Glorious Life

Glorious Life
Santa Clause



H A P P Y R E A D I N G


Campcar yang kami tumpangi memang sudah berhenti dan terparkir di area Campfire Santa Clause sejak siang tadi, anggota LAUVOX turun tengah melakukan pengambilan gambar dan aku masih bermalas-malasan di dalam mobil terlalu lelah karena perjalanan yang lumayan lama ditambah saat di mobil aku banyak menghabiskan waktu untuk berselancar di internet mencoba mencari tahu tentang korea dan mempelajari bahasa mereka.


“Masih mencoba belajar? ” tanya pria yang ku ketahui bernama Vins dia duduk di hadapan ku menyodorkan secangkir coklat hangat yang tentu saja ku terima dengan senang hati.


“Yeah.. fortunately I've memorized the hangul can you check my work?”


Aku tersenyum sambil menikmati coklat hangat yang di bawa Vins, sedangkan pria itu sibuk membaca buku berisi coretan-coretan kata yang ku ketahui – untungnya aku dapat menghafal dan mempelajari sesuatu dengan cepat.


“Wow.. you do so well” pria itu bertepuk tangan sambil menatapku dengan binar bangga. Aku tersenyum lebar bukannya aku sombong tapi aku sangat bersyukur bahwa aku adalah orang yang lumayan cerdas dapat memahami dan mengingat sangat baik mungkin setelah pulang dari tour ini aku akan belajar bahasa Korea lebih serius dan ikut kursus hitung-hitung sebagai menambah ketrampilan.


Saat kami mengobrol ringan, pintu campcar terbuka menampilkan wajah Jayke disana pria itu berdiri kaku di depan pintu dengan mug dan piring berisi sosis di tangannya—hasil barbeque an bersama anggota LAUVOX yang lain.


“Hyung, sedang apa disana?” Jayke berjalan mendekat disusul Vins yang berdiri gelagapan.


“Aku melihatnya kesepian jadi aku menemaninya sebentar, karena kamu sudah datang aku menyusul yang lain dulu ya Jay”


Lalu Vins sedikit tergesa keluar, Jayke duduk menepati kursi yang baru saja Vins tinggalkan.


“Kamu sudah dapat coklat hangat ya?” Jayke menatap mug di dekatku dengan kecewa pria itu lalu memandang mug di tangannya. Aku yang melihat kekecewaan tergambar jelas di wajahnya langsung meraih mug di tangannya dan meminumnya tanpa tahu kalau itu sangat panas.


Aku hampir memuntahkan kembali coklat yang ku minum, Jayke dengan sigap menuang kan air putih dan menyodorkannya kepada ku.


“Be careful” Jayke menatapku dengan tatapan panik yang baru pertama kalian ku lihat. Aku hampir tertawa melihat wajahnya namun urung karena pasti itu tidak sopan.


“Khamsahamnida*” dia menatap ku terkejut aku balas menatapnya dengan senyum malu-malu. Pelafalan ku tidak salah kan?


“Kamu bisa bahasa Korea?” tanyanya sambil menutup mulutnya takjub


Aku menggeleng sambil menatap pria itu penuh antisipasi “Jelek ya pelafalan ku?”


Dia mengibaskan tangannya bingung harus menjawab dengan korea atau bahasa Inggris karena dia mendengar perkataan ku yang seperti robot dalam bahasa Korea. “Tidak yaampun kamu belajar kapan?”


“Tadi pagi”


“Wah memang kamu yang terbaik tidak salah aku menjadi penggemar kamu.” pria itu menunjukkan dua jempolnya sambil tersenyum “Makan karena kamu sudah bekerja keras” dia menyodorkan piring kearahku dan kuterima dengan senang hati karena aku memang lapar.


“aduh sebentar aku baru ingat” pria itu berdiri lalu berjalan ke pantry aku mengangkat bahuku tidak mengerti kenapa Jayke sangat riuh di pantry “masih lapar kan?” aku yang sedang mengunyah sosis hanya mengangguk menanggapinya.


“aku akan membuatkan kamu ramyun nih”


“perlu bantuan?” Tanyaku mendekati nya yang sibuk dengan panci di depannya.


Jayke menyodorkan kemasan bumbu ke arah ku “bisa menggunting kemasan kan?” tanyanya cengengesan, aku mendengus tapi tetap menerima sodoran nya.


“bisa” aku mengedarkan pandangan ku demi menemukan gunting tapi sepanjang mata memandang aku tidak melihat keberadaan benda itu sam sekali. “Jay dimana kamu menaruh gunting nya?” Tanyaku akhirnya.


“di laci atas seperti nya”


Aku bergerak menuju kabin atas yang di maksud Jayke, membuka-buka kabin itu “ehh!”


“ada apa?” tanya Jayke menoleh kearahku dengan kening berkerut melihat diriku yang mematung di depan kabin.


Aku tersenyum kecil “aku menemukan Vodka” aku menaik turunkan alisku sambil menunjukan botol Vodka yang ku temukan di kabin.


