
H A P P Y R E A D I N G
Europe May 2016
Bergen adalah kota terbesar kedua di Norwegia, kota dengan banyak pesona dan suasana kota kecil yang nyaman untuk di tinggali. Selain itu penduduknya yang patriotik, memiliki banyak sisi sejarah serta tradisi budaya yang benar-benar patut di apresiasi.
Awalnya aku tidak tahu mengapa aku harus ke Bergen untuk pemotretan sebuah majalah — pikirku, mengapa harus jauh-jauh ke Bergen hanya untuk pemotretan padahal di United States terutama California banyak tempat dan spot foto yang bagus tapi kini aku tahu alasannya.
Aku adalah brand ambassador Youth Magazine, aku dituntut untuk dapat menggambarkan masa muda itu sendiri dan di Bergen sepuluh persen populasinya adalah pelajar, orang-orang muda yang memiliki banyak sisi menakjubkan, berkat mereka Bergen menjadi kota dengan suasana segar dan awet muda.
Ah iya, sepertinya aku lupa memperkenalkan diri, aku adalah Florenzee Gauri, salah satu dari sekian banyak artis Hollywood yang memimpikan kaya dan terkenal, dulu debutku aku cukup beruntung karena bisa berkolaborasi bersama Justin Bieber berkat pria itu karirku melesat dalam artian negatif dan juga positif tentu saja.
Popularitas Justin tidak perlu di ragukan lagi karena pria itu adalah pengendali penuh dunia musik di Hollywood dan jangan lupakan deretan skandal yang mengikuti karirnya. Bisa dikatakan aku menumpang ketenaran dan mengandalkan koneksi? Terserah bagaimana kalian menafsirkan tapi bagiku sendiri aku berusaha keras untuk ada di posisiku sekarang ini.
“Terimakasih kalian sudah bekerja keras!”
Aku tersenyum membalas ucapan para staf pemotretan dan sedikit membungkukan badan untuk menghormati mereka, Sara Emils dan beberapa staf perusahaan bergerak menghampiri ku menyampirkan parka di pundak ku. Ngomong-ngomong Sara adalah asisten ku yang paling kurang ajar aku tidak bisa memecatnya karena ia memiliki kinerja yang bagus.
“Semuanya sudah selesai, kan?” tanyaku.
“Iya schedule mu berakhir hari ini, kamu serius ingin naik cruise.”
Mengenai Cruise yang di maksud Sara, setelah menjadi selebriti Hollywood yang memiliki segudang jadwal padat dan kerap keliling dunia untuk bekerja aku selalu menyempatkan diriku untuk healing biasanya aku naik short cruise, melakukan camping atau hanya berjalan-jalan sendirian dan kebetulan di Bergen ada jadwal ferri singkat dan tentu saja aku tidak akan mensia-siakan kesempatan berharga ini.
“Jadilah, kamu sudah menyiapkannya, kan?” tanyaku memicing curiga.
Sara menghela nafas sebelum menjawab, “Sudah, hari ini kamu langsung terbang ke Stockholm oke. Tunggu sebentar aku hampir selesai.”
Kuanggukan kepalaku pertanda mengerti, hari ini udara di Fløyen lumayan dingin apalagi menjelang malam dan sialnya aku masih berada di atas Mount Fløyen menunggu Sara merapikan semuanya, parka yang di berikan asisten ku tidak ada gunanya sama sekali karena outfit lumayan tipis yang kugunakan untuk pemotretan hari ini.
“Sara bisakah aku turun lebih dulu? Aku kedinginan.”
Sara yang sedang sibuk membereskan peralatan menoleh dan mengangguk, “Oke kalau begitu aku akan menelpon Michael ini nih tiketmu tahu kan cara naik cable train?.”
Kuputar bola mataku malas, padahal aku tidak sebodoh itu karena dia adalah asisten ku sejak debut dia terlalu meremehkanku mungkin Sara pikir aku masih anak enam belas tahun yang tidak tahu apa-apa, “Iya tau!” balasku cuek lalu meraih tiket itu dan berlalu dari hadapannya menuju cable train satu-satunya transportasi untuk naik dan turun Mount Fløyen, sebenarnya ada cara lain untuk turun yaitu dengan berjalan kaki melewati trek yang disiapkan untuk orang yang ingin mendaki tapi tentu saja aku tidak mau jalan kaki.
Aku sedikit berlari ketika pintu cable train itu akan tertutup, aku tidak boleh ketinggalan karena aku tidak mau menunggu cable train yang berikutnya jika menunggu yang berikutnya itu akan membutuhkan waktu padahal aku ingin cepat sampai ke bawah karena tidak tahan dengan dingin dan anginya yang semakin kencang menerpa Mount Fløyen.
Aduh Sialan!
Aku hampir terjungkal ke depan saking buru-buru nya memasuki cable train. Namun, sebelum tubuhku menyentuh lantai ada tangan lain yang reflek menahanku agar tidak terjungkal, “Woahh.”
