Glorious Life

Glorious Life
18 ∞ Hard



Jungkook ada disampingku ketika aku membuka mata untuk pertama kalinya, dia kelihatan tidak senang.


“Jung”


Aku mengerang tanpa sadar, Jungkook menoleh dengan cepat dengan raut khawatirnya.


“kamu baik?”


Aku mengangguk dan berusaha bangun, Jungkook membantuku bersandar ke kepala ranjang, setelah aku benar-benar sadar ternyata kini aku berada di Kamar Jungkook, ada Jimin dan Taehyung juga sedang duduk dan menatapku penuh antisipasi.


“Bagaimana?”


Tanyaku, dan Jungkook menghela nafas berat, Taehyung dan Jimin mendekat dengan senyuman menenangkan.


“Sedang diatasi tidak usah khawatir”


Jimin yang menjawab dan Jungkook hanya membisu sambil menunduk. Kelihatan sekali mood Jungkook buruk.


“Jung bisa bicara?”


Kami menoleh secara bersamaan ketika melihat Namjoon dari pintu dia tersenyum ketika mata kami bertemu.


“Aku tinggal sebentar ya hyung”


Pamit Jungkook membelai rambutku, dia tidak menoleh kearah ku dia hanya menatap Jimin dan Taehyung lalu berdiri menyusul Namjoon.


“Dia tidak marah kok hanya kesal”


Jimin memberitahu ku tanpa kusuruh dan aku mengangguk saja sambil menghela nafas berat.


“Jangan dipikirkan”


Taehyung ikut ikutan memberi ku sugesti positif.


“Jadi bagaimana dengan Handphone ku?”


“Tidak tahu, Michael hyung yang membawanya”


“kamu tidak shock kan?”


Jimin itu terlalu manis, dia naik keatas tempat tidur ku diikuti Taehyung. Mereka menatapku dengan tatapan menuntut. Aku memutar bola mataku sambil mengembungkan pipiku kesal.


“Aku tidak shock kok! Aku itu hanya takut darah itu saja pokoknya. Aku tidak takut sasaengnya”


Balasku menggebu-gebu aku tidak mau dikatakan takut dengan sasaeng mimpi saja! Kemarin itu aku hanya 'sedikit' terkejut melihat darah. Itu saja pokoknya.


Sahut Taehyung gemas, aku mendelik kesal kearahnya. Jimin terkekeh geli, tuhkan mereka sedang mengejek ku.


“aku kan jatlag terus lihat darah ya pingsan! Lain kali tidak pingsan!”


Belaku tak masuk akal yang dibalas tawa keras Taehyung. Kadang aku sebal sendiri dengan godaan Taehyung. Dia itu terlalu menyebalkan kadang-kadang.


“Tapi Zee, tidak ada lain kali ini adalah yang pertama dan terakhir” Jimin berkata tegas membuat ku terkesip, dia kadang-kadang memiliki pola pemikiran dewasa seperti Namjoon oppa, kadang aku sungkan jika Jimin sudah berbicara tegas seperti itu.


“Kuharap juga begitu”


Lirihku menunduk, Taehyung menepuk-nepuk bahuku pelan mereka tidak berkata namun aku tahu mereka juga sama khawatirnya dengan ku.


Pintu terbuka perlahan, memunculkan Jungkook disana ia kelihatan lelah dan sendu?.


“Karena Jungkook sudah datang ayo chim kita makan”


Taehyung merangkul Jimin dan keluar dengan menutup pintu secara perlahan.


Jungkook mengambil alih posisi Taehyung dia bersila tepat disampingku, menatapku lama sebelum kembali menghela nafas berat.


Dia kenapa sih?


“Jung”


Aku tidak nyaman dengan sikap diamnya itu aku menyentuh tangannya, agar ia mengalihkan atensinya kepadaku.


“Tolong maafkan aku ya”


Dia tiba-tiba sudah mendekap ku dengan erat dan aku hampir tidak bisa bernafas.


“Sudah dong Jung kenapa sih denganmu, aku baik-baik saja mereka hanya mencoba menyakiti ku  secara mental”


Omelku sambil menepuk-nepuk punggungnya. Yang melakukan teror kan bukan Jungkook kenapa sih dia harus meminta maaf.


“Tidak...kita tidak pernah tahu, mereka bisa melakukan lebih dari itu.  Maafkan aku tidak menjagamu dengan baik”


Aku tertegun Jungkook benar akan fakta bahwa 'mereka bisa melakukan lebih dari itu'. Kasus yang paling parah bahkan mereka hampir melakukan percobaan pembunuhan terhadap idol entah itu meracuni ataupun tindakan fisik secara langsung. Kami tidak akan pernah tahu.


“Aku tidak akan pernah memafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padamu”


Ujar Jungkook dan aku memeluknya lebih erat dan menyembunyikan wajahku di dada bidangnya.


Kimnds