Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 1. Pengasuh Untuk Emeli



Prank!


Suara gelas pecah beradu dengan cermin terdengar memekakkan telinga. Beling-beling nampak berserakan di dalam sebuah kamar yang berada di lantai 2 sebuah rumah mewah dan megah yang berdiri di salah satu sudut ibu kota, Jakarta.


Seorang laki-laki berumur 30 tahunan yang sedang terburu-buru menuruni tangga akhirnya meletakkan tas kerja begitu saja di anak tangga dan berlari ke atas.


"Emeli ada apa?" tanyanya dengan raut wajah yang begitu khawatir.


"Apa kau sakit lagi?" tanya pria itu sambil menatap intens wajah buah hatinya karena tidak mendapatkan jawaban.


"Aku tidak ingin ayah pergi, aku tidak mau sendiri!" teriak Emeli dengan nada suara yang menggebu-gebu.


"Kau tidak akan sendiri? Ayah sudah meminta Tante Elena untuk menemanimu selama ayah tidak ada di rumah."


Mendengar perkataan Arshaka, bukannya mereda, emosi Emeli semakin meledak-ledak.


"Sudah berapa kali Emeli katakan, Emeli tidak suka Tante itu. Emeli tidak mau!" teriak Emeli lagi.


Muhammad Arshaka, 32 tahun. Pria yang dikenal dingin dan kaku di kalangan para wanita dan bawahan, sejak sepeninggal sang istri, sifat dingin dan cuek tidak berlaku saat menghadapi putri cantiknya yang penyakitan itu, Emeli Arshaka.


Kata dokter Emeli mengidap penyakit langka yang biasa diidap oleh manusia berusia 40 tahun ke atas dan sering diidap kaum Adam. ALS sebuah penyakit sistem saraf yang melemahkan otot-otot dan memengaruhi fungsi fisik.


Beberapa tahun Emeli sudah mengidap penyakit ini dan tahun kemarin benar-benar pada tahap parah sehingga menelan pun rasanya susah. Bahkan saat minum, Emeli seperti orang yang ileran. Bersyukur dengan perawatan, anak itu sedikit demi sedikit keadaannya berangsur pulih.


Walaupun penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tetapi dengan pengobatan bisa mengurangi resiko komplikasi.


"Ayah jangan pergi!" Kini suara Emeli mulai merendah terdengar mengiba. Mendekap pinggang sang ayah yang kini sudah berdiri di depan kursi roda yang dia duduki.


"Sayang, ayah harus bekerja, kita butuh uang untuk biaya hidup kita," ucap Arshaka dengan suara lembut lalu duduk berjongkok di depan putrinya. Pria itu mengelus kepala Emeli.


"Ayah pasti butuh biaya berobat Emeli, kan? Pasti mahal ya, Yah? Kenapa tidak hentikan saja? Hidup Emeli tidak jelas juga akan seperti apa ke depannya. Ayah seperti bermain mesin capit, jika beruntung usaha ayah akan mendapatkan hadiah, tapi jika tidak, bukan hanya tidak mendapatkan hasil, uang ayah akan hilang percuma."


"Emeli apa yang kau katakan?!Ayah akan melakukan apapun agar kamu bisa sembuh, bahkan nyawa ayah pun rela ayah pertaruhkan agar bisa tetap hidup bersamamu." Arshaka menatap sendu wajah putrinya.


"Nyatanya, kata dokter penyakit Emeli tidak dapat disembuhkan. Emeli hanya menunggu waktu kematian," ucap Emeli, balas menatap mata Arshaka dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Ah, siapa bilang? Dokter bukan Tuhan, ayah hanya percaya pada Tuhan dan insyaallah Dia tidak akan pernah memisahkan kita." Arshaka berbalik, menatap ke atas dan mengedipkan mata untuk menahan air matanya tidak jatuh.


"Apa ayah akan tetap pergi? Emeli kesepian di rumah." Anak itu berkata mengandung penuh permohonan.


"Hari ini saja izinkan ayah pergi keluar kota. Ayah janji akan mencarikan pengasuh untukmu agar kamu tidak kesepian lagi. Tapi janji ya, kamu jangan main kasar lagi agar pengasuhmu betah."


Melihat wajah Arshaka yang tampak memelas, akhirnya Emeli mengangguk.


Arshaka tersenyum, dia tahu putrinya anak yang penurut, hanya saja gadis kecil itu begitu labil. Mungkin karena lelah dan putus asa karena tidak seperti anak yang lainnya.


"Untuk sementara kamu bersama Tante Elena dulu ya?"


Emeli mengangguk lemah. Arshaka menatap jam di pergelangan tangan, kini saatnya dia pergi. Dia tidak ingin terlambat bertemu klien.


