
H A P P Y R E A D I N G
* * *
Aku bangun ketika hari sudah beranjak siang. Pemandangan pertama yang ku saksikan ketika aku terbangun adalah langit-langit kamar dengan lampu gantung kristal yang mewah berpendar kekuningan. Aku mengerutkan keningku terlalu bingung dengan suasana di sekitar ku.
Dengan susah payah aku mencoba bangun dan bersandar di headboard tempat tidur yang baru aku sadari sangat nyaman, ku gulirkan mataku menatap sekeliling dan baru menyadari aku berada di sebuah kamar bukan di campcar seperti yang terakhir kali kuingat.
Mengapa aku tidur disini?
Aku mencoba mengingat lagi tadi malam setelah bersama Jayke, aku tidur di dalam campcar jadi mengapa aku bisa berada disini?
Apakah aku di pindahkan?
Apakah LAUVOX membatalkan rencana tour Finlandia dengan campcar? Dan memilih menginap di sebuah hotel tanpa memberitahukannya kepadaku?.
Sebelum aku berspekulasi terlalu jauh pintu kamar yang aku tempati terbuka dan sialnya menampilkan Michael disana tengah menatapku aneh sama anehnya bagiamana aku memandanginya.
“Good morning!.”
“Lohh kok kamu ada disini?!!” aku setengah menjerit melihat pria itu mendekat dengan santai dan meletakkan nampan berisi sarapan yang ku tebak untuk ku.
“Lohhh kok aku ada disini?!” Michael menirukan ucapan ku dengan nada paling menyebalkan yang pernah ku dengar aku melotot padanya dan berdiri sambil menodongnya dengan bantal ku walaupun tingkah ku ini tergolong aneh aku tidak lagi peduli.
“Dimana Jayke?!” tanyaku berniat memukuli nya dengan senjata di tanganku–bantal tapi urung ketika pria itu malah menyodorkan lebih dekat nampan sarapan ke arahku tidak ingin ada adegan yang tidak diinginkan aku menurunkan bantalku lalu duduk bersila di atas ranjang sambil menatap Michael memicing ia sedang menata sarapanku di portabel table yang diletakkan di atas ranjang dalam diam.
“Jayke siapa?” tanyanya sambil menyerahkan alat makan ku.
“Yang bersama ku lah siapa lagi” sebalku lalu meminum susu dan mulai memakan sarapanku.
“Ah kumpulan orang asia itu ya? Mana ku tahu tapi katanya sih mau melanjutkan perjalanan.”
“Kemana?.”
“Ya mana ku tau kenapa bertanya-tanya kepadaku hal yang seratus persan gak ku tahu habiskan sarapanmu kita kembali ke Los Angles hari ini. Sara sudah kembali duluan karena marah kepada kamu jadi Tuan Putri jangan membuatku juga marah padamu.”
Pria itu berkaca pinggang dan menatap dengan pandangan memicing.
“Loh tapikan aku kan masih ingin bersama mereka!!” rengekku membanting sendok ku dengan sebal.
Michael menjitak kepalaku dengan keras membuatku melotot dan mengaduh karena rasa sakit di keningku “aduh sakit jangan main kekerasan ya!!!”
“untungnya kami segera menemukan mu setelah kamu menyalakan ponselmu dan menggunakan kartu kredit mu! Kenapa suka kabur-kabur begitu sih kamu ingin aku segera di pecat ya”
“Karena ponselku?!! Kamu memasang pelacak ya!!” semburku menatapnya kesal, aku ingin privasi. Michael benar-benar luar biasa kenapa ia suka sekali memasang pelacak dan hal-hal menyebalkan itu padaku.
“Terserah cepat habiskan sarapanmu!!”
Ku cebik kan bibirku sebal lalu melanjutkan sarapan tanpa menggubris manager kurang ajar ku.
“awas saja jika kamu mencoba kabur lagi!” peringat Michael sebelum menutup pintu kamarku aku mendengar bunyi klik pertanda pintu di kunci.
* *
Los Angeles, 2015
“apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Anwar Hadid yang berada di sebelah ku, pria itu menempel terus padaku sejak kepulangan ku dari Finlandia.
Sebenarnya kami tidak sedekat itu, aku hanya sebatas tahu pria itu adalah salah satu brand ambassador youth juga dan adik dari supermodel Gigi dan Bella Hadid.
“menurutmu?” decak ku sebal sambil menoyor kepalanya yang bersandar di pundak ku, tingkah nya yang serampangan benar-benar menguras kesabaran ku.
Aku berdiri bersiap pulang ke rumah, lelah sekali sehabis menghadiri fashion week yang di adakan XO Brands. baru beberapa langkah aku berjalan pria menyebalkan itu menghalangi jalan ku dengan merentangkan kedua tangannya dan memasang wajah yang luar biasa menyebalkan.
“Kenapa sih minggir aku mau pulang” semburku kesal mendorongnya hingga ia terhuyung ke belakang.
Dia mengaduh namun masih menatapku cengengesan.
“kamu belum menyetujui rencana agensi kita kan, ayo jawab sekarang jangan membuatku menunggu lama”
Aku mendesah dia ini tidak tahu malu ya, tindakan ku padahal jelas-jelas menolak segala tuntutan agensi. Bayangkan saja aku harus pacaran dengan nya untuk menaikan pamor— strategi marketing jahat yang selalu di terapkan di dunia hiburan. Walaupun itu bukan hal baru lagi di kalangan Hollywood tapi tetap saja aku tidak mau mengambil langkah kotor itu cukup sekali dan aku tidak mau lagi.
“ I told u before!” sentak ku, menatapnya dengan pandangan marah ku. Harus bagaimana aku mengatakan pada pria itu aku tidak setuju!.
“Aku tidak setuju!.”
“Tapi ini demi Youth juga! Jangan egois dong”
“Anwar, kita bahkan baru bertemu tiga kali demi tuhan aku tidak mau!”
“no kamu tidak dalam posisi untuk menolak” Harry Walton — CEO HW Ent atasan sialan ku itu tengah berdiri di depan pintu dengan Cha Sara dan Michael di belakangnya. “Ikuti aturan yang kutetapkan Flo kamu sudah terikat kontrak.”
“Damn it! I am seventeen Harry”
Aku menatap pria paruh baya itu dengan pandangan tidak menyangka apakah dia akan terus mengaturku?!.
“terus kenapa kalau kamu tujuh belas! Aku hanya ingin yang terbaik untuk karirmu” Harry Walton benar-benar keterlaluan dia benar-benar hanya akan memikirkan keuntungan perusahaan. “Sara hubungi team PR segera dan rilis semua konten itu”
Ucapan mutlak Harry Walton tidak bisa ku bantah, dan aku benar-benar merasa tidak berdaya, sisi egoisku muncul— aku ingin menjadi sesuatu agar bisa menentukan hidup ku sendiri dan keinginan ku hanya bisa terwujud jika aku memiliki uang dan kekuasaan.
Tapi saat ini aku belum mampu...
Sialan !
Ada dimana sisi hati ku yang tidak rela jika aku harus berpura-pura pacaran dengan Anwar, seperti aku sedang melakukan kesalahan besar. perasaan tidak nyaman seperti aku telah berkhianat, tapi siapa yang aku khianati?.
Dan untuk siapa perasaan tidak nyaman ini?.
***
Viana Wren