
Jam menunjukkan pukul dua belas malam ketika aku berniat menyelinap keluar, aku tidak bisa tidur jadi aku akan keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Ini tengah malam jadi presentase diketahui oleh fans maupun paparazi adalah kurang dari lima puluh persen kan?
Aku mengendap keluar dan menutup pintu apartemen ku dengan gerakan pelan. Aku berharap Michael dan Sara tidak terbangun karena itu. Sembari menunggu pintu lift terbuka, aku memastikan kembali aku membawa dompet dan handphone ku—aku mau membeli Cup ice cream.
“Zee”
Aku mendongak mendengar namaku dipanggil.
Jungkook?
Hell
Kebetulan yang tidak mengenakan, aku memang tinggal di gedung yang sama dengan Bangtan namun tidak pernah saling berpapasan selama ini. Namun akhir-akhir ini aku malah sering bertemu dengan mereka.
“Jungkook?”
Aku memastikan sembari memasuki lift menekan lantai dasar. Dia menurunkan maskernya dan menatapku heran.
“Mau kemana?”
Tanyanya, menatapku kali ini memindai dari atas sampai bawah—aku hanya memakai baju rumahan dengan topi dan masker.
“Ke supermarket mungkin?”
Jawabku setengah tidak yakin, Jungkook mengerutkan keningnya.
“malam-malam begini mana Sara atau Michael?”
“Tidur”
Jawabku pendek, lift berdenting terbuka dan aku keluar diikuti Jungkook yang memasang maskernya kembali.
“supermarket kan kenapa berjalan keluar”
Jungkook menahan pundak ku membuatku berhenti berjalan dan memusatkan perhatian ku pada Jungkook.
“sekalian ingin cari udara segar, aku duluan”
Jawabku malas lalu berlalu keluar gedung. Ngomong-ngomong udaranya dingin sekali—dan aku tidak memperkirakan hal itu. Aku memeluk tubuhku sendiri menyusuri trotoar dengan cepat, menuju supermarket diujung blok.
“Florenzee! Hati-hati”
Aku mendengar teriakan itu sedetik setelah aku terpeleset karena berjalan terlalu cepat. Sukses! Bokongku yang seksi mencium trotoar yang dingin dan lembab. Lenganku ditarik berdiri dan aku meringis.
Ceroboh!
Jungkook setengah menyeret ku masuk ke mini market, mendudukkan ku di kursi tinggi disamping jendela tanpa banyak bicara.
“Sakit?”
Tanya Jungkook berjongkok di depanku menarik kakiku yang sempat terbentur tadi.
Aku mengangguk jujur, tapi yang paling sakit bukan itu tapi bokongku! Masa aku harus berkata terang-terangan kepadanya.
Jungkook mendesah berat, meninggalkan ku menuju rak-rak. Aku meringis merutuki nasib sialku jika bersama Jungkook—maksudku, kenapa aku terus merasa lemah dihadapannya sih kan malu.
Aku berdiri dengan bertumpu satu kaki berjalan tertatih-tatih ke lemari pendingin.
Aku mau Ice Cream! Tujuan awalku kan membeli ice cream!
Aku meraih cup besar, sedetik kemudian cup itu direbut paksa. Tidak perlu mengetahui siapa yang melakukannya. Sudah jelas!
“Jung mau ice cream”
Rengekku. Pria bergigi kelinci itu menggeleng tegas lalu mengembalikan cup itu kembali ke tempatnya.
“Tidak bisa! Kamu bisa sakit”
Omelnya seperti ibuku, aku memutar bola mataku, aku tahu itu tidak sopan tapi kan dia membuatku kesal.
“Jung...”
“Tidak”
Tolaknya tegas, aku mendecak sebal kembali ketempat duduk. Jungkook duduk disampingku, membawa dua gelas karton.
“Coklat?” aku menaikan alisku menatapnya, dia mengangguk mengisyaratkan aku untuk meminumnya.
“kan aku sudah memberitahumu tadi, aku ingin ke supermarket”
Kelasku acuh sibuk membuka bungkusan gummy bear. “lalu kenapa kamu keluar malam-malam begini?”
Sambil mengunyah gummy aku menatapnya, dia berfikir sejenak sebelum menoleh ke arahku. “Aku merasa sesak”
“Jung. Berat ya?”
Tanyaku hati-hati, kurasa dia dalam mood buruk. Jungkook meminum coklatnya lagi sebelum menjawab.
“Iya..” aku mengalihkan atensiku kearahnya berhenti mengunyah gummy dimulutku. “Mereka bilang kami hanya bisa meninggalkan hal buruk di masa lalu, mengatakan kami akan gagal. Dan mereka mengatakan kami menyebalkan karena kami idola”
Okay! Aku tidak punya solusi ataupun kata-kata untuk membuat nya lebih baik. Aku baru terjun di dunia hiburan Korea. Jadi aku bahkan tidak tahu rasanya, dan sulitnya menjadi Idola disini aku tidak mengerti sistemnya.
Aku menepuk-nepuk punggungnya.
“Ah makan saja gummymu daripada berwajah seperti itu”
Jungkook tiba-tiba memasukan Gummy ke mulutku membuat ku melotot kesal. Dia bipolar ya?!
Aku melihatnya tertawa kecil. Dan aku tersenyum entah mengapa.
“Ayo pulang”
Aku mengangguk lalu mengantongi gummyku—gara-gara Jungkook aku akan menambah kan gummy sebagai makanan favoritku. “Naik”
Heh?
Apa katanya?
“Ayo naik”
Jungkook menarik tanganku untuk segera mendekat kepadanya yang berjongkok disampingku.
Well.
Untuk kebaikan bersama, aku menuruti nya kali ini. Lagipula aku lelah sekali dan malas berjalan, jadi tidak ada salahnya menerima bantuan Jungkook.
Kami berdua terdiam disepanjang perjalanan.
“Kamu tidak peka atau pura-pura tidak tahu?”
Jungkook membuka pembicaraan, aku mengerutkan keningku tidak tahu maksudnya.
“Apa?”
“Kamu tidak penasaran kenapa aku mendekati mu lagi?”
“Ini terhitung mendekati ya? Seperti ini?”
Aku memiringkan wajahku untuk melihat wajah Jungkook yang dekat sekali.
Jungkook menoleh dan aku gelagapan mendapat serangan tiba-tiba seperti itu.
“iya. Tidak sadar?”
Dia berhenti sambil tersenyum menatapku.
“kupikir kamu lebih pintar daripada Taehyung hyung”
“Hei!”
Aku mengalihkan wajahku miring kembali menatapnya kesal.
Pilihan salah!!!
“Aku tidak bodoh” kataku terbata-bata menyembunyikan wajahku dileher Jungkook. Aku tidak naif, aku tahu kok Jungkook sebenarnya bilang apa dan topik ini menuju kemana.
“Mau jadi pacarku?”
What the fuck!!
Kimnds