
"Emeli! Emeli!" Kayla panik melihat Emeli menutup mata. Wanita itu menatap Arshaka yang tak kalah syok akan hal yang terjadi pada putrinya. Dia tidak menyangka Jeremy akan sekejam itu, melempar Emeli begitu saja seperti benda mati.
Arshaka dengan sigap memeriksa denyut nadi Emeli.
"Kita bawa Nona Emeli ke rumah sakit sekarang Tuan!"
Arshaka mengangguk, mengambil alih tubuh Emeli seutuhnya dari tangan Kayla. Dengan setengah berlari sambil mengendong tubuh putri tercinta, Arshaka menghampiri mobilnya yang terparkir di luar pagar rumah.
Kayla berlari mendahului Arshaka lalu membukakan pintu mobil untuk Emeli. Setelah Arshaka menaruh tubuh Emeli di atas sofa mobil, barulah Kayla ikut masuk dan duduk di sampingnya. Arshaka beranjak ke sofa bagian depan dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit.
Di jok belakang Kayla terlihat cemas, bahkan wanita itu tak sedetikpun mengalihkan perhatiannya dari Emeli. Dada Emeli menjadi pusat perhatiannya. Takut-takut jantungnya berhenti berdetak.
"Dokter, cepat tangani putri saya!" Arshaka berlari mengendong tubuh Emeli melewati koridor rumah sakit, tak perduli hampir menabrak keluarga pasien lain.
"Kenapa lagi dia?" Kebetulan mereka berpapasan dengan dokter yang biasa menangani Emeli.
"Pingsan Dokter, tolong!" mohon Arshaka.
"Mari bawa ke ruangan saya!"
Tanpa banyak bicara Arshaka langsung membawa tubuh Emeli ke ruangan dokter.
Di luar ruangan Kayla tanpa mondar-mandir, dalam hati tak henti-hentinya merapalkan doa agar Emeli diberikan kekuatan dan kesembuhan.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Arshaka saat melihat dokter memanggil suster dan memberikan mereka perintah.
"Maaf putri Anda membutuhkan perawatan intensif, Emeli kritis, kami harus membawanya ke ruang ICU."
Beberapa perawat nampak mendorong brankar dan memindahkan tubuh Emeli. Arshaka terlihat mematung, pikirannya tiba-tiba blank.
Perawat terus mendorong brankar keluar dari ruangan dimana Emeli terbaring di atasnya. Dokter berjalan di belakang mereka.
"Suster apa yang terjadi dengan Emeli?" Kayla masih terlihat gusar.
"Jangan menghalangi langkah kami, pasien membutuhkan penanganan lebih cepat," ujar suster membuat Kayla menyingkir ke pinggir, memberikan akses bagi perawat dan dokter untuk berjalan. Setelahnya Kayla menyusul dari belakang.
Namun, langkahnya terhenti saat Kayla tidak melihat keberadaan Arshaka. Seharusnya pria itu juga keluar dari ruangan dokter. Kayla berlari ke belakang dan memeriksa keberadaan Arshaka.
"Tuan!" Kayla membelalakkan mata, Arshaka terlihat duduk bersandar pada pintu yang setengah terbuka. Pria itu pun pingsan.
"Suster tolong!" teriak Kayla membuat beberapa perawat lain langsung berlari ke arahnya dan membantu Arshaka untuk diperiksa.
"Argh! cobaan apa ini?" Kayla mengacak rambutnya sendiri, frustasi dan bingung harus bagaimana sekarang.
Di kota ini, dia tidak mengenal seorangpun sebagai teman yang mungkin bisa menolong dalam keadaan sulit macam sekarang. Jika dia tega, bisa saja ia pergi dari samping Arshaka dan meninggalkan semua yang kini bahkan menjadi beban hidup untuknya.
Toh, Arshaka juga mengizinkan Kayla untuk pergi dari sisinya dan juga Emeli jika Kayla mau. Namun, sisi kemanusiaan Kayla mengatakan agar dirinya bertahan menemani hidup Arshaka dan Emeli.
Arshaka bukan hanya pingsan, demamnya juga tinggi, mungkin karena kurang istirahat dan pikirannya kacau akhir-akhir ini, membuat dirinya juga harus dirawat di rumah sakit saat Emeli berada di ruang rawat intensif. Hal itu membuat Kayla harus bolak-balik dua ruangan. Kadang dia menjaga Emeli, kadang menjaga dan mengompres Arshaka.
