Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 4. Kabar Yang Menggemparkan



"Terima kasih Tante dan jangan berlebihan, kemampuanku tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuranganku," ucap Emeli dengan tatapan mata yang sayu dan senyuman pahit. Tersirat kesedihan yang mendalam dibalik raut wajahnya yang dipaksa agar terlihat baik-baik saja itu.


"Jangan berkata begitu, semua orang pasti punya kelebihan dibalik kekurangan masing-masing," ucap Kayla.


Tangannya terulur mengusap lembut kepala Emeli dan anak itu tidak menolak, malah menikmati sentuhan di kepalanya. Selama hidup, Emeli hanya menikmati sentuhan lembut dari sang ayah dan sekarang elusan tangan Kayla membuatnya nyaman.


"Kita kembali ke kamar yuk, kamu harus istirahat!"


Emeli mendongak, menatap wajah Kayla yang tersenyum manis lalu mengangguk.


"Ayah Emeli mau kembali ke kamar," pamitnya pada Arshaka.


Arshaka mengangguk, membiarkan Kayla mendorong kursi roda Emeli keluar dari ruangan kerja.


"Kayla!"


Panggilan Arshaka membuat Kayla berhenti dan langsung menoleh.


"Terima kasih."


Kayla mengangguk meskipun tidak paham untuk apa ucapan tersebut. Kayla sama sekali tidak merasa berjasa apapun untuk mendapatkan dua kata itu.


"Kami permisi Tuan."


Tanpa menunggu jawaban Arshaka, Kayla mendorong kembali kursi roda tersebut.


Sepeninggal Kayla dan Emeli, Arshaka duduk dan menghembuskan nafas lega. Dari tatapan Kayla, Arshaka tahu bahwa Kayla tulus pada Emeli dan sepertinya Emeli akan jinak pada Kayla.


Dalam hati Arshaka benar-benar berharap Kayla memang bisa dipercaya dan Emeli nyaman dengan wanita itu sehingga Arshaka bisa tenang meninggalkan Emeli bekerja setiap hari.


"Sepertinya aku harus kembali ke kantor."


Arshaka bangkit berdiri lalu kembali ke kamar. Beberapa saat terlihat turun dari tangga dengan tas kerjanya.


"Bik Muna, kalau Emeli bertanya saya kemana, katakan kembali ke kantor," ucapnya sambil berjalan dengan tergesa-gesa.


"Baik Tuan."


Arshaka mengangguk dan terus melangkah keluar rumah. Beberapa saat kemudian sudah terlihat berkendara di jalanan.


Di depan perusahaan ia disambut oleh beberapa petinggi perusahaan. Arshaka mengernyit melihat hal yang tidak biasa itu.


"Ada apa?" tanyanya sambil melewati beberapa orang yang masih berdiri.


"Sepertinya kita tidak perlu memanggil ahli IT dari luar perusahaan karena–"


"Data sudah kembali dan keamanan sistem kita sudah stabil bahkan lebih kuat, bukan?"


Beberapa petinggi perusahaan tampak kaget.


"Darimana Tuan tahu? Apakah Tuan datang ke tempat orang ahli komputer dan membenahi semua dari sana?"


"Tidak, itu dibenahi dari rumah dan saya tidak perlu menyewa orang karena Emeli yang melakukannya."


Beberapa orang itu menganga.


"Emeli putri Tuan?" tanyanya seakan tak percaya.


"Siapa lagi? Apa kalian tahu aku mengenal Emeli selain putriku sendiri? Dan kalian tidak perlu khawatir, saya tahu siapa pelaku yang dengan teganya mengacak-acak file perusahaan kita."


Semua orang tidak menjawab dan Arshaka melanjutkan langkah hingga masuk ke ruangannya.


Di luar para petinggi perusahaan dan para karyawan mendadak heboh membicarakan Emeli. Mereka seakan masih belum percaya bahwa putri Arshaka yang penyakitan itu ternyata benar-benar hebat.