“tidak boleh!” Jayke menyambarnya dengan secepat kilat membuatku melongo dia ini kenapa? Setelah meletakkan botol Vodka itu kembali di kabin ia berkaca pinggang menatapku seperti aku kedapatan berbuat nakal tatapannya mungkin sama seperti Ibuku.


“kenapa?” tanyaku menatapnya aneh, tingkahnya yang seperti ini mengingatkan ku kembali kepada sosok di masa lalu.


“tidak boleh kamu belum cukup umur!”


“kamu sudah pernah minum ya?!” tanyanya curiga alisnya menukik tajam seperti angry bird.


“tingkahmu aneh sekali tahu”


“sudah atau belum” Jayke sama sekali tidak gentar, ia melihatku dengan penuh curiga.


“sudah” cicit ku takut melihat perubahan raut wajahnya, ia melihat ku dengan pandang datar.


“duduk sana” perintahnya, aku seperti kerbau yang di cucuk hidungnya–menurut pasrah saja. Aku memilin jari jemariku gugup menunggu Jayke yang menyelesaikan memasak ramyun nya.


“Alkohol itu tidak baik setidaknya tunggu usia mu dua puluh untuk minum alkohol, sudah pernah kukatakan sayangi dirimu sendiri mengapa sulit sekali”


Aku mengerutkan keningku kapan dia pernah mengatakan itu padaku? “Kapan kamu bilang padaku” ingatanku melayang di bawa kembali dua tahun yang lalu saat di Kinabalu.


Jayke mematikan kompornya, ia mengangkat panci itu dan meletakkannya di depanku. “Kamu mengingatkan ku dengan pria itu” gumamku sebelum membuka tutup panci dan mulai makan dengan sumpit yang di berikan Jayke, entah karena aku yang terlalu asik makan atau bagaimana suasana mendadak sepi aku mendongak menemukan Jayke yang menangkup wajahnya sambil menatapku.


“Apa?” tanyaku


“pria itu, siapa?” tanyanya melipat ke dua tangannya diatas meja.


“ah..” kuletakan sumpit ku meminum air putih dan melipat tanganku di meja mengikutinya, kutatap Jayke yang menunggu jawabanku pria itu sepertinya penasaran sekali “Aku tidak tahu siapa”


“kenapa bisa begitu?”


Kubasahi bibirku menatap Jayke yang memicing “Bisa, kami bertemu di pantai dengan tidak sengaja dan aku tidak bisa melihat wajahnya karena gelap”


Jayke menatapku dengan pandangan yang tidak bisa ku artikan pria itu tersenyum dengan lebar setelah nya dan aku menatapnya aneh “kamu ternyata mengingatnya”


“Ha?”


“aku lega sekali, maaf karena meninggalkan mu malam itu” dia tersenyum lebar dengan gigi kelincinya dan aku hanya terbengong tidak bisa menerima informasi yang disampaikan Jayke ini terlalu tiba-tiba dan ini adalah skenario yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.


“Tunggu dulu? Kenapa bisa kamu”


“bisa” Jayke kelihatan biasa saja, dan aku geregetan apakah dia tidak tahu bahwa aku hampir gila mencari informasi tentang pria di Kinabalu itu.


“Jay jelaskan padaku” kataku menatapnya serius, kenapa aku tidak bisa mengenalinya? Kenapa Jayke bisa? Bagaimana dia tahu itu aku?


Jayke membasuh bibir nya sebelum bicara “aku kan memang fans mu dari dulu, di Kinabalu saat itu kebetulan saja aku melihat mu berjalan-jalan sendiri di sekitar pantai dan mengikuti mu” dia meneliti ekspresi ku, sebelum kembali melanjutkan perkataannya “terlihat seperti mimpi saat itu bagaimana aku bisa melihat mu disana kamu ya karena kamu Idola ku dulu tapi sekarang pun masih begitu”


Dia tersenyum, dan aku terharu saat dia mengingat judul lagu debutku tiga tahun yang lalu.


Jayke tidak bisa di prediksi “terimakasih lagi Jayke, terimakasih karena selalu mengingat ku” aku merentangkan tanganku dan berdiri sekali saja aku ingin memeluk pria itu—seperti malam itu.


Jayke berdiri menyambutku, kepalanya bersandar di bahuku. Lengan kekarnya melingkar pinggang ku erat.


“aku sudah bilang, apapun yang terjadi aku akan ada di sisimu” Pelukan Jayke makin mengerat mengirimkan kehangatan yang lagi-lagi membuatku merasa kan perasaan tenang—rumah.


Jayke


Kenapa? Siapa kamu sebenarnya?


Siapa kamu hingga mampu membuat ku seperti ini, kenapa kamu harus membuatku bergantung pada mu seperti ini.


“terimakasih Jayke” Persetan dengan apapun, aku hanya ingin Jayke tempat dimana aku pulang dua tahun yang lalu sekarang dan dimasa mendatang.


Viana Wren