Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 2. Penolakan Emeli



Siang itu juga Kayla langsung berangkat ke alamat rumah yang diberikan Toni. Esok hari barulah ia sampai di depan rumah Arshaka. Kayla berdiri dengan kagum melihat rumah Arshaka yang megah dengan desain yang estetik.


"Cari siapa?" tanya Arshaka.


Kayla yang berdiri mematung sampai tidak sadar bahwa pintu pagar rumah sudah terbuka dan ada mobil di belakang dirinya berdiri, hendak menerobos masuk, tapi terhalang oleh tubuh Kayla. Ya, Arshaka pagi itu baru pulang dari luar kota.


"Cari pemilik rumah ini, saya ingin melamar menjadi pengasuh putrinya seperti yang tertulis di sini." Kayla menunjukkan selebaran pemberian Dalilah kemarin.


Arshaka tidak langsung menjawab, tetapi menatap wajah Kayla dengan seksama. Dalam hati dia seolah mengenal Kayla, tapi pikirannya berkata lain saat melihat penampilan Kayla yang tampak kurus dan kucel dengan wajah yang kusam akibat sering berjemur dibawah terik matahari.


Dipandangi secara berlebihan membuat Kayla gugup. "Maaf," ucapnya sambil bergerak ke pinggir.


Arshaka mengangguk.


"Masuk!" perintah Arshaka lalu mengemudikan mobilnya masuk ke dalam garasi.


"Ayah! Ayah!" seru Emeli sambil memutar kursi roda dan bergerak cepat ke arah sang ayah. Gadis kecil itu tampak kegirangan, menerbitkan senyum di bibir Arshaka di tengah rasa sedihnya karena kerjasama yang ditolak padahal ia sudah bela-belain datang keluar kota dan meninggalkan Emeli. Pria itu berlari lalu memeluk putrinya dengan erat.


"Bagaimana, sukses ayah?"


"Ya, berkat doamu," ucap Arshaka berbohong, tak ingin Emeli juga ikut sedih.


Emeli melonggarkan pelukan Arshaka tatkala melihat Kayla membuntuti ayahnya.


"Dia siapa?" tanyanya sambil memandang aneh kepada Kayla.


Arshaka berbalik, menatap Kayla yang ingin mendekat dengan ragu. Dalam hati dia berpikir apakah wanita yang ada di depannya kini bisa merawat Emeli karena terlihat merawat sendiri saja tidak bisa. Namun, apa boleh buat kalau sudah tidak ada yang mendaftar lagi.


"Siapa namamu?"


"Kayla."


Arshaka tersentak, kejadian beberapa tahun silam berputar kembali.


"Kayla meninggal saat melahirkan putrimu." Suara Jeremy dari balik telepon seolah langsung menyayat hingga ke ulu hati. Arshaka tidak menyangka, sejak saat itu dia tidak pernah melihat istrinya lagi bahkan jasadnya pun tidak.


"Sebentar!" Arshaka menjauh dari keduanya dan menelpon Toni. Setelah itu dia balik ke sisi Kayla dan Emeli.


"Dia adalah pengasuh baru untukmu," ucapan Arshaka membuat Kayla langsung tersenyum senang sebab itu artinya ia benar-benar diterima bekerja sedangkan Emeli sendiri terlihat tidak suka.


"Hahaha, kau pikir akan ada orang yang mau mengasuh dirimu?"


Kata-kata Elena kemarin terngiang-ngiang di telinga Emeli.


"Tidak Emeli Sayang, semua orang tidak ada yang tulus. Mereka semua sama seperti Tante, ingin melakukan ini agar bisa mendekati ayahmu lalu mengajaknya menikah dan punya anak bersama lalu melemparkan dirimu ke jalanan."


"Tante jahat!"


"Hahaha, aku tidak akan jahat jika kamu tidak tega pada Tante. Sudah bertahun-tahun Tante mengimpikan menikah dengan Arshaka dan kau menjadi penghalang hingga Tante menjadi perawan tua," ucap Elena sambil memegang dagu Emeli dengan kuat kemudian mendorongnya ke samping dengan keras.


Emeli mengeram, mengepalkan tangan kuat-kuat, meraih tas Elena yang tergeletak di sisi ranjang lalu melempar ke wajah wanita itu dengan kasar.


"Dasar anak setan, sudah penyakitan emosian lagi!" Elena meraih tasnya dan langsung pergi.


"Aku tidak butuh pengasuh!" teriak Emeli dengan kencang sehingga membuat Kayla dan Arshaka langsung menutup telinga karena suara Emeli yang begitu keras.


Kayla terlihat kecewa, tetapi berusaha mendekat ke arah Emeli dan mengajak bicara.


"Namamu Emeli, bukan?"


Emeli tidak menjawab, dia memandang benci pada wajah Kayla. Baginya Elena benar, selama ini semua pengasuh berwajah palsu, hanya baik di depan Arshaka saja, tapi tidak ada yang pernah memperlakukan baik dirinya kalau Arshaka pergi.


"Aku tidak butuh pengasuh!" seru Emeli lalu mendorong tubuh Kayla hingga terjungkal ke belakang.


"Emeli!" bentak Arshaka karena putrinya benar-benar tidak sopan.


Mendapatkan bentakan dari sang ayah, Emeli kesal. Ia memutar kursi roda dan menjauh dari Arshaka.


"Emeli tunggu!"


"Maaf," ucap Arshaka pada Kayla lalu berlari mengejar Emeli yang masuk ke dalam rumah.


Kayla mengangguk, menatap punggung Arshaka yang berlalu. Wanita itu menutup wajah dengan kedua tangan. Melihat ekspresi Emeli tadi, harapan untuk menjadi pengasuh dan mendapatkan gaji besar pupus sudah.


"Darimana aku dapat uang untuk kembali ke desa? Darimana dapat uang untuk membayar hutang pada Dalilah?" Kayla terduduk lemas di atas lantai.


"Emeli tidak boleh begitu Nak," ucap Arshaka.


"Ayah lebih memilih dia ketimbang Emeli, kan?" Anak itu masih geram.


"Bukan begitu, tapi dia datang untuk merawatmu. Apa harus diperlakukan kasar seperti itu?"


"Emeli tidak suka dengan wanita yang bermulut manis. Ayah tidak tahu, kan apa yang sebenarnya terjadi selama ini? Semua pengasuh bukan benar-benar merawatku, tapi hanya untuk mengejek diriku lalu menagih gaji. Lebih baik Emeli sendiri, silahkan ayah kalau mau pergi kemanapun, Emeli tidak akan pernah menghalangi lagi." Anak itu menunduk, tidak ada suara yang keluar lagi tapi air matanya bercucuran.


Arshaka duduk berjongkok di depan kursi roda Emeli.


"Begini Sayang. Izinkan kali ini saja ayah memberikanmu seorang pengasuh. Jika kali ini gagal, ayah janji akan merawat sendiri Emeli, kalau perlu ayah akan berhenti bekerja dan selalu berada di sisimu."


"Baiklah," lirih Emeli.


"Jangan bersikap kasar lagi ya, agar Tante Kayla tidak kasar juga padamu!" Dalam hati Arshaka berharap Kayla adalah pengasuh terakhir Emeli seperti halnya Kayla Nadhifa adalah cinta terakhir Muhammad Arshaka.


"Sikap Emeli tergantung sikap dia ayah."


Arshaka mengangguk dan langsung meninggalkan Emeli untuk memanggil Kayla sebelum wanita itu pergi.


Sampai di luar rumah Arshaka tersenyum melihat Kayla masih bertahan di tempatnya semula.


"Kayla!" panggil Arshaka dan Kayla yang menunduk langsung mengangkat wajah.


"Kau diterima," ucap Arshaka membuat Kayla reflek melompat-lompat kegirangan.


"Kayla, kau seperti Kayla-ku saat mendapatkan sesuatu yang membuatnya senang." Arshaka menatap Kayla tapi pikirannya tertuju pada almarhumah sang istri.


"Silahkan masuk!"


Kayla mengangguk dan berjalan di belakang Arshaka.


"Tapi apa kau siap menjadi pengasuh Emeli? Dia anaknya labil, emosinya sering meledak-ledak. Kalau kamu tidak siap kau boleh mundur."


"Bagaimanapun kondisi putri Tuan saya siap menjaga dan merawatnya."


"Bagus. Itu kamarmu, silahkan bawa tasmu dan bersihkan diri sebelum menemui Emeli!"


"Baik Tuan."


Kayla masuk ke dalam kamar yang ditunjuk oleh Arshaka lalu meletakkan tas di atas ranjang. Sebelum masuk ke kamar mandi terlebih dahulu Kayla berdiri di depan cermin.


"Pantas saja Emeli takut padaku, wajahku seperti ini. Mungkin dia pikir aku nenek sihir kali." Wanita itu terkekeh sendiri melihat wajah dan penampilan dirinya yang sangat-sangat berantakan.


Bersambung.