Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 15. Ada Apa Dengan Kakek?



"Anakku!" Kayla berteriak histeris dengan tubuh gemetar dan nafas tersengal-sengal, peluh membasahi tubuhnya.


"Hosh, hosh, hosh! Rupanya aku hanya bermimpi," gumam Kayla sambil mencoba menstabilkan deru nafasnya yang tidak teratur.


Arshaka yang berada di kamar Emeli segera berlari menuju kamar Kayla.


"Kau, kenapa lagi?" tanya Arshaka sambil berjalan mendekat dengan wajah yang begitu khawatir. Akhir-akhir ini Kayla tidak bisa hidup dengan tenang.


Kayla mengangkat muka, menatap kedatangan Arshaka dengan raut wajah yang tidak nyaman.


"Maafkan aku yang selalu membuat kekacauan di rumah ini," ujar Kayla, wajahnya terlihat sendu.


"Kau bicara apa? Tidak ada kekacauan yang kau buat di sini."


"Tuan, maafkan aku, tapi sepertinya aku harus pergi dari sini. Kehadiranku bukannya meringankan beban Tuan, tetapi malah menambah masalah. Tuan jadi tidak bisa kembali ke kantor. Aku sudah tidak berguna di sini." Kayla turun dari ranjang lalu mengambil tas dan membuka lemari.


"Kau bicara apa?"


Kayla tidak menjawab, tangannya dengan lincah memasukkan baju-baju ke dalam tas.


"Kayla jangan pergi!" Arshaka menghentikan gerakan tangan Kayla. Wanita itu hanya menatap Arshaka sebentar lalu melanjutkan aksinya kembali.


"Kau sudah tidak sayang dengan Emeli?"


Kayla diam seketika. Sebenarnya dia sedih harus meninggalkan anak asuhnya itu.


"Justru aku sayang sama Emeli makanya aku harus pergi. Aku tidak ingin hidupnya tidak tenang. Akhir-akhir ini aku seperti orang gila."


"Jangan pergi kecuali kau sudah membenci kami berdua. Kita hadapi masalah ini sama-sama. Kita akan menemukan siapa pelaku yang sudah menterormu."


Kayla membeku, tak tahu harus bersikap apa. Yang membuat ia gusar selama ini bukan hanya kejadian aneh yang hampir tiap hari mengganggu ketenangan Kayla, tetapi rangsangan otaknya yang membuat ia harus berpikir keras tentang bayang-bayang yang tiba-tiba datang. Dengan pergi dari rumah itu, dia berharap semua yang menyiksa batinnya akan berakhir.


"Kepergianmu dari rumah ini belum tentu membuatmu bebas dari semua hal yang menimpamu selama ini."


Sepertinya Arshaka tahu apa yang dipikirkan oleh Kayla.


"Kau pikir kami tidak akan khawatir jika kau jauh dari kami? Emeli pasti akan kepikiran dan bisa-bisa syok jika kamu tinggalkan secara mendadak. Dia membutuhkanmu, Kayla. Kalau perlu aku akan menikahimu agar kau tidak pergi."


Kayla tersentak mendengar ucapan Arshaka. Arshaka benar, dia yang selalu menemani kala wanita itu merasakan tersiksa sehingga membuat keduanya semakin dekat. Kayla tidak tahu siapa lagi yang akan menenangkannya jika ia pergi dari kehidupan Arshaka.


Namun, ia tidak menyangka dengan kalimat terakhir Arshaka. Walaupun dia menyukai Arshaka, tetapi dia tahu diri tidak pantas bersanding dengan pria yang berdiri di hadapannya. Kayla tidak pernah menganggap perhatian Arshaka selama ini sebagai hal yang berlebihan meskipun kadang kala Kayla terbawa perasaannya sendiri.


"Lebih baik kau tidur di kamar Emeli!" Arshaka merangkul bahu Kayla dan hendak menuntunnya ke kamar Emeli.


Namun, kayla seperti patung yang tidak mau bergerak sama sekali sehingga Arshaka berinisiatif membawa tubuh Kayla ke kamar Emeli dengan cara menggendong. Barulah Kayla bereaksi saat dalam gendongan Arshaka.


"Tuan, turunkan aku!" teriak Kayla seketika saat dirinya menyadari keadaan. Arshaka sama sekali tidak mengindahkan.


"Tuan tolong lepaskan, tidak enak jika dilihat orang, bisa-bisa mereka berprasangka buruk terhadap kita!" pekik Kayla, tetap saja Arshaka acuh dengan perkataan Kayla, hingga saat di depan pintu kamar Emeli, Barulah Arshaka menurunkan Kayla.


