Hope Love In The Forest

Hope Love In The Forest
⌑ Episode 21 ⌑



Justin berpikir, apakah nanti Vivian akan tersinggung dengan pertanyaannya.


'Kenapa Chris memberikan informasi itu secara cuma-cuma.. Pasti ada yang ia ketahui darinya' ucap dalam hati Justin.


"Kalau kau?" Tanya Vivian.


"Hm?" Kikuk Justin karena sedang melamun.


"Bagaimana dengan keluargamu? Mereka baik-baik saja?" Tanya Vivian.


"Hanya.. Biasa saja.. Ibuku meninggal lebih dulu karna penyakit, aku anak tunggal, sedangkan ayahku.. Dibunuh" singkat Justin namun menyakitkan ia bercerita dengan wajah biasa.


"Tidak kusangka.. Kau juga memiliki story yang menyakitkan" menyesal Vivian.


"Kata siapa? Aku sekarang sangat kaya.. Hanya itu yang kuperlukan, aku memang sudah dilatih untuk menerima dan mewariskan ini semua" terang Justin.


"Bagus untuk mu" balas Vivian remeh.


"Ceritakan lagi tentangmu, termasuk ini" Justin menyodorkan foto yang ia dapatkan dari Cleo.


Vivian melihat foto tersebut, ia nampak biasa saja, namun dari awal Vivian sudah tahu saat Justin menodongkan pistol saat ia tertidur, Vivian mengetahui Justin berencana ingin membunuhnya, dia sudah punya firasat, jadi lebih baik dia mengatakan ini pada waktu yang tepat.


"Dimana mereka dapat foto ini??" Tanya Vivian.


"Siapa mereka? Kudengar kau pernah tinggal bersama" unjuk Justin.


"Oh! Kau diam-diam menyelidiki ku ya?? Apa mungkin karena foto ini kau tidak bisa tidur?" Curiga Vivian dengan nada ledekkan.


"Berhenti bicara omong kosong.. Aku hanya tidak ingin lagi dikhianati kedua kalinya.. Jadi aku tidak mudah percaya dengan orang" balas Justin padahal ia sudah terlalu percaya dengan Vivian.


"Mereka kakakku, seperti itu hubungan ku dengan mereka, kita punya ayah yang sama dari ibu yang beda. Tapi aku dianggap sebagai anak tiri" jelas Vivian.


Sekarang terpecahkan penasaran Justin, ia pun ingin bertanya lagi dengan serius.


"Kau tahu siapa ayah mu?" Tanya Justin.


"Mafia.. Sebab itu aku tidak terkejut siapa dirimu, dan karena itu aku juga jadi penulis, tidak semua mafia buruk, tapi itu berbeda dengan kenyataan" jelas lagi Vivian.


"Jadi.. Semua itu adalah aktingmu?" Tanya Justin.


"Tidak, pertama kali.. Aku takut denganmu..karena kau bisa saja membunuhku tanpa orang tau, tapi kau orang pertama mengatakan ayo hidup bersama, aku merasakan inikah orang yang menyukai ku, karena aku selalu merasa tidak diinginkan didunia ini" terang Vivian sambil menatap langit malam.


"Aku tidak mengerti tentang yang kau rasakan, tapi aku juga hidup dibawah tekanan ayahku yang keras" ucap Justin.


"Itulah aku suka hidup damai dan tentram" singkat Vivian lalu melihat foto ditangan nya.


"Foto ini.. Mereka mengajak ku bergabung, tapi sudah ku tolak. Dan mereka juga bertanya apa ayah ku menyiapkan warisan tanpa sepengetahuan mereka. Omong kosong.. Meskipun ayah meninggalkan harta untuk ku tidak akan ku terima. Tapi yang aku tidak suka Vera sangat kasar dan tidak sopan. Meskipun dia saudaraku aku sama sekali tidak menyukai mereka" terang panjang lebar Vivian.


"Kenapa mereka meminta mu bergabung?" Tanya Justin yang masih penasaran.


"Aku.. Pernah sekolah militer di Amerika, disana aku sudah sangat berusaha sekuat tenaga, tapi.. Ketika ada latihan fisik atau panas, aku selalu pingsan bahkan mimisan, jadi aku dipindahkan kedokteran militer" terang Vivian yang berkata jujur. Inilah yang ditunggu oleh Justin ternyata benar yang dikatakan Cleo.


"Karena itu, kau pandai mengeluarkan peluru dari perutku tanpa alat bantu scan dimana letaknya" tutur Justin.


"Tidak terlalu pandai, tapi aku bisa mengatasi operasi kecil, tapi.. Luka mu sudah sembuh? Coba kulihat" Vivian meraba perut Justin.


GRAB


Justin memegang pergelangan tangan Vivian dan menjauhkan dari perutnya.


"Jangan.. Ini sentuhan yang berbahaya" sangkal Justin.


"Kenapa sih? Aku hanya memeriksanya, kau harus menuruti perkataan doktermu" tutur Vivian masih kekeuh.