Aku berhasil masuk dan berdiri tegak tanpa terjungkal sebelum pintu itu benar-benar tertutup berkat bantuan seorang pria asia yang berdiri di dekat pintu. Setelah beberapa detik berlalu dan cable train mulai berjalan aku berhasil berdiri dengan seimbang.
“Are you okay?” pria asia itu bertanya dengan aksen yang begitu kaku dalam sekali tebak aku aku bisa menduga kalau dia bukan native inggris.
Aku menunjukkan senyum lebarku layaknya orang dungu sambil mengibaskan tanganku, “I am fine thanks, you save me ... thank you.”
Aku merapatkan tubuhku ke pojok, membuang pandangan ke luar tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena ternyata baru ku sadari jika baterai handphone ku habis dan aku sendirian di dalam cable train yang riuh – betapa menyedihkannya diriku, kan –
Karena tidak ada kerjaan aku mengamti sekelompok orang asia itu beberapa dari mereka memegang kamera, sebagian yang lain berbicara dengan nada yang seru dan beberapa saat kemudian kulihat pria dengan topi mulai bernyanyi rap dengan bahasa yang tidak ku mengerti artinya, ada yang tertawa kencang ada yang hanya tersenyum malu dan ada juga yang mengarahkan kamera handphonenya untuk merekam kejadian itu. Mereka kelihatan bahagia sekali membuat diriku jadi iri, andaikan aku bisa tertawa lepas seperti itu aku mengerang sebal menyadari kadar menyedihkan diriku bertambah menjadi berkali-kali lipat.
Aku tidak memiliki teman-teman seru seperti itu di Hollywood – kecuali Ariana, satu-satunya temanku sekaligus solois yang debut di tahun yang sama denganku – kebanyakan kenalan ku di industri yang sama hanya akan berkumpul untuk bersaing memerkan kekayaan, gaya hidup dan karir mereka bukan untuk bercanda dan tertawa seperti ini.
Setelah aku memutuskan untuk mengejar mimpiku menjadi selebriti ada harga yang harus ku bayar untuk ada di lingkaran Hollywood, mengorbankan hampir seluruh hidupku untuk berpura-pura dan kehilangan kehidupan ‘emosional’ ku.
“Hi I am Jayke,” lamunanku buyar aku mengerjap ketika pria yang menolong ku tadi tiba-tiba sudah ada di dekatku lagi mengulurkan tangannya dengan senyuman manis. Mungkin dia melihat diriku yang tampak menyedihkan jadi dia memutuskan untuk menghampiriku.
“Oh hi Jayke, I am Florenzee Gauri,” kusambut uluran tangannya sambil tersenyum tipis. Aneh juga karena tiba-tiba dia mengajakku mengobrol padahal sebelumnya ia menjaga jarak dengan ku setelah menolong ku tadi.
“I Love your song ‘a little braver’.”
Aku terperangah tidak menyangka sekaligus terharu ada yang mengenaliku, karena ucapanya aku jadi lebih memperhatikan pria bernama Jayke itu, yang bisa ku simpulkan Jayke itu tampan sekali dengan mata bulat dan gigi kelinci ada tahi lalat kecil di bawah bibirnya ia tersenyum manis sekali, aura pria itu yang hangat membuatku merasakan kehangatan yang sama.
“Aww thank you Jayke.”
Jayke mengangguk sambil tersenyum lebar kelihatan bahagia sekali aku menyebut namanya. Akupun ikut tersenyum lebar tertular karena aura positif yang ia miliki.
“Ijeongwa dongil”1
“Ha?”
Jayke menggeleng sambil mengulum senyum membuatku bertambah bingung dengan maksud perkataannya. Dia tidak sedang mengolok-olok ku kan?.
“Are u doing vlog?” tanyaku antusias.
Aku merasa harus mengembangkan percakapan dengan Jayke ini, aku tidak mau di cap buruk oleh pria di depanku ini lagipula dia berkata suka laguku berarti dia adalah fans ku kan?.
“Yes.”
Kami tidak bersuara beberapa saat kemudian karena aku tidak tahu harus merespon seperti apa karena aku juga bingung, aku terbiasa hanya berbicara jika perlu dan tidak suka berbasa-basi dan sepertinya mengembangkan percakapan lintas bahasa dengan Jayke sedikit sulit.
Akhirnya kecanggungan itu segera berakhir saat Cable train yang kami tumpangi berhenti di station, sebelum aku melangkahkan kakiku keluar pria itu memanggilku sekali lagi, “Florenzee...” aku menoleh kebelakang menatapnya menunggu ucapan pria itu selanjutnya, “Please remember me again, I am Jayke Jeon from LAUVOX.”
Again..
Kuangkat alisku tidak paham dengan kata 'lagi' yang dia selipkan diantara perkataannya. Memilih untuk tidak memikirkan itu aku tersenyum kecil lalu melambaikan tanganku sebagai salam perpisahan, karena Michael sudah menyambutku dan menggiringku untuk segera keluar dari cable train.
Viana Wren
Ijeongwa dongil1 : Sama seperti dulu