
Karena mendapat uang tidak terduga Vivian pun mengambil uang tersebut. Namun ia tidak semua diambil menyodorkan koper besar.
"Yang ini donasikan, pastikan dapat sertifikat nya, mengerti" perintah Vivian pada pengacara James.
"Anda yakin?" Tanya James yang bertanya kembali terkadang ada saja bisa berubah apalagi ini soal uang.
"Donasi-" ceplos Lukas yang memotong perkataannya.
"Ya.. Bawa lah" angguk Vivian.
"Baiklah.. Akan ku bawa, tapi sebelum itu tanda tangan disini" ucap James yang memberikan kertas lalu menggeret koper besar ke arahnya.
"Terima kasih" ucap Vivian setelah selesai tanda tangan untuk tanda bukti bahwa ia sudah menerima uang tersebut.
"Kalau begitu.. Saya pamit" bangkit James lalu berjabat tangan pada Vivian.
Justin ia tidak kaget karena uang tersebut ia donasikan. Vivian melihat sisa koper yang masih disana.
"Ini aku akan belanjakan" ucap Vivian dengan senyum.
Namun tiba-tiba ia teringat tentang uang dollar yang ia beri.
"Tunggu.. Uang ku 5 juta dollar, saat itu untuk ganti rugi tapi Chris sekarang temanmu" ingat Vivian.
"Aahh.. Aku lupa ada barang yang belum kupindah" bangkit Justin dan berjalan menjauh.
"Yakk.. Itu sangat tidak natural, kemana kau?!" protes Vivian sambil sedikit teriak melihat Justin yang menghindari pertanyaan itu.
...
Keesokannya merasa Vivian sudah sembuh dari lukanya, ia pun pergi ia minta diantar ke suatu tempat yaitu sebuah mall.
Karena koper terlalu membuat penuh Vivian menaruh uangnya dalam tas biasa.
Ia berkeliling toko dimall lalu masuk ke area baju anak-anak dan tanpa bicara Vivian langsung menggeret hanger baju dan memberikannya pada pegawai disana.
Tak hanya itu mainan dan kebutuhan nya seperti bedak, lotion, bahkan snack untuk anak-anak. Justin yang melihat tumpukan barang yang dibeli Vivian masih bingung untuk apa.
"Semuanya 10 juta 500 ribu, ingin bayar dengan kartu?" Tanya pegawai disana setelah selesai mempacking belanjaannya.
"Uang tunai" jawab Vivian lalu mengeluarkan bergepok-gepok uang dari tas, pegawai disana sampai tak percaya melihat uang 10 juta lebih cash didepan mata mereka.
"Hitunglah.. Mungkin ada 11 juta sisa nya untuk kalian" ujar Vivian dengan senyum.
Bahkan yang menghitung uang tersebut ada 5 orang, setelah selesai Vivian dengan Justin pun pergi.
"Bagasi penuh semua" tutur Justin setelah menutup mobil bagian belakang.
"Bagus.. Sekarang ayo pergi" ujar Vivian yang masuk ke mobil sedangkan Justin hanya mengikuti.
"Sekarang mau kemana?" Tanya Justin.
"Sudah kemasukan dalam GPS kau hanya perlu ikuti" senyum Vivian enaknya hanya menyuruh Justin.
Justin lagi-lagi hanya menurut ia yang mengendarai mobilnya, yang padahal mobil sudah penuh dengan barang.
Lama sampai juga ia pun turun, terlihat suasana begitu asri dengan pedesaan, dan banyak anak-anak.
Didepan terdapat plang yang bergambar anak-anak bertuliskan Cinta kasih, artinya ini panti asuhan.
Hanya diam Justin memperhatikan sekelilingnya.
"Anak-anak!" Seru Vivian melihat dua anak perempuan sedang lewat.
"Oh.. Bibi" sahut anak-anak tersebut yang langsung menghampiri Vivian, dengan senang hati ia menyambut pelukan hangat untuk mereka.
"Sudah lama bibi tidak kemari" ujar salah satu anak perempuan.
"Iya.. Bibi sangat sibuk, sebagian gantinya Bibi punya hadiah untuk kalian" jawab Vivian yang membuka pintu mobil dan memberikan anak tersebut mainan.
"Terimakasih" selalu anak-anak yang patuh selalu mengucapkan terimakasih.
"Iya.. Mainlah dengan baik" ucap Vivian yang sambil senyum.
Anak-anak tersebut setelah itu pergi, Vivian lagi-lagi ia tersenyum meski hal kecil.
"Sedang apa?" Gubris Vivian pada Justin.
"Bawa ini semua kedalam" perintah Vivian yang membawa beberapa barang ke dalam.
