Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 14. Perhatian



Di dalam kamar, Emeli menajamkan pendengaran, ia mendengar suara wanita berteriak dari kamar Kayla.


"Ayah! Ayah! Ada apa dengan Tante Kayla?!" teriak Emeli panik, tetapi Arshaka yang sudah sangat kelelahan tertidur dengan pulas dan tidak mendengar teriakannya.


"Ayah mana sih?" Emeli menarik kursi roda dan berusaha untuk duduk di atasnya, sayangnya dia kesulitan dan tidak bisa melakukan hal itu.


"Ah, kenapa sulit sekali bergerak? Kenapa aku harus lumpuh seperti ini sih?" Emeli mendengus kesal. Bosan, bertahun-tahun hidup dalam keadaan tidak bisa berjalan.


Di tengah teriakan Kayla, lampu rumah tiba-tiba padam.


"Ayah!" pekik Emeli, gadis itu phobia gelap, tubuhnya meringkuk di atas ranjang dan gemetar.


Di sisi lain Kayla pun bernasib sama, meringkuk di lantai dengan peluh dingin yang membasahi seluruh badan.


"Tuan Shaka, tolong aku!" Suara Kayla pelan dan tertahan, entah kenapa setelah berteriak suaranya seakan hilang.


Kayla membeku, melihat siluet seseorang dari balkon kamarnya.


"Itu apa?" Bibirnya bergetar hebat.


"Kenapa aku seperti dejavu? Apa hal ini pernah terjadi?" batin Kayla.


"Ayah! Aku takut gelap! Huhuhu ...." Emeli menangis tersedu-sedu. Suaranya sampai di telinga Kayla.


"Emeli!" Dalam ketakutan, Kayla menangkap suara Emeli yang menangis. Kayla yang merasa khawatir dengan keadaan Emeli menyingkirkan rasa takut yang dideranya. Kayla meraih ponsel dan menghidupkan senternya. Setelah berdiri, dia langsung berjalan cepat ke arah kamar Emeli.


"Emeli Sayang, kamu kenapa?" Kayla berlari ke arah Emeli, tak perduli kakinya tersandung karpet sehingga hampir terjatuh.


"Tante, aku takut? Aku takut gelap. Kenapa tadi ada wanita berteriak dan tiba-tiba lampu padam?" Emeli memeluk Kayla dengan erat seakan takut ditinggalkan. Matanya terpejam seakan takut melihat suasana sekitar kamar.


"Oh itu? Itu tadi Tante karena melihat ...."


Kayla berpikir sejenak untuk melanjutkan kalimatnya. Dia memutuskan untuk tidak memberitahu Emeli apa yang sebenarnya terjadi mengingat anak itu ketakutan.


"Ada kecoa di kaki Tante, bersamaan dengan itu ada cicak yang terjatuh di pundak Tante. Tante kaget, jadi refleks berteriak. Tante juga jijik dengan kedua hewan itu, geli rasanya," bohong Kayla.


"Tapi mengapa listriknya juga mati?"


"Mungkin karena dari PLN-nya ada pemadaman listrik, jadi semua listrik padam."


Emeli menggeleng masih dengan mata yang tak ingin dibuka.


"Tante lihat di luar itu! Di sana semua bangunan terang, itu artinya listrik sebenarnya tidak padam." Emeli menunjuk ke arah jendela dimana dari sana terlihat pemandangan kota yang tampak terang. Emeli benar, hanya rumah Arshaka yang gelap sendirian.


"Mungkin ada yang salah dengan instalasi di rumah ini, ada korsleting atau sekring bermasalah," jelas Kayla sekenanya. Sebenarnya dia juga tidak paham mengenai listrik.


"Tidak Tante, ayah tahu Emeli benci kegelapan, jadi, rumah ini tidak pernah mati lampu. Kalaupun listrik padam, di rumah ini lampu akan tetap menyala. Ini semua tidak biasa Tante. Emeli takut. Tante jangan pergi, Emeli tidak ingin sendirian lagi," lirihnya.


"Tenanglah Emeli, Tante tidak akan kemana-mana. Jadi, Emeli tidak akan takut." Padahal dalam hati Kayla sendiri juga merasa takut. Dadanya terasa sesak seolah kekurangan oksigen. Wanita itu mencoba menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan nafas panjang.


"Apa Tante tidak merasa ada yang tidak beres?"


"Insyaallah tidak Sayang, rumah ini aman kok. Emeli sudah bertahun-tahun, kan tinggal di sini? Mungkin dulu ada yang menyalakan mesin diesel jika lampu padam, tapi sekarang di rumah ini sudah tidak ada pembantu, kan? Jadi, jika listrik padam akan dibiarkan saja," ujar Kayla sambil mengusap punggung Emeli agar tenang.


"Ayah kemana? Jangan-jangan ada yang berbuat jahat pada ayah?"


