
Rasa kesal dan amarah Chris tidak terbendung, setelah ia ditembaki peluru untungnya ia sama sekali tidak terluka. Karena anak buahnya tidak berguna Chris menggeser anak buahnya yang tidak sadarkan diri keluar mobil.
BRUK
"Menyusahkan" ucapnya sambil menggertakkan giginya, dan mulai memundurkan mobilnya.
Dijalan Vivian terus berjalan menghindari jalan besar, dengan kaki pincangnya karena luka.
Ia pun bersembunyi agar ia tidak diketahui dan aman, melihat kakinya yang luka membuat Vivian meringis kesakitan.
Tapi ia tahu tidak bisa disini terlalu lama, saat ingin pergi Vivian melihat anak buah Chris sedang berlarian mencari nya.
Sehingga Vivian memutar arah dengan berusaha tenang, jujur memang ia sedikit takut menghadapi mereka, tapi ia harus putar otak agar tak tertangkap.
"Aku harus bagaimana ini" cemas Vivian ia merasakan tubuhnya yang sakit semua.
Meski dalam keadaan seperti itu yang dipikiran Vivian hanya Justin, berharap ia datang dan menyelamatkannya. Namun tersadarkan karena tidak ada siapapun disisi Nya saat ini.
Ia harus bergerak sebelum Chris menemukannya, Vivian kembali berjalan digang sempit, tapi lagi ia melihat anak buah Chris, ia terpojok lalu sebuah tangan menariknya untuk bersembunyi.
Tubuhnya dipepet ke tembok, melihat siapa yang menariknya itu adalah Justin.
"Bagaimana kau bisa disini?" Tanya Vivian diantara lega dan khawatir.
"Ssstttt" desis Justin melihat anak buah Chris melewati gang nya.
Justin menatap Vivian yang wajahnya terdapat luka-luka. Tangan nya mengelus pipi Vivian.
"Apa lagi? Tentu saja menjemput istriku" terang Justin dengan senyum tipisnya.
"Istri" ulang Vivian.
"Aku memaafkanmu" ucap Justin yang membuat Vivian bingung.
"Maksud-?"
"Ingat.. Kau yang mengatakan nya padaku sebelum kau menembak ku" terang Justin.
Ingat Vivian ia pun menutup mulutnya, tahu Justin masih tidak tepat mengobrol, ia belum aman, ia pun mengandeng Vivian untuk pergi.
"Ayo" ajak Justin yang memandu didepan tangan mereka terus bertaut.
Mereka terus waspada sampai mobil yang Justin sediakan, mereka pun masuk dan mulai menyalakan mobil namun tidak bisa menyala, Justin sudah mencoba nya.
"Kenapa tidak mau menyala" ucap Justin sambil menyalakan mobil.
Tepat saat didepan ada Vera sedang berdiri sambil memegang walkie-walkie.
"Lihat depan" senggol Vivian pada Justin.
Justin melihat kedepan ternyata dia sebab mobilnya tidak bisa menyala. Namun ia baru sadar ini bukan mobilnya.
Vivian berusaha membuka pintu mobil namun terkunci, Justin mengambil walkie-walkie didasbor.
"Sekarang apa lagi?" Tanya Justin dengan walkie-walkie.
"Sekarang dengar, lihat didasbor ada waktu berjalan, itu.. Bom" terang Vera dengan santai.
DENG
Vivian melihat waktu berjalan itu, yang ternyata Bom, ia melihat Justin disampingnya.
"Jika kalian mencoba keluar dari mobil, waktunya akan mencepat sendiri, dan.. Boom. Meledak" peringatan Vera.
"Apa sih maunya?" Kesal Vivian melihat Vera dari dalam mobil.
"Ros.. Karena dirimu pria disamping mu akan mati" ucap Vera.
"Lucu sekali.. Kau yang akan mati" balas Justin.
"Serahkan kunci nya, aku akan menyelamatkan hidupmu" balas Vera.
"Karena itu kau sampai membuat keributan ini?" Tak percaya Vivian.
"Kau bodohi aku lagi, ternyata ayah memberikan mu kuncinya" marah Vera.
Tiba-tiba..
CHUNG.. TAK
Satu tembakkan hampir mengenai Vera yang sedang berdiri, ia langsung bersembunyi menghindari penembak runduk.
Tapi itu kesempatan Justin ia menghancurkan kaca.
PYARRR
Waktu yang tadinya berjalan perdetik langsung percepat 2 kali lipat, melihat itu Justin buru-buru mendobrak pintu, padahal di luar Vera juga dihujani peluru.
CUNG.. TAK
"Ishhh.. Siapa sih" marah Vera yang terus bersembunyi dari hujan peluru tersebut.
Dimobil Justin berhasil membuka pintu, disaat waktu tinggal 30 detik terakhir.
Mereka terburu-buru keluar untuk menjauh, dan hingga waktu tinggal tersisa beberapa detik.
