan keamanan tetap terjaga saat acara nya berlangsung, kita tidak tahu siapa yang akan datang nanti" perintah Cleo bada bawahannya.


"Saya mengerti" angguk anak buahnya.


...


Berhari-hari telah berlalu pernikahan hanya tinggal hitungan hari, bahkan Justin memberikan pelayanan penuh VIP pada calon istrinya itu, mulai dari perawatan wajah, spa, dan nail art semua dilakukan dirumah Justin yang memanggil orang untuk mengerjakan tanpa musti bepergian, pasalnya di rumah juga sudah tersedia sauna.


Vivian pun menikmati nya hanya duduk diam, yang terpaksa ia lakukan meski menghabiskan waktu berjam-jam. Tak ingin diam Justin bahkan melakukan nail art juga bersamaan dengan Vivian. Meski desain yang simple namun tetap cocok dipakai oleh pria.


"Ini bisa dihapus kan" tanya Justin.


"Tsk.." Decak Vivian serta menghadiahi tatapan pada Justin.


Setelah melakukan berjam-jam hasilnya pun jadi, bahkan Vivian merasa puas dengan warna kukunya, ia memegang tangan Justin dan membandingkannya, meski Justin dipoles hanya di satu jari yaitu jari kelingkingnya, tapi itu cukup membuat Vivian senang.



"Lihatlah.. Sekarang kita Couple.. Hihi" kekeh Vivian masih memerhatikan kukunya dengan kuku Justin.


"Syukur lah kau suka" ucap Justin penuh senyum.


***


D-day hari pernikahan, gaun putih gading cantik, serta riasan tipis make up membuat Vivian nampak elegan, ruang altar sudah dihias apik dengan bunga berwarna putih.


Dan mempelai pria pun sudah siap dengan bunga didadanya, ia nampak lebih tampan.



"Setting sudah selesai" lapor Cleo.


"Bagus, aku juga sudah siap" jawab Justin.


Didalam ruang tunggu pengantin wanita, Vivian tengah bercermin melihat tubuhnya dengan balutan gaun pengantin.



Lalu keluarlah dari kamar mandi seorang wanita, membuat Vivian terdiam melihat wanita itu pasalnya dia wanita yang sama saat melakukan operasi pencurian kalung.


"Aku sudah selesai menaruh pengharum ruangan, silahkan diperiksa" nada nya seperti Vivian harus memeriksanya.


"Hm? Pengharum?" Ulang Vivian.


"Iya.. Pengharum, kalau begitu saya permisi" jelas ia mengeja kata pengharum tersebut lalu pergi begitu saja.


Sadar ada yang tidak beres Vivian pun masuk ke dalam kamar mandi, ia melihat memang ada pengharum ruangan.


Ia melihat sekeliling lagi, mengangkat gelas pengharum ruangan ternyata ada earphones disana.


"Kenapa ini ada disini?" Monolog Vivian, ia sudah menaruh curiga dari wanita pembersih tadi. Ia pun memasangkan ditelinganya.


"Siapa ini?" Sahut Vivian dari earphones nya.


"Sudah lama.. Selamat atas pernikahanmu" sapa nya suara yang Vivian kenal.


"Vera?" Ucap Vivian.


"Oh, aku tidak terlalu sedih karena kau masih ingat aku" jawabnya dengan nada remeh.


"Kupikir urusan kita sudah selesai" ucap Vivian dengan menahan kekesalannya.


"Selesai hanya keputusan mu sendiri  tidak denganku, wanita jàlâng yang membohongiku tidak pantas hidup" balas Vera menyinggung karena Vivian menipu dengan mengirim kalung diamond yang palsu.


"Sudah cukup, aku tidak butuh lagi--" ucap Vivian.


"Aaa.. Aku tidak tahu kalau kau sangat peduli dengan anak-anak" singgung Vera menyela perkataan Vivian.


"Anak-anak?" Ulang Vivian melebarkan matanya, ia mulai cemas, bagaimana Vera bisa tahu, padahal ia sudah menyembunyikan dengan teliti.