Glorious Life

Glorious Life
Helsinki



H A P P Y R E A D I N G


***


Helsinki, May 2014


Aku tidak akan mensia-siakan liburan ku kali ini mumpung aku ada di Eropa sekalian saja kan jalan-jalan hitung-hitung melepas penat apalagi setelah aku kembali ke California aku memiliki segudang jadwal padat yang tidak bisa kutinggalkan.


“Ingat ya setelah sampai di Hesinki kita kembali ke California tidak ada jalan-jalan lagi, aku mau beres-beres dulu!” Ujar Sara lalu berlalu masuk kembali ke dalam kamar, aku mendecak sebal memilih juga berlalu masuk ke dalam kamar ku sendiri yang letaknya berhadapan dengan milik wanita itu.


“Kalau kamu mencariku aku ada di gladak.”


Michael menepuk pelan bahuku ketika aku ingin masuk ke dalam kamar, sudah ku perkenalkan belum dengan Michael? Belum ya, Michael adalah manager sekaligus Bodyguard ku yang paling mengerti diriku dia itu terbaik pokoknya berbanding terbalik dengan Sara. Umurnya yang lebih tua dariku membuatku menganggapnya seperti kakak-ku sendiri.


“Iya.”


“Jangan kemana-mana.”


“Iya baik.”


“Yasudah aku pergi beres-beres dulu.”


Aku mengangkat bahu ku acuh lalu menutup pintu setelah memastikan suara langkah kaki Michael benar-benar menjauh dari kamarku aku menarik koperku membereskan nya secepat kilat. Aku punya rencana dan akan aku realisasikan sekarang mumpung aku ada di Finlandia.


Jadi rencana ku setelah kapal berlabuh di Helsinki aku akan berkeliling menikmati Helsinki sendirian dan baru akan kembali ke California setelahnya, rencana yang sudah aku susun matang-matang sebelum aku berangkat ke Bergen.


Kuraih cardigan berwarna nude dan topi hitam untuk melengkapi penyamaran ku, dengan sedikit sentuhan masker hitam aku yakin aku tidak akan dikenali diantara hiruk pikuk orang di Cruise lagipula aku kan belum seterkenal itu untuk di kenali sih hehe.


Aku mengendap-endap keluar saat pengumuman dari speaker bahwa kapal akan segera berlabuh kurang dari seperempat jam lagi artinya aku harus sudah sampai di exit sebelum yang lain menyadari aku yang tidak ada.


“Wait...” aku setengah berteriak ketika aku berhasil mencapai lift, “Eh thanks ehh we meet again Jayke.”


aku menatap Jayke antusias, melihat siapa yang ada di hadapanku, itu Jake Suh pria yang ku temui di Bergen ia masih bersama rombongannya yang kemarin. Jayke tengah menatapku yang berpakaian full tertutup dengan pandangan menyerit kelihatan ragu berarti penyamaran ku berhasil.


“Florenzee?”


“Yeap it's me!” seruku antusias melepaskan masker yang ku kenakan.


Dari tempatku berdiri aku dapat leluasa melihat perubahan ekspresi lucu Jayke dan aku mengamati semuanya dengan senyum terkulum.


“Ehh..” aku bingung sekaligus terkejut akan tindakan implusif pria itu – Jayke memelukku – apakah dia ini adalah fans fanatik?.


Teman-teman nya yang lain juga menatap Jayke terkejut, yang memakai topi pink tiba-tiba menarik Jayke dan membungkuk sembilan puluh derajat berulang sambil mengatakan maaf aku yang di perlakukan berlebihan seperti itu ikut membungkuk tanpa sadar jadilah kami berdua saling membungkuk.


“Hei it’s okay okay” aku mencoba menghentikan pria itu yang terus-menerus mengucapkan maaf.


“Hyung* ada apa sih?”


“Ada apa bagaimana maksud mu! Memeluk orang sembarangan apa yang kamu lakukan Jayke Jeon itu tidak sopan.” pria bertopi pink itu memukul pelan bokong Jayke membuatku tersenyum kecil, aduh kenapa mereka kekanak-kanakan sekali sih?,


“So who is he Jayke?.” Tanyaku dengan senyum tipis.


Si pria ber topi pink itu menghentikan pukulannya dan Jayke mengeluarkan ponselnya memperlihatkan aku sesuatu ia membuka mesin pencarian dan mengetik LAUVOX disana, lalu memperlihatkan hasil pencarian itu kepadaku.


“Look at this.”


Ah..


Jadi mereka artis Korea? Aku mengangguk paham. Jayke memberi isyarat bahwa dia tidak bagus dalam bahasa Inggris dan meminta maaf dibantu staf mereka.


“Jadi kalian akan pergi ke mana?” tanyaku penasaran, menatap salah satu staf yang bertugas menjadi penerjemah.


“Mereka akan pergi ke campfire di Santa Claus.”


“Boleh aku ikut?...” tanyaku tiba-tiba, staf itu terkejut dengan ucapan ku. “tidak akan menggangu jalannya shooting kok serius aku hanya ingin berjalan-jalan.”


“Florenzee Gauri” salah seorang staf memanggilku dengan wajah super was-was nya membuat ku ingin tertawa.


“Ya itu aku kenapa?”


“Kamu Florenzee yang itu kan, dimana Manager mu?” dia bertanya dengan menyelidik sambil menunjukan layar ponselnya yang menampilkan akun Instagram milik ku.


“Ada di dalam kapal juga, kurasa tidak jauh dari sini,” jawabku sekenaknya.