Seperti jamur yang menyebar di musim penghujan, secepat itu pula kabar itu beredar dalam masyarakat. Kabar itu akhirnya sampai juga ke telinga seseorang. Sahabat bisnis Arshaka yang begitu akrab dengannya.


Sore sebelum jam pulang kantor, Arshaka tampak membenahi map-map di atas meja.


"Wow aku dengar tadi putrimu telah berhasil mengembalikan data yang hilang."


Perkataan seseorang membuat Arshaka menghentikan aktivitas dan langsung menoleh.


"Hei kau apa kabar?" Arshaka mengulurkan tangan hingga keduanya seperti orang melakukan tos.


"Aku dengar tadi putrimu punya kemampuan hacker. Kebetulan aku sedang membutuhkan kemampuannya."


"Datang-datang langsung minta bantuan, bahkan tanya kabar pun tidak dijawab," protes Arshaka.


"Kabarku setengah baik, setengah tidak makanya butuh bantuan," sahut pria itu dengan mimik wajah yang begitu serius.


Arshaka mengernyit lalu menggeleng.


"Sampai kapan kau akan berpura-pura buta?"


"Sampai masalah menemukan titik terangnya," ujar pria itu dengan tatapan sendu.


"Semoga segera terungkap dan semua sesuai harapanmu."


"Terima kasih dan aku benar-benar butuh bantuan putrimu."


"Tidakkah kau bisa menyewa orang lain saja?"


"Arshaka, ayolah! Kalau aku membawa orang ahli ke rumah semua orang akan curiga, tapi tidak jika kamu dan putrimu."


"Hmm, baiklah nanti saya bicarakan dulu dengan dia. Kau tahu sendiri, bukan? Emeli sangat susah untuk diajak keluar. Namun, tenang saja aku akan berusaha membujuknya."


"Terima kasih. Semoga kamu dan keluarga baik-baik saja." Pria itu menepuk bahu Arshaka.


"Aamiin, semoga kau pun demikian, bagaimana dengan istrimu, sudah isi?"


"Belum kau sendiri bagaimana? Belum mau menikah dengan Elena?"


"Emeli tidak setuju, lagipula aku belum bisa melupakan almarhumah istriku."


"Oh, kapan kira-kira bisa membawa Emeli ke rumah?"


"Malam ini kalau dia mau aku akan segera mengajaknya."


"Bagus kalau bisa, sepertinya malam ini semua penghuni rumah ada acara di luar. Bagaimana kalau sekarang aku traktir makan?"


"Seperti tidak perlu karena aku ingin segera menemui putriku, bagaimana kalau kamu saja yang makan di rumah?"


"Penawaran yang baik. Oke, aku ikut sekalian ingin bicara langsung dengan putrimu."


Arshaka mengangguk dan mengajak pria itu untuk keluar dari perusahaan. Sampai di luar Arshaka menyarankan agar temannya itu satu mobil dengan Arshaka dan menyuruh sopir pribadi pria itu kembali terlebih dulu.


"Bik Muna, tolong siapkan makan malam untuk menyambut temanku ini," ujar Arshaka setelah mempersilahkan Abbas duduk.


"Baik Tuan."


Arshaka mengangguk dan setengah berlari menuju kamarnya. Setelah meletakkan tas dan jasnya ia langsung menemui Emeli.


"Emeli masih di kamar mandi Tuan," ucap Kayla tatkala Arshaka menanyakan keberadaan putrinya.


"Oke, setelah mandi suruh dia ke ruang makan. Ada seseorang yang ingin bertemu dengannya!"


Kayla mengangguk sedangkan Arshaka kembali ke kamar, mandi dan setelah itu menemui Abbas di bawah.


"Emeli, ayahmu memintamu turun ke ruang makan," ujar Kayla saat Emeli keluar dari kamar mandi. Tangannya memegang pakaian ganti Emeli lalu membantunya memasang.


"Bukankah ini belum waktunya makan malam?"


Emeli bingung, tidak biasa Arshaka mengajak makan malam di sore hari.


