Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 9. Anak Pembawa Masalah



Pagi yang cerah tak secerah wajah para penghuni salah satu rumah bertingkat di Jakarta, Kayla terlihat membenahi labu infus di samping ranjang Emeli kemudian berusaha menyuapi anak itu, sedangkan Arshaka pagi-pagi buta pamit pergi dengan terburu-buru karena ada kepentingan yang mendesak.


Emeli susah menelan makanan hingga untuk mengindari kekurangan cairan anak itu harus dibantu dengan pemberian cairan infus. Meskipun demikian, Kayla tetap berusaha agar Emeli bisa menelan makanan agar tubuhnya bisa lekas sembuh. Seperti pagi ini Kayla menyuapi Emeli dengan bubur.


"Makan meski sedikit ya Sayang agar Emeli cepat sembuh," ucap Kayla saat Emeli tidak mau membuka mulut. Kayla mengusap rambut Emeli yang putih.


"Emeli harus makan biar ayah senang," ujar Kayla lagi sambil mendekatkan sendok berisi bubur ke mulut anak itu.


Emeli tidak menjawab, tepatnya tidak bisa menjawab karena kondisinya saat ini. Namun, tetes air mata tergenang di kedua sudut matanya.


"Jangan menangis! Tante yakin Emeli bakal sembuh. Kata ayah Emeli sudah pernah melewati fase ini, bukan? Jadi yakin saja sekarang pun Emeli pasti bisa menaklukkan keadaan ini dan kembali sehat seperti kemarin-kemarin. Kuncinya Emeli harus semangat dan mau makan, untuk pengobatan biar ayah dan Tante yang usahakan. Emeli anak yang kuat makanya Allah memberikan cobaan seberat ini untuk Emeli. Emeli harus tahu ayah dan Tante sayang banget sama Emeli."


Kayla mengulas senyum agar Emeli tidak larut dalam kesedihan. Anak itu harus diberikan suntikan semangat agar tidak semakin down.


Sudut bibir Emeli terangkat ke atas, anak itu ingin tersenyum, tapi bibirnya nampak kaku hingga lengkungan senyum itu tak nampak di mata Kayla.


"Makan Sayang!" Kayla menyuapi Emeli dan anak itu menurut. Namun, bubur itu malah menetes keluar dari sudut bibirnya. Kayla begitu cekatan, ia langsung mengelap dengan tisu kemudian dengan telaten terus berusaha agar ada bubur yang masuk ke dalam perut Kayla.


Brak


Saat sedang fokus-fokusnya menyuapi Emeli, pintu kamar Emeli didobrak dari luar. Hampir saja Kayla jantungan dibuatnya sedangkan Emeli tidak bereaksi apapun.


Segera Kayla menoleh ke arah pintu karena penasaran dengan orang yang tidak tahu sopan santun masuk ke dalam kamar orang. Kayla yakin itu bukan Arshaka atau perawat yang ditugaskan dokter mengontrol keadaan Emeli. Kayla malah curiga itu Elena yang kesal karena dimarahi Arshaka bahkan kemarin -kemarin sempat diancam akan dijebloskan ke dalam penjara.


Namun, Kayla nampak kaget saat melihat siapa orang yang berada di hadapannya kini. Bukan Elena seperti yang ia duga. Seorang pria yang tidak dikenalinya yang berdiri di ambang pintu. Pria itu menatap Emeli dengan tersenyum kecut.


"Maaf Anda siapa? Kenapa masuk sembarangan tanpa permisi?" Kayla bertanya setengah protes.


"Kau yang siapa? Belum tahu kalau aku adalah pemilik rumah ini?!" Pria itu menatap tajam ke arah Kayla seolah tidak suka dengan pertanyaan Kayla. Lalu pria itu berjalan dengan cepat ke arah Emeli.


Emeli yang terbaring lemah hanya menatap dengan pandangan hampa melihat kedatangan Jeremy. Kakek yang tidak pernah menyukainya.


"Maaf apakah Anda ayahnya Tuan Arshaka?" Kayla langsung bisa menebak bahwa pria angkuh itu adalah orang tua majikannya. Bagi Kayla penampakan Jeremy dengan Arshaka sangat jauh berbeda. Menilik dari raut wajahnya saja sudah jelas apalagi dari sikap dan suaranya yang begitu kasar.


"Benar sekali, jadi aku yang punya hak atas semua ruangan yang ada di dalam rumah ini. Tidak ada yang bisa mengatur aku di sini!" tegas Tuan Jeremy sambil meraih tubuh Emeli.


"Tunggu! Mau apa Tuan dengan Emeli?"


Kayla mulai panik, Jeremy menggendong tubuh Email lalu hendak mencopot selang infus di lengan anak itu.


"Tuan, jangan!"


Tuan Jeremy mengangkat tangan menandakan tidak ingin Kayla mendekat.


"Tolong jangan lepaskan infusnya!" Kayla mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Benar-benar memohon agar Tuan Jeremy tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan tubuh Emeli.


Seorang pria ikut masuk ke dalam dan melepas labu infus dari tiangnya.


"Aman, kan? Sekarang kami akan membawa Emeli ke panti asuhan. Jadi jangan pernah mencegah kami kalau masih ingin melihat Emeli hidup."


Sekali lagi Tuan Jeremy mengancam Kayla membuat wanita itu gusar sedangkan Emeli sudah tampak pasrah. Dia sudah pasrah jika memang harus mati, walaupun dalam hati terbersit rasa sakit jika harus meninggalkan sang ayah untuk selamanya. Rasanya Emeli belum siap berpisah dengan Arshaka.


"Jangan lakukan itu Tuan, saya mohon! Biarkan saya yang akan merawat Emeli." Kayla masih saja memohon.


"Tidak, selama masih bersama Arshaka, dia akan terus merepotkan. Dia menjadi beban untuk putraku. Dia juga anak pembawa masalah, pembawa sial!" tegas Tuan Jeremy membuat Emeli semakin lemas.


"Gara-gara anak ini masa depan putraku hancur. Anak ini harus pergi dari kehidupan Arshaka biar dia bahagia hidup bersama Elena."


Emeli menahan amarah yang meledak dalam dadanya mendengar nama wanita itu di sebut, karena sekarang ia benar-benar tidak berdaya.


Tuan Jeremy membawa tubuh Emeli keluar kamar sedangkan Kayla mengejar dan menahan kaki pria itu.


"Tuan jangan! Saya janji Tuan, saya akan membawa Emeli jauh dari Tuan Shaka." Kali ini Kayla terlihat menangis. Bulir bening itu berdesakan tanpa bisa ia tahan. Tak kuasa membayangkan nasib yang menimpa anak asuhnya.


"Hei perempuan miskin! Aku tidak yakin denganmu. Enyah kau dari sini dan jangan pernah mengatakan pada Arshaka kalau aku yang membawa anak cacat ini pergi!"


Tuan Jeremy hendak melangkah, tapi satu kakinya ditahan oleh tangan Kayla.


"Dasar perempuan sialan!" Tuan Jeremy langsung menendang Kayla kasar dengan satu kaki yang lainnya hingga wanita itu terlempar ke samping dan membentur sudut meja.


"Auw!" Kayla meringis, pinggangnya terasa sakit. Emeli tampak memejamkan mata. Andai dia punya kekuatan, pasti saat ini akan melempari Tuan Jeremy dengan barang-barang yang ada di rumah itu karena telah bersikap kasar pada Kayla.


Tuan Jeremy dan anak buahnya langsung berlari keluar kamar. Dia ingin menyembunyikan Emeli sebelum membereskan Kayla.


Kayla yang melihat Emeli dibawa pergi, tidak menghiraukan rasa sakit di tubuhnya. Keselamatan Emeli lebih penting saat ini.


"Tuan hentikan!" teriak Kayla sambil berlari menyusul. Sayangnya anak buah Tuan Jeremy langsung mengunci rumah sebelum Kayla berhasil melewati pintu.


Tok tok tok.


"Buka pintunya!" Kayla memukul pintu dengan keras.


"Bibi tolong Emeli!" teriak Kayla. Dia kebingungan, pagi ini semua pekerja di rumah itu tidak ada. Rumah yang besar itu sekarang mendadak sepi.


"Tuan Arshaka, aku harus menelponnya," gumam Emeli kemudian berlari ke dalam kamarnya sendiri untuk mencari benda pipih itu.


"Ya Allah selamatkan Nona Emeli," ucapnya dalam hati, bersamaan dengan itu nomor Arshaka berhasil dihubungi.


Bersambung.