Kulirik Jake tengah berbicara serius dengan salah satu dari staf dengan bahasa korea, pintu berdenting terbuka aku keluar dengan lesu belum tiga langkah aku berjalan salah seorang dari mereka menepuk ku sopan.


“Tapi kamu sudah mengatakan pada mereka?”


Aku mengangguk terlalu cepat senyuman ku terkembang menatap mereka dengan binar penuh harap “jangan khawatir mereka akan segera ku kabari dan aku benar-benar akan menyamar tidak akan menggangu dokumentasi kalian kok.”


“Kamu boleh ikut asal, semua biaya kamu tanggung sendiri ya tapi rahasiakan ini juga tidak boleh memfoto LAUVOX sembarangan” ujarnya Jenaka, aku hampir berteriak saking senangnya.


“Terimakasih banyak!”


***


Aku tidak menyangka aku melakukannya— kabur dan liburan sendirian, Ponsel milikku sudah kumatikan setelah mengirimkan pesan singkat ke Michael kalau aku ingin liburan sendiri dan memerintahkannya agar tidak menggangu ku, aku tersenyum jahat membayangkan wajah-wajah kesal mereka apalagi Sara pasti dia disana marah-marah.


Sekarang aku ada di Campcar bersama LAUVOX, sedang perjalanan menuju Santa Claus di bagian kota Finlandia, sesekali aku akan menyingkir dari titik kamera karena LAUVOX sedang melaksanakan shooting untuk Variety Show mereka, walaupun tidak nyaman karena berpindah-pindah namun semuanya terbayar dengan sikap ramah mereka dan jangan lupakan pemandangan indah Finlandia.


Kalau boleh jujur aku senang sekali jalan dengan mereka, setelah perkenalan mereka benar-benar baik hanya saja mereka terlalu kaku ketika berbicara dengan ku karena mereka harus berbicara dengan bahasa Inggris hasil dari translate.


“Kami akan membeli coffe kamu mau?”


Tanya Roman berdiri, yang lain bersiap turun dari campcar. Roman adalah satu-satunya anggota LAUVOX yang fasih berbahasa inggris selain itu pria itu kelihatan yang paling dewasa dari yang lain.


“Sure.”


Aku berdiri berjalan mengikuti anggota LAUVOX yang turun menuju cafe, pemandangan di sekeliling kami benar-benar indah, kami berjalan beriringan ke cafe Roman menahan pintu untukku, “Terimakasih.”


Dia tersenyum tipis membiarkan ku memesan lebih dulu, “Frapuchino and tiramisu cake please.”


Setelah aku mendapatkan pesananku aku duduk lebih dulu menuju meja di dekat jendela yang menampilkan perbukitan yang hijau, indah sekali pelarian ku terbayarkan oleh keindahan alam yang ada di depan mataku, Frapuchino ku tinggal setengah ketika beberapa anggota LAUVOX mendekati mejaku bersamaan dengan yang lain mereka selesai mengambil gambar “Hai, Florenzee” Sapa Vins dan Jimin – anggota LAUVOX yang paling hiperaktif diantara yang lain.


“Oh hai” Jawabku canggung mereka menarik kursi lalu duduk melingkar.


“Kamu tidak ingin makanan berat? Kenapa hanya pesan cake sedang diet?” tanya Roman menatap tiramisu ku yang masih tersisa setengah.


“ tidak, aku hanya masih kenyang ” Balasku tersenyum, aku menyesap Frapuchino ku sedikit demi sedikit.


sejauh ini semuannya baik baik saja bergabung dengan LAUVOX memang tidak terlalu buruk buatku, aku mengalihkan pandanganku kearah pintu masuk Cafe mendapati Jayke bersama August berjalan menuju ke counter untuk memesan. Aku mengamati Jayke yang sedang menunggu di depan counter, pegawai Cafe itu memindahkan banyak makanan ke nampan Jayke setelahnya ia berjalan lurus kearah meja kami sempat kulihat Jayke mengedipkan matanya sambil bibirnya mengukir segaris senyuman lucu.


Astaga Jayke !


Jayke berdiri disampingku tangan besar nan panasnya sengaja menepuk nepuk kepalaku pelan.


Aku menahan nafas mataku berkelana menyadari anggota dan Staf LAUVOX menonton adegan yang dilakukan Jake kepada ku.


“hei.” Peringatan ku, menginterupsi Vins yang buru buru menarik nafas mengisi paru parunya yang kosong karena tadi sempat menahan nafas ekspresi yang lainya hampir mirip dengan Vins, aku risih mata-mata mereka mengamatiku mungkin berfikir bagaimana bisa aku dan Jayke sedekat ini padahal baru saja berkenalan.


Aku juga tidak tahu jawabannya, dari awal Jayke itu aneh untuk ukuran orang asing semua tindakannya terlampau berani seperti ia telah lama mengenal ku intinya Jayke tidak canggung sama sekali.


Dan sialnya aku juga tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Jake padahal biasanya aku tidak begini.


Jayke terkekeh geli ia duduk dan mulai memakan makannya seperti tidak terjadi apapun.


Jayke benar-benar sialan!


“aku mendengarkan musik mu sesekali, dan itu bagus banget” Roman memuji dengan senyuman kecilnya, ku alihkan perhatian ku ke pria itu


“terimakasih, kita harus berkolaborasi suatu hari nanti” kata ku jenaka, yang di balas senyuman lebar pria itu.


“Tentu saja! Hubungi aku kapan saja oke kita akan buat musuk yang bagus!.”


Dan kami larut dalam percakapan seru.


Vian Wren


Loading for the next chapter