Jujur hanya Vivian yang bisa memintanya seenaknya, dan secepat itupun Justin menurutinya tanpa mengatakan apapun.
Itu hanya hal kecil bagi Vivian, namun itu hadiah tidak terlupakan bagi anak-anak yang tinggal disini.
"Terimakasih, hadiah anda sangat membantu" ucap Emily yaitu kepala panti asuhan.
"Yaa.. Berkat anda juga.." Senyum Vivian.
"Disini banyak gambar anak-anak" ceplos Justin.
"Anak-anak yang melukisnya, dan saya memajangnya" terang Emily.
"Oh iya..ini suamiku" ucap Vivian
berbalik lalu duduk disofa
"Anda telah menikah rupanya.. Selamat" ucapan selamat dari Emily.
"Ya.. Begitulah yang terjadi" ucap Vivian.
Lalu ia menaruh dua tas berisi sisa uang yang sehabis ia belanja.
"Ini.. Untuk anak-anak dan ini hanya hadiah kecil semoga anda suka" Tak lupa Vivian memberikan hadiah pada Emily yaitu sebuah tas bermerek Dior dan parfumnya.
"Ini tidak perlu, ini pasti mahal" ucap Emily yang tidak enak menerima.
"Anggap saja anda telah mendapat hadiah atas anda selalu menjaga anak-anak" terang Vivian.
"Dan.. Izinkan aku meminjam ruangan anda" pinta Vivian dengan senyuman penuh arti, itu membuat Justin juga bingung, namun lebih terkejut lagi saat Emily mengiyakan nya.
"Saya paham, kalau begitu silahkan" ucap nya lalu ia menaruh barang pemberian Vivian di mejanya dan berlalu pergi.
Vivian tetap diam sampai terdengar pintu tertutup, baru ia tersenyum penuh arti, seratus persen membuat Justin bingung.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Justin mau apa diruang kecil ini.
Vivian bangkit diikuti Justin lalu mengikat rambut panjangnya dengan senyuman penuh arti, Justin berpikir lagi apa artinya itu.
Setelah itu Vivian menutup kaca dengan hordeng, ruangan tersebut menjadi agak gelap, Vivian pun menyalakan lampu diruangan tersebut.
"Tunggu sebentar, kau tidak bisa seenaknya mengacak-acak ruangan orang" gubris Justin menghentikan Vivian.
"Kenapa? Kau takut? Ini ilegal?" Ucap Vivian sambil mendekat ke arah Justin berdiri dibelakang nya ada sebuah rak tinggi yang tingginya hampir sempai setinggi Justin.
"Tetap saja ini privasi seseorang" bantah Justin.
"Benarkah begitu?? Kau mafia tapi tidak paham kode ku" Vivian semakin dekat wajahnya dan memojokkan tubuh Justin ke rak kayu tersebut.
"Kode??" Ulang Justin, setelah dipikir ia menaikkan satu alisnya.
"Disini? Kau.." Tanya Justin yang paham, ruangan gelap, berdua dengan istrimu.
"Kau menggoda suamimu??" Lanjut Justin lalu mengecup bibir istrinya.
CUP
Meski sekilas membuat wajah Vivian mengkerutkan alisnya, rupanya suaminya belum paham.
Wajah Vivian makin mendekat didada menggoda suaminya, lalu tangan Vivian berada di salah satu rak.
"Ini tidak baik" peringat Justin menahan untuk tidak melihat wajah Vivian.
"Apanya yang tidak baik" telunjuk Vivian menyentuh jakun Justin yang naik turun, dan turun ke dadanya.
"Kita bisa lakukan sepuasnya di rumah" sanggah Justin berusaha menahan godaan istrinya yang asik menggodanya.
"Kenapa dirumah? Aku tidak bisa menahannya" bisikan itu ditelinga suaminya kalimat provokatif Vivian membuat Justin melirik.
"Kenapa? Kau suka melakukannya terang-terangan, tempat tidur? Empuk dan nyaman, atau kolam renang? Membuat mu basah" lagi Vivian memancing yang seharusnya tidak ia pancing.
Vivian tersenyum lalu mendekat wajah nya ke dada bidang Justin dan mengelus kan wajahnya disana membiarkan parfum ditubuhnya melekat dipakaian Justin. Justin menahan mati-matian istrinya yang tidak bisa menahan itu.
Dan..
Kelk
Suara kayu rak bagian belakang Justin bergeser, membuat Justin juga ikut merasakan dan menoleh apa itu.
"Minggir" nada suara nya kembali biasa menggeser tubuh Justin.
Setelah menggeser rak kayu terdapat sebuah lemari didalamnya, tangan Vivian siap untuk membuka knop tersebut lalu membukanya.