"Sepertinya Ayah cocok dengan Tante Kayla," ujar Emeli sambil tersenyum melihat sang ayah menurunkan Kayla dari gendongannya. Pintu kamar dalam keadaan terbuka hingga Emeli bisa melihat semuanya.


"Maksudnya?"


"Emeli merestui ayah dengan Tante Kayla. Emeli setuju kalau Tante jadi Mami Kayla. Tante Kayla baik nggak seperti tante Elena yang jahat."


Arshaka mengangguk. Dalam hati membenarkan perkataan Emeli. Putrinya butuh sosok ibu dan Arshaka harus move on dari mendiang istrinya. Kedekatannya dengan Kayla akhir-akhir ini memunculkan perasaan aneh di hati Arshaka.


Dia bukan hanya perhatian pada Kayla sebagai tanggung jawab karena wanita itu telah merawat putrinya dengan tulus, tetapi ada getaran rasa yang berbeda. Mungkinkah Arshaka jatuh cinta untuk kedua kalinya?


Di luar rumah, Jeremy tampak mengangkat panggilan telepon.


"Tuan Jeremy, kami sudah memastikan bahwa Kayla yang bersama dengan Tuan Shaka saat ini bukanlah mantan istrinya."


"Apa kau yakin?"


"Ya, sangat yakin, Kayla mantan istri Tuan Shaka benar-benar sudah meninggal."


"Untuk memastikan, lanjutkan rencana kita. Teror terus hingga ia ingat akan masa lalunya! Kalau dia bukan Kayla yang dulu maka dia benar-benar tidak akan tahu dengan apa yang terjadi di masa lampau. Sudah dulu aku berada di rumah Arshaka!" Jeremy segera menutup panggilan telepon dan berlari masuk ke dalam rumah.


Pipi Kayla memerah, meskipun dia senang, tetapi tidak dapat dipungkiri kalau dia sangat malu sekarang.


"Bagaimana Kayla, apakah kamu mau jadi ibu Emeli? Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Arshaka tanpa biasa.


"Aku ... aku...."


"Aku tidak setuju jika kamu menikahi pembantu ini! Mau ditaruh dimana muka keluarga kita jika kamu menikahi seorang babu Arshaka?" Suara Jeremy menggelegar. Arshaka menoleh ke belakang.


Untuk kedua kalinya Kayla tersentak. Jika tadi hatinya berbunga-bunga, tapi kali ini terasa seperti di tusuk dengan cutter yang tajam hingga menancap ke ulu hati.


"Biarkan Arshaka yang memutuskan Pa!"


"Tidak! Kau harus menikah dengan Elena. Kau mau makan apa jika menikah dengan wanita ini?!" Jeremy menunjuk dada Kayla. Kayla tidak berani mengangkat wajah. Jeremy benar, kehidupan Arshaka tidak terjamin jika hidup dengannya, beda dengan Elena yang orang kaya sehingga semuanya serba ada.


"Apa yang kau lihat dari dia? Wajahnya saja begitu, jika kau mau menikah dengan Elena maka papa jamin perusahaan kita akan kembali seperti semula bahkan akan lebih maju."


"Allah maha cukup Pa, jadi saya percaya Allah tidak akan membiarkan Arshaka kelaparan selama Arshaka mau berusaha dan bagi Arshaka tampang seseorang itu nomor dua, nomor satu itu adalah ketulusan hatinya."


"Wah hebat, kau semakin membangkang ya!" geram Jeremy. Pria tua itu menghela nafas panjang.


"Baiklah, kalau kamu tetap nekad mau menikah dengan dia maka kau harus keluar dari rumah ini!" ancam Jeremy membuat Emeli terbelalak.


Tanpa mau melihat ekspresi Arshaka, Jeremy langsung pergi, tetapi sebelumnya dia melirik sebentar ke arah Kayla. Pria itu tersenyum senang melihat Kayla mulai menekan kepalanya dan seperti orang kesakitan.


"Tunggu! Sebentar lagi akan terkuak semuanya!"


"Ada apa dengan kakek, kenapa dia juga membenci Tante Kayla?" Emeli menyadari tatapan dan senyum Jeremy yang terlihat aneh. Sepertinya tidak mungkin jika Jeremy tidak merestui hubungan keduanya hanya karena status, tetapi lebih dari itu, begitu kesimpulan yang Emeli ambil.


"Aku harus menyelidiki kakek," gumam Emeli. Dia bertekad untuk mencari tahu apa sebenarnya yang dirahasiakan oleh sang kakek tanpa ayahnya tahu.


Bersambung.