Glorious Life

Glorious Life
Prefisso



[BREAKING NEWS]


Newcomer Hollywood star Florenzee Gauri was harshly criticized for exploiting the popularity of Justin Bieber, now fans at war.


(Source: TMZ)


***


Kinabalu, January 2015


Aku menatap layar ponsel ku dengan nanar, kenapa rasanya sakit sekali padahal aku sudah tahu konsekuensi yang akan aku hadapi setelah aku memutuskan untuk terjun di dunia seperti ini tapi tetap saja aku tidak bisa terbiasa, harusnya aku menganggap ini bukan apa-apa karena yang menimpaku kali ini adalah harga yang harus ku bayar untuk menjadi terkenal seperti mimpi ku.


Harusnya aku baik-baik saja sekarang tetapi mengabaikan opini publik, aku tidak bisa tidak akan semudah itu, aku memiliki telinga untuk mendengar dan mata untuk melihat, jadi opini masyarakat benar-benar sangat berarti untuk ku apalagi untuk masa depan karirku kedepannya.


Jangan menganggap aku ini gila pencitraan, kalau kenyataannya yang lebih penting bagi seorang publik figur itu adalah citra? Citra untuk mempertahankan karirnya, citra untuk tetap berdiri tegak di tengah kerasnya kehidupan gemerlap selebriti.


Aku menatap sekeliling dengan pandangan sendu, se-sendu hati ku. Keindahan laut Kinabalu malam ini tidak bisa mengobati rasa sakit ku, aku mengangkat botol vodka yang baru saja ku beli di pub dekat pantai ingin meneguknya namun sebelum moncong botol itu menyentuh mulutku botol itu tahu-tahu sudah melayang lalu jatuh ke pasir tanpa bisa ku cegah.


"Wahhhh stop stop stop!."


Aku menoleh dan menemukan sosok pria asia berdiri di sampingku, tersangka yang menyebabkan Vodka ku melayang dan jatuh ke pasir aku memandangnya kesal pria asia  dengan tubuh tinggi dengan aroma floral fruity yang menenangkan dan menyegarkan.


"What the fucking hell you doing!!."


Sentak ku marah, aku menghadap pria itu sepenuhnya dengan wajah murka ku. Apa-apaan coba dia, apakah dia kurang kerjaan atau bagaimana mengapa mengganggu orang lain yang tidak di kenalnya begitu.


Bisa di mengerti sih kalau dia itu fans ku tapi hei! Aku saja baru saja debut dan popularitas ku gak se-wow itu untuk memiliki fans dari luar negeri, kecuali kalau dia itu fans-nya Justin Bieber yang benci setengah mati denganku karena panjat sosial itu baru mungkin.


Aku mencoba menatapnya namun yang aku dapati adalah aku hanya bisa melihat samar-samar wajahnya dibantu dengan cahaya bulan, pekatnya malam di bibir pantai menyusahkan ku untuk melihat siapa orang yang ada di samping ku sekarang.


"How old are you!."


Pria itu ikut membentak ku juga, itu bukan pertanyaan tapi lebih mengarah ke sarkasme yang sangat-sangat tidak sopan yang di lontarkan kepada orang asing seperti diriku – mengingat bahwa kami mungkin baru pertama kali bertemu, kita di ajarkan untuk sopan kepada semua orang kan? Tapi sepertinya pria yang ada di sampingku ini tidak mempelajari hal dasar seperti itu dengan baik.


"I am sixteen, so why ha! what do you care!."


Teriak ku marah lama-lama ikut tersulut suasana hati ku yang sudah buruk bertambah buruk, dia siapa sih tidak jelas kenapa harus mengganggu ku, apakah dia sosok relawan yang peduli lingkungan atau bagaimana sih sungguh sangat sialan bertemu dengannya.


"Kamu belum cukup umur untuk minum alkohol."


Suaranya meninggi dia kesusahan merangkai kata, kurasa dia bukan orang native English mengingat aksen kakunya.


"Weird, apa peduli mu sih! Just go away!."