"Pergilah ayah!"


"Baik sayang, kau baik-baik ya di rumah! Lima menit lagi Tante Elena akan tiba. Sementara ayah akan memanggil Bibi Muna dulu."


"Iya ayah."


Arshaka tersenyum kembali, mengecup kening Emeli lalu turun ke lantai bawah. Setelah memerintah pembantu untuk menemani Emeli dia langsung berlari keluar rumah.


"Tancap gas Pak!" perintah Arshaka saat dirinya sudah duduk di dalam mobil dan pak sopir langsung sigap.


Di tengah perjalanan, Arshaka menelpon asistensinya -Toni- dan menanyakan tentang selebaran yang mereka sebarkan juga pengumuman lewat media sosial yang sebelumnya mereka upload.


"Ada apa, Pak?"


"Bagaimana Ton, sudah ada yang mendaftar menjadi pengasuh putriku?" tanya Arshaka dengan mimik penuh harap.


"Maaf Pak, belum ada satupun yang menghubungi kami," sahut Toni.


"Haah!" Arshaka mendesah kasar.


"Apa perlu kita naikkan gajinya agar ada yang tertarik?"


"Oke, aku tunggu kabar baik darimu," ujar Arshaka.


"Siap Pak, saya yakin pasti ada yang tertarik."


Arshaka langsung mematikan ponsel dan menarik nafas panjang.


Di tempat yang berbeda, Toni menghembuskan nafas berat.


"Bagaimana bisa dapat dengan cepat, putri bapak terkenal begitu emosian," ujar Toni lalu memejamkan mata.


"Tapi gajinya gede, yang butuh uang pasti akan merapat." Toni kembali bersemangat.


***


Di sebuah desa, seorang wanita berusia 31 tahun duduk termenung di sebuah Padang rumput sambil melihat ke arah kambing-kambingnya yang sedang lahap makan.


Dari belakang dirinya terdengar seseorang memanggil.


"Kayla!" teriak seorang wanita dengan suara cemprengnya membuat Kayla langsung menoleh, tapi menutup kedua telinganya yang sakit.


"Ada apa Dalilah? Kenapa teriak-teriak sepagi ini?"


Dalilah, seorang janda muda yang merupakan teman Kayla menggembala kambing itu, tidak langsung menjawab, ia terlihat menstabilkan nafasnya yang ngos-ngosan.


"Ada pekerjaan, gajinya lumayan besar."


Kayla langsung merampas selebaran di tangan Dalilah. Matanya melebar seketika tatkala membaca nominal angka yang tertulis di kertas tersebut.


"Sepuluh juta?" tanyanya seakan tak percaya. Dalilah yang ditanyai hanya terlihat mengangguk.


"Apa ini bukanlah sebuah penipuan?"


"Itu tidak mungkin, kau lihat saja, di sana tertera nama perusahaan. Berarti ayahnya orang kaya sehingga uang sepuluh juta tidak ada apa-apanya."


Kayla merenung.


"Apa yang kau pikirkan? Ambil saja langsung! Daripada mengasuh kambing-kambing milik juragan yang tidak jelas dapat berapa, mending mengasuh anak manusia." Dalilah terkekeh.


"Lagipula kau menyukai anak kecil, jika aku sendiri tidak punya anak balita pasti aku langsung melamar menjadi pengasuh anak itu."


"Kau benar, aku akan mengambil pekerjaan ini. Semoga saja belum ada yang mendaftar."


"Kalau begitu kamu telepon saja nomor itu langsung!" Dalilah meminjamkan handphone miliknya pada Kayla. Kayla langsung menghubungi Toni dan menyatakan dirinya bersedia menjadi pengasuh Emeli.


"Bagaimana?" tanya Dalilah saat Kayla mematikan sambungan teleponnya.


"Aaa! Aku diterima," ucap Kayla girang sambil melompat-lompat. Dalilah pun ikut senang.


"Ternyata belum ada yang mendaftar, aku orang pertama dan,–"


Kayla tidak melanjutkan ucapannya. Raut wajahnya mendadak murung.


"Apa yang terjadi?"


"Aku tidak punya ongkos," sahutnya cemberut.


"Soal itu mah gampang, aku ada di rumah."


"Oke, aku pinjam ya?"


"Boleh asal pas mengembalikan jadi 2 kali lipat," kelakar Dalilah.


"Oh, mau alih profesi jadi kang rentenir rupanya." Kayla terkekeh.


"Iya dong, kalau nggak begitu kapan bisa cepat kaya?"


"Iya cepat kaya di dunia, tetapi di akhirnya jadi bahan bakar api neraka," ujar Kayla dan keduanya langsung tertawa lepas.


Bersambung.