
———
Aku melipat tanganku kesal menatap Anwar Yang sekarang duduk di depanku dengan wajah setengah menjengkelkan.
Jungkook berada disampingku tidak banyak bicara dia diam memandangi vas didepannya.
“Jadi Sweety...” aku melotot kesal kearah Anwar, pria itu cengengesan tanpa merasa bersalah sedikitpun. “Okay, sudah kebiasaan sorry dude” Anwar mengangkat tangannya sambil menatap Jungkook jenaka.
“he is my bf”
Anwar mengangguk seperti mengerti, dan aku berharap kewarasan pria itu kembali. Dan tidak bertingkah “Ah jadi kamu punya dua pacar”
Dua pacar?
Sialan, tidak ada yang bisa di harapkan dari seorang Anwar Hadid!!! Aku menoleh kearah Jungkook yang diam tidak bereaksi dan aku khawatir akan keterdiamannya itu.
“sudah cukup!”
Murka ku marah, Jungkook masih diam ketika aku berdiri dari dudukku dan melotot kearah Anwar yang masih bisa santai menyilang kan kakinya sambil mengusap dagunya.
“Ada apa sih sweety”
Ketika aku akan melangkah kearah Anwar untuk memukul pria itu. Jungkook menahan pergelangan ku menarik ku duduk kembali. Dia tidak mengucapkan apapun namun kini dia menatap Anwar tanpa ekspresi–kelihatan menakutkan mengingat pria itu tidak pernah marah padaku.
Anwar menurunkan kakinya–duduk dengan benar dan menautkan tangan kelihatan serius. Jungkook juga duduk tegak namun tangannya masih memegang pergelangan tangan ku erat.
Wahh!
“i am Jungkook, Zee Boyfriend”
Akhirnya Jungkook bersuara menatap Anwar dengan tidak bersahabat.
“Hi Jungkook aku Anwar pacar Florenzee”
Tuhkan ! Anwar itu gila masih tidak tahu situasinya sekarang. Jungkook mengeratkan pegangannya dipergelangan tanganku. Membuatku terkejut dan menatapnya–wajahnya kaku dan tergambar jelas amarah disana.
Aku tidak tahan lagi! Jadi untuk kebaikan bersama aku melepas Sandal rumahan yang kukenakan dan melemparkannya tepat di wajah Anwar untuk kedua kalinya pria itu menatapku kesal–kali ini ku pastikan lemparan ku keras.
“Sakit!” Teriak Anwar melempar sendal itu kesembarang arah, aku tidak puas jadi aku melempar yang satunya kali ini tepat mengenai kepala Anwar. “Florenzee!”
“Apa!!!” balasku sengit dia mendelik kesal kearah ku. Aku memberontak dari lilitan Jungkook ditangan ku ketika berhasil lepas. Aku berderap kearah Anwar yang ingin beranjak–tidak akan kubiarkan!! Aku memukulnya keras sekali! Dia kelihatan tidak bisa melawanku–tentu saja karena aku perempuan!!, Perempuan selalu benar! Apapun kondisinya camkan!.
Jadi dia hanya menerima pasrah Bogeman ku dan menutupi wajahnya–Aset berharga Anwar selain tubuh sexynya tapi masih sexyan kookie kok
“Oke oke berhenti maaf maaf” Anwar berteriak namun tidak ku gubris. Dia perlu diberi pelajaran sekali-kali.
Dulu aku khilaf pacaran dengannya!!
Aku merasakan diriku ditarik mundur oleh Jungkook, namun aku belum puas menghajar Anwar.
“Sudah!” Jungkook yang tenaganya lebih besar dariku tiba-tiba memelukku dari belakang dan menarikku menajauh sejauh satu meter dari Anwar.
“Jung lepaskan”
Aku marah! Dia harusnya diam saja.
Jungkook diam tidak bergerak sama sekali.
Anwar beringsut menjauh dari kami dan aku mendengar suara tawa kencang dari arah pintu.
“Wah apa yang kulewatkan”
Dia berjalan kearah kami dengan tawa keras.
Michael Sialan!!
“Woah! Lihat siapa yang babak belur lagi” Michael menoleh kearah Anwar yang sedang memegang sudut bibirnya.
“Kamu ya yang memberitahu Anwar!!”
Semburku yang dibalas anggukan biasa oleh Michael.
“Anwar aku sudah siap kok...”
Michael menunjukkan paper bag kearah Anwar. “Obatmu...woah masih sakit seperti dulu ya”
“as always btw Thanks dude, ayo aku butuh bantuan untuk mengobati ini”
Anwar mendekat kearah Michael dan aku menatap Michael tidak percaya. Pria itu bahkan sudah memprediksi kan bahwa aku akan menghajar Anwar? Luar biasa!! Mereka berdua tidak waras! Aku melihat mereka duduk di sofa dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Aku mengalihkan atensiku kearah Jungkook yang diam saja–kurasa dia sedang memahami situasi aneh yang baru saja terjadi didepan matanya. Aku paham ini pasti kelihatan Absurd buatnya.
Ujarnya tanpa melihatku, dia bergegas keluar dari apartemen ku. Dia marah atau bagaimana?
“Awas kamu! Lihat saja nanti”
Aku menatap tajam Anwar dan berlalu mengejar Jungkook.
“Semoga berhasil ya!!!”
Anwar berteriak sebelum aku menutup pintu apartemen. Kurang ajar sekali sih dia!!
Aku berjalan cepat kearah Jungkook yang sudah masuk kedalam lift. Namun belum sempat aku sampai ke lift pintu sudah tertutup–disengaja.
Aku menghembuskan nafasku lelah.
Jungkook marah.
Aku mengacak rambutku kesal, aku menunggu lift berikutnya sambil memikirkan bagaimana menghadapi Jungkook.
“Loh sedang apa disini?”
Aku tersentak mundur ketika suara itu mengejutkan ku. Pintu lift terbuka dan menampilkan sosok Anggota Bangtan yang lain–jadi mereka baru pulang.
“Kebetulan aku butuh bantuan” kataku sambil masuk kedalam Lift, yang lain menatapku ingin tahu sedangkan Yonggi oppa–seperti biasa dia terlalu malas untuk sekedar bertanya.
“Woah ada apa?”
Jin oppa bertanya ingin tahu. Aku menyenderkan tubuhku di dinding lift menghela nafas lelah–tenagaku habis karena mengurus anak bayi!
“Jungkook marah sepertinya”
Lift berdenting kami keluar, aku bergegas agar cepat sampai didepan pintu apartemen Bangtan.
“Parah sekali ya?” Taehyung bertanya prihatin membuat ku memasang raut lesu–iya parah, aku kan belom pernah melihat Jungkook marah.
“Masuk saja, kami akan bersih-bersih diri dulu”
Namjoon jelas memberi akses legal kepadaku dan aku mengangguk berterima kasih lalu sedikit berlari menuju Kamar Jungkook.
“Jung” aku memanggilnya setelah pintu terbuka lebar, kamarnya temaram karena lampu utama tidak dihidupkan. Mataku menelisik kesegala penjuru mencari keberadaan Jungkook.
Karena tidak ada Jawaban aku memberanikan diri untuk masuk lebih jauh. “Jeon Jungkook..”
Aku menemukannya ditempat tidur dengan terbungkus selimut–tubuhnya sepenuhnya tenggelam dalam selimut.
“Hei” aku mendekati tempat tidur dan berusaha menarik perhatiannya. “Maaf Jung” sesal ku berlutut di samping tempat tidurnya.
Tidak ada jawaban
“serius Jung, jangan pedulikan Anwar dia tidak waras kamu percaya padaku kan Jung, dia hanya masa lalu, Anwar dia tidak serius mengatakan itu padamu dia hanya kekanak-kanakan”
masih tidak ada jawaban
Aku melirik Handphone ku–Pesan dari Michael yang menyuruh ku segera kembali karena kurang dari satu jam lagi aku sudah harus di bandara untuk terbang ke Los Angeles. Yaampun kenapa waktunya cepat sekali sih dan waktu kami–aku dan Jungkook terbuang percuma karena hal-hal tidak jelas seperti ini.
“Okay...” aku meneguhkan hatiku lalu beranjak menaiki ranjang Jungkook. “Aku tahu kamu butuh waktu take your time Bae, kamu tahu kan aku akan selalu ada disisimu. Aku akan pulang” aku merendahkan badanku mengusap rambut Jungkook yang kelihatan tidak tertutup selimut.
“jaga diri baik-baik...” ujarkku mengecup rambut Jungkook, “Aku pergi” aku menjauh kan wajahku dari rambutnya lalu berbalik beranjak dari Ranjang.
Sebelum aku turun dari ranjang aku merasakan tanganku di tahan aku berbalik menoleh mendapati Jungkook yang menatap tanpa ekspresi. Pria itu memelukku tiba-tiba lalu mengecup keningku tanpa berkata apapun, kurang dari lima detik setelah dia mengecup kening ku dia kembali ke posisi semula–berbaring diranjang dengan selimut menutupi seluruh badan.
Aku mengerjap, tidak paham akan tingkah Jungkook–apa maksudnya coba?. Aku berdiri dan keluar dari kamar Jungkook dengan senyum tipis.
Marahnya Jungkook benar-benar menggemaskan disisi lain
Kimnds
DNA :
Our meeting is a mathmatical formula.
Religious commandments, law of the universe.
The proof of fate that has been given to me.
You are the source of my dreams. Take it
Destiny’s been chosen to the hand that I extend to you