Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 21. Menikah



"Tapi sebelum modalnya terkumpul, bolehlah Paman perkenalkan Emeli dulu pada teman-teman Paman, yang mana mereka memang pengusaha properti. Kau bisa menjadi agen terlebih dulu agar bisa mempelajari pasar dan sebaiknya kau harus didamping ayahmu karena tidak mudah untuk masuk ke dunia ini. Kau terlalu kecil Emeli, takut mereka tak percaya walaupun Paman sendiri percaya pada kemampuanmu."


Emeli mendongak, menatap wajah Arshaka. Melihat ayahnya mengangguk wajahnya menjadi ceria. Senyum manis tertoreh di bibir merah mudanya.


"Kita bekerjasama Ayah," ucapnya lalu tertawa.


Arshaka hanya tersenyum sambil mengacak rambut putrinya.


✨6 Bulan kemudian.✨


Emeli duduk di atas kursi roda sambil termenung menatap rumah-rumah yang sudah siap untuk diluncurkan ke tuan rumah selanjutnya.


"Bagaimana Emeli, kau senang hari ini?" tanya Arshaka sambil memeluk putrinya dari belakang.


Emeli menoleh.


"Senang sekali Ayah, bisnis kita sukses. Hari ini sudah ada calon pembeli rumah-rumah ini. Kita harus bersyukur pada Allah Ayah. Dia telah meringankan beban kita dan memberikan kemajuan pada kehidupan kita."


Arshaka mengangguk.


"Rencana Allah begitu indah ya Yah. Andai saja saat itu Emeli tidak mengamen, kita tidak akan pernah bertemu dengan orang sebaik paman Kiano. Bagi Emeli ini sangat mustahil, beliau memberikan modal yang begitu besar untuk kita yang bukan siapa-siapanya."


"Karena beliau tahu kau berbakat Emeli. Saat menjadi property agen kau banyak membantu penjualan properti teman-teman pebisnis Tuan Kiano. Jadi beliau sangat mempercayaimu. Kau sangat tanggap dan cepat belajarnya."


"Ah, itu bukan Emeli yang hebat, tapi Ayah, kalau tidak Emeli pasti tidak bisa berbuat apapun."


"Kau pandai beriklan hingga banyak dari orang-orang tertarik untuk membeli rumah yang kau promosikan lewat media sosial itu. Kau pandai menggaet hati pelanggan, kau juga pandai mengurus dokumen segala macam. Ayah hanya mendampingi, kau yang bekerja."


"Sudah tidak usah saling lempar. Kalian hebat semua kok. Ayah dan anak memang kombinasi yang pas," ucap Kayla lalu mendekati anak dan suaminya.


"Mama jauh lebih hebat. Kalau tidak ada Mama takkan ada Emeli," ucap Emeli sambil memandang lekat wajah Kayla.


Kayla langsung meraup wajah putrinya dan menghadiahi ciuman di pipi gadis kecil secara bertubi


-tubi.


"Ayah berpesan pada Emeli sesukses apapun jangan pernah melupakan siapapun yang membantumu."


"Pasti Ayah, jasa paman Kiano tidak akan pernah Emeli lupakan. Bukankah hutang budi itu dibawa mati? Berkat beliau kita sudah memiliki rumah sendiri meskipun kecil."


Arshaka mengangguk lalu menatap kembali bangunan yang terpampang di hadapannya.


"Gara-gara Ayah mendampingi dirimu selama ini, Ayah jadi banyak kenalan dan beberapa dari mereka menawarkan kerjasama untuk memajukan perusahaan papa. Sekarang perusahaan Papa sudah stabil meskipun belum kembali seperti semula."


"Tidak apa-apa Mas, semua butuh proses. Yang penting perusahaanmu sudah lepas dibawah naungan perusahaan Tuan Jonatan."


"Kau benar Kayla, yang penting bebas dari mereka aku sudah tenang."


Kayla dan Emeli sama-sama mengangguk.


"Kau tahu Emeli ? Desain-desain rumah yang kau buat ini sangat bagus, makanya dalam sekejap rumahnya banyak yang laku."


"Kalau cuma rumah sederhana seperti ini tidak butuh arsitek Ayah."


"Kau memang cerdas, multi talenta, makanya sebelum tahu bahwa kamu putriku, Mama sudah tertarik padamu dan yakin ada bakat tersembunyi di dibalik tubuh ini." Sekarang giliran Kayla yang memeluk putrinya.


"Terima kasih Ma."


"Oh ya Emeli, bagaimana perkembangan penyelidikan tentang kejahatan yang sudah diperbuat oleh kakekmu dan Tuan Jonatan?"


"Belum juga."


"Minggu lalu Emeli menyusup ke rumah kakek, tapi tidak menemukan sesuatu yang penting di sana. Mungkin bulan depan akan mencoba menyusup ke rumah Tuan Jonatan. Bukankah Tante Delena yang jahat itu akan menikah di rumahnya sendiri?"


"Kau benar Emeli. Di keramaian itu kita bisa memanfaatkan suasana."


Emeli mengangguk.


"Apakah Emeli boleh bertanya sesuatu?"


"Boleh saja Emeli, tidak perlu meminta persetujuan untuk bertanya padaku."


"Baiklah, tapi apakah Emeli anak haram Ayah?"


Arshaka tersentak kaget saat mendengar pertanyaan dari putrinya.


"Maksudnya?"


"Beberapa hari yang lalu ada segerombolan orang yang mendatangi rumah kita ketika ayah ada di kantor. Katanya mereka akan mengusir kita karena ayah tidur dengan Mama yang belum menikah. Mereka juga menghina Emeli anak haram dan cacat karena Mama dan Ayah sempat ingin menggugurkan Emeli. Katanya aku anak yang hamil diluar nikah. Mereka juga menantang Mama untuk menyerahkan surat nikah kalau memang yang dikatakan Mama benar bahwa kalian sudah menikah," cerita Emeli dengan mata berkaca-kaca. Sedih dan syok mengingat kejadian waktu itu.


"Kayla?" Arshaka menatap Kayla tidak suka. Bagaimana hal seserius itu tidak dia beritahukan kepada dirinya.


"Aku sudah menjelaskan pada Emeli bahwa apa yang mereka katakan tidak benar dan aku belum mengatakan pada Mas Shaka karena tidak ingin memecah konsentrasi Mas Shaka yang sedang sibuk membenahi perusahaan."


"Hah!" Arshaka menghembuskan nafas kasar.


"Apa yang Mama kamu katakan itu benar Emeli. Mama kamu memang tidak bisa memberikan bukti karena kami memang tidak mempunyai surat nikah. Dulu kami menikah secara siri dengan diam-diam dari papa. Namun, kamu tenang saja mereka tidak akan bisa menganggapmu anak yang hamil di luar nikah karena Ayah punya surat yang ditandatangani penghulu dan beberapa saksi saat kami menikah. Di KK, kau tetap akan tercatat sebagai anak Ayah. Perkara kelompok orang itu mungkin adalah orang suruhan seseorang yang tidak suka dengan keluarga kita."


"Tapi Ayah, kadang Emeli bertemu dengan orang yang mengatakan 'Emeli anak genius ya, pasti anak hasil hamil diluar nikah seperti di novel-novel'."


"Astaga yang itu tuh tipe pembaca yang terlalu baper dengan novel yang dibacanya hingga dibawa ke kehidupan nyata."


"Biasa Mas warga plus 62," ujar Kayla lalu terkekeh.


"Jangan terlalu percaya dengan orang lain Emeli," ujar Arshaka.


Emeli mengangguk.


"Ayah apakah Emeli boleh meminta sesuatu?"


"Apa itu Emeli? Kalau Ayah bisa pasti akan Ayah wujudkan."


"Aku ingin melihat Ayah dan Mama menikah lagi dan itu diketahui oleh orang banyak."


Arshaka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian meminta persetujuan dari Kayla.


"Bagaimana menurutmu?"


"Kita penuhi saja permintaannya Mas. Kalau memang tidak ingin ijab ulang kita adakan resepsi saja langsung."


"Hufft baiklah, Papa Kabulkan permintaan kamu," ujar Arshaka membuat Emeli langsung bersorak kegirangan. Kalau saja ia bisa berdiri ingin rasanya Emeli berjingkrak-jingkrak di atas lantai yang ia pijak sekarang.


Bersambung.


Mohon maaf ya reader kalau update-nya lama karena novel ini tidak cukup retensi akibat pembaca kurang dan Author bermaksud untuk menunggu pembaca lain sebelum sampai 20 bab meskipun pada kenyataannya tetap zong. Namun, jangan khawatir novel ini tetap lanjut walaupun slow update karena saya lebih fokus dengan novel "Dokter Davin dan Santri Barbar" Mohon pengertiannya ya, dan maafkan othor yang kemampuannya terbatas ini.🙏