"Aku peduli, jadi tolong jangan bertingkah seperti ini,” dia mundur satu langkah samar-samar mengusap kasar wajahnya dan berkaca pinggang  menatapku lurus-lurus.


“Jika aku tidak menghentikan kamu apa yang kamu lakukan?! Minum sampai mabuk?! Kamu tahu tidak kamu bisa saja tenggelam ke sana. Ingin bunuh diri ha?!.”


Aku tertegun meresapi perkataannya, apa yang akan ku lakukan setelah minum?.


Suaranya mulai melembut dan itu cukup untuk membuat hati ku menghangat, selama ini tidak ada orang yang benar-benar peduli pada ku mereka hanya khawatir dengan kondisi sekitar, takut kalau aku berulah dan merugikan mereka.


"Melarikan diri dari hal-hal yang menyakitkan itu boleh namun ingatlah untuk selalu mencintai dirimu sendiri, apapun bagaimanapun keadaannya dirimu adalah nomor satu yang harus kamu pedulikan bukan yang lain."


Mataku memanas dan kurasa buliran liquid itu mengalir dari sudut mata ku tanpa bisa ku cegah, aku tidak tahu mengapa aku emosional sekali hari ini.


Aku menangis pertahanan ku runtuh di depan orang asing aku jatuh terduduk menutup wajahku mencoba menghalau isakan keras yang tidak bisa ku bendung lagi


"Maafkan aku, hei tidak apa-apa jangan menangis lagi oke kamu baik-baik saja.”


pria tidak dikenal itu dengan tidak sopan nya mendekap ku erat, lengannya yang hangat melingkupiku menghalau dari dinginnya angin laut malam dan meredam suara tangisanku yang semakin mengeras.


“Maafkan aku, maaf.”


Aku merasakan punggung ku di usap pelan naik turun, membuatku tanpa sadar merasa lebih baik. Harusnya aku meneriakinya kan? Dia ini melecehkan ku dengan memeluk seenaknya begini tapi sialannya aku bahkan tidak bisa memaki nya karena perasaan nyaman yang kudapatkan.


Aku menyerah, aku membalas pelukan pria itu dan melimpahkan segalanya kepadanya tidak peduli lagi siapa dia.


"Aku hanya ingin berkarya dan memberikan yang terbaik tapi mengapa mereka membenciku.”


Ia mengelus rambutku mencoba menenangkan diriku, karena terbawa perasaan aku dengan tidak tahu malunya malah mengeratkan pelukan ku kepada pria asing di depanku ini.


"Maafkan aku tidak apa-apa, kamu akan baik-baik saja.”


Padahal dia sepertinya tidak mengenalku, tapi entah mengapa dia selalu meminta maaf – meminta maaf atas dunia yang menyakitkan.


“Selalu ingatlah aku akan selalu ada untuk mu dan aku tidak akan pernah membenci mu, hari ini kamu boleh bersedih dan marah tapi esoknya kamu harus bangkit dan semua akan baik-baik saja.”


Aku mendengar kan penuturannya dengan isakan yang masih teredam di dadanya.


"Aku membutuhkan orang seperti kamu di sisiku jadi bisakah kamu di sisiku?."


Pertanyaan macam apa itu bodoh! Aku mendongak menemukan pria itu menggeleng samar, membuat aku merasakan penolakan yang sangat tidak keren sama sekali.


"Bukan sekarang."


"Tapi kenapa?."


Suaraku pelan parau masih sesenggukan. Ditambah efek terlalu lama terpapar angin laut aku jadi mulai merasakan flu.


"Karena aku belum pantas. Tunggu aku, tunggu sebentar saja.”


Dan malam itu, pantai Kinabalu menjadi saksi perasaan ku untuk pertama kalinya, perasaan nyaman merasa di inginkan dan di hargai dan saat itu juga aku merasakan sakit di hati ku entah kenapa alasannya. Dan pria asia itu menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun kepadaku setelahnya.


Viana Wren


Loading for the next chapter :)