"Jangan kubilang.. Sudah sembuh kok tidak ada yang perlu dilihat" balas Justin mengelak memang lukanya sudah cukup kering. Namun sentuhan Vivian sekarang berbeda karena membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat.


Justin kabur menjauh.


"Iya iya... Aku hanya mengintipnya sedikit.. Bukalah.. Aku doktermu.. Kemarilah" tutur Vivian yang mengikuti Justin.


"Mengintip apanya" sangkal Justin dengan kekehan.


"Kenapa? malu? Mau intip punya ku.. Silahkan.. Akan ku tunjukkkan" Vivian mengangkat kaos yang ia kenakan hampir terlihat perut putih polosnya.


"Kemari" tangannya ingin memegang perut Justin. Tak tahan akhirnya Justin menuntun tangan Vivian untuk memasukkannya dalam kaos nya, dan Justin lah yang menggerakkan tangan Vivian agar berada di bekas lukanya.



Sentuhan itu membuat Vivian serius, namun Justin tidak bisa fokus.


"Bagus.. Kau sangat mengurus tubuhmu" Vivian menarik tangannya dari dalam kaos Justin lalu melengos pergi.


"Mau kemana? Kemari, aku belum memeriksamu" tak Terima Justin pun berjalan ke Vivian lalu dengan tiba-tiba ia menggendong Vivian dan menaruh tubuhnya dibahu lebarnya.


"Yaakk!!! Turunkan" protes Vivian yang sudah berada dipundak Justin, Justin memang kuat mengangkat tubuhnya.


Dengan santai Justin membawa Vivian dan berjalan masuk ke dalam, sedangkan Vivian sungguh badmood, ia hanya menunduk dan memegang kaos punggung Justin agar tetap safety.


...


Perlahan matahari telah muncul untuk menyinari, dicelah hordeng putih dalam kamar.



Namun Vivian sudah terbangun sedang mengikat rambut panjangnya sambil berjalan ke kamar mandi. Setelahnya ia pergi ke dapur.


08.00 pagi Justin yang berjalan ke arah dapur ia melihat Vivian sedang sibuk didapur, Cleo yang saat itu juga baru dari lantai atas langsung menghampiri Justin.


"Bagaimana?" Tanya to the point Cleo.


"Di jujur, mengatakan yang sama" jawab Justin lalu menyenggol Cleo untuk menghampiri dapur.


"Sedang apa?" Tanya Justin yang duduk dikursi meja makan sambil menenggak air. Diikuti oleh Cleo.


Vivian datang dengan baki berisi roti Crossaint yang bentuknya lumayan besar, ia langsung membagikan ke dalam tiga piring.


"Coffee" Vivian menyodorkan pot Coffee dan kembali ke dapur untuk mengambil buah.


Hanya roti Crossaint, keju, dan buah strawberry, serta Coffee jadi sarapan mereka.



"Dia membelinya kan" tutur Cleo yang menikmati rotinya.


"Ini enak" puji Justin.


"Aku bekerja keras menguleni adonan, sampai tanganku sakit, untung nya kalian suka" adu Vivian yang ikut memakan Crossaint.


Setelah sarapan Justin sedang mengurus sesuatu di ruangan nya, sedangkan Vivian membuat kue di dapur.


Kue cookies jadi ia pun membawanya ke ruangan Justin, dengan nampan ia membawa nya lalu ditaruh dimeja.



Justin melirik Vivian setelah melihat bentuk cookies yang ia bawa.


"Kenapa? Tidak suka? Mau Kubawakan yang lain?" Tawar Vivian.


"Tidak perlu.. Tapi.. Kenapa gambar hati?" Tanya Justin.


"Apa aneh? Tidak suka manis? Aku sudah kurangi gula, tidak terlalu manis. Kenapa Tanya.. Ini hatiku" ucap cepat Vivian belum mendapat balasan dari Justin.


Vivian berbalik lalu ia berjalan, namun ia teringat dan menoleh kembali.


"Oh iya.. Chris dia masih dinegara ini, dan semalam kau bertanya apa yang diinginkan Chris.. Itu kau" ucap Vivian.


"Apa? Maksud nya?" Tanya Justin. Cleo hanya mendengar dan memerhatikan gerak-gerik Vivian.


Vivian berjalan lalu duduk disofa dan memangku nampan yang tadi untuk membawa piring.


"Semua yang kau miliki, terlebih aku disampingmu.. Chris tahu tentangku, jadi dia mengancamku memberikan informasi padamu. Maaf bukannya aku ingin membohongi mu.. Karena tidak ada yang perlu dibanggakan dari itu, aku hanya ingin menjalani seperti wanita pada umumnya, mencintai dan dicintai" terang Vivian ia mengemut bibirnya.


"Tapi.. Jika kau menyuruhku pergi, aku akan pergi" ucap Vivian dengan tenang, namun satu sisi ia ingin Justin mengatakan tidak.


'Apakah berhasil dengan bumbu cinta ini, agar kau sendiri yang menyuruhku keluar dari rumah ini' batin Vivian ia harus mencoba memberikan dorongan, karena ia harus melakukan sesuatu diluar tanpa Justin tahu.