Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 31 ⌑



Melihat situasi aman Cleo pun muncul melihat Chris dan Vera dibawa dengan mobil serta pengawalan cukup ketat, melihat penangkapan yang terjadi, pria tadi mengeluarkan rokok dan menyalakan nya.


"È lui?" (Apa dia orangnya?) Tanya pria tersebut melihat Chris dengan bahasa Italia nya, matanya tak lepas dari Chris sedangkan bibirnya terdapat rokok.



"Sì." Jawab Justin.


"Lui ancora non capisce i suoi affari, figlio di merda" (Dia belum mengerti bisnis yang diambil nya, bájíñgáñ) ucap pria tersebut. Justin hanya mendengus menahan tawanya.


Vivian mendengar percakapan mereka namun sama sekali tidak mengerti.


"È troppo male." (Maaf tentang itu) Justin menggidikkan bahunya.


"Diakhir kalimat itu seperti umpatan" ucap pelan Vivian mendengar nya.


"Sapalah.. Dia kakak sepupu ku..namanya.. Siapa namamu tadi?" jahil Justin yang dihadiahi tatapan mata nya.


"Lucas.. Namanya Lucas" sambung lagi Justin sambil senyum.


"Kau juga sama" tanya Vivian melirik Justin.


"Iya.." Angguk Justin yang paham.


"Mengapa setiap wajah mafia sangat tampan, apa rahasianya?" Secara tak langsung Vivian memuji wajah tampan kakak sepupu Justin.


Yang dipuji hanya mendengus menahan tawanya. Tidak dengan Justin yang merenggut cemburu.


"Apa barusan kau memuji pria lain didepan suamimu?" Celetuk Justin.


"Cemburuan.. Kenalkan dia pengacara ku namanya James, dia orang ayahku untuk melindungi ku dari hukum" terang Vivian sambil senyum.


"Oh.. Pengacara rupanya.. Aku suaminya namaku Justin" ucap Justin yang memperkenalkan dia sebagai suami Vivian. Mereka pun berjabat tangan.


"Aku sudah dengar itu" jawab James.


"Jadi.. Kau yang membawa BIN kesini?" Tanya Lucas.


"Mereka lebih paham betul apa kejahatan internasional" pungkas James.


Vivian hanya mengangguk meski dia sekarang terlihat tidak baik wajahnya, lalu matanya melihat ada luka goresan peluru ditengah Justin.


"Kau terluka" unjuk Vivian.


"Tak apa.. Ini hanya luka kecil" pungkas Justin.


"Pengacara James, lain kali apa kau bisa membantu ku? Perihal hukum, aku akan membayarmu dengan adil" tawar Justin.


"Tidak perlu, aku hanya melayani Nyonya Vivian" tolak menjengkelkan bagi Justin.


"Nyonya?" Jengkel Justin.


"Aghh.. " linglung Vivian tiba-tiba.


Reflek ke tiga pria kecuali Lucas mengulurkan tangannya agar Vivian tidak jatuh.


"Ada apa?" Tanya Justin khawatir.


"Tidak.. Hanya tiba-tiba perutku sakit" sanggah Vivian lalu ia memasukkan tangannya saat dikeluarkan terdapat banyak darah ditelapak tangannya.


Deng..


"Kau berdarah" tutur Cleo.


"Kau tertembak?" Justin menyingkap coat yang dipakai Vivian didalam sudah merembes darah terus keluar.


"Kau.. Berdarah Vi" khawatir Justin.


"Tadi aku baik-baik saja kok, tapi sekarang terasa sakit" ucap Vivian tapi kini mulai sakit.


Justin menggendong Vivian tanpa pikir panjang lagi, mereka berdua yang melihat nampak terlihat khawatir.


"Bawalah kerumah sakit" usul James.


"Tidak, ke rumah ku, panggilkan Dokter John kerumah" perintah Justin pada Cleo yang langsung dikerjakan olehnya.


"Tunggu.. Aku ikut.." Ujar pengacara James.


Justin tidak mempersalahkan mau ikut atau tidak yang terpenting, ia harus dengan cepat pergi untuk mendapat perawatan.


Mereka pun cepat pergi menaiki mobil, dan langsung menancapkan gas nya, bukan ke rumah sakit namun ke rumah Justin. Sebenarnya perlengkapan di rumah Justin juga sangat memadai.


Diperjalanan Vivian hampir tidak sadarkan diri, Justin langsung menggoyangkan tubuh Vivian.


"Sadarlah.. Jangan tidur" tutur Justin.


Sesampainya ternyata dokter John sudah menunggu tak lupa dengan dokter magang bersamanya, tak lupa dengan pakaian putih khas Dokter.



"Bagaimana keadaannya?" Tanya Dokter John.


"Sepertinya dia kehilangan banyak darah, selamatkan dia.. Jika kekurangan darah aku akan mencarinya secepat mungkin" ujar Justin yang melihat Vivian lalu ia pergi keluar membiarkan Vivian diperiksa.


"Baiklah, aku akan periksa lebih dulu" ucap dokter John yang langsung melakukan MRI.


Diluar sudah ada Cleo, pengacara James dan Lucas yang sedang merokok.


"Apa persediaan darah masih ada?" Tanya Justin.


"Ada dua kantung, perlu aku carikan lagi?" Tawar Cleo.


"Semoga saja cukup" ucap Justin meyakinkan.


"Kau butuh bantuanku? Meski begitu aku pernah mengoperasi perutmu" Tawar Lucas.


"Tidak, untuk sekarang percayakan pada dokter John, kau boleh istirahat, kau pasti juga lelah. Bisakah kau tunjukkan kamarnya?" Tolak Justin dan berbicara pada Cleo agar menunjukkan kamarnya.


"Baiklah" jawab Lucas sembari berdiri, dan ia diantar oleh Cleo.


"Apa dia akan baik-baik saja? Tidak perlu ke rumah sakit?" Tanya pengacara James.


"Aku punya alatnya lengkap disini, bahkan aku juga menyetok kebutuhan medis, beberapa bulan sekali aku membeli nya, aku paling memperhatikan soal kesehatan" pungkas Justin ia berusaha tidak berpikir macam-macam karena khawatir.


"Pria tadi dia sepupumu? Kau yang memanggilnya kemari?" Tanya James.


"Iya, kenapa?" Tanya Justin.


"Aku pun juga dipanggil oleh Vivian untuk membantunya" terang James.


"Sejak kapan?" Tanya Justin.


"Dua tahun lalu, sejak pertama kalinya dia menginjakkan kakinya lagi disini, ini semuanya rencana Vivian, dia tidak ingin mereka mencampuri hidupnya lagi" ungkap James.


"Lantas, mendekatiku itu juga bagian dari rencananya? Karena aku mudah untuk dirayu??" Protes Justin.


"A.. Soal itu kau bisa tanyakan langsung pada Vivian, karena aku hanya membantunya, aku tidak berhak mengatakan nya padamu" jawab James.


"Ya begitu kenyataannya.. Aku jatuh cinta dengannya.." Lirih Justin sambil menyender matanya terus melihat pintu ruang medis yang tertutup.


"Bagaimana dengan dua orang yang ditangkap?" Tanya Justin.


"BIN mengurusnya, biasanya mereka akan di interogasi, sebelum dideportasi ke negara asal" terang James.


"Kau yakin? Tapi Kurasa lebih tingkatkan lagi keamanan, Chris dia tidak akan menyerah" peringat Justin.


"Lagipula banyak agen yang terampil, jangan khawatir" pungkas James. Justin hanya diam itu pasti tidak akan berhasil karena Justin tahu bagaimana Chris bisa sampai seperti itu, dia tidak akan menyerah.


"Apa aku boleh menginap? Hanya sampai Vivian benar-benar sadar dari operasi, dengan begitu aku bisa tenang karena dia amanat yang diperintahkan untukku" pinta James pada Justin.


"Yaa.. Terserah kau saja.. Hm! Kau bisa tidur disofa ini" angguk Justin.


"Eeii.. Bagaimana aku bisa tidur disofa? Sedangkan rumah ini memiliki banyak kamar" protes James.


"Tidak ada untukmu, disofa atau pulang ke rumah" tegas Justin.


"Pelit sekali" ucap pelan James sambil melihat sinis.


"Siapa yang mengamanat kan Vivian?" Tanya Justin yang penasaran.


"Ayahnya" ungkap James.


"Bukan ibunya?" Tanya Justin membenarkan.


Lalu Dokter John keluar dari ruang dengan wajah serius, menghentikan pembicaraan mereka.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia tidak apa-apa?" Tanya Justin berusaha tenang.


"Hm.. Aku sudah mengambil MRI dan menemukan letak peluru, didalam pasien sudah ku infus, pendarahannya juga bisa ditangani, tapi.. Letak peluru nya membuat ku khawatir karena sangat tidak bagus" terang Dokter John.


"Tidak bagus? Lalu bagaimana?" Tanya Justin.


"Aku punya kabar baik dan kabar buruk nya" terang Dokter John.


"Silahkan katakan, aku siap mendengarnya" pungkas Justin dengan wajah serius.


"Kabar baik nya.. Apa anda tahu kalau dia sedang hamil??"


Deng..


"Hamil?" Ulang Justin yang berusaha membenarkan pendengarannya.