Kini anak itu terlihat memoles bedak tabur di wajah sedangkan Kayla tampak telaten menyisir rambut Emeli lalu mengikatnya.


"Katanya ada tamu."


"Malas, palingan hanya kakek. Emeli sudah hafal, kalau dia ke sini pasti ingin membujuk Emeli untuk merestui hubungan ayah dengan tante Elena. Kalau Emeli tidak mau pasti akan keluar kata-kata yang menyakiti hati Emeli."


"Hmm, kalau begitu Tante periksa ke bawah dulu ya?"


Emeli mengangguk dan membiarkan Kayla turun ke bawah. Setelah memastikan orang yang bersama Arshaka itu lebih muda dari majikannya. Kayla kembali ke kamar dan memberitahu Emeli. Barulah Emeli mau turun dan menemui orang itu.


"Wau, kau semakin cantik Emeli!" puji Abbas membuat Emeli tersenyum kecut.


"Berpikir positif pada orang lain karena tidak semua orang itu palsu," bisik Kayla di telinga Emeli.


Dia paham apa yang dirasakan oleh Emeli saat ini. Kayla membantu Emeli agar duduk di kursi meja makan, tidak di kursi roda lagi.


"Kita makan dulu!" ajak Abbas.


"Kalau begitu Tante pamit Emeli, saya permisi Tuan," ucap Kayla lalu melenggang pergi.


"Eh Kayla, mau kemana? Lebih baik kamu makan juga!"


"Tapi Tuan–?"


"Temani Emeli!"


Kayla mengangguk dan akhirnya duduk di samping Emeli. Abbas mengutarakan keinginannya sedangkan Emeli tampak ragu untuk menyetujui permintaan Abbas.


"Kenapa tidak mau, bukankah ini adalah kesempatanmu untuk menyakinkan dunia bahwa kau diciptakan untuk berguna bagi orang lain?"


Emeli menatap Kayla dan seperti biasa wanita itu selalu memperlihatkan senyuman termanisnya membuat Emeli merasa Kayla selalu hidup penuh kebahagiaan selama ini.


"Baik."


Akhirnya Emeli setuju dan Abbas menceritakan perihal racun yang ada dalam makanan beserta kaitannya dengan cctv di rumahnya, dimana sang istri merasa ada yang memotong video.


Sore menjelang malam itu juga mereka semua berangkat ke rumah Abbas, tidak terkecuali Kayla.


Sampai di rumah Abbas, Emeli dimintai tolong untuk memulihkan rekaman cctv yang terpotong dan hilang di rumah tersebut.


"Sorry paman, ini bukan video atau rekamannya ada yang hilang, tapi sengaja ada yang memotong dengan cara mematikan cctv sebentar. Lihatlah waktu yang tertera di situ! Sangat singkat sehingga hampir tidak terdeteksi kalau tidak benar-benar jeli. Kalau saya perhatikan, ada dua orang yang berperan di sini. Satu yang mematikan cctv dan satu menaruh racun dalam makanan."


Abbas manggut-manggut, perkataan Emeli sangat masuk akal. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa di rumah yang ditempatinya itu ada yang ingin dirinya mati.


"Terima kasih Emeli, sebentar!" Abbas melenggang pergi dan beberapa saat kembali dengan benda berbentuk kotak di tangan.


"Ini hadiah untukmu." Abbas menyodorkan benda tersebut ke hadapan Emeli.


"Tapi Paman–"


"Sudah ambillah! Ini bukan bayaran, tapi hadiah."


Emeli melihat wajah Arshaka dan ayahnya mengangguk.


"Baik, terima kasih, Paman."


"Sama-sama."


Mereka bertiga pun berpamitan pulang pada Abbas dan istrinya.


Sejak saat itu beberapa perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Arshaka ada yang meminta Emeli memperkuat sistem keamanan perusahaan mereka dan Emeli mendapat bayaran untuk itu.


Emeli mulai percaya diri dan membenarkan perkataan Kayla bahwa dirinya bisa berguna untuk orang lain.


Bersambung.