DUARRRRR
Suara ledakkan yang keras, hingga puing-puing terpental kesegala arah, tubuh Vivian serta Justin ambruk karena ledakan keras. Namun belum berakhir satu puing mobil terpental kearah Vivian.
Puing tersebut makin dekat, lalu dihalau oleh Justin dengan punggungnya.
DUAKK
"Aghhh" lenguh kesakitan Justin yang langsung ambruk serta ia merasakan kupingnya yang berdengung akibat ledakkan.
NGINNNNGGG..
Vivian yang melihat Justin sangat khawatir, ia langsung mengguncang tubuh Justin.
"Tidak.. Justin.. Sadarlah" racau Vivian khawatir. Padahal di belakang mereka mobil yang tadi mereka taiki api sedang menghanguskan bagian mobil.
"Bangunlah.." Racau lagi Vivian yang memangku kepala Justin namun Justin tidak respon khawatir karena dirinya telah melindunginya apalagi dialah yang paling dekat dengan mobil.
"Jangan lakukan ini" mata Vivian telah berkaca-kaca.
"Hahh.. Enaknya.. Tidur dipangkuan istriku" ucap Justin dengan menahan sakit.
"Haisshhh.. Jangan bercanda" Vivian bernafas lega.
"Hahh.. Kau baik-baik saja?" Tanya Justin sambil bangun.
"Hm.." Angguk Vivian.
"Ayo" bangkit Justin yang memegang tangan Vivian.
"Kenapa terburu-buru?" Sahut seseorang dengan pistol ditangannya yang menodongkan ke arah mereka berdua yaitu Chris yang belum menyerah.
"Kau pikir aku tak tahu?" Ucap Chris yang melihat atap gedung yang jauhnya, disana ada Cleo yang diawasi anak buah Chris dengan pistol, pelaku penembak runduk adalah Cleo.
"Dimana kuncinya?" Tanya Chris.
"Tidak ada disini, aku menyimpannya di Korea" ucap Vivian dengan menggertakkan giginya.
"Kalau begitu, ikut dan jalankan pesawat mu" ucap Chris yang ditunjukkan pada Justin.
"Kau memang tidak pernah mengeluarkan uangmu, dengar itu namanya pelit" pungkas Justin yang berdiri dengan santai didepan pistol.
"3 menit orang akan kesini, kau tahu maksudnya kan..jika kalian berada disini, wajahmu akan terungkap, mafia" pungkas Chris mengancam Justin.
Vivian yang tahu itu hal tidak bagus bagi Justin, langsung menyela.
"Aku akan beri kuncinya, bawa saja aku.. Jangan dia" pungkas Vivian.
"Dua-dua nya" tagas Chris.
"Baiklah, jika itu maumu kita pergi ke bandara" ucap Justin ia tidak bisa lagi jauh dari Vivian. Dari belakang ada Vera yang terlihat kesal ia bisa saja dapat kunci lebih dulu.
...
Pesawat pribadi milik Justin yang nampak penuh, bahkan Vivian duduk berdampingan dengan Justin.
"Apa yang akan kau lakukan? Kau bisa saja pergi" ucap pelan Vivian.
"Aku tidak bisa lagi meninggalkan mu" terang Justin didepannya ada Cleo yang tak habis pikir.
"Dia juga" unjuk Justin pada Cleo.
"Karena aku.. " sesal Vivian sambil menunduk.
"Dimana lagi kau terluka?" Tanya Justin melihat kaki Vivian yang tergores.
"Luka ini tidak ada apa nya" jawab lesu Vivian.
"Tidak ada apanya? Manusia bisa mati karena infeksi" Justin berdiri menuju belakang untuk mengambil kotak obat.
Bahkan gerak-gerik selalu diperhatikan oleh dua kepala organisasi Chris dan Vera.
Ekspresi wajah Vera juga tidak begitu baik.
"Dengan memanggil aparat penting adalah rencana mu yang paling kuno, sangat tidak efektif, lihat anak buahmu masuk rumah sakit" ucap Vera.
Chris mendecih mendengar pendapat dari Vera.
"Ingat aku tidak butuh saranmu, tidak perduli kau menyebutnya old style, tapi aku yang berhasil dengan membawa mereka, itu awal yang menentukan hasil akhir" balas Chris.
"Dan aku menghalau semua aparat karena kau membuat ledakan yang tidak perlu, kau lah yang berpikiran kuno" lanjut Chris.
"Maksudmu rencana ku salah!" Vera tak Terima ia bangkit dengan wajah marah lalu mengeluarkan pistol yang diarahkan ke Chris.
Dengan santai tak kalah cepat Chris juga mengarahkan pistol pada Vera.
"Aku tidak pernah diam, aku lebih cepat" balas Chris.
Wajah Vera sungguh marah, sedangkan Vivian menonton ketegangan tersebut.