"Emeli dimana?" tanya Arshaka sambil memegang tangan Kayla yang mengompres dahinya. Ia baru saja bangun dari pingsannya setelah esok hari.
"Masih di ICU, Tuan sembuhkan diri Tuan, untuk sementara jangan pikirkan Nona Emeli dulu," saran Kayla.
Arshaka tidak menjawab, tatapannya kosong ke depan. Matanya menyiratkan rasa lelah dan putus asa.
"Tuan makan dulu!" Kayla mengambil jatah makan dari rumah sakit dan hendak menyuapi Arshaka.
"Aku tidak lapar," tolaknya, menghentikan gerakan tangan Kayla. Semangat hidup Arahaka hilang sudah.
"Kalau Tuan juga sakit terus, Kayla tidak mampu menjaga Emeli seorang diri. Dia butuh sosok ayah yang kuat dan maaf saya tidak bisa menjelma menjadi sosok itu. Emeli butuh Tuan, butuh ayah yang sehat," ujar Kayla dengan bola mata yang mulai berkaca.
Arshaka menatap Kayla, sedikit terenyuh dengan ketulusan Kayla.
"Kenapa kamu masih bertahan di sisi kami?" tanya Arshaka masih dengan memandang lekat mata Kayla.
"Entahlah, kalian sudah seperti keluarga bagi saya ... mungkin ... karena saya sebatang kara." Kayla menunduk.
Arshaka tersenyum. "Terima kasih atas semuanya, terima kasih atas ketulusanmu merawat Emeli."
"Sama-sama Tuan dan sekarang Tuan makan ya!" Kali ini Arshaka mengangguk dan menerima ketika Kayla menyuapi dirinya.
"Mbak Kayla!"
Disaat sedang serius bicara berdua sambil makan, seorang suster memanggil Kayla di pintu.
"Ada apa suster?"
"Saya ingin menyampaikan sesuatu, sebaiknya kita bicara berdua," ucap perawat tersebut yang tak ingin Arshaka tahu dulu dengan kabar yang ingin dia sampaikan.
Arshaka dengan cepat menelan makanannya.
"Apa ini tentang Emeli? Kalau iya, katakan ada apa!"
"Em, emh–"
Perawat tersebut ragu untuk menyampaikan mengingat keadaan Arshaka yang tidak memungkinkan.
"Katakan apa ada dengan putriku!" desak Arshaka dengan suara berat.
"Emeli ... Emeli ...."
"Ada apa dengan Emeli?!" Kayla mulai panik.
"Dia meninggal dunia Tuan, Mbak," jawab perawat lalu berlari dari kamar rawat Arshaka. Tidak ingin melihat ekspresi kedua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Apa?!" Keduanya benar-benar kaget. Kabar kematian Emeli seperti petir yang menyambar di tengah terik matahari. Emeli memang kritis, tapi mereka tidak pernah berpikir nasib anak itu akan berakhir sejauh ini.
Arshaka segera melepaskan selang infus di tangannya dengan kasar lalu berlari keluar untuk memeriksa keadaan Emeli. Kayla terlihat lemas, bahkan untuk bergerak pun rasanya tidak mampu.
"Tidak mungkin, Emeli tidak mungkin meninggalkan Tante," racau Kayla. Tanpa bisa di tahan air matanya luruh seketika. Bagaimana interaksi dirinya dengan Emeli beberapa bulan ini terbayang-bayang di mata Kayla. Rasanya tak sanggup menghapuskan semua kenangan itu dengan mudah.
"Ya Allah, semoga ini hanyalah mimpi di siang bolong. Bangunkan hamba dari mimpi buruk ini ya Rabb."
Sementara Arshaka langsung menghampiri dokter yang masih berusaha menormalkan kembali detak jantung Emeli. Alat kejut jantung sudah ditekan ke dada Emeli beberapa kali, tetapi sama sekali tidak berhasil. Nafas dan denyut jantung gadis kecil itu tidak kembali.
"Maaf Tuan Arshaka, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain, Emeli–"
"Tidak." Arshaka menggeleng beberapa kali. Dokter hanya bisa diam.
"Tidak!" Arshaka berteriak histeris lalu menangis dengan keras. Dia tidak rela Emeli meninggalkan dirinya secepat ini.
"Tuan, sabar." Dokter mengusap bahu Arshaka yang bergetar.
"Apakah ini nyata?" tanya Kayla pada diri sendiri tatkala mendengar teriakan Arshaka yang begitu kencang.
Bersambung.