
"Kayla! Setelah selesai membersihkan diri lebih baik kau langsung temui kami, kita makan pagi bersama!" seru Arshaka agar Kayla tidak berlama-lama dalam kamar.
"Baik Tuan," sahut Kayla lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Selesai membersihkan diri, dia langsung mencari Arshaka dan Emeli di dalam rumah tersebut. Tenyata Kayla menemukan keduanya sudah duduk di ruang makan.
Arshaka melambaikan tangan dan meminta agar Kayla juga ikut makan. Selesai makan Arshaka langsung memberitahukan apa tugas-tugas Kayla terhadap diri Emeli. Kayla mengangguk saat dirinya sudah benar-benar paham.
"Emeli! Ayah berangkat dulu dan kamu Kayla aku titip Emeli padamu, dan jangan lupa bantu dia minum obat!"
"Baik Tuan."
Arshaka mengecup kening putrinya setelah Emeli mencium tangan Arshaka. Pria itu langsung pergi setelah mengucapkan salam.
"Sekarang waktunya minum obat," ucap Kayla lalu mendekat. Dengan hati-hati ia menyentuh kursi roda dan mendorong hingga ke kamar Emeli. Emeli sendiri tidak menjawab. Anak itu terlihat angkuh.
"Aku ingin tahu apakah kau sama seperti yang lain," batin Emeli tidak percaya kalau Kayla benar-benar wanita baik seperti yang ditunjukkan sekarang.
Kayla menarik laci dan mengambil obat sesuai dengan arahan Arshaka tadi.
"Sepertinya memang ini nama obatnya tadi," gumam Kayla lalu mengambil segelas air putih.
"Benar, kan ini obatnya? Tante hanya ingin memastikan agar tidak salah ambil," ucap Kayla sambil menyodorkan obat dan gelas di tangannya.
Emeli tidak menjawab ataupun mengambil obat tersebut.
"Kau harus minum obat agar cepat sembuh," ucap Kayla dengan hati-hati.
"Penyakitku tidak akan sembuh." Emeli menatap dingin ke arah Kayla. Jujur selama ini Kayla tidak pernah melihat gadis seperti Emeli. Gadis lumpuh yang terlihat galak. Namun, dari matanya Kayla mengerti anak itu menyimpan kesedihan yang teramat dalam.
"Siapa bilang?"
"Dokter yang bilang."
"Paling tidak agar tidak bertambah parah."
"Hmm."
"Minumlah obatnya agar ayahmu tidak sedih."
Akhirnya Emeli mengangguk dan menerima obat dari tangan Kayla. Gadis itu meneguk dengan pelan.
Kayla menatap inten gadis yang berambut putih dan berkulit terang di depannya kini. Kayla baru sadar jika Emeli tidak seperti anak-anak normal pada umumnya. Jika dilihat dari siapa ayahnya, Kayla menebak Emeli itu albino kecuali kalau ibunya adalah orang bule yang mungkin mewariskan gen pada putrinya.
"Kenapa Tante menatapku seperti itu? Apa Tante juga ingin mengatakan aku begini karena ayah melakukan pesugihan?"
"Apa?" Kayla tertawa lepas.
"Kenapa Tante tertawa?!" geram Emeli. Dia pikir Kayla sama seperti yang lain.
"Tante hanya merasa lucu, siapa yang mengatakan kamu begitu karena ayah kamu melakukan pesugihan?"
Emeli mengernyit.
"Pasti orang bodoh yang tidak mengenyam pendidikan atau orang kampung yang kolot," tebak Kayla. Dia sendiri meskipun orang kampung tapi pemikirannya tidak sekolot orang itu.
Emeli tersenyum kecut. "Nyatanya dia lulusan universitas luar negeri."
Kali ini Kayla yang mengernyit.
"Ada ya orang seperti itu? Kalau boleh tahu ibumu mana? Beliau orang luar negeri, kah?"
"Ibuku sudah tiada, dia meninggal saat melahirkan Emeli. Kalau ibuku bule tidak mungkin aku dihujat oleh mereka. Nyatanya ibuku orang pribumi asli."
"Maaf telah membuatmu sedih, Emeli. Saya tidak tahu kalau ibumu sudah tiada."
Emeli mengangguk.
"Tante tahu? Bahkan kakekku sendiri tidak menganggap diriku karena keadaan kulit dan rambutku yang tetap seperti ini semenjak kecil. Dia sering meminta ayah agar melakukan tes DNA karena curiga aku anak hasil selingkuh dengan pria lain. Namun, ayah menolak karena begitu percaya sama ibu kalau beliau adalah wanita yang setia."
Mendengar penuturan Emeli, Kayla jadi bersimpati dengan Emeli. Sekasar-kasarnya Emeli, dia tetap anak kecil yang butuh perhatian lebih. Kayla bertekad untuk memperlakukan Emeli seperti anak sendiri, bukan hanya sekedar sebagai pengasuh yang dibayar.
"Kita keluar yuk! Jalan-jalan di sekitar rumah biar tidak sumpek di dalam terus."
Kayla bangkit berdiri, Emeli menatap wajah Kayla dan Kayla langsung tersenyum.
"Bagaimana, mau?"
Satu jam mereka berjalan-jalan dan saat hendak masuk ke dalam rumah berpapasan dengan Arshaka yang pulang dengan wajah yang terlihat muram, lelah, dan tidak bergairah.
"Tuan sakit? Perlu saya buatkan teh hangat?"
"Tidak perlu Kayla. Kau temani saja Emeli," tolak Arshaka.
Kayla mengangguk, dia tidak bisa berbuat banyak, toh itu bukan bagian dari tugasnya. Ada bibi yang biasa menangani Arshaka jika membutuhkan sesuatu.
Arshaka langsung berlalu masuk ke dalam kamar. Emeli sendiri tidak mau diajak ke kamarnya sendiri, tetapi dia meminta Kayla mengantar ke kamar Arshaka.
Sampai di depan pintu kamar, keduanya mematung mendengar suara Arshaka yang marah-marah pada dirinya sendiri.
"Bagaimana bisa ini semua terjadi? Bagaimana mungkin rahasia perusahaan bocor ke perusahaan lawan? Tenyata itu yang membuat klien kemarin membatalkan perjanjian. Mereka menganggap perusahaan sudah tidak ada kredibilitas lagi."
"Data-data banyak yang hilang lagi, siapa yang tega menerobos sistem keamanan IT perusahaan? Argh!" Arshaka menggaruk kepala dengan kasar.
"Tante kita ke ruang kerja ayah yuk!" ajak Emeli.
"Mau ngapain?" bisik Kayla.
"Nanti Tante akan tahu sendiri. Yang jelas Emeli ingin membantu ayah. Emeli ingin menjadi anak yang berguna."
Kayla mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah," ucapnya sambil mendorong Emeli ke tempat sesuai arahan Emeli.
Sampai di ruang kerja Arshaka, Emeli segera mengacak-acak komputer sang ayah.
"Emeli kamu yakin? Kau bisa membuat semuanya berantakan jika salah klik satu saja. Kau bisa membuat ayahmu bertambah stres." Kayla terlihat takut. Jika Emeli sampai melakukan kesalahan maka dia akan terkena imbasnya.
"Tenang saja Tante semuanya akan baik-baik saja," ucap Emeli sambil terus mengotak-atik komputer Arshaka. Beberapa saat kemudian gadis itu menjentikkan jari dan menunjukkan senyuman termanisnya.
"Akhirnya beres, semua kembali seperti semula." Emeli terlihat kegirangan membuat Kayla yang tidak paham hanya bisa mengernyit.
"Tante bawa ponsel?"
"Hah?"
"Pinjam ponsel!" Emeli menadahkan tangan.
Kayla menggeleng.
"Maaf Tante tidak punya."
"Payah! Kalau begitu panggilkan ayah ke sini!"
"Baik, tapi Emeli, kalau Tante boleh meminta, lain kali kalau ingin meminta bantuan orang yang lebih tua sertakan kata tolong di depan kata perintah yang kamu ucapkan. Pada Tante tidak apa-apa tidak menyertakan kata itu, tapi pada orang lain itu wajib agar kau dianggap sopan." Setelah mengatakan itu Kayla langsung keluar dan menemui Arshaka.
"Ada apa dengan Emeli?" tanya Arshaka langsung syok saat Kayla menyampaikan perintah Emeli.
Dengan terburu-buru Arshaka langsung berlari menuju ruang kerja.
"Taraa...." Emeli menggerakkan tangannya secara telentang di depan komputer.
Arshaka mengernyit lalu mendekat. Dia tertegun melihat layar komputernya.
"Data-data perusahaan sudah kembali?" tanyanya kaget bercampur senang.
"Iya ayah sudah kupulihkan semua, dan ayah lihat sendiri Emeli menemukan siapa pelaku yang telah berani meretas sistem komputer perusahaan ayah. Sekarang Emeli membalaskan dendam ayah, balik meretas akun orang itu. Kalau ayah tahu nama perusahaannya katakan saja biar Emeli balas sebarkan rahasia perusahaan dia juga."
Mendengar perkataan Emeli, Arshaka dan Kayla menganga karena saking kagetnya.
"Aku tahu kau anak ayah yang pintar, bulan kemarin kau bahkan memenangkan olimpiade Matematika padahal usiamu paling muda diantara semua peserta. Namun, kemampuan hackermu, kenapa ayah baru tahu?"
"Tapi maaf ayah rahasia perusahaan yang sudah bocor sudah tidak bisa diperbaiki," ucap Emeli merasa kasihan pada sang ayah.
"Tidak apa-apa, ayah tahu itu sudah diketahui orang banyak dan kita tidak mungkin menghilangkan berita yang mereka tangkap di dalam otaknya."
"Waw Emeli, kau keren sekali. Tenyata kau banyak kelebihannya dibandingkan kekurangan. Ibumu pasti sangat bangga di alam sana. Suatu saat kalau Tante sudah menikah, Tante ingin punya anak sepertimu," ucap Kayla dengan menggebu-gebu karena teramat kagum pada gadis kecil yang baru dikenalnya sehari itu, bahkan belum genap satu hari.
Bersambung.