Kayla tertegun, sedari tadi dia tidak memikirkan keadaan Arshaka, tetapi perkataan Emeli menyadarkan dirinya bahwa kejadian ini mungkin saja direncanakan untuk mengecoh dirinya agar orang lain bisa leluasa berbuat jahat pada Arshaka.


Segera Kayla memencet nomor telepon Arshaka dengan harap-harap cemas.


Arshaka melenguh, panggilan telepon mengusik tidurnya.


"Siapa sih yang menganggu?" Arshaka membuka mata dan lampu tiba-tiba hidup kembali. Arshaka meraih ponsel dan memeriksa.


"Kayla, ada apa?"


"Tuan ada dimana?"


"Di ruang tamu, ada apa?"


"Emeli di kamar ketakutan."


Tanpa banyak tanya lagi Arshaka lalu menutup panggilan telepon Kayla dan bergegas menemui Emeli.


"Kau kenapa?" tanya Arshaka sambil melangkah ke arah Emeli yang masih berada dalam pelukan Kayla. Gadis kecil itu sudah membuka mata.


"Siapa tadi yang mematikan lampunya?"


Kayla getir dengan pertanyaan Emeli karena langsung ingat tentang darah dalam kamarnya.


"Mana ada lampu mati?" Arshaka bingung, dia tidak menyadari akan hal yang diungkap Emeli karena saat ia bangun tadi, lampu dalam keadaan menyala.


"Ah, Ayah." Emeli cemberut, bagaimana mungkin ayahnya tidak tahu kalau lampu di kamarnya tadi mati.


"Sudahlah, aku haus," keluh Emeli kemudian.


Arshaka langsung mengambilkan air minum untuk Emeli sekaligus Kayla karena mereka berdua terlihat keringatan.


"Kau kenapa juga?"


"Kayla tersenyum canggung sambil menerima gelas berisi air minum dari tangan Arshaka.


"Tidak apa-apa, hanya mengkhawatirkan Emeli. Terima kasih." Kayla meneguk segelas air sampai tandas. Kerongkongannya yang kering langsung terasa segar.


"Tuan Shaka waktu bangun tadi tetap ada di ruang tamu?"


Arshaka mengernyitkan dahi, bingung dengan pertanyaan Kayla.


Kayla menggeleng. "Tidak, hanya bertanya saja."


Arshaka memandang aneh Kayla. "Sepertinya wanita itu menyembunyikan sesuatu," batinnya.


Namun, Arshaka tak mau bertanya lagi sekarang, lebih baik ia akan menunggu sampai Kayla memberitahunya tanpa diminta.


"Emeli, sekarang sudah ada ayah di sini, kalau begitu Tante pamit kembali ke kamar."


Emeli mengangguk.


"Terima kasih telah menemani putriku," ucap Arshaka sebelum Kayla hilang dari balik pintu.


"Sama-sama." Kayla pun hilang dalam pandangan Arshaka.


"Eh, tadi yang merah-merah di kepala Kayla apa? Apa dia terluka?" gumam Arshaka baru menyadari ada cairan yang merembes di kepala Kayla. Segera Arshaka bangkit dan hendak mengejar, ia khawatir dengan keadaan Kayla.


"Ayah mau kemana? Jangan tinggalkan Emeli, takut," rengek Emeli membuat Arshaka harus mengurungkan niatnya.


"Baiklah, Ayah tidak akan kemana-mana. Ayah akan tidur bersama putri cantiknya ayah malam ini," ujar Arshaka. Senyum di bibir Emeli merekah. Arshaka membantu gadis kecil itu berbaring kemudian ikut berbaring di sisinya.


"Tidurlah Emeli!"


Di sisi lain, Kayla kembali ke kamar dengan jantung yang berdegup kencang. Dia berjalan pelan masuk ke dalam kamar. Wanita itu terhenyak tatkala lantai dimana tadi ada cairan darah yang menetes dari atas, bersih.


"Kok aneh, siapa yang membersihkan lantainya?"


Segera Kayla memeriksa Lemari dan ternyata kostum tengkorak yang tadi sempat ia lihat tak ada lagi di sana. Pun darahnya juga hilang, lemari tersebut kelihatan bersih, persis seperti saat ia tinggalkan ke desa.


"Apakah tadi aku bermimpi? Ataukah berhalusinasi?" Kayla mengusap kepalanya dan ternyata bekas darah masih ada.


"Ini bukan mimpi." Kayla menggeleng kemudian berlalu ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu tak ada kejadian aneh lagi, Kayla bisa tidur dengan nyenyak.


Pagi belum seutuhnya datang, bintang fajar sudah menghiasi langit di ufuk timur siap menyambut hari yang berbeda. Sesaat kemudian suara adzan sayup-sayup terdengar dari kejauhan.


"Sudah subuh." Kayla langsung membuka mata. Dia kaget semalam belum shalat isya dan sekarang subuh sudah datang. Lebih kaget lagi saat melihat sekitar, ternyata dirinya tertidur di atas sebuah makam.


"Ya Allah, apa ini? Kenapa aku bisa ada di sini?" Kayla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gegas ia bangkit dan berlari keluar dari area pemakaman.


Jauh dari pemakaman barulah dia berjalan santai sambil mengingat-ingat kejadian semalam.


"Argh! Kenapa aku tidak ingat kapan aku ke makam itu?" Kayla terus berjalan tanpa arah, dia tidak tahu jalan pulang. Tak ada ponsel yang bisa menjadi petunjuk jalan, dia tidak bisa membuka go*gle map.


Sampai matahari bersinar terang Kayla pun berhenti di sebuah masjid dan shalat subuh di sana, tak perduli waktu shalat masih ada atau tidak.


"Tante darimana saja?" tanya Emeli di atas kursi roda. Arshaka yang mendorongnya tampak menghembuskan nafas lega melihat keberadaan Kayla di masjid yang tidak jauh dari rumah mereka.


"A-ku, aku ... sedang jogging, ya lari pagi," sahut Kayla gugup. Arshaka masih tidak paham kenapa Kayla tiba-tiba berubah aneh.


***


Hari-hari berjalan tidak seperti biasanya, hidup Kayla dipenuhi rasa takut. Setiap hari dia seolah mengalami kejadian aneh, bahkan seringkali ada kiriman yang membuatnya frustasi. Mulai dari gambar-gambar manusia berwajah horor sampai bangkai yang berlumur darah dari pengiriman tanpa nama.


"Mbak ada kiriman buat Mbak Kayla lagi," ujar seorang kurir sambil menyodorkan kotak berwarna hitam.


"Tidak ... aku ... tidak ... menerima kiriman apapun sekarang, siapa yang menyuruhmu?"


"Saya bekerja di perusahaan Mbak, jadi saya mengantarkan barang yang harus saya antar, tanpa tahu siapa pengirimnya kecuali orang itu membubuhi nama saat mendaftarkan pengiriman ini," jelas kurir terus menyodorkan kotak tersebut dan Kayla undur ke belakang.


"Ayolah Mbak terima dan tanda tangan, jangan sampai waktu saya habis di sini."


Kayla terpaksa mengangguk, dengan tangan gemetar ia menerima benda tersebut lalu membubuhkan tanda tangan online di ponsel kurir tersebut.


Di buka takut, tidak dibuka penasaran. Akhirnya dia meyakinkan diri dan membukanya dengan cepat sementara tangannya semakin gemetar.


"Kenapa dengan Kayla, sebenarnya dia memesan apa hingga ketakutan seperti itu? Apakah itu obat terlarang?" Arshaka menyangka Kayla mulai kecanduan obat sebab tingkahnya beberapa hari ini aneh.


"Aaaah!" Kayla langsung menjerit tatkala melihat isi kotak tersebut lalu mencampakkan sembarangan di lantai. Arshaka segera berlari dan memeriksa. Ternyata isi kotak tersebut adalah boneka dan jarum seperti boneka tenung. Ada foto Kayla –istri Arshaka– juga.


"Apa maksudnya ini?" Arshaka termenung, di kepalanya penuh tanda tanya. Selama ini Kayla yang ini juga tidak mau bercerita.


"Pantas saja beberapa hari ini Kayla selalu gusar dan ketakutan. Dia baru bisa tenang saat aku menenangkannya. Ternyata dia ada yang meneror," batin Arshaka.


Kayla tampak menekan kepalanya yang pusing karena setiap hari selalu mendapatkan teror. Semua teror itu membuat sedikit demi sedikit masa lalu terlintas dalam otaknya. Namun, kepingan masa lalu itu seperti puzzle yang tidak berhasil dirangkai. Itu sangat menyiksa Kayla.


"ough, arrgh sakit?!" teriak Kayla semakin menekan kepalanya yang seakan ingin pecah.


"Kayla, ada apa?"


"Sakit Tuan, ah sakit. Siapa yang tega melakukan semua ini?" Kayla lalu memukul-mukul kepalanya, tak sanggup rasanya menahan sakit yang begitu dahsyat.


Arshaka panik lalu mendekap tubuh wanita itu. Sebelumnya hanya dengan cara itu Kayla bisa tenang.


"Tenang Kayla! Aku ada di sini. Katakan padaku ada apa?"


"Tuan aku takut," ujar Kayla dengan bibir yang bergetar dan mata yang berair.


"Jangan khawatir, aku akan selalu berada di sisimu. Sekarang, lebih baik kita masuk ke dalam!"


Kayla mengangguk dan menurut.


"Tuan jangan tinggalkan aku